Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 62. Yang Harus Ditahan

Share

Bab 62. Yang Harus Ditahan

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-24 23:58:53
Tekanan pada Satria itu tidak datang tiba-tiba. Bukan seperti telepon Nadine di Jumat pagi yang memaksanya berhenti sejenak dan menatap layar ponsel terlalu lama. Tekanan itu datang pelan-pelan. Bertahap. Disamarkan sebagai urusan kerja yang tampak normal.

Beberapa hari terakhir sebelum Jumat, rapat di kantor Satria terasa berulang. Sebuah perjanjian kerja dengan klien lama yang seharusnya selesai, diminta dibahas lagi.

Pekerjaan yang mestinya jalan justru ditahan. Ia tidak perlu bertanya alasan
juskelapa

Ada 2 bab lagi sedang under review. Terbit sesaat lagi. Ditunggu ya sayang-sayang juskelapa ....

| 99+
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Reni
Ayah anak sama aja, licik .
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
nggak akan ada masalah kalo kalian nggak rese
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 221. Kecurigaan yang Bertambah 

    Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turu

  • KAMAR KEDUA   Bab 220. Jangan Terlalu Dekat

    Ratri baru turun dari lantai dua setelah memastikan anaknya benar-benar sudah bangun dan bersiap berangkat sekolah. Rambutnya masih setengah basah. Kemeja putih longgar yang dipakainya membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.Begitu memasuki ruang makan, ia langsung melihat Pak Hendra sudah duduk di sana.Padahal biasanya papanya jarang sarapan di rumah saat hari kerja.“Tumben,” gumam Ratri sambil menarik kursi.Pak Hendra hanya mengangkat mata sebentar dari koran bisnis di tangannya. “Papa juga masih punya rumah.”Ratri terkekeh kecil lalu mulai menuang teh hangat ke cangkirnya sendiri. Namun baru beberapa detik duduk, ia mulai sadar sesuatu. Papanya memperhatikannya terlalu sering.Bukan tatapan biasa.Tatapan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.“Kamu kemarin ke mana aja?” tanya Pak Hendra akhirnya terdengar santai.Ratri mengangkat alis kecil. “Ke kantor.”“Terus?”“Jemput Raka.”“Terus?”Ratri mulai tertawa kecil sekarang. “Interog

  • KAMAR KEDUA   Bab 219. Hasil Diskusi

    Di ruang kerja Satria, Arga dan Julian menempati sofa berukuran untuk dua orang berdampingan. Di depan mereka ada coffee table yang di atasnya sudah tersedia nampan dengan teko dan beberapa cangkir keramik. Julian lebih dulu menyesap teh yang asapnya masih mengepul.“Kebetulan hari ini belum ada kena caffeine,” kata Julian.“Kenapa nggak ngopi sekalian?” Arga ikut mengambil teh dan memasukkan gula sesendok teh.“Kalau kopi nggak tahan lambungnya,” sahut Julian.“Kalau orang tua biasa emang gitu,” sahut Roman dari belakang Satria. Ia tengah membersihkan luka itu dengan kasa steril. Ia lalu mengamati luka itu dengan raut serius. “Ternyata bagus juga hasil jaitan gue,” ucapnya.“Kalau bagus … lebaran nanti bisa terima jaitan,” sambung Julian, gantian meledek.“Mau jait tunik, atau jait gamis, Say?” Roman kemudian terkekeh-kekeh. Beberapa saat tertawa, ia kemudian diam. “Dah, ah. Diem,” ucapnya sendiri.“Sinting,” kata Arga.Satria tersenyum seraya meringis karena gerakan tangan Roman menj

  • KAMAR KEDUA   Bab 218. Rumah yang Hangat

    Semalam akhirnya Satria berhasil membujuk Nayla pulang.Butuh waktu hampir satu jam sampai gadis kecil itu benar-benar mau memakai sandal dan turun dari sofa ruang keluarga sambil memeluk tas kecilnya dengan wajah berat.“Aku minggu depan ke sini lagi?” tanyanya untuk ketiga kali.Satria yang sedang berjongkok di depannya langsung mengangguk. “Iya.” Tangannya membelai pipi sang putri. “Padahal bukan jadwal Papa, tapi Papa akan usahakan izin biar kamu bisa nginep di sini.”Dan Nayla akhirnya diam.Perjalanan mengantar Nayla pulang berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Satria. Rumah Nadine terlihat sepi saat mobil masuk ke halaman. Beberapa asisten rumah tangga membantu membawakan barang Nayla sementara Nadine sendiri sedang tidak ada di rumah.Sebelum turun dari mobil, Nayla sempat memeluk leher papanya sebentar.“Papa jangan lupa.”Satria mengusap puncak kepala putrinya pelan. “Papa nggak pernah lupa.”Pagi hari berikutnya rumah itu kembali hidup oleh rutinitas kecil

  • KAMAR KEDUA   Bab 217. Dunia Pak Hendra

    Malam sudah jauh lewat.Rumah besar itu memang terlihat selalu tenang. Terlalu tenang bahkan untuk ukuran rumah yang memang jarang berisik sejak bertahun-tahun lalu.Ratri turun dari lantai dua sambil membawa botol minum anaknya yang tadi masih berada di kamar. Lampu-lampu rumah sudah diredupkan sebagian. Hanya menyisakan cahaya hangat di area pantry dan ruang baca.Anaknya sudah tidur sejak satu jam lalu. Anak laki-laki kecil yang meski sudah berusia delapan tahun tapi selalu tidur sambil memeluk dinosaurus kain lusuh kesayangannya.Ratri berhenti sebentar saat melihat papanya masih duduk sendirian di ruang baca.Pak Hendra mengenakan kemeja rumah warna gelap dengan kacamata baca bertengger rendah di hidungnya. Namun lembar koran bisnis di tangannya sudah lama tidak dibalik.Tatapannya kosong ke arah taman belakang.Ratri berjalan mendekat perlahan.“Papa belum tidur?”Pak Hendra menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. “Belum ngantuk.”Ratri mendengus kecil. “Padahal obat darah tingg

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 51. Raga yang Perlu Jeda

    Dio keluar rumah hampir berlari. Langkah kecilnya berhenti mendadak di teras ketika matanya menangkap pot-pot yang tersusun rapi. “Ibun!” serunya. “Itu…itu bunga kita!” Sheza menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya. Ibun bawa beberapa dari rumah kita.” Dio mendekat, berjongkok di depan pot mawar ya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • KAMAR KEDUA   Bab 38. Di Antara Keraguan

    Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya. Sheza tidak

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 39. Yang Tidak Diucapkan

    Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.” Ia berhenti sejen

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 43. Sedikit Penantian

    Karena tidak ingin Julian menunggunya, Sheza sudah duduk di foyer ketika suara klakson mobil terdengar. “Aku nggak telat, kan?” tanya Julian dengan senyum yang tidak biasa. Sheza menggeleng. “Nggak, Mas. Makasih udah jemput aku sama Athar.” Ia menggamit lengan Athar dan meminta adiknya naik ke k

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status