ANMELDENMatahari sudah tinggi tapi Satria masih duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya masih rapi belum tergulung. Pertanda ia belum banyak bergerak sejak tiba di kantor pagi tadi. Meski tampak tenang, dahinya yang mengernyit mengisyaratkan isi pikirannya bergumul di antara tumpukan berkas yang terbuka.Ada satu nama yang sejak tadi tidak bisa lepas dari kepalanya.Alina.Mau beberapa kali pun ia periksa, berkas perjanjian kerja Alina paling aneh di antara semuanya. Sangat berbeda dengan berkas perjanjian kerja Anton dan Prabu.Ia baru saja menutup satu file ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponselnya. “Z” Satria langsung mengangkat.“Zee?”“Mas lagi sibuk?” suara itu lembut, seperti biasa. Tapi selalu berhasil menariknya keluar dari apa pun yang sedang ia pikirkan.Satria menghela napas pelan. “Iya. Kenapa?”“Jadwal kontrol aku udah lewat dua minggu.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat Satria diam beberapa detik.Ia memijat pelipisnya pelan.“Maaf,” ucapnya r
“Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia menunduk, memeluknya lebih erat.“Aku juga mau baring di sini sama kamu, Zee,” gumamnya rendah.“Tapi belum bisa.”Ia mengusap punggung Sheza pelan.“Aku pengen hidup kita tenang. Bangun pagi tanpa mikirin apa-apa … cuma nunggu bayi ini lahir.”Ia kembali mengecup kepala Sheza.“Sampai itu bisa terjadi … aku harus beresin dulu semuanya.”Sheza lalu membuka matanya yang tadi terpejam dan pelan-pelan duduk bersandar dibantu oleh Satria. Satu tangannya menahan selimut menutupi dada.“Aku mau melakuk
“Kenapa foto Dio dan Sheza? Buat apa?” Pak Rudi bingung dan masih duduk di kursi belajar Prabu.Satria memegangi lengan Pak Rudi.“Ayo, Pak. Saya bantu turun.” Ia menuntunnya pelan menuju tangga. “Saya belum bisa memastikan kenapa foto Dio dan Sheza diambil,” lanjutnya tenang.“Foto itu tidak cukup bernilai untuk dijual … kecuali memang dimaksudkan sebagai alat.” Langkah mereka berhenti sejenak di mulut tangga.Satria menoleh.“Dan kalau itu yang terjadi…” suaranya merendah, “…itu bukan sekadar pencurian.” Ia menatap Pak Rudi lurus.“Foto itu pernyataan, Pak.”Jeda singkat.“Mereka udah tahu wajah Dio dan Sheza.”Tatapannya tidak berubah.“Dan mereka mau kita tau bahwa mereka bisa menemukan keduanya kapan saja.”Satria melepaskan lengan Pak Rudi yang sejak tadi dipeganginya. Pria tua itu menatapnya dengan sepasang mata khawatir.“Kalau sudah begitu, bagaimana? Satria … apa Dio bakal baik-baik aja? Atau untuk sementara Dio tinggal di sini agar lebih aman?” Pak Rudi sudah tiba di anak t
Beberapa detik Puspa hanya memandang mereka berdua bergantian. Seolah masih mencoba memahami situasi yang tidak ia duga itu.Puspa terkejut tapi terlihat bisa menguasai dirinya. Ia menghela napas pendek, lalu membuka pintu lebih lebar.“Masuk, Kak, Mas ….”“Orang yang masuk ke kamar Prabu … lewat mana? Saya bisa langsung ke atas?” Suara Satria terdengar tidak sabar. Melihat Puspa yang agak bingung, ia memandang Sheza. “Zee, kamu di sini aja. Aku ke kamar Prabu,” katanya.“Iya. Aku di sini aja. Mas hati-hati,” kata Sheza. Setelah melihat ia mengangguk, Satria pergi meninggalkan ia dan Puspa di ruang tamu. Dan tak lama setelah kepergian Satria, Bu Ratna muncul dengan daster lengan panjang dan wajahnya yang sedikit sembab karena sempat terbangun di tengah malam.“Benar-benar sudah hamil lagi,” kata Bu Ratna, mendekati Sheza dan mengusap perutnya.“Iya, Bu. Kali ini rezekinya lebih cepat,” sahut Sheza. Tersenyum tipis sembari memperhatikan wajah Bu Ratna yang terlihat antara tegang dan pe
Gerakan Satria yang tadi cepat tiba-tiba menjadi lebih berat. Kedua tangannya menahan pinggul Sheza erat, menekannya beberapa kali dengan dorongan pendek yang semakin dalam. Tubuhnya menegang sepenuhnya, seolah seluruh tenaga yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah dalam satu gelombang panjang diiringi erangan parau yang sangat maskulin.Satria menunduk.Bibirnya kembali menemukan payudara Sheza, menyesapnya kuat hingga putingnya memerah di bawah mulutnya. Napasnya terdengar berat di sela-sela sesapan yang tak lagi sabar.Sheza memejamkan mata.Satu tangannya mencengkeram bahu Satria dan satunya lagi menangkup payudaranya yang sedang disesap sampai tubuh pria itu akhirnya berhenti bergerak. Desahan panjang lolos dari bibirnya, seolah ketegangan yang sejak tadi menumpuk akhirnya ikut luruh bersama napas mereka.Beberapa detik mereka hanya diam.Napas Satria masih berat ketika ia perlahan mengangkat wajahnya dari dada Sheza. Ia menggeser tubuh istrinya, melepaskan bagian tubuhnya yang t
Ketika Satria menggeser tubuhnya, ia membantu Sheza bangkit dan bersandar ke sandaran sofa. Saat itu Sheza melirik ke bagian bawah tubuhnya.“Banyak,” ucap Sheza.“Tiga hari dan nggak sempat nge-gym,” sahut Satria, bangkit memungut gaun malam Sheza dan meletakkannya di atas tubuh istrinya itu. “Nanti di kamar aku bersihin,” kata Satria seraya memakai boxernya. Ia lalu kembali duduk ke sofa dan menarik Sheza ke pelukannya.Mereka bersandar ke sofa. Sheza hanya menutup bagian atas tubuhnya dengan dress yang belum ia pakai sedang Satria duduk bersandar dengan boxer hitamnya. Keduanya menikmati keheningan sesaat di bawah lampu kuning yang berpendar dari nakas.Tubuh Sheza bersandar sepenuhnya pada Satria. Pria itu menahan tubuhnya dari belakang, satu lengannya terselip di bawah lipatan lengannya, merangkulnya dengan kuat. Tangan satunya lagi ikut menahan dress yang menutup dadanya, menggenggam kain itu dengan kokoh. Memastikan tubuh Sheza tetap aman dalam pelukannya.“Dio dulu ASI?”Pert
Perjalanan pulang ke rumah terasa amat panjang dengan keheningan yang menyesakkan. Sheza melangkah gontai dengan tas, map dan amplop cokelat yang mungkin sudah muak dibawanya ke sana kemari. Bahkan rumah yang biasanya memang sunyi, malam itu terasa terlalu sunyi. Televisi berbulan-bulan tak menyal
Di tepi kolam renang, lima pria masih duduk bertukar cerita. Topik pembahasan masih sama. Acara hari Jumat. Vian dan Roman bertukar cerita tentang jadwal. Julian mengamati raut serius Arga yang masih memegang amplop cokelat pemberian Satria barusan. Arga membacanya perlahan, sesekali berhenti, lal
Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja.
“Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar







