Accueil / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 150. Yang Lebih Nyata 

Partager

Bab 150. Yang Lebih Nyata 

Auteur: juskelapa
last update Date de publication: 2026-03-22 23:56:15

“Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.

Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.

Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia m
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (25)
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
prabuuu kasian banget kamu..kerjaan sampe kehilangan nyawa begitu
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Berarti prabu kecelakaan udah di rencanakan Mateng dan mobil yg sama dgn saat kejadian dgn mobil yg lewat depan rumah pak Rudi
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Bu Anita ..jgn mengatal ya sama suami orang ...wong cuma diminta bantuan perlihatkan cctv aja ,minta dihubungi
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • KAMAR KEDUA   Bab 255. Kebijaksanaan dari Masa Lalu

    Satria sudah banyak belajar tentang tubuh Sheza. Waktu yang mereka habiskan berbagi ranjang membuat pria yang terbiasa memperhatikan itu semakin peka memahami setiap reaksi wanitanya.Ia memahami apa yang diinginkan Sheza ketika wanita itu membuka pahanya lebih lebar. Ia juga paham saat tangan Sheza memeluknya semakin erat dan kuku-kukunya mencakar pelan punggungnya. Bagi Satria, itu selalu menjadi pertanda bahwa Sheza mulai mendekati titik klimaks.Suara Sheza akan terdengar semakin jelas. Meski pada dasarnya wanita itu memang tipe yang vokal, menjelang puncaknya suara itu selalu berubah menjadi lebih gaduh. Beberapa saat kemudian, paha Sheza akan bergetar tipis. Tubuhnya menegang sejenak, sebelum akhirnya perlahan kembali lunglai di dalam pelukannya.Saat itulah Sheza menjadi tak berdaya. Wajahnya biasanya memerah, dadanya naik turun karena napas yang mulai memburu. Kedua tangannya terentang di atas kepala, sementara tubuhnya seolah pasrah dalam pelukan Satria. Di saat-saat seperti

  • KAMAR KEDUA   Bab 254. Tentang Masa Depan

    Satria dulu memang tidak pernah benar-benar memikirkan seperti apa masa depan rumah tangganya bersama Nadine.Ketika masuk ke dalam keluarga Kertasoedibyo, ia sadar sepenuhnya dengan apa yang sedang dilakukannya. Jujur saja, pada masa itu yang benar-benar memenuhi pikirannya hanyalah bagaimana Rylee Logistics bisa terus berjalan.Perusahaan itu ia bangun dari puing-puing usaha milik papanya yang pernah hancur dan nyaris tidak menyisakan apa pun. Ia membawanya dari Manado, lalu membangunnya kembali sedikit demi sedikit dengan tangannya sendiri di ibukota.Namun ketika akhirnya menjalani pernikahan dengan Nadine, Satria tidak pernah setengah-setengah.Sebagai suami ia mengambil tanggung jawab itu sepenuhnya.Ia menjadikan Nadine pasangan hidupnya. Perempuan yang membutuhkan seorang suami dan rekan.Saat itu Satria benar-benar percaya bahwa ia bisa membawa rumah tangga mereka menuju bentuk keluarga yang selama ini ia inginkan.Sebuah keluarga yang hangat, juga sebuah rumah sebagai tempa

  • KAMAR KEDUA   Bab 253. Kejujuran Masa Lalu

    "Karena bekalnya menurutku … terlalu serius."Sheza langsung mengernyit. "Serius gimana?""Kamu bikin bekal buat orang yang bahkan belum pernah makan siang bareng kamu.""Itu kan cuma bekal."Satria menggeleng pelan. "Dengan catatan sederhana itu … buatku itu bukan bekal biasa.”Sheza langsung tertawa. “Itu cuma surat pendek.”"Dan buatku nggak sesederhana itu.” Satria menangkap tangan Sheza yang tadi berada di pahanya. “Aku masih ingat isi surat itu.”"Jangan diulang."Satria malah terkekeh dengan semburat merah tipis di pipinya. Cukup membuat ekspresinya lebih lunak dari biasanya."Aku senang waktu baca surat itu.”Kalimat berikutnya membuat Sheza perlahan diam kembali. Satria menunduk menatap cangkir tehnya. "Sangat senang."Sheza menunggu."Aku bahkan nggak langsung makan bekalnya.""Kenapa?""Aku ditelepon seseorang yang waktu itu kurasa … lebih penting.” Satu sudut bibir Satria terangkat.Sheza memandang Satria yang malam itu sedikit lebih banyak bicara. Pria itu sedang tercenun

  • KAMAR KEDUA   Bab 252. Ketika Semua Harus Terjadi 

    Tante Vonny yang tadi sempat diam, kini berkata pelan, “Sat … kamu pernah cinta Nadine, kan?”Pertanyaan itu membuat Sheza membeku di dekat pintu. Bahkan suara jangkrik dari taman seakan ikut menghilang.Satria terdengar kembali menghela napas. Lalu ia meneguk wine-nya lebih dulu dan memandang ke arah kolam yang memantulkan cahaya lampu taman."Aku menghormatinya." Satria kembali diam. "Aku peduli ke Nadine. Di mataku … Nadine nggak lebih kayak anak kecil yang selalu mendapatkan apa yang dia mau.”"Dulu … meski awalnya aku merespon ide Pak Salim soal perjodohan dengan banyak pertimbangan. Tapi aku berniat jadi suami yang baik. Keberadaan Pak Salim yang mampu menjadi pendengarku, sekaligus mentor, bikin aku kepengin punya orang tua seperti beliau.”"Tapi itu bukan jawaban pertanyaan Tante." Tante Vonny menatapnya lurus.Lama sekali Satria tidak berbicara.Sampai akhirnya ia mengembuskan napas pelan. “Cinta itu apa? Saat itu aku bahkan nggak memikirkan soal itu. Bagiku waktu itu … cinta

  • KAMAR KEDUA   Bab 251. Bukan Kisah Cinta Biasa

    Obrolan panjang dan rumit di meja makan sampai pada Nadine mengomentari sesuatu tentang strategi bisnis ayahnya. Nada bicaranya sedikit terlalu tajam. Dan ibunya langsung menegur. "Nadine."Ruangan menjadi hening sesaat."Kamu nggak harus mendebat semua hal,” kata Bu Mieke lembut, tapi tajam.Nadine langsung membuang pandangan. Ekspresinya berubah. Lebih terlihat seperti seseorang yang bosan mendengar hal yang sama ketimbang amarah.Saat itulah Satria angkat bicara. "Menurut saya nggak ada yang salah,” ucapnya tenang.Semua orang di meja makan menoleh. Satria lalu meletakkan gelasnya. "Nadine cuma menyampaikan pendapat. Saya rasa … anak muda seperti kami kadang-kadang punya cara penyampaian yang sedikit lebih berani.”Bu Mieke terlihat sedikit terkejut. "Nggak semua orang nyaman dengan cara penyampaiannya."Satria mengangguk. "Mungkin." Lalu ia menoleh pada Nadine. "Tapi isinya masuk akal.”Kali ini Nadine tidak langsung membalas.Tidak mendebat Satria atau menyelanya. Ia hanya meman

  • KAMAR KEDUA   Bab 250. Pertolongan Masa Itu

    Beberapa minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Pak Salim, keadaan Rylee Logistics perlahan membaik. Belum sepenuhnya pulih. Namun setidaknya kapal-kapal mereka kembali beroperasi.Salah satu investor baru yang diperkenalkan Pak Salim bahkan sudah menandatangani komitmen pendanaan. Investor lain mulai membuka ruang diskusi. Bank yang sebelumnya menekan juga bersedia meninjau ulang beberapa jadwal pembayaran.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup dalam tekanan, Satria merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan karena dirinya selamat. Melainkan karena perusahaan itu selamat.Puluhan karyawan yang menggantungkan hidup pada Rylee Logistics tidak perlu kehilangan pekerjaan mereka. Para kru kapal masih bisa berlayar. Para sopir masih bisa membawa pulang nafkah.Dan untuk seorang Satria yang membangun semuanya dari nol, itu jauh lebih berarti daripada sekadar angka di rekening perusahaan.Malam itu, sebuah undangan makan malam kembali datang dari Pak Salim. Satria tida

  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 21. Hal-hal yang Tidak Diucapkan

    Satria sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan berdiri di ruang makan dengan kemeja kerja yang belum dikancing penuh.Kopi di tangannya belum disentuh. Matanya justru tertuju ke meja makan tempat di mana blister obat sakit kepala yang ia letakkan semalam.Bertahun yang lalu, Prabu pernah tertawa sa

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 23. Waktu yang Merangkak

    Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sa

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status