Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 225. Sedikit Nostalgia.

Share

Bab 225. Sedikit Nostalgia.

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-05-28 23:10:09

“Kalau gitu … abis nifas kamu harus pakai pengaman. Bahaya itu, Za …. Bisa–bisa kamu langsung hamil lagi. Apalagi itu masa subur-suburnya.”

Sheza tergelak karena perkataan itu.

“Tapi aku percaya kalau Sheza bakal segera hamil lagi. Dengan penampilan begini … suaminya pasti sulit bertahan.” Dira menggaruk dagu.

Jenar ikut mengangguk. “Sheza kayaknya juga nggak keberatan karena … liat deh auranya. Sheza emang lagi di fase cinta-cintanya sama Pak Elang.”

“Aku memang nggak keberatan. Meski masa aw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
~kho~
bwahahaha... jd inget mantan pacarnya winarsih
goodnovel comment avatar
mamalea
hahaha bener jg , keknya pakteguh hrs lu ksh penjelasan panjang lebar deh diraaaa
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
pak teguh blom bisa move on..cinta nya layu sebelum berkembang wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 336. Percikan yang Mulai Tersebar

    Malam itu, Rania berbaring di kasur kosnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang sejak beberapa hari terakhir mulai terasa akrab, meski belum sepenuhnya terasa seperti rumah.Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tiga hari lalu belum juga terjawab.Saudara-nya Roman.Sudah tiga hari pria itu datang ke rumah sakit membawa makanan untuknya dengan alasan yang sama. Katanya, ada saudaranya yang juga sedang menjalani praktik klinik di rumah sakit tersebut.Tapi sampai sekarang, Rania belum pernah melihat orangnya.Tidak ada nama dan jurusan yang jelas.Bahkan tidak ada satu pun perawat atau mahasiswa praktik lain yang pernah menyebut ada peserta praktik baru yang memiliki hubungan keluarga dengan Roman—pria yang sering menunggunya di lobby.Rania mengembuskan napas pelan.Mungkin memang kebetulan.Bisa saja jadwal praktik mereka berbeda. Bisa jadi saudaranya berada di ruangan lain. Rumah sakit itu cukup besar dan mahasiswa prakt

  • KAMAR KEDUA   Bab 335. Pendekatan Tak Biasa

    "Maksudnya ini buat saya?" tanya Rania, memandang kopi dan paper bag yang dijejalkan ke tangannya."Buat kamu," kata Roman, memandang sekeliling. Rania tetap menatapnya dengan sorot curiga."Bapak benar-benar temannya Kak Sheza dan Mas Satria? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?""Pernah. Maksudnya saya pernah lihat kamu. Tapi kamu nggak lihat saya." Roman kembali tersenyum.Rania memandang kopi di tangannya, lalu berkata pelan, "Tapi saya nggak minum kopi."Wajah Roman mendadak berubah, binar cerianya hilang. "Umm… nggak minum kopi? Tumben," katanya."Tumben? Siapa yang tumben?"Roman menggeleng lemah, sorot optimisnya padam seketika. Ia hampir saja bilang aneh kalau gadis seusia Rania tidak minum kopi—biasanya gadis-gadis yang ia ajak keluar di akhir pekan akan berakhir duduk di coffee shop, memesan berbagai varian kopi dan camilan manis kesukaan mereka."Itu… yang di dalam paper bag ada cake." Roman menyentuh paper bag di tangan Rania. "Kamu suka cake, kan?"Lagi-lagi Rania menggele

  • KAMAR KEDUA   Bab 334. Gerak Cepat

    Tak perlu waktu lama bagi Satria untuk tahu kalau Roman sedang membutuhkan sesuatu dari Athar. Tidak ada yang membuat Roman bisa seramah dan sepersuasif itu selain keperluannya sendiri.Anak-anak yang mengambilkan Roman jagung dan hasil panggangan menyerahkan piring itu pada pria itu sesaat kemudian.Menjelang pukul sembilan, anak-anak sudah tidak terlihat lagi di dekat kolam renang. Nayla mengajak Violetta ke kamarnya, sedangkan Dio sudah pamit lebih dulu karena mengantuk.Satria baru saja kembali keluar setelah meletakkan Sagara di kamar. Kini ia berdiri di sebelah Sheza."Jamuan malam ini benar-benar luar biasa. Gue kekenyangan, Sat." Vian mengusap perutnya, merangkul Tania yang tersenyum-senyum di sebelahnya."Ntar kapan-kapan di rumah lo ya. Biar lain kali ikutan manggang." Arga menimpali dari sisi lain, dengan Wenny yang berdiri memeluk pinggangnya."Semua makanannya enak. Terutama bumbu barbeque-nya. Sheza yang bikin katanya." Wenny tersenyum menatap Sheza."Dari dulu Sheza sel

  • KAMAR KEDUA   Bab 333. Menghimpun Informasi

    Roman bangkit dari kursinya.Ia tidak langsung menuju Athar. Langkahnya justru dibuat santai, seolah hanya ingin mengambil minuman yang berada di meja dekat kolam renang.Namun setelah gelas berada di tangannya, arah kakinya berubah.Athar masih duduk di kursi panjang bersama Dio, Nayla, dan Vio. Ketiga anak itu sedang sibuk memainkan permainan kartu yang entah bagaimana sudah berpindah dari meja makan ke dekat kolam.Roman berhenti beberapa langkah dari mereka.“Tha!”Athar mendongak. “Hm?”“Gue duduk sini, ya.”Athar menggeser sedikit tubuhnya. “Duduk aja.”Roman menarik kursi kosong di dekat bangku panjang. Ia duduk. Diam. Mengamati anak-anak yang masih sibuk bermain UNO. Athar melirik sebentar, lalu kembali memperhatikan permainan anak-anak.Roman ikut diam.Namun saat permainan kartu terhenti di putaran berikutnya, ia mulai menegakkan tubuh.“Nay, ajak adik-adiknya ke seberang sana buat ambilin Om Roman jagung bakar.” Ia menunjuk sisi di mana terdapat grill, meja makan panjang d

  • KAMAR KEDUA   Bab 332. Satu Keluarga

    Roman tidak langsung kembali ke rumah Satria.Mobilnya justru melaju di belakang taksi yang membawa Rania.Ia sendiri tidak benar-benar tahu kenapa melakukannya.Awalnya hanya ingin memastikan arah taksi itu. Setidaknya begitu alasan yang muncul di kepalanya. Namun setelah beberapa persimpangan dilewati, rasa penasarannya justru semakin besar.Beberapa menit kemudian, taksi itu berbelok masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.Roman memperlambat mobil.Di kanan kiri jalan berdiri beberapa bangunan bertingkat yang cukup padat. Lampu jalan tidak terlalu terang. Suasananya jauh lebih tenang dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati.Taksi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai dengan papan bertuliskan Kost Putri Athena.Roman ikut menghentikan mobil beberapa meter di belakangnya.Ia memandang bangunan itu dari balik kaca depan.“Oh, di sini.” Roman masih menatap papan tulisan seraya mematikan nyala lampu mobil. “Jauh juga.”Ia mengerutkan kening.“Kalau praktik klinik bera

  • KAMAR KEDUA   Bab 331. Layaknya Family Gathering 

    Selepas Maghrib, halaman belakang rumah Satria sudah berubah menjadi tempat berkumpul yang ramai.Lampu-lampu taman menyala mengelilingi halaman, sebagian cahayanya jatuh ke permukaan kolam renang yang tenang. Pantulan lampu bergerak pelan mengikuti riak air yang sesekali tercipta kerena hembusan angin.Di dekat kolam, gas grill sudah mulai digunakan.Pak Heri berdiri di depan panggangan sambil membolak-balik daging yang mulai kecokelatan. Sesekali ia mengangkat tutup grill untuk memeriksa tingkat kematangannya. Aroma daging yang dipanggang bersama jagung dan ikan memenuhi halaman belakang.Meja panjang di bawah area terbuka sudah dipenuhi makanan. Piring-piring berisi daging panggang, jagung, kentang, salad, buah, dan berbagai macam saus memenuhi hampir seluruh permukaannya.Anak-anak berkumpul di sekitar meja, sesekali mengambil makanan yang mereka sukai sebelum kembali bermain.Para perempuan berkumpul di meja makan. Sheza duduk bersama Marina, Wenny; istri Arga dan Tania; istri Vi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status