Startseite / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 238. Harga Sebuah Akhir

Teilen

Bab 238. Harga Sebuah Akhir

last update Veröffentlichungsdatum: 05.06.2026 22:01:18

Satria keluar dari Estate cafe hampir tengah hari. Langit masih mendung. Udara terasa lembap setelah hujan tipis yang turun sebentar pagi tadi. Ia tidak langsung masuk ke mobil.

Beberapa detik pria itu berdiri di dekat parkiran sambil memandang lalu lintas yang bergerak pelan di depan sana.

Pertemuan itu sudah selesai.

Mungkin untuk selamanya.

Namun anehnya, ia tidak merasa menang.

Karena semakin banyak yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa beberapa masalah memang tidak bisa diselesaikan
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (56)
goodnovel comment avatar
Mommy Lily
mewek dah....
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
yg aku gak ngerti,apa Calvin gak punya keluarga, atau keluarganya biasa aja jadi gak bisa gerak atau teman untuk bercerita? mas sat aku ikut sedih, ceritanya menyayat hatiku yg rapuh bila baca cerita" sedih kek gini setetes air mataku pasti ikut jatuh
goodnovel comment avatar
Yuli Defika
Sedih bangett Asli ini percakapan paling menyayat hati nangis Aku KA njus🥹
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • KAMAR KEDUA   Bab 395. Rekonsiliasi Hati

    Sheza tersenyum seraya meletakkan kotak bekal di meja tamu dan menarik napas.Satria bangkit dari kursinya. Wajahnya masih datar, tapi ia melangkah mendekat dan meraih lengan Sheza dengan hati-hati. Ia membimbing istrinya memutari meja, lalu mendudukkannya di kursinya sendiri. Sheza menurut, sedikit kikuk. Satria berdiri bersandar di tepi meja dengan tangan di saku, dan tetap memandangnya. "Ke sini jauh," katanya. "Kamu nggak capek, Zee?"Zee. Sheza menangkap panggilan itu. Bukan Sheza, seperti semalam. Ada sedikit perasaan lega yang menyusup. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya mengerucutkan bibir dengan raut sedikit manja, seperti anak kecil yang tahu ia sedang dibujuk.__________Satria menahan diri untuk tidak tersenyum.Istrinya duduk di kursinya, dengan terusan elegan dan wajah yang tipis dirias, cantik seperti biasa, tapi ada sesuatu yang membuatnya lebih gemas hari ini. Bekal itu.Sheza datang jauh-jauh membawa makan siang, mengingatkannya akan cerita masa lalu mere

  • KAMAR KEDUA   Bab 394. Pengakuan Sebelum Makan Siang

    Setelah mobil Satria keluar dari gerbang, Sheza berdiri sebentar di ruang tamu. Dio sudah berangkat lebih dulu bersama Pak Heri. Dari ruang makan terdengar suara Nila membujuk Sagara.Bayi laki-laki itu duduk di kursi makannya, tapi baru dua suap ia sudah turun dan berjalan mondar-mandir sambil mulutnya penuh.Sheza menghampiri. "Saga, duduk dulu."Saga menoleh dengan wajah protes, tapi tidak melawan."Boleh pilih mainan," kata Sheza lembut, "tapi makannya sambil duduk."Saga menimbang, lalu menunjuk mobil-mobilan kecil di rak tak jauh dari mereka. “Mobil yang ini? Berapa! Dua aja ya.” Sheza mengambil dua mobil-mobilan berwarna paling mencolok dan memberikannya.Anak itu naik ke kursinya sendiri, dan Nila bisa lanjut menyuapi dengan tenangDari kamar bayi terdengar tangis Sofia yang baru bangun.Sheza berjalan ke kamar tapi Lastri sudah muncul di ambang pintu dengan bayi perempuan yang pipinya semakin memerah saat menangis.“Sini, Sofia nyusu dulu sama saya. Bu Lastri bisa siapin ala

  • KAMAR KEDUA   Bab 393. Pertengkaran Pertama 

    Pahanya masih sedikit bergetar. Sheza memejamkan mata, menarik napas panjang, membiarkan sisa kenikmatan itu surut pelan-pelan. Di atas perutnya, kehangatan yang dicurahkan Satria terasa nyaris panas, dan jauh lebih banyak dari biasanya.Satria belum bergeser. Tangannya masih menahan paha Sheza agar tetap terbuka. Pria itu menunduk, memandang sesuatu di sana dengan raut yang hampir malu sendiri, seolah ia tertangkap basah sedang memperhatikan hal yang tak seharusnya.Lalu tangannya terulur, dan jarinya menyentuh celah itu pelan-pelan, seperti sedang memeriksa sesuatu.Sheza menggeliat. "Liat apa, Mas?""Hmm?" Satria menoleh sebentar padanya, lalu kembali menunduk ke bagian yang selalu membuatnya tergila-gila. "Malam ini kamu lebih ... basah, Zee."Sheza membeku.Tentu saja ia tahu ke mana arah percakapan Satria. Ia belum tahu kapan akan menjawab dugaan pria itu. Memang belum ada tes, tapi ia sudah hampir yakin. Ia hamil. Pasti.Satria berdiri dan mengambil handuk hangat dari kamar man

  • KAMAR KEDUA   Bab 392. Bukan Cuma Masuk Angin

    Sudah tiga hari sejak Nayla berangkat ke Denmark bersama Nadine dan Damar. Gadis itu sama sekali tidak melupakan mereka. Ia terlalu sering menelepon, seolah ingin menjaga hati orang-orang yang ditinggalkannya di Jakarta, sampai-sampai Satria harus meyakinkannya cukup lama bahwa mereka semua baik-baik saja.Pagi tadi Nayla mengirim foto dari sana. Ia berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan jaket tebal dan hidung merah karena dingin, tersenyum ke kamera seperti anak yang sedang berusaha tidak terlalu senang. Sheza memandangi foto itu lama, lalu menyimpannya. Ia ikut senang. Hanya saja, entah kenapa, hari ini ia merasa tidak punya tenaga untuk merasakan lebih dari itu.Pukul delapan malam, rumah sudah tenang. Dio sudah masuk kamarnya dan sibuk dengan buku gambarnya. Saga sudah tertidur lebih dulu setelah dimandikan Nila. Sofia baru saja menghabiskan botol susunya dan kini terlelap di kamarnya bersama Bu Lastri. Tadi ia sempat menyusu langsung, tapi hanya sebentar, lalu rewel, dan She

  • KAMAR KEDUA   Bab 391. Kesempatan Kedua 

    Sebelum turun ke lantai satu, Nadine sempat menghampiri kamar Nayla. Dari balik pintu yang sedikit terbuka ia mengamati tubuh remaja itu dari belakang.Ternyata … Nayla benar-benar beranjak remaja. Tingginya sudah menyusul papanya. Dengan bentuk tubuh persis sepertinya ketika mereka seumuran—terlebih bagian rambutnya. Panjang dan lurus. Namun kalau soal wajah, Nayla jelas mengambil wajah papanya. Satria mendominasi dalam hal itu.Di kamar itu mereka bicara dari hati ke hati. Tidak lama, tapi mereka berhasil menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Pagi itu memang semuanya terasa berbeda. Bahkan pelukan mereka terasa lebih erat. Seakan setelah ijab kabul nanti mereka tidak akan lagi sama seperti dulu karena akan ada sosok baru yang masuk ke dalam hidup mereka.Saat ia melangkah turun, Damar sudah menunggu di bawah tangga. Ia mengenakan setelan berwarna putih gading. Pria itu tidak duduk, hanya berdiri dan memandangi Nadine yang menuruni anak tangga satu per satu.Setelah bergandengan ta

  • KAMAR KEDUA   Bab 390. Dari Nayla

    Bagi Nayla, keluarga tidak pernah hadir utuh dalam ingatannya. Selalu setengah-setengah. Kadang hanya Papa, kadang hanya Mama. Seringnya begitu.Dalam hidupnya sudah terbiasa ada kalimat, "Kamu sama Papa dulu ya." Atau, "Hari ini kamu sama Oma dulu ya." Atau, "Papa janji minggu depan kita sama-sama." Kalimat-kalimat seperti itu mengisi masa tumbuhnya.Ia tak pernah mengeluh. Atau setidaknya saat kalimat-kalimat itu dilontarkan, ia belum pandai mengeluh. Rumah besar yang ia tinggali adalah rumah keluarga Mama. Mama anak tunggal dari keluarga yang memang berkecukupan sejak dulu. Karena itu, Nayla merasa sebenarnya tidak ada yang perlu ia keluhkan dalam hidupnya. Semuanya cukup, kecuali waktu Papa atau waktu Mama untuknya.Seperti janji Mama beberapa waktu yang lalu, sebelum ke Denmark ia boleh menghabiskan waktu bersama keluarga Papa, atau lebih tepatnya bersama Papa dan adik-adiknya. Rencana itu sudah lama, tapi baru bisa terwujud tahun itu.Mereka sekeluarga pergi ke Ubud, Bali. Di s

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status