Mag-log inSuara bel terdengar tiga kali, lalu hening. Prabu biasanya suka menggoda agar ia kesal dan buru-buru menghampiri pintu. Tapi menuju siang itu, dari jarak jauh saja Sheza tahu kalau yang datang bukan Prabu. Jadi, ia mengintip dari sela tirai. Detik itu darahnya berdesir.
“Satria?” gumam Sheza, memutar anak kunci tanpa tergesa. Ia membuka pintu setengah. Satria berdiri di luar dengan tampilan dinginnya seperti biasa. Sahabat suaminya yang itu memang tak pernah ramah padanya. Malah bisa dibilang agak sedikit ketus. “Ada apa? Bukannya Prabu….” Darahnya berdesir. Kini Satria berdiri di depan pintu. Basah kuyup. Jaket kulitnya lengket di tubuh. Matanya merah. Dan sorot matanya kali ini bukan judes atau ketus. Tapi … kosong. "Zee …. Prabu kecelakaan.” Satria berhenti sebentar, lalu menatap lurus. Suaranya datar nyaris tanpa emosi. “Kali ini … Prabu nggak bisa ikut pulang,” ucap Satria. Bahkan Satria mengucapkannya begitu saja. Tanpa penekanan di sana-sini. Datar. Seakan Prabu sudah terbiasa kecelakaan setiap hari. Kata-kata tanpa emosi itu jatuh pelan di dada Sheza. Seperti air hujan yang masuk dari celah genting. Pelan, tapi terus menggenang, membanjiri segalanya dari dalam. Sheza mundur. Satu langkah. Dua. Lalu lututnya roboh. Kakinya kehilangan tenaga. "Ini nggak kayak yang aku pikirin, kan? Ini cuma kecelakaan kecil, kan? Dia di UGD? Dioperasi? Aku mau ke sana sekarang….” Satria tidak menjawab. Hanya diam menatapnya. Detik itu Sheza tahu bahwa Satria tidak pernah berbohong atau bercanda padanya. Pria bahkan nyaris tak pernah bicara padanya. Detik itu tangisnya pecah. Kedua tangannya terkepal seakan menggenggam lantai. Bibirnya sobek oleh giginya sendiri. “Zee …,” panggil Satria, lalu matanya tertuju pada sosok anak kecil yang menghampiri mereka dengan mainan miniatur sepeda motornya. “Ibun …. Kenapa Ibun nangis di lantai? Siapa yang jahat sama Ibun?” Dio terlihat kebingungan memandang Sheza dan Satria bergantian. Pertanyaan polos Dio itu membuat Sheza mengulurkan tangannya. “Dio …,” raung Sheza. ***** Esok paginya Sheza menatap kursi kosong di ruang makan. Warna kayunya masih sama. Bantal duduknya agak lemas karena sering diduduki Prabu setelah pulang kerja. Dan entah bagaimana … dari kursi itu, sebuah ingatan yang menyesakkan dadanya datang. Lima tahun lalu saat usia kandungan Sheza 6 bulan. "Tutup matanya dulu, Sayang." "Mas, serius? Aku bawa perut, lho, ini." "Aku pengin kamu lihat sesuatu ….” Suara Prabu mengandung senyum yang nyaris kekanak-kanakan. Tangannya besar dan hangat menuntun Sheza yang matanya ditutup selembar scarf. Ia membimbing Sheza turun dari mobil, lalu masuk ke pagar rumah berbahan kayu kokoh. Saat Sheza membuka mata, rumah itu berdiri di hadapannya. Rumah yang tak bisa dibilang sederhana. Besar dan seperti impian yang selalu diceritakannya pada Prabu. Pintu kayunya tinggi dan berat, jendela lebar dari kaca, juga taman dengan pot-pot bunga yang sudah terisi. Dadanya berdebar karena membayangkan kolam renang kecil seperti impian mereka selama ini. "Ini … rumah siapa, Mas?" Saat itu Sheza tak berani berharap. "Rumah kamu,” jawab Prabu singkat. Sheza menoleh, matanya langsung berkaca-kaca. "Rumah kita, maksudnya?" "Kalau kamu bolehin, Za,” kata Prabu. Lalu mereka tertawa bersama. Sheza memeluk perut dan Prabu memeluk dari belakang seraya meletakkan dagu di bahunya. "Kita nggak perlu istana, Sheza. Kita cuma butuh tempat buat bangun pagi bareng.” “Tapi ini istana beneran, Mas. Ini lebih dari cukup. Ini rumah impianku.” Sheza menoleh ke samping dan mengecup pipi Prabu. “Makasih, ya. Aku bakal merawat dan membesarkan anak kita di sini.” Dan hari itu, mereka masuk ke rumah baru itu tanpa furniture. Saat mereka berkeliling Sheza mengeluhkan lapar. Prabu memesan pizza dan mereka berdua duduk bersila di lantai. Sepanjang sore itu Dio menendang dari dalam perut, dan Sheza tak henti menceritakan pada bayinya di perut bahwa mereka baru saja memiliki rumah impian. Itu hari paling bahagia dalam hidup Sheza. Bukan karena rumah. Tapi karena Prabu. Karena pria itu membuat segalanya terasa mungkin. Sheza bersandar lemas. Air matanya tak mau lagi keluar. Rasanya ia ingin tidur dan terbangun dengan Prabu yang sehat dan ceria di sampingnya. Mungkin semua hanya mimpi. Ia hanya perlu memejamkan mata. “Ibun … kata Nenek, Ayah sebentar lagi berangkat.” Dio mendekat lalu memeluk kaki Sheza. Sheza berjongkok dan kembali memeluk Dio untuk kesekian kalinya. Bibir yang ia gigiti sejak kemarin rasanya sudah hampir mati rasa. “Ayo, kita antar Ayah,” ucapnya saat berhasil membebaskan tenggorokannya dari rasa tercekik. Tanah pemakaman amat basah karena hujan semalam. Pelayat berdiri dalam diam. Dio memegang mainan motor kecil, dan meletakkannya sendiri ke dekat liang lahat. Belum bertanya apa pun. Dan Sheza berdiri di sana. Menatap lubang yang sudah dipersiapkan untuk menyimpan jasad Prabu. Di dalam dirinya masih terputar ulang suara Prabu waktu itu, "Kita cuma butuh tempat buat bangun pagi bareng." “Ibun … gendong,” kata Dio. Sheza tersentak. Sebenarnya ia pun rasanya ingin ambruk detik itu. Tapi kalau bukan dia, siapa lagi yang menggendong Dio? Dio sekarang cuma punya ibu. Sheza langsung menggendong Dio dengan seluruh kekuatannya yang tersisa. “Kak, biar aku yang gendong,” kata Athar yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Sheza. “Kamu bantu Mas Prabu aja, Tha. Terakhir kali …,” bisik Sheza pada adiknya semata wayang. Athar yang masih berusia enam belas tahun itu kembali melepas tangan Dio dan mendekati gerombolan orang yang sibuk menurunkan keranda. Sheza menatap nanar ke liang lahat. Kaki Dio melingkar di pinggangnya dengan tangan kecil yang mencengkeram bajunya. Sheza tak sadar. Matanya terpaku pada sosok di seberang liang lahat. Satria. Pria itu sibuk memapah keranda Prabu. Turun ke bawah. Tangannya menahan sisi nisan, membantu mengebumikan sahabatnya. Roman. Vian. Arga. Julian. Mereka semua ikut menutup lubang tanah itu, menepuk bahu satu sama lain, membacakan doa. Tapi mata Sheza saat itu hanya tertuju pada satu orang. Satria; lelaki yang pulang tanpa luka. Lelaki yang dulu ia lihat hanya sebagai teman Prabu, kini jadi simbol kehilangan buatnya. Sheza berpaling, melangkah meninggalkan pemakaman bersama Athar. Dio tertidur di bahunya. Napasnya berat tapi langkah Sheza tetap mantap. Ia tidak menoleh sedikit pun. Dan saat langkah Sheza hampir melewati pagar makam, suara berat itu akhirnya terdengar. “Zee ….” Satria pun merasa hampir mengeluarkan seluruh kekuatannya hanya untuk memanggil Sheza. Wanita itu berhenti lalu menolehnya pelan-pelan. Satria berdiri di belakangnya, dengan sorot dingin dan rahang yang tegang. “Ada sesuatu yang harus kamu tau,” ucap Satria. …Di teras belakang, Satria duduk di tepi kolam renang. Ia mengeluarkan rokok dari kantongnya dan meletakkannya ke meja kecil hingga menimbulkan bunyi sentakan pelan.Roman sedikit kaget melihatnya. "Udah lama nggak gini, Sat. Boleh? Soalnya sejak punya anak, lo ketat banget sama protokol kesehatan." Ia terkekeh.Satria mengambil sebatang dan menyulutnya. "Boleh. Kadang gue rasa perlu sesekali. Kalau ngomong begini, kita bisa lebih santai. Obrolan laki-laki."Roman ikut mengambil sebatang dari bungkus yang tergeletak di meja, menyulutnya, lalu duduk di kursi seberang Satria. Asap tipis mengepul di antara mereka, menyatu dengan udara sore yang mulai teduh."Udah berapa lama, Sat? Rokok terakhir kapan?" tanya Roman, mencoba membuka obrolan santai."Sejak Sheza hamil Sagara." Satria menghembuskan asap pelan-pelan, matanya menatap permukaan kolam yang beriak kecil. Ia lalu memandang temannya di sebelah. "Lo nggak ada mau cerita sesuatu ke gue?"Roman yang tadi memperlihatkan gurat senyum sa
Saat Roman datang dan terlihat oleh Satria, pria itu langsung diajak ke belakang. Satria hanya memberi isyarat dengan dagu, dan seketika itu juga Roman paham maksudnya.Roman melangkah melewati meja makan, tempat Sheza dan Rania masih berdiri. Ia tersenyum sekilas pada keduanya. Siang itu ia mengenakan jeans dan kemeja lengan pendek bermotif ombak laut berwarna biru pastel dan putih."Hai…," sapa Roman. "Saya ke belakang dulu, ya. Dipanggil Mas Satria," katanya.Sheza terbelalak, kaget mendengar Roman memanggil suaminya dengan sebutan "Mas". Namun Roman sudah keburu berlalu sebelum sempat ditanya lebih jauh, mengikuti langkah Satria menuju bagian belakang rumah.Sheza masih menatap punggung dua pria itu yang menjauh, lalu berpaling pada Rania."Mas? Ada apa? Kenapa tiba-tiba manggil temennya dengan sebutan Mas? Biasa dia nggak gitu," kata Sheza, memandang Rania.Rania masih memandangi punggung Roman yang berjalan mengikuti Satria ke belakang. Ia lalu menoleh pada Sheza. "Biasa manggil
Setelah selesai makan, Roman membayar dua porsi mie ayam. Rania sempat menawarkan untuk membayar bagiannya sendiri, tetapi Roman menolaknya."Kali ini biar aku aja," katanya.Rania mengangkat alis. "Kali ini?" Setelah kali ini, apakah artinya akan ada kali lainnya?, batinnya.Roman terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Kalau kamu mau."Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. "Ya sudah."Mereka meninggalkan gerobak pedagang. Udara malam terasa lebih sejuk. Jalan di depan rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas."Kos kamu benar-benar dekat?" tanya Roman."Dekat.""Biasanya jalan kaki?""Iya. Di sana," katanya, menunjuk lokasi di seberang rumah sakit.Roman melihat arah jalan yang ditunjuk Rania. "Saya temenin.""Nggak usah, Mas.""Kenapa?""Sudah malam.""Karena udah malem, makanya ditemenin. Yuk."Rania terdiam, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah."Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada kendaraan di antara mereka, tidak ada jarak
Pedagang mie ayam yang mereka datangi hanya berupa gerobak, meja panjang, dan bangku-bangku plastik yang disusun rapi. Malam itu bagian ujung meja terisi dua orang pekerja rumah sakit yang baru pulang, serta seorang pria muda yang tampilannya seperti mahasiswa yang tinggal di sekitar rumah sakit.Rania berjalan di samping Roman. Awalnya ia masih sedikit canggung, sesekali tangannya merapikan tali tas yang menggantung di bahu, sementara Roman berjalan santai di sebelahnya."Sering makan di sini?" tanya Rania."Lumayan." Roman merapikan bangku untuk Rania. "Kalau lagi praktik sampai malam, kadang mampir." Padahal yang barusan dikatakannya itu sebuah kebohongan kecil—ia tidak pernah makan di sana. Hanya melihat gerobak itu sesaat sebelum berbelok ke rumah sakit tadi.Rania duduk. "Berarti rumah sakit Mas Roman juga dekat dari sini?""Nggak terlalu dekat. Saya praktik di Jakarta Selatan.""Oh." Rania mengangguk kecil. "Kalau di sini Jakarta Barat, Jakarta Selatan itu jauh nggak, ya? Saya
Pulang dari rumah sakit malam itu belum terlalu larut seperti kemarin. Rania langsung membereskan pakaian kotor dan bersih-bersih untuk bersiap tidur. Saat berbaring, ia mengingat-ingat lagi yang terjadi hari itu.Ia mengulang beberapa hal yang dipelajarinya—tentang membedakan kontraksi persalinan dengan kontraksi palsu, membaca perkembangan pembukaan dari partograf, sampai mengenali perubahan kecil pada kondisi ibu yang bisa menjadi tanda awal komplikasi. Ada pula beberapa tips dari bidan pembimbing tentang kapan harus lebih waspada dan kapan sebuah kondisi masih bisa diobservasi.Semakin lama berada di rumah sakit, Rania mulai memahami bahwa kebidanan bukan sekadar menghafal teori. Yang lebih sulit adalah membaca situasi dan mengambil keputusan pada waktu yang tepat.Namun, dari semua yang berputar di kepalanya malam itu, ada satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan rumah sakit.Roman.Pria yang hampir dua minggu ini terus menghujaninya dengan makanan enak.Rania mengerutk
Malam itu, Rania berbaring di kasur kosnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang sejak beberapa hari terakhir mulai terasa akrab, meski belum sepenuhnya terasa seperti rumah.Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tiga hari lalu belum juga terjawab.Saudara-nya Roman.Sudah tiga hari pria itu datang ke rumah sakit membawa makanan untuknya dengan alasan yang sama. Katanya, ada saudaranya yang juga sedang menjalani praktik klinik di rumah sakit tersebut.Tapi sampai sekarang, Rania belum pernah melihat orangnya.Tidak ada nama dan jurusan yang jelas.Bahkan tidak ada satu pun perawat atau mahasiswa praktik lain yang pernah menyebut ada peserta praktik baru yang memiliki hubungan keluarga dengan Roman—pria yang sering menunggunya di lobby.Rania mengembuskan napas pelan.Mungkin memang kebetulan.Bisa saja jadwal praktik mereka berbeda. Bisa jadi saudaranya berada di ruangan lain. Rumah sakit itu cukup besar dan mahasiswa prakt







