Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 239. Obrolan Rindu

Share

Bab 239. Obrolan Rindu

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-06-07 18:08:50

Satria kemudian berjongkok. Mengusap pusara Prabu pelan. Kali itu … air matanya tidak terbendung. Sebulir air mata jatuh dan cepat-cepat disekanya.

“Lo pasti tau alasan gue nikahin Sheza, Bu.” Ia menunduk. “Lo tau kalau gue sayang kalian. Gue sayang mereka. Gue ... sekarang gue cinta Sheza, Bu."

"Dan gue rasa ... kalau lo lihat dia sekarang..." Sudut bibirnya bergerak tipis.

"...lo bakal marah."

Satria tertawa kecil sendiri. "Karena dia jauh lebih cantik sekarang."

"Lo dulu sering cerita kalau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (37)
goodnovel comment avatar
Anies
makasih kak jus...
goodnovel comment avatar
Riska Wulandari
lega ya pak..
goodnovel comment avatar
Usnani
bahagia selalu keluarga kcl ni
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 394. Pengakuan Sebelum Makan Siang

    Setelah mobil Satria keluar dari gerbang, Sheza berdiri sebentar di ruang tamu. Dio sudah berangkat lebih dulu bersama Pak Heri. Dari ruang makan terdengar suara Nila membujuk Sagara.Bayi laki-laki itu duduk di kursi makannya, tapi baru dua suap ia sudah turun dan berjalan mondar-mandir sambil mulutnya penuh.Sheza menghampiri. "Saga, duduk dulu."Saga menoleh dengan wajah protes, tapi tidak melawan."Boleh pilih mainan," kata Sheza lembut, "tapi makannya sambil duduk."Saga menimbang, lalu menunjuk mobil-mobilan kecil di rak tak jauh dari mereka. “Mobil yang ini? Berapa! Dua aja ya.” Sheza mengambil dua mobil-mobilan berwarna paling mencolok dan memberikannya.Anak itu naik ke kursinya sendiri, dan Nila bisa lanjut menyuapi dengan tenangDari kamar bayi terdengar tangis Sofia yang baru bangun.Sheza berjalan ke kamar tapi Lastri sudah muncul di ambang pintu dengan bayi perempuan yang pipinya semakin memerah saat menangis.“Sini, Sofia nyusu dulu sama saya. Bu Lastri bisa siapin ala

  • KAMAR KEDUA   Bab 393. Pertengkaran Pertama 

    Pahanya masih sedikit bergetar. Sheza memejamkan mata, menarik napas panjang, membiarkan sisa kenikmatan itu surut pelan-pelan. Di atas perutnya, kehangatan yang dicurahkan Satria terasa nyaris panas, dan jauh lebih banyak dari biasanya.Satria belum bergeser. Tangannya masih menahan paha Sheza agar tetap terbuka. Pria itu menunduk, memandang sesuatu di sana dengan raut yang hampir malu sendiri, seolah ia tertangkap basah sedang memperhatikan hal yang tak seharusnya.Lalu tangannya terulur, dan jarinya menyentuh celah itu pelan-pelan, seperti sedang memeriksa sesuatu.Sheza menggeliat. "Liat apa, Mas?""Hmm?" Satria menoleh sebentar padanya, lalu kembali menunduk ke bagian yang selalu membuatnya tergila-gila. "Malam ini kamu lebih ... basah, Zee."Sheza membeku.Tentu saja ia tahu ke mana arah percakapan Satria. Ia belum tahu kapan akan menjawab dugaan pria itu. Memang belum ada tes, tapi ia sudah hampir yakin. Ia hamil. Pasti.Satria berdiri dan mengambil handuk hangat dari kamar man

  • KAMAR KEDUA   Bab 392. Bukan Cuma Masuk Angin

    Sudah tiga hari sejak Nayla berangkat ke Denmark bersama Nadine dan Damar. Gadis itu sama sekali tidak melupakan mereka. Ia terlalu sering menelepon, seolah ingin menjaga hati orang-orang yang ditinggalkannya di Jakarta, sampai-sampai Satria harus meyakinkannya cukup lama bahwa mereka semua baik-baik saja.Pagi tadi Nayla mengirim foto dari sana. Ia berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan jaket tebal dan hidung merah karena dingin, tersenyum ke kamera seperti anak yang sedang berusaha tidak terlalu senang. Sheza memandangi foto itu lama, lalu menyimpannya. Ia ikut senang. Hanya saja, entah kenapa, hari ini ia merasa tidak punya tenaga untuk merasakan lebih dari itu.Pukul delapan malam, rumah sudah tenang. Dio sudah masuk kamarnya dan sibuk dengan buku gambarnya. Saga sudah tertidur lebih dulu setelah dimandikan Nila. Sofia baru saja menghabiskan botol susunya dan kini terlelap di kamarnya bersama Bu Lastri. Tadi ia sempat menyusu langsung, tapi hanya sebentar, lalu rewel, dan She

  • KAMAR KEDUA   Bab 391. Kesempatan Kedua 

    Sebelum turun ke lantai satu, Nadine sempat menghampiri kamar Nayla. Dari balik pintu yang sedikit terbuka ia mengamati tubuh remaja itu dari belakang.Ternyata … Nayla benar-benar beranjak remaja. Tingginya sudah menyusul papanya. Dengan bentuk tubuh persis sepertinya ketika mereka seumuran—terlebih bagian rambutnya. Panjang dan lurus. Namun kalau soal wajah, Nayla jelas mengambil wajah papanya. Satria mendominasi dalam hal itu.Di kamar itu mereka bicara dari hati ke hati. Tidak lama, tapi mereka berhasil menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Pagi itu memang semuanya terasa berbeda. Bahkan pelukan mereka terasa lebih erat. Seakan setelah ijab kabul nanti mereka tidak akan lagi sama seperti dulu karena akan ada sosok baru yang masuk ke dalam hidup mereka.Saat ia melangkah turun, Damar sudah menunggu di bawah tangga. Ia mengenakan setelan berwarna putih gading. Pria itu tidak duduk, hanya berdiri dan memandangi Nadine yang menuruni anak tangga satu per satu.Setelah bergandengan ta

  • KAMAR KEDUA   Bab 390. Dari Nayla

    Bagi Nayla, keluarga tidak pernah hadir utuh dalam ingatannya. Selalu setengah-setengah. Kadang hanya Papa, kadang hanya Mama. Seringnya begitu.Dalam hidupnya sudah terbiasa ada kalimat, "Kamu sama Papa dulu ya." Atau, "Hari ini kamu sama Oma dulu ya." Atau, "Papa janji minggu depan kita sama-sama." Kalimat-kalimat seperti itu mengisi masa tumbuhnya.Ia tak pernah mengeluh. Atau setidaknya saat kalimat-kalimat itu dilontarkan, ia belum pandai mengeluh. Rumah besar yang ia tinggali adalah rumah keluarga Mama. Mama anak tunggal dari keluarga yang memang berkecukupan sejak dulu. Karena itu, Nayla merasa sebenarnya tidak ada yang perlu ia keluhkan dalam hidupnya. Semuanya cukup, kecuali waktu Papa atau waktu Mama untuknya.Seperti janji Mama beberapa waktu yang lalu, sebelum ke Denmark ia boleh menghabiskan waktu bersama keluarga Papa, atau lebih tepatnya bersama Papa dan adik-adiknya. Rencana itu sudah lama, tapi baru bisa terwujud tahun itu.Mereka sekeluarga pergi ke Ubud, Bali. Di s

  • KAMAR KEDUA   Bab 389. Jawaban untuk Pak Satria

    Damar menaruh gelas air di depan Nadine, lalu mengikat apron hitam di pinggangnya. Gerakannya cepat dan tanpa ragu, seperti seseorang yang sudah ratusan kali melakukannya. Nadine memperhatikan dari kursi tingginya sambil menggenggam gelas dengan dua tangan, tidak yakin harus melakukan apa dari tempatnya itu.Di atas talenan sudah menunggu dua potong steik tebal yang tampaknya sudah dikeluarkan dari kulkas sejak tadi. Damar mengeringkannya dengan tisu dapur, menaburkan garam dan lada, lalu menyalakan api besar di bawah wajan besi."Dagingnya harus kering dulu," katanya tanpa menoleh. "Kalau basah, bagian luarnya nggak akan garing dan kecokelatan.""Aku nggak tau Mas punya teori sendiri soal steik.""Aku punya teori soal semua hal."Nadine tertawa. Wajan itu sudah berasap ketika Damar meletakkan dagingnya, dan bunyi desis yang langsung terdengar membuat Nadine ikut menegakkan punggung. Aroma gosong manis menyebar cepat. Damar tidak menyentuh daging itu sama sekali selama dua menit, hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status