ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 150. Yang Lebih Nyata 

共有

Bab 150. Yang Lebih Nyata 

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-03-22 23:56:15

“Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.

Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.

Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia m
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (25)
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
prabuuu kasian banget kamu..kerjaan sampe kehilangan nyawa begitu
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Berarti prabu kecelakaan udah di rencanakan Mateng dan mobil yg sama dgn saat kejadian dgn mobil yg lewat depan rumah pak Rudi
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Bu Anita ..jgn mengatal ya sama suami orang ...wong cuma diminta bantuan perlihatkan cctv aja ,minta dihubungi
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 170. Meninggalkan Jejak Luka

    Bab 170. Meninggalkan Jejak LukaSatria mendesis pelan.Sedetik kemudian sesuatu yang hangat membasahi siku kemejanya. Diikuti dengan rasa perih. Satria tahu luka itu tidak dalam. Tapi gudang yang pengap dan gerakan yang sangat intens membuat keringatnya dengan cepat bercampur dengan darah dari lukanya.Kedua pria itu kembali beradu.Kali ini lebih brutal.Tubuh saling hantam tanpa pola. Saling dorong dengan tendangan dan pukulan membuat punggung mereka bergantian menghantam rak besi yang kokoh. Beberapa map jatuh berserakan. Debu beterbangan, membuat napas semakin berat.Pria itu menyerang lagi.Meski pincang, ia tetap berbahaya.“Harusnya lo berhenti dari awal,” geramnya.Satria menangkap lengannya, membantingnya ke sisi rak. Suara benturan keras menggema di dalam gudang. Pisau itu terlepas.Jatuh berputar di lantai.Keduanya sama-sama melihat.Dan dalam satu detik yang terlalu cepat—keduanya bergerak bersamaan.Satria lebih dulu.Ia menyepak pisau itu menjauh ke lorong lain.Pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 169. Duel Dalam Gelap

    Langkah kaki itu terdengar perlahan, sengaja diringankan agar tidak diketahui jelas arah langkahnya. Sedetik kemudian langkah itu berhenti—belum jauh dari pintu.Satria tidak bergerak.Punggungnya menempel pada sisi rak. Menahan napasnya sebentar lalu mengaturnya menjadi napas lebih pendek. Tangan kirinya yang mencengkeram ransel, pelan-pelan turun. Merapikan ransel itu agar tangannya leluasa jika harus melakukan sesuatu. Terdengar dering ponsel yang kemudian secepat kilat dipadamkan. Tak lama, sepertinya seseorang di dekat pintu mengetik sesuatu di ponsel. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.“Jangan telepon sekarang. Lo nggak baca pesan?” Suara pria itu terdengar berbisik. Pria di dekat pintu sepertinya mengakhiri pembicaraan. Suasana hening seketika. Satria memindahkan tangannya di rak dengan pelan. Meraba permukaan rak terdekat dengannya untuk mencari sesuatu. Hening.Lalu … suara benda logam dijatuhkan pelan ke lantai.Seperti kunci.Atau … sesuatu yang sengaja

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 132. Tak Lagi Sendirian

    Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y

    last update最終更新日 : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 12. Pria yang Sebenarnya

    Arga menepuk bahu Satria. “Ingat, ya. Kalian bisa buat kesepakatan apa pun. Nggak harus memaksakan apa pun dulu. Dan Sheza ….” Arga kini memandang Sheza. “Satria ini adalah … satria terbaik kami.” Sheza hanya mengangguk bingung. Satu per satu, empat pria itu keluar. Roman paling terakhir. Ia ber

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • KAMAR KEDUA   Bab 13. Tamu Tak Diundang

    Satria tahu jawabannya kenapa ia sampai mengucapkan kalimat tolol barusan. Ia takut terlalu dekat. Takut melampaui batas persahabatan dengan Prabu. Takut berniat terlalu jauh padahal ia sendiri belum paham apa yang ia rasakan. Tapi … begitu membayangkan Sheza menangis, wajah letihnya, suaranya yang

    last update最終更新日 : 2026-03-17
  • KAMAR KEDUA   Bab 15. Layaknya Seorang Pria

    Begitu mereka masuk mobil, Satria menutup pintu dengan cepat dan menghubungi seseorang. Suaranya yang datar memberi instruksi singkat. Satria kembali ke dalam rumah sebentar untuk mengecek jendela yang berlubang. Sheza melihat dari mobil. Siluet pria itu dalam hujan tipis, sendirian menilai kerus

    last update最終更新日 : 2026-03-17
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status