Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 3. Surat yang Membuka Luka

Share

Bab 3. Surat yang Membuka Luka

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-05 15:28:18

“Zee … ada sesuatu yang harus kamu tau.”

Genggaman Satria di lengannya masih kuat. Sheza menoleh, sorot matanya merah, berlapis amarah dan letih. Ia menatap pria di depannya dengan raut lelah dan malas.

“Mungkin kita bisa ngobrol sebentar,” kata Satria lagi.

Sheza belum menjawab. Ia menahan kepala Dio yang mulai terkulai di bahunya. Dio lelah dan ia juga sama lelahnya. Ketika Sheza baru saja hendak membuka mulut menjawab Satria, gerombolan pelayat yang meninggalkan pemakaman berbisik-bisik dengan suara yang sulit disamarkan.

“Katanya meninggal di tempat kejadian. Jadi, nggak sempat ketemu anak-istrinya.”

“Kebayang di bawah kolong truk gimana. Motornya aja sampai ringsek nggak berbentuk.”

“Kudengar kepalanya yang paling parah.”

Sheza dan Satria sama-sama mendengar obrolan pelayat itu. Keduanya bertukar tatapan paling dingin dan pilu.

“Lepas,” bisik Sheza dingin.

Satria tak segera melepaskan. Rahangnya mengeras, ada kalimat yang hampir meluncur dari bibirnya, tapi ia menahan. Puluhan pasang mata keluarga dan pelayat masih ada di sekitar mereka. Jauh di depan mereka orang tua Prabu menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Mungkin menunggu Sheza dan Dio.

“Sat, lepasin Sheza. Dia capek, lo juga capek. Apa pun yang mau lo sampaikan, nggak harus sekarang.” Tiba-tiba saja Roman muncul menahan lengan Satria.

Akhirnya, Satria melepaskan genggamannya pada Sheza. “Nanti,” katanya singkat, suaranya masih sama dingin, lalu ia berbalik.

Sheza merasa seakan dadanya ditekan keras-keras sampai tak ada ruang bernapas. Ia menarik napas panjang. Cengkeramannya di tubuh Dio kian erat. Ia lalu pergi meninggalkan kedua sahabat suaminya itu tanpa menoleh lagi.

*****

Malam itu, rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Lampu ruang tamu menyala redup. Tangan Sheza sibuk melipat baju Prabu, satu demi satu lalu memasukkannya ke dalam lemari. Tadinya ia ingin segera membagi-bagikan pakaian Prabu kepada sanak saudara terutama pada ayah mertuanya. Namun ternyata tidak semudah itu. Seluruh pakaian itu seakan mengeluarkan aroma Prabu. Hatinya perih sekali.

Terdengar ketukan di pintu kamar. “Kak, Kakek dan Nenek Dio barusan pamit pulang. Katanya nggak mau ganggu Kak Sheza.” Athar bicara dari luar pintu kamar.

Saat keadaannya sangat tercekik seperti saat itu, ternyata Athar yang hadir untuknya. Adik laki-laki kandung yang menjadi tanggungannya sejak lama.

“Iya, Tha. Kamu jangan pulang, ya. Malam ini nginep di kamar Dio,” sahut Sheza dengan suara sengau. Athar pasti tahu dia kembali menangis diam-diam.

“Kak Sheza sebentar lagi makan, ya,” ujar Athar sebelum menjauhi pintu. Suara sahutan Sheza terdengar sangat pelan dari dalam.

Baru seminggu Prabu meninggalkan Sheza dan Dio dengan status baru, tapi rumah itu sepi seperti sudah berbulan-bulan tak berpenghuni. Sheza jarang bicara dan Dio sudah mulai jarang bertanya apa yang terjadi dengan ayahnya.

“Kapan aku sekolah, Bun?” tanya Dio suatu sore. Di rumah hanya ada mereka berdua. Berhadapan di meja makan yang terlalu luas untuk mereka berdua.

“Senin aja, ya. Sekalian seminggu,” jawab Sheza.

“Siapa yang anterin aku? Ibun nggak bisa nyetir,” kata Dio lagi.

“Nanti Ibun anter pakai taksi. Kalau perlu … Ibun bisa belajar nyetir biar bisa anter Dio. Jangan khawatir, ya,” janjinya.

“Jadi … sekarang aku anak yatim ya, Bun?” Dio memainkan potongan ayamnya dengan garpu.

“Ada yang ngomong ke Dio?”

Dio menggeleng. “Kemarin di rumah Nenek, aku dengar Nenek cerita sama temannya. Dio sekarang sudah jadi Yatim.”

Sheza menelan ludah. Padahal sore itu ia sedang tak ingin menangis. “Tuhan tau kalau Dio anak yang kuat. Bunda juga wanita yang kuat. Jadi … Ayah diambil lebih cepat dari kita. Nggak ada yang salah dengan jadi anak yatim.” Sheza akhirnya bisa bicara hal menyakitkan itu dengan kepala tegak.

Belakangan ia sering menemani Dio makan siang terlambat. Nyaris pukul tiga karena murid kelas satu SD itu bangun siang dan sarapan nyaris tengah hari. Setelah makan Dio sering berendam dan bermain air di bathtub Ayah dan Ibun-nya. Sheza membiarkan hal itu karena ia semakin menikmati kesunyian di rumah mereka.

Ketika sedang membuka buku catatan keuangannya, Sheza tersentak karena suara bel. Kali ini bel itu dipencet dengan tidak sabar. Begitu mendesak dan terkesan ngotot. Sheza menuju pintu dengan langkah kaki dipercepat.

Setelah mengintip beberapa saat, Sheza tak juga tahu siapa tamunya. Dua orang pria dan seorang wanita berpakaian rapi. “Apa urusan kantor Mas Prabu?” bisik Sheza ketika memutar anak kunci. Lalu pintu terbuka perlahan.

Pria yang berdiri di depan mengenakan jas rapi dengan rambut klimis dan wajah yang kaku. Walau tak tersenyum, pria itu mengangguk sopan pada Sheza.

“Selamat sore, Ibu Sheza Adriani Mahiswar?” Pria itu menyebut nama lengkap Sheza sambil membaca bagian depan amplop cokelat yang sedang dipegangnya.

Sheza mengangguk bingung. “Ya, saya.”

Pria itu membuka map di tangannya lalu mengeluarkan beberapa lembar surat. “Perkenalkan, saya kuasa hukum dari salah satu klien almarhum Bapak Prabu. Ada kewajiban yang harus segera Ibu ketahui.”

Sheza terdiam. Pandangannya jatuh pada kop surat dengan stempel tebal di atas kertas resmi. Kata-kata di dalamnya menari-nari kabur. Pelipis Sheza mulai berdenyut.

Pria itu melanjutkan dengan tenang seperti sedang membaca berita pagi. “Almarhum Prabu masih memiliki perjanjian bisnis yang gagal diselesaikan. Dan sayangnya, gugatan ini … jatuh pada ahli warisnya.”

“Maksudnya apa ya, Pak? Perjanjian bisnis apa yang gagal diselesaikan? Gugatan apa? Mas Prabu udah nggak ada,” ucap Sheza dengan suara bergetar.

“Justru karena meninggal, Ibu. Klien saya sudah terlalu lama terombang-ambing. Perkaranya sudah terdaftar di pengadilan. Ini bukan masalah baru…mungkin Ibu yang baru tau. Tapi proses hukum, kan, jalan terus. Mulai hari ini, Ibu terikat sebagai pihak tergugat.”

Suara detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Suara Dio menangis kembali terdengar. Anaknya itu pasti sedang menangis di balik pintu. Sudah seminggu Dio sesekali menghilang di rumah dan ditemukan menangis di balik pintu. Tiap ditanya sebabnya, Dio bilang, “Rindu Ayah.” Kali ini Sheza mengabaikannya.

“Bu Sheza,” suara pria itu terdengar tajam. “Di sini tertulis diberi waktu empat belas hari. Kalau tidak ada penyelesaian, harta peninggalan almarhum bisa disita. Karena bisa dibilang Pak Prabu wanprestasi.”

Sheza berdiri di ambang pintu, surat itu bergetar di tangannya. Kata-kata kuasa hukum itu seperti paku yang menghujam peti duka yang baru saja ditutup tanah.

Ia ingin berteriak, tapi suaranya terkunci di tenggorokan.

“Bu Sheza?” panggil pria itu.

Sheza tersentak. “Saya harus apa, Pak?” tanyanya dengan wajah pias.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (19)
goodnovel comment avatar
PiMary
Ya Allah.....ini beneran cerita novel ya?berasa nyata,seolah ikut menyaksikan kekalutan Sheza....sedih
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
baru tau bisa gitu proses hukum di limpahksn ke ahli waris
goodnovel comment avatar
Jamalia
ya Allah, kasihan sekali Zee, ditinggal prabu dengan masalah besar 🥹🥹
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 221. Kecurigaan yang Bertambah 

    Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turu

  • KAMAR KEDUA   Bab 220. Jangan Terlalu Dekat

    Ratri baru turun dari lantai dua setelah memastikan anaknya benar-benar sudah bangun dan bersiap berangkat sekolah. Rambutnya masih setengah basah. Kemeja putih longgar yang dipakainya membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.Begitu memasuki ruang makan, ia langsung melihat Pak Hendra sudah duduk di sana.Padahal biasanya papanya jarang sarapan di rumah saat hari kerja.“Tumben,” gumam Ratri sambil menarik kursi.Pak Hendra hanya mengangkat mata sebentar dari koran bisnis di tangannya. “Papa juga masih punya rumah.”Ratri terkekeh kecil lalu mulai menuang teh hangat ke cangkirnya sendiri. Namun baru beberapa detik duduk, ia mulai sadar sesuatu. Papanya memperhatikannya terlalu sering.Bukan tatapan biasa.Tatapan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.“Kamu kemarin ke mana aja?” tanya Pak Hendra akhirnya terdengar santai.Ratri mengangkat alis kecil. “Ke kantor.”“Terus?”“Jemput Raka.”“Terus?”Ratri mulai tertawa kecil sekarang. “Interog

  • KAMAR KEDUA   Bab 219. Hasil Diskusi

    Di ruang kerja Satria, Arga dan Julian menempati sofa berukuran untuk dua orang berdampingan. Di depan mereka ada coffee table yang di atasnya sudah tersedia nampan dengan teko dan beberapa cangkir keramik. Julian lebih dulu menyesap teh yang asapnya masih mengepul.“Kebetulan hari ini belum ada kena caffeine,” kata Julian.“Kenapa nggak ngopi sekalian?” Arga ikut mengambil teh dan memasukkan gula sesendok teh.“Kalau kopi nggak tahan lambungnya,” sahut Julian.“Kalau orang tua biasa emang gitu,” sahut Roman dari belakang Satria. Ia tengah membersihkan luka itu dengan kasa steril. Ia lalu mengamati luka itu dengan raut serius. “Ternyata bagus juga hasil jaitan gue,” ucapnya.“Kalau bagus … lebaran nanti bisa terima jaitan,” sambung Julian, gantian meledek.“Mau jait tunik, atau jait gamis, Say?” Roman kemudian terkekeh-kekeh. Beberapa saat tertawa, ia kemudian diam. “Dah, ah. Diem,” ucapnya sendiri.“Sinting,” kata Arga.Satria tersenyum seraya meringis karena gerakan tangan Roman menj

  • KAMAR KEDUA   Bab 218. Rumah yang Hangat

    Semalam akhirnya Satria berhasil membujuk Nayla pulang.Butuh waktu hampir satu jam sampai gadis kecil itu benar-benar mau memakai sandal dan turun dari sofa ruang keluarga sambil memeluk tas kecilnya dengan wajah berat.“Aku minggu depan ke sini lagi?” tanyanya untuk ketiga kali.Satria yang sedang berjongkok di depannya langsung mengangguk. “Iya.” Tangannya membelai pipi sang putri. “Padahal bukan jadwal Papa, tapi Papa akan usahakan izin biar kamu bisa nginep di sini.”Dan Nayla akhirnya diam.Perjalanan mengantar Nayla pulang berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Satria. Rumah Nadine terlihat sepi saat mobil masuk ke halaman. Beberapa asisten rumah tangga membantu membawakan barang Nayla sementara Nadine sendiri sedang tidak ada di rumah.Sebelum turun dari mobil, Nayla sempat memeluk leher papanya sebentar.“Papa jangan lupa.”Satria mengusap puncak kepala putrinya pelan. “Papa nggak pernah lupa.”Pagi hari berikutnya rumah itu kembali hidup oleh rutinitas kecil

  • KAMAR KEDUA   Bab 217. Dunia Pak Hendra

    Malam sudah jauh lewat.Rumah besar itu memang terlihat selalu tenang. Terlalu tenang bahkan untuk ukuran rumah yang memang jarang berisik sejak bertahun-tahun lalu.Ratri turun dari lantai dua sambil membawa botol minum anaknya yang tadi masih berada di kamar. Lampu-lampu rumah sudah diredupkan sebagian. Hanya menyisakan cahaya hangat di area pantry dan ruang baca.Anaknya sudah tidur sejak satu jam lalu. Anak laki-laki kecil yang meski sudah berusia delapan tahun tapi selalu tidur sambil memeluk dinosaurus kain lusuh kesayangannya.Ratri berhenti sebentar saat melihat papanya masih duduk sendirian di ruang baca.Pak Hendra mengenakan kemeja rumah warna gelap dengan kacamata baca bertengger rendah di hidungnya. Namun lembar koran bisnis di tangannya sudah lama tidak dibalik.Tatapannya kosong ke arah taman belakang.Ratri berjalan mendekat perlahan.“Papa belum tidur?”Pak Hendra menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. “Belum ngantuk.”Ratri mendengus kecil. “Padahal obat darah tingg

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 110. Irama yang Sama

    Satria merasakan tubuh Sheza menyambutnya sepenuhnya. Di dalam, tubuh Sheza hangat, hidup dan … berdenyut bagai nadi mereka. Satria memejamkan mata, menarik napas panjang ketika tubuh mereka menyatu lebih dalam. Sensasi itu membuat rahangnya mengeras. Kenikmatan yang sulit digambarkan menggelenyar

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • KAMAR KEDUA   Bab 101. Di Antara Angka dan Nama

    Satria tertawa.Tawa kecil yang membuat orang di ruangan itu cukup kaget. Untungnya tidak ada yang terganggu oleh tawa itu. Malah, Vian ikut tertawa meski Satria yakin pria itu tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.Satria menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan apa yang baru dilontark

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 103. Reaksi Penasaran 

    Arga yang pertama memecah sunyi. Ia tidak meninggikan suara atau bergerak mendekati Roman. Ia hanya menyilangkan tangan, menatap Roman sejenak—cukup lama untuk membuat orang lain sadar, sekarang giliran siapa yang diuji.“Man,” kata Arga ringan, “gue mau nanya satu hal.”Roman mengangkat wajah, lal

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 102. Alur yang Disimpan

    Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status