LOGIN“Gue nggak pernah nunggu Prabu mati,” ucap Satria tenang.Arga terdiam.Satria melanjutkan, “Dan apa yang ada sekarang … bukan sesuatu yang gue rencanain.” Ia diam lalu berkata pelan, “Tapi gue jaga.”“Gue cuma khawatir … kalau lo masuk terlalu jauh ke kasus ini, Sheza bisa kehilangan suaminya dua kali, Sat. Sorry kalau yang gue bilang ini kejam, tapi gue beneran khawatir.” Khawatir yang disebut-sebut Arga memang terdengar dari nada suaranya.“Lo tau nggak apa yang gue pikir sekarang?” Suara Satria sedikit lebih dalam dan pelan.“Gue nggak tau apa yang lo pikirin, Sat. Gue bukan Prabu yang bisa nebak-nebak aja terus bener tiap ngomong sama lo.” Arga tertawa kecil.Satria mengangguk. “Bercandanya Prabu itu selalu pas.”“Gue jadi mikir … andai Prabu bisa menilai kedekatan kita semua, andai ada masalah di perusahaannya, dia bisa minta bantuan kita. Atau setidaknya … Prabu bisa minta bantuan lo.” Arga meninju pelan bahu Satria.Sementara Satria menggeleng. “Nggak. Prabu bukan orang yang k
Mendengar ucapan Sheza, Pak Heri mulai ragu.Di depan, polisi lalu lintas itu tetap jalan—motor jenis trail dengan plat kepolisian yang tak dimengerti Sheza. Di belakang, pengendara motor masih mengikuti mereka.Sheza tidak punya waktu untuk berpikir panjang. “Pak, bunyiin klakson,” pintanya pada Pak Heri.“Bu?”“Bunyiin sekarang!”Tak lama klakson panjang terdengar.Sekali.Lalu dua kali.Mobil kemudian melambat dan berhenti.Polisi lalu lintas di depan langsung menoleh, lalu berputar dan kembali mendekati dari sisi Sheza.“Ada apa, Bu?” tanyanya saat tiba di dekat pintu. Tubuhnya condong dan mendekat seakan mengamati dengan cermat apa yang terjadi di dalam mobil.Sheza membuka kaca. Tangannya memegang perut.Dan dalam satu detik—ia berubah.“Pak …. Tolong…” suaranya pecah. “Saya … saya sakit … perut saya sakit banget ini. Sepertinya saya mau lahiran ….”Pak Heri langsung panik menoleh ke belakang. “Bu?”Sheza menunduk, napasnya memburu. Ia mencoba bersandar lalu kembali mencondongk
Sheza tidak akan melupakan hari itu.Hari ketika Satria, tanpa benar-benar mengucapkannya, seperti menitipkan seluruh hidupnya di tangannya. Amanah besar berupa sebuah keluarga yang seakan harus ia jaga dengan hidupnya—dirinya, Dio, bayi yang ia kandung dan Nayla yang hari itu memiliki jadwal bersama mereka.Hari itu … perjalanan pulang ke rumah terasa lebih panjang dan menegangkan. Awalnya, ia pikir itu hanya perasaan curiga berlebihan saja. Sebuah motor melintas terlalu dekat dengan mobil yang mereka tumpangi.Lewat sekali.Sheza hanya melirik sekilas dari kaca samping. Motor itu berbelok dan menghilang di simpang.Pertama, ia mengabaikannya meski tetap terasa aneh.Lalu saat Nayla meminta sopir mampir ke minimarket, ia sempat menoleh ke belakang saat gadis kecil itu turun bersama Dio. Motor itu kembali terlihat. Kali ini, pengendaranya menoleh. Andai tidak ada helm full face berwarna gelap, Sheza yakin sekali ia akan beradu pandang dengan pengendara motor itu.Lalu motor itu kemba
Sejak Alina dipindahkan ke rumah Julian, Satria belum pernah sekali pun menemuinya.Wanita itu lebih banyak diam. Hanya keluar kamar saat istri Julian datang ke paviliun, mengetuk pelan, lalu mengajaknya makan. Itu pun tidak lama.Tidak sampai satu jam, Alina sudah kembali masuk, menutup dirinya lagi di dalam ruang yang terasa terlalu sempit untuk menyimpan semua yang ia rasakan.Keterangan dari Alina … hampir tidak ada.Setiap kali Arga mencoba mendekat, wanita itu hanya menggeleng. Tangannya gemetar, matanya basah. Berkali-kali ia meminta maaf tanpa arah yang jelas. Lalu menangis lagi.Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan,tapi selalu berhenti tepat sebelum keluar. Seolah-olah kata-kata itu terlalu berat untuk diucapkan,atau … terlalu berbahaya untuk dilepaskan.Yang jelas, Alina tidak lagi sekadar takut. Ia terlihat … menyesal.Dan penyesalan itu datang terlambat.Hal baru yang diketahui Arga, lalu langsung ia sampaikan pada Satria pagi itu, membuat suasana semakin buruk. Pon
Masih dari kejadian beberapa hari lalu.Malam setelah mendapatkan kiriman rekaman CCTV, Satria menenggelamkan dirinya di balik ruang kerja.Dengan lampu yang hanya menyala satu, ia duduk menatap layar laptop. Rekaman CCTV itu sudah ia putar berulang kali. Bukan dua atau tiga. Lebih dari itu. Sampai suara napasnya sendiri terdengar asing di telinganya.Sampai kopi yang dibuatkan Sheza tadi sudah surut, matanya masih mengamati tiap orang yang melintas di lorong apartemen Alina.Satu per satu aktivitas lewat seperti biasa di layar CCTV. Seorang penghuni yang paling dekat dengan kamera cctv masuk ke unitnya, tapping kartu. Lalu seorang kurir berdiri sebentar di depan pintudua orang berbincang singkat lalu pergi.Tidak ada yang aneh.Satria tidak berkedip.Lalu … frame berikutnya.Seorang satpam. Seragamnya rapi dengan topi terpasang. Tidak ada yang mencolok. Ia berjalan dari arah yang tidak terlihat kamera sebelumnya. Bukan dari pintu depan. Dan bukan dari lift yang biasa digunakan tamu.
“…Mau ikut jadi pembunuh buat balesin dendam Prabu?”Kalimat Arga menggantung di udara seperti sesuatu yang terlalu tajam untuk langsung dijawab.Satria tidak langsung membuka mulut.Tatapannya masih lurus ke depan, tapi rahangnya mengeras. Ada jeda … bukan karena ia tidak punya jawaban, tapi seperti sedang memilih mana yang masih boleh diucapkan, dan mana yang sebaiknya tetap tinggal di dalam kepalanya.Sejurus kemudian pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar, matanya langsung mencari.“Siapa yang membawa pasien atas nama Alina?”Arga refleks melangkah maju. “Kami, Dok.” Satria mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara.“Silakan masuk sebentar. Saya perlu keterangan tambahan.”Pertanyaan Arga barusan terpotong begitu saja. Berganti dengan rasa penasaran soal apa yang terjadi pada Alina. Ruangan yang mereka masuki sangat dingin. Saat masuk ke sana mereka sudah tidak melihat Alina. Hanya bau antiseptik dan beberapa berkas yang sudah terbuka di atas meja. Satria dan Arga mene
Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas
Papan kayu itu terangkat sepenuhnya.Debu tipis beterbangan saat Satria menyelipkan jarinya lebih dalam dan mengangkatnya hati-hati. Di bawahnya ada rongga yang dibuat rapi dan memang sengaja disiapkan untuk menyimpan sesuatu.Di dalamnya tersimpan map-map tebal yang dibungkus plastik bening, dilip
Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y
Suasana hening beberapa saat. Petugas di depan mereka ikut menegang. “Apakah korban biasa menggunakan lebih dari satu perangkat?” tanya Kanit hati-hati. Satria menjawab tenang, “Seharusnya tidak.” Ia tidak ingin terlalu cepat membuka asumsi. Arga kembali melihat log. “Panggilan ke Alina tercat







