LOGIN“Zee … ada sesuatu yang harus kamu tau.”
Genggaman Satria di lengannya masih kuat. Sheza menoleh, sorot matanya merah, berlapis amarah dan letih. Ia menatap pria di depannya dengan raut lelah dan malas. “Mungkin kita bisa ngobrol sebentar,” kata Satria lagi. Sheza belum menjawab. Ia menahan kepala Dio yang mulai terkulai di bahunya. Dio lelah dan ia juga sama lelahnya. Ketika Sheza baru saja hendak membuka mulut menjawab Satria, gerombolan pelayat yang meninggalkan pemakaman berbisik-bisik dengan suara yang sulit disamarkan. “Katanya meninggal di tempat kejadian. Jadi, nggak sempat ketemu anak-istrinya.” “Kebayang di bawah kolong truk gimana. Motornya aja sampai ringsek nggak berbentuk.” “Kudengar kepalanya yang paling parah.” Sheza dan Satria sama-sama mendengar obrolan pelayat itu. Keduanya bertukar tatapan paling dingin dan pilu. “Lepas,” bisik Sheza dingin. Satria tak segera melepaskan. Rahangnya mengeras, ada kalimat yang hampir meluncur dari bibirnya, tapi ia menahan. Puluhan pasang mata keluarga dan pelayat masih ada di sekitar mereka. Jauh di depan mereka orang tua Prabu menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Mungkin menunggu Sheza dan Dio. “Sat, lepasin Sheza. Dia capek, lo juga capek. Apa pun yang mau lo sampaikan, nggak harus sekarang.” Tiba-tiba saja Roman muncul menahan lengan Satria. Akhirnya, Satria melepaskan genggamannya pada Sheza. “Nanti,” katanya singkat, suaranya masih sama dingin, lalu ia berbalik. Sheza merasa seakan dadanya ditekan keras-keras sampai tak ada ruang bernapas. Ia menarik napas panjang. Cengkeramannya di tubuh Dio kian erat. Ia lalu pergi meninggalkan kedua sahabat suaminya itu tanpa menoleh lagi. ***** Malam itu, rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Lampu ruang tamu menyala redup. Tangan Sheza sibuk melipat baju Prabu, satu demi satu lalu memasukkannya ke dalam lemari. Tadinya ia ingin segera membagi-bagikan pakaian Prabu kepada sanak saudara terutama pada ayah mertuanya. Namun ternyata tidak semudah itu. Seluruh pakaian itu seakan mengeluarkan aroma Prabu. Hatinya perih sekali. Terdengar ketukan di pintu kamar. “Kak, Kakek dan Nenek Dio barusan pamit pulang. Katanya nggak mau ganggu Kak Sheza.” Athar bicara dari luar pintu kamar. Saat keadaannya sangat tercekik seperti saat itu, ternyata Athar yang hadir untuknya. Adik laki-laki kandung yang menjadi tanggungannya sejak lama. “Iya, Tha. Kamu jangan pulang, ya. Malam ini nginep di kamar Dio,” sahut Sheza dengan suara sengau. Athar pasti tahu dia kembali menangis diam-diam. “Kak Sheza sebentar lagi makan, ya,” ujar Athar sebelum menjauhi pintu. Suara sahutan Sheza terdengar sangat pelan dari dalam. Baru seminggu Prabu meninggalkan Sheza dan Dio dengan status baru, tapi rumah itu sepi seperti sudah berbulan-bulan tak berpenghuni. Sheza jarang bicara dan Dio sudah mulai jarang bertanya apa yang terjadi dengan ayahnya. “Kapan aku sekolah, Bun?” tanya Dio suatu sore. Di rumah hanya ada mereka berdua. Berhadapan di meja makan yang terlalu luas untuk mereka berdua. “Senin aja, ya. Sekalian seminggu,” jawab Sheza. “Siapa yang anterin aku? Ibun nggak bisa nyetir,” kata Dio lagi. “Nanti Ibun anter pakai taksi. Kalau perlu … Ibun bisa belajar nyetir biar bisa anter Dio. Jangan khawatir, ya,” janjinya. “Jadi … sekarang aku anak yatim ya, Bun?” Dio memainkan potongan ayamnya dengan garpu. “Ada yang ngomong ke Dio?” Dio menggeleng. “Kemarin di rumah Nenek, aku dengar Nenek cerita sama temannya. Dio sekarang sudah jadi Yatim.” Sheza menelan ludah. Padahal sore itu ia sedang tak ingin menangis. “Tuhan tau kalau Dio anak yang kuat. Bunda juga wanita yang kuat. Jadi … Ayah diambil lebih cepat dari kita. Nggak ada yang salah dengan jadi anak yatim.” Sheza akhirnya bisa bicara hal menyakitkan itu dengan kepala tegak. Belakangan ia sering menemani Dio makan siang terlambat. Nyaris pukul tiga karena murid kelas satu SD itu bangun siang dan sarapan nyaris tengah hari. Setelah makan Dio sering berendam dan bermain air di bathtub Ayah dan Ibun-nya. Sheza membiarkan hal itu karena ia semakin menikmati kesunyian di rumah mereka. Ketika sedang membuka buku catatan keuangannya, Sheza tersentak karena suara bel. Kali ini bel itu dipencet dengan tidak sabar. Begitu mendesak dan terkesan ngotot. Sheza menuju pintu dengan langkah kaki dipercepat. Setelah mengintip beberapa saat, Sheza tak juga tahu siapa tamunya. Dua orang pria dan seorang wanita berpakaian rapi. “Apa urusan kantor Mas Prabu?” bisik Sheza ketika memutar anak kunci. Lalu pintu terbuka perlahan. Pria yang berdiri di depan mengenakan jas rapi dengan rambut klimis dan wajah yang kaku. Walau tak tersenyum, pria itu mengangguk sopan pada Sheza. “Selamat sore, Ibu Sheza Adriani Mahiswar?” Pria itu menyebut nama lengkap Sheza sambil membaca bagian depan amplop cokelat yang sedang dipegangnya. Sheza mengangguk bingung. “Ya, saya.” Pria itu membuka map di tangannya lalu mengeluarkan beberapa lembar surat. “Perkenalkan, saya kuasa hukum dari salah satu klien almarhum Bapak Prabu. Ada kewajiban yang harus segera Ibu ketahui.” Sheza terdiam. Pandangannya jatuh pada kop surat dengan stempel tebal di atas kertas resmi. Kata-kata di dalamnya menari-nari kabur. Pelipis Sheza mulai berdenyut. Pria itu melanjutkan dengan tenang seperti sedang membaca berita pagi. “Almarhum Prabu masih memiliki perjanjian bisnis yang gagal diselesaikan. Dan sayangnya, gugatan ini … jatuh pada ahli warisnya.” “Maksudnya apa ya, Pak? Perjanjian bisnis apa yang gagal diselesaikan? Gugatan apa? Mas Prabu udah nggak ada,” ucap Sheza dengan suara bergetar. “Justru karena meninggal, Ibu. Klien saya sudah terlalu lama terombang-ambing. Perkaranya sudah terdaftar di pengadilan. Ini bukan masalah baru…mungkin Ibu yang baru tau. Tapi proses hukum, kan, jalan terus. Mulai hari ini, Ibu terikat sebagai pihak tergugat.” Suara detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Suara Dio menangis kembali terdengar. Anaknya itu pasti sedang menangis di balik pintu. Sudah seminggu Dio sesekali menghilang di rumah dan ditemukan menangis di balik pintu. Tiap ditanya sebabnya, Dio bilang, “Rindu Ayah.” Kali ini Sheza mengabaikannya. “Bu Sheza,” suara pria itu terdengar tajam. “Di sini tertulis diberi waktu empat belas hari. Kalau tidak ada penyelesaian, harta peninggalan almarhum bisa disita. Karena bisa dibilang Pak Prabu wanprestasi.” Sheza berdiri di ambang pintu, surat itu bergetar di tangannya. Kata-kata kuasa hukum itu seperti paku yang menghujam peti duka yang baru saja ditutup tanah. Ia ingin berteriak, tapi suaranya terkunci di tenggorokan. “Bu Sheza?” panggil pria itu. Sheza tersentak. “Saya harus apa, Pak?” tanyanya dengan wajah pias. …Tanpa menunggu malam Darto mengemasi barang-barangnya. Kesabaran yang ia pupuk selama bekerja di sana seakan menguap hanya dalam beberapa menit.Melihat Pak Hendra berganti-ganti asisten rumah tangga adalah hal biasa untuknya. Ia sudah lama bekerja di sana dan malahan biasanya ia jarang sekali ikut turun tangan membersihkan rumah. Biasa selalu ada pegawai lain. Belakangan, ia mengerjakan semuanya karena Pak Hendra tak pernah cocok dengan orang-orang baru yang bekerja hanya dalam hitungan hari. Untuk itu ia tidak apa-apa.Namun berbeda dengan kali ini. Sejak pagi ia sudah dibentak-bentak terus. Diteriaki pemalas, bodoh dan menghina soal pekerjaannya. Bahkan ia dituduh melakukan kecerobohan yang bahkan tidak ia mengerti.Ia juga manusia yang bisa dilanda letih.Di depan pagar, Darto berhenti menatap rumah itu untuk beberapa detik.Ada banyak hal yang terasa berbeda beberapa bulan terakhir. Terutama saat anak dan cucu majikannya pindah ke luar negeri. Pria tua itu semakin mudah marah.S
Beberapa bulan terakhir, rumah kediaman keluarga Hendra Kusuma Wijaya mulai kehilangan keteraturan yang selama puluhan tahun selalu dijaga.Majalah dan koran bertumpuk di meja ruang tengah. Beberapa cangkir teh dibiarkan begitu saja di sudut-sudut ruangan. Ada pakaian yang seharusnya sudah dimasukkan ke dalam lemari atau ke keranjang cucian tetapi justru tergeletak di kursi.Mainan Raka juga semakin sering terlihat di mana-mana.Mobil-mobilan kecil di bawah meja. Balok kayu di dekat tangga. Sebuah boneka tergeletak di sofa ruang keluarga.Darto sang asisten rumah tangga pria sudah membersihkan rumah itu berkali-kali dalam sehari.Pagi setelah Hendra sarapan, ia membersihkan ruang tengah. Setelah makan siang, ia kembali merapikannya. Sore hari, ia menyapu dan mengepel lagi.Tetapi rumah itu selalu kembali berantakan.Pertama kali hal itu terjadi, Darto mengira Raka sudah kembali ke rumah atau Pak Hendra menerima tamu yang membawa anak. Nyatanya tidak. Mainan itu keluar begitu saja dari
Pak Salim masih terdiam setelah mengucapkan nama Calvin.Tatapannya tidak lagi benar-benar tertuju pada Satria. Ia seperti sedang mengulang percakapan mereka beberapa menit terakhir di dalam kepalanya.Bram menghilang.Calvin juga menghilang dengan cara yang tidak pernah benar-benar terjelaskan.Dan sebelum itu, Satria mengatakan bahwa mungkin selama ini Hendra melihat KSD Holding sebagai pesaing, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.Pak Salim mengusap dagunya. “Kalau dipikir-pikir …,” gumamnya.Satria menunggu.“Saya memang nggak pernah merasa Hendra bersaing dengan saya. Begitu pula sebaliknya.” “Karena Bapak menganggapnya keluarga?”“Iya.”Pak Salim tersenyum tipis. “Kami sudah kenal sejak kecil. Saya tahu bagaimana dia berpikir. Setidaknya, saya merasa tahu.”Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan,“Tapi mungkin ada beberapa hal yang dulu saya anggap biasa.”Satria tidak menyela.“Pernah ada satu tender pengangkutan yang cukup besar. Wak
Satria tetap diam.Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar permintaan maaf itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijawab dengan kata-kata, tetapi tidak dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.Pak Salim adalah salah satu orang yang paling banyak mengajarinya setelah kedua orang tuanya meninggal. Itu tidak bisa dipungkiri. Ia banyak belajar tentang bagaimana membaca sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Tentang bagaimana memperlakukan orang yang bekerja bersamanya. Tentang bagaimana sebuah hubungan bisa menjadi bagian penting dari sebuah bisnis tanpa harus selalu dibicarakan sebagai angka.Banyak relasi yang sekarang dimiliki Satria juga berawal dari orang-orang yang dikenalkan Pak Salim kepadanya bertahun-tahun lalu.Ia tidak pernah melupakan itu.Satria mengangkat cangkir di hadapannya, lalu meneguk sedikit.“Dulu Bapak sering ngajak saya ikut ketemu orang penting.”Salim menatapnya. “Masih ingat?”“Ingat.”“Padahal waktu itu kamu lebih suka
Mobil Satria berhenti di depan rumah keluarga Kertasoedibyo menjelang siang.Seorang keamanan yang sudah mengenal mobilnya membuka pagar sebelum ia membuka kaca dan melambai seperti biasa.Ia memarkirkan mobil di depan teras. Lalu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu keluar menyambutnya."Pak Satria … mau ketemu Bapak, kan?” Wanita paruh baya itu sedikit membungkuk saat Satria tiba di teras.Satria tersenyum. “Iya, benar.” Sepertinya Pak Salim sudah mengetahui kehadirannya lebih dulu melalui CCTV."Bapak di ruang kerjanya. Bisa langsung ke sana. Atau mau saya antar?” Wajah wanita itu sumringah menatap Satria.Satria menelengkan kepalanya sejenak, lalu meneruskan, “Kali ini saya mau diantar.”Wanita itu terkekeh senang. “Baik, Pak. Mari saya antar.”Salim sedang duduk di ruang kerjanya dengan sebuah koran di tangan ketika pintu ruangannya terbuka dan Satria muncul. Lelaki tua itu mengangkat wajah. "Kamu datang,” ucap Pak Salim.Satria mengangguk. "Iya, Pak."Pak Sa
Sheza sudah berada di dapur keesokan harinya saat hari masih benar-benar gelap.Rumah masih sunyi. Anak-anak belum terdengar bangun dari kamar masing-masing.Dari jendela dapur, langit di luar masih berwarna kelabu kebiruan, sementara lampu-lampu di dalam rumah menjadi satu-satunya penerang.Dengan nightdress pendek bertali tipis, Sheza berdiri di depan kompor, mengaduk sup labu yang sedang dipanaskan perlahan. Aroma lembutnya memenuhi dapur.Semalam perutnya terasa kurang nyaman. Bukan sakit, hanya sedikit begah sehingga membuatnya sulit tidur setelah mereka bercinta. Setelah bangun menjelang subuh, ia merasa lebih baik dan tiba-tiba ingin makan sesuatu yang hangat.Ia baru saja mengecilkan api ketika dua lengan melingkar di perutnya dari belakang.Sheza sedikit terkejut. Ia menunduk memandang tangan tegap yang mengusap perutnya. “Pasti nyariin aku.”Satria menempelkan dagu di bahu istrinya. “Aku masih mau peluk kamu. Harusnya masih bisa sekali lagi sebelum anak-anak bangun.”Sheza t







