Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 213. Pertolongan Papa Baru

Share

Bab 213. Pertolongan Papa Baru

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-05-21 23:56:44

Sheza mengangguk tanda paham. Tapi malam itu sepertinya Sagara belum bisa mengisap dengan kuat. Dagunya sudah bisa menempel tapi bayi itu tidak sabar untuk terus mencoba.

Setengah jam menempel di puting Sheza, Sagara kembali merengek. Bidan dan perawat sudah meninggalkan mereka. Tersisa Satria yang berdiri dengan alat pemompa ASI elektrik keluaran terbaru.

“Ini diletakkan di tiap sisi?” tanya Satria dengan wajah canggung.

“Tadi udah aku pake, tapi keluarnya dikit banget, Mas.” Dahi Sheza menger
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Muza Ulum
...️...️...️...️...️...️...️
goodnovel comment avatar
narnia
wow up banyak .tengkyu njus
goodnovel comment avatar
Try Dewi
Zee meleleh dicintai mas Sat.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 213. Pertolongan Papa Baru

    Sheza mengangguk tanda paham. Tapi malam itu sepertinya Sagara belum bisa mengisap dengan kuat. Dagunya sudah bisa menempel tapi bayi itu tidak sabar untuk terus mencoba.Setengah jam menempel di puting Sheza, Sagara kembali merengek. Bidan dan perawat sudah meninggalkan mereka. Tersisa Satria yang berdiri dengan alat pemompa ASI elektrik keluaran terbaru.“Ini diletakkan di tiap sisi?” tanya Satria dengan wajah canggung.“Tadi udah aku pake, tapi keluarnya dikit banget, Mas.” Dahi Sheza mengernyit karena gelisah.“Konsepnya seperti selang, kan? Alirannya bakal lancar kalau sedotan Saga kenceng?” Satria bertanya dengan suara pelan. Seakan tak mau mengimbangi rengekan bayinya yang sedang berjuang mengisap ASI.“Iya, gitu.”“Kita ke ruang laktasi aja?” tanya Satria hati-hati. Ia benar-benar takut salah dan membuat Sheza tak nyaman. Kurang tidur dan lelah membuat wanita itu terlihat sedikit sensitif. Ia tak berani menyarankan untuk membawa bayi mereka ke ruangan bayi karena Sheza berteka

  • KAMAR KEDUA   Bab 212. Besok Main Lagi 

    Menjelang malam, kamar rawat itu kembali ramai oleh suara anak-anak.Dio sudah duduk selonjoran di sofa sambil memeluk bantal kecil rumah sakit. Sementara Nayla berdiri dekat boks bayi sejak tadi, memperhatikan Saga yang sedang tidur seperti penjaga kecil yang terlalu serius dengan tugas barunya.Athar yang dari tadi beberapa kali melihat jam akhirnya berdiri sambil menepuk paha pelan.“Ayo,” katanya. “Kita pulang dulu.”“Nggak mau. Ini belum malem, Om.” Nayla menjawab duluan.Dio ikut menggeleng keras. “Aku juga nggak mau. Baru aja sore ke sini.”Athar langsung mengembuskan napas panjang sambil mendongak sebentar ke langit-langit kamar. “Supir udah nunggu dari tadi.”“Tunggu bentar lagi,” kata Dio cepat.“Dari tadi juga bilang bentar lagi,” balas Athar.Nayla akhirnya menoleh sedikit. Wajahnya terlihat benar-benar keberatan. “Aku mau jagain adik.”“Adiknya tidur,” jawab Athar sabar.“Aku tau,” balas Nayla. “Kalau dia bangun, dia juga belum bisa ngajak ngobrol,” sahut Athar. Dio ter

  • KAMAR KEDUA   Bab 211. Sheza Memperhatikan 

    Dari sejak pagi, Sheza mulai sadar ada yang aneh dengan tubuh Satria.Bukan wajahnya.Karena luka kecil di pelipis dan sudut bibir itu masih bisa dianggap lecet biasa. Bisa saja Satria terlibat perselisihan antar sesama pria. Baginya sendiri … itu tidak terasa aneh bagi seorang Satria yang ia kenal.Namun … ada yang aneh dengan cara pria itu bergerak. Terasa tidak biasa.Kadang bahu terlihat kaku saat mengangkat Saga. Kadang napasnya berhenti sepersekian detik saat berdiri dari sofa. Dan beberapa kali Sheza menangkap Satria seperti menahan nyeri saat lengannya bergerak terlalu jauh.Satria tidak mengaduh atau meringis. Tidak mengatakan apa-apa seperti biasa. Tapi jelas ada sesuatu yang ditahannya.Selebihnya … Satria tetap berjalan ke sana kemari membantu mengambil air minum, membetulkan selimut, atau mengangkat Saga seolah tubuhnya baik-baik saja.Namun justru hal itu yang membuat Sheza semakin gelisah. Karena Satria biasanya memang lebih diam saat sesuatu benar-benar serius terjadi.

  • KAMAR KEDUA   Bab 210. Pandangan Kawan

    Beberapa saat sebelumnya.Kafe kecil dekat rumah sakit itu masih buka meski jam sudah lewat sore. Lampunya temaram kekuningan. Tidak ramai. Hanya beberapa meja terisi orang-orang yang terlihat sama lelahnya dengan mereka.Roman dan Vian duduk di dekat kaca depan.Dua gelas kopi hitam sudah datang sejak beberapa menit lalu, tapi baru disentuh sedikit.Vian bersandar sambil memutar sendok pelan di cangkirnya. “Gue mau nanya sesuatu.”Roman melirik malas. “Kalau soal utang jangan sekarang.”“Lu serius masih jadi fanboy-nya Sheza?”Roman langsung tertawa pendek. “Fanboy apaan?”“Ya ….” Vian mengangkat bahu. “Lo tuh keliatan suka banget sama dia.”Roman mendecak kecil lalu ikut bersandar. “Lo sadar nggak sih kalau Sheza emang semenarik itu buat laki-laki? Aura feminin-nya bikin laki-laki ngerasa pengen ngelindungi gitu.”Vian mengangkat alis. “Ya gue nggak tau. Gue udah punya bini.”Roman langsung tertawa. “Nah itu. Otak lo ketutup.”“Maksud gue…” Vian mengangkat bahu santai. “Kalau udah n

  • KAMAR KEDUA   Bab 209. Jam Besuk

    Menjelang makan siang, kamar rawat Sheza mulai kembali tenang.Satu per satu teman-teman Satria pamit.Julian lebih dulu berdiri sambil merapikan jam tangannya. Marina ikut membereskan tas kecil miliknya sebelum menghampiri Sheza sebentar.“Selamat ya,” ucap Marina lembut sambil menyentuh tangan Sheza. “Istirahat yang banyak.”Sheza tersenyum kecil meski matanya masih terlihat lelah. “Makasih, Mbak.”Julian mendekat ke box bayi lalu memandang Saga beberapa detik. “Mukanya udah mahal dari lahir,” gumamnya.Roman langsung menyahut, “Karena bapaknya nyusahin negara sejak semalam.”“Lo juga ikut nyusahin,” balas Julian datar.Roman terkekeh kecil sambil mengambil jaketnya.“Weekend ini kita main ke rumah lo,” kata Vian pada Satria sebelum berdiri. “Kalau dokter udah ngebolehin pulang.”Satria mengangguk kecil. “Iya.”“Sekarang kalau gue ke rumah lo, artinya gue mau liat bayi ya. Atau minimal ngecek jaitan lo.” Roman berbisik santai di dekat bahu Satria.“Percaya …,” sahut Satria.Semua te

  • KAMAR KEDUA   Bab 208. Kabar yang Cepat Sampai

    Roman masih memegang buket bunga itu sambil memperhatikan kartu kecil di tangannya beberapa detik lebih lama.“Teguh,” ulangnya lagi.Lalu matanya bergerak perlahan ke arah Satria yang sedang menggendong Saga.“Siapa Teguh?”Satria bahkan tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada bayi kecil di pelukannya yang mulai mengantuk setelah kenyang menyusu.Roman menyipitkan mata.“Wah.” Ia menunjuk buket itu. “Kayaknya ujian rumah tangga lo belum selesai, Sat.”Julian langsung terkekeh kecil. “Roman hidup dari gosip orang,” katanya.“Gue hidup dari insting.” Roman mendekat ke sisi Satria sambil menurunkan suara. “Dan insting gue bilang bunga beginian nggak dikirim bos biasa.”Satria akhirnya mendengus kecil. “Tapi memang bos biasa.”“Nah, tau ternyata.” Roman langsung menunjuk Satria penuh kemenangan.Namun sebelum obrolan makin panjang, Saga mulai bergerak kecil di pelukan Satria. Pria itu refleks langsung diam.Gerakannya berubah super hati-hati saat menurunkan bayi laki-laki

  • KAMAR KEDUA   Bab 104. Batas Yang Tidak Boleh Dilewati

    Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 92. Biar Aku Jelaskan

    Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • KAMAR KEDUA   Bab 88. Belum Baik-Baik Saja

    Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status