Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 2. Rumah yang Pernah Kita Bangun

Share

Bab 2. Rumah yang Pernah Kita Bangun

Author: juskelapa
last update Last Updated: 2026-01-05 15:28:12

Suara bel terdengar tiga kali, lalu hening. Prabu biasanya suka menggoda agar ia kesal dan buru-buru menghampiri pintu. Tapi menuju siang itu, dari jarak jauh saja Sheza tahu kalau yang datang bukan Prabu. Jadi, ia mengintip dari sela tirai. Detik itu darahnya berdesir.

“Satria?” gumam Sheza, memutar anak kunci tanpa tergesa. Ia membuka pintu setengah. Satria berdiri di luar dengan tampilan dinginnya seperti biasa. Sahabat suaminya yang itu memang tak pernah ramah padanya. Malah bisa dibilang agak sedikit ketus. “Ada apa? Bukannya Prabu….” Darahnya berdesir.

Kini Satria berdiri di depan pintu. Basah kuyup. Jaket kulitnya lengket di tubuh. Matanya merah. Dan sorot matanya kali ini bukan judes atau ketus. Tapi … kosong.

"Zee …. Prabu kecelakaan.” Satria berhenti sebentar, lalu menatap lurus. Suaranya datar nyaris tanpa emosi. “Kali ini … Prabu nggak bisa ikut pulang,” ucap Satria.

Bahkan Satria mengucapkannya begitu saja. Tanpa penekanan di sana-sini. Datar. Seakan Prabu sudah terbiasa kecelakaan setiap hari. Kata-kata tanpa emosi itu jatuh pelan di dada Sheza. Seperti air hujan yang masuk dari celah genting. Pelan, tapi terus menggenang, membanjiri segalanya dari dalam.

Sheza mundur. Satu langkah. Dua. Lalu lututnya roboh. Kakinya kehilangan tenaga.

"Ini nggak kayak yang aku pikirin, kan? Ini cuma kecelakaan kecil, kan? Dia di UGD? Dioperasi? Aku mau ke sana sekarang….”

Satria tidak menjawab. Hanya diam menatapnya. Detik itu Sheza tahu bahwa Satria tidak pernah berbohong atau bercanda padanya. Pria bahkan nyaris tak pernah bicara padanya. Detik itu tangisnya pecah. Kedua tangannya terkepal seakan menggenggam lantai. Bibirnya sobek oleh giginya sendiri.

“Zee …,” panggil Satria, lalu matanya tertuju pada sosok anak kecil yang menghampiri mereka dengan mainan miniatur sepeda motornya.

“Ibun …. Kenapa Ibun nangis di lantai? Siapa yang jahat sama Ibun?” Dio terlihat kebingungan memandang Sheza dan Satria bergantian.

Pertanyaan polos Dio itu membuat Sheza mengulurkan tangannya. “Dio …,” raung Sheza.

*****

Esok paginya Sheza menatap kursi kosong di ruang makan. Warna kayunya masih sama. Bantal duduknya agak lemas karena sering diduduki Prabu setelah pulang kerja. Dan entah bagaimana … dari kursi itu, sebuah ingatan yang menyesakkan dadanya datang.

Lima tahun lalu saat usia kandungan Sheza 6 bulan.

"Tutup matanya dulu, Sayang."

"Mas, serius? Aku bawa perut, lho, ini."

"Aku pengin kamu lihat sesuatu ….”

Suara Prabu mengandung senyum yang nyaris kekanak-kanakan. Tangannya besar dan hangat menuntun Sheza yang matanya ditutup selembar scarf.

Ia membimbing Sheza turun dari mobil, lalu masuk ke pagar rumah berbahan kayu kokoh. Saat Sheza membuka mata, rumah itu berdiri di hadapannya. Rumah yang tak bisa dibilang sederhana. Besar dan seperti impian yang selalu diceritakannya pada Prabu. Pintu kayunya tinggi dan berat, jendela lebar dari kaca, juga taman dengan pot-pot bunga yang sudah terisi. Dadanya berdebar karena membayangkan kolam renang kecil seperti impian mereka selama ini.

"Ini … rumah siapa, Mas?" Saat itu Sheza tak berani berharap.

"Rumah kamu,” jawab Prabu singkat.

Sheza menoleh, matanya langsung berkaca-kaca. "Rumah kita, maksudnya?"

"Kalau kamu bolehin, Za,” kata Prabu. Lalu mereka tertawa bersama.

Sheza memeluk perut dan Prabu memeluk dari belakang seraya meletakkan dagu di bahunya.

"Kita nggak perlu istana, Sheza. Kita cuma butuh tempat buat bangun pagi bareng.”

“Tapi ini istana beneran, Mas. Ini lebih dari cukup. Ini rumah impianku.” Sheza menoleh ke samping dan mengecup pipi Prabu. “Makasih, ya. Aku bakal merawat dan membesarkan anak kita di sini.”

Dan hari itu, mereka masuk ke rumah baru itu tanpa furniture. Saat mereka berkeliling Sheza mengeluhkan lapar. Prabu memesan pizza dan mereka berdua duduk bersila di lantai. Sepanjang sore itu Dio menendang dari dalam perut, dan Sheza tak henti menceritakan pada bayinya di perut bahwa mereka baru saja memiliki rumah impian.

Itu hari paling bahagia dalam hidup Sheza. Bukan karena rumah. Tapi karena Prabu. Karena pria itu membuat segalanya terasa mungkin.

Sheza bersandar lemas. Air matanya tak mau lagi keluar. Rasanya ia ingin tidur dan terbangun dengan Prabu yang sehat dan ceria di sampingnya. Mungkin semua hanya mimpi. Ia hanya perlu memejamkan mata.

“Ibun … kata Nenek, Ayah sebentar lagi berangkat.” Dio mendekat lalu memeluk kaki Sheza.

Sheza berjongkok dan kembali memeluk Dio untuk kesekian kalinya. Bibir yang ia gigiti sejak kemarin rasanya sudah hampir mati rasa. “Ayo, kita antar Ayah,” ucapnya saat berhasil membebaskan tenggorokannya dari rasa tercekik.

Tanah pemakaman amat basah karena hujan semalam. Pelayat berdiri dalam diam. Dio memegang mainan motor kecil, dan meletakkannya sendiri ke dekat liang lahat. Belum bertanya apa pun.

Dan Sheza berdiri di sana. Menatap lubang yang sudah dipersiapkan untuk menyimpan jasad Prabu.

Di dalam dirinya masih terputar ulang suara Prabu waktu itu, "Kita cuma butuh tempat buat bangun pagi bareng."

“Ibun … gendong,” kata Dio. Sheza tersentak. Sebenarnya ia pun rasanya ingin ambruk detik itu. Tapi kalau bukan dia, siapa lagi yang menggendong Dio? Dio sekarang cuma punya ibu. Sheza langsung menggendong Dio dengan seluruh kekuatannya yang tersisa.

“Kak, biar aku yang gendong,” kata Athar yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Sheza.

“Kamu bantu Mas Prabu aja, Tha. Terakhir kali …,” bisik Sheza pada adiknya semata wayang. Athar yang masih berusia enam belas tahun itu kembali melepas tangan Dio dan mendekati gerombolan orang yang sibuk menurunkan keranda.

Sheza menatap nanar ke liang lahat. Kaki Dio melingkar di pinggangnya dengan tangan kecil yang mencengkeram bajunya. Sheza tak sadar. Matanya terpaku pada sosok di seberang liang lahat.

Satria.

Pria itu sibuk memapah keranda Prabu. Turun ke bawah. Tangannya menahan sisi nisan, membantu mengebumikan sahabatnya.

Roman. Vian. Arga. Julian.

Mereka semua ikut menutup lubang tanah itu, menepuk bahu satu sama lain, membacakan doa.

Tapi mata Sheza saat itu hanya tertuju pada satu orang. Satria; lelaki yang pulang tanpa luka. Lelaki yang dulu ia lihat hanya sebagai teman Prabu, kini jadi simbol kehilangan buatnya.

Sheza berpaling, melangkah meninggalkan pemakaman bersama Athar. Dio tertidur di bahunya. Napasnya berat tapi langkah Sheza tetap mantap. Ia tidak menoleh sedikit pun.

Dan saat langkah Sheza hampir melewati pagar makam, suara berat itu akhirnya terdengar.

“Zee ….” Satria pun merasa hampir mengeluarkan seluruh kekuatannya hanya untuk memanggil Sheza. Wanita itu berhenti lalu menolehnya pelan-pelan.

Satria berdiri di belakangnya, dengan sorot dingin dan rahang yang tegang. “Ada sesuatu yang harus kamu tau,” ucap Satria.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (22)
goodnovel comment avatar
PiMary
Belum apa2 dah perih aja ni mata....
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
ada misteri kh dalam kematian prabu?
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
kayaknya prabu nitipin keluarganya ke satria ya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 129. As Parents 

    Sheza terbangun lebih dulu pagi itu.Tubuhnya masih menyimpan sisa hangat malam sebelumnya. Di kulitnya, juga di dada. Ia berbaring beberapa detik, memandangi langit-langit kamar. Lalu ia menoleh pada Satria yang masih tertidur di sampingnya. Satu tangan berat pria itu masih di pinggangnya. Seakan percintaan semalam tak pernah benar-benar selesai.Sheza tersenyum kecil.Satria benar-benar tahu cara mencintainya, juga cara memenuhi pikirannya.Satria jarang berkata manis.Pria itu tidak pandai merangkai kalimat.Tapi Satria selalu menyempatkan diri mengantar, menjemput, mengusap punggungnya saat ia terlihat lelah, atau memijat bahunya saat ia kecewa, juga membelai perutnya tanpa diminta. Satria juga menyeka tubuhnya setelah bercinta, dan memastikan ia tak pernah merasa sendirian.Perlahan Sheza mengangkat tangan Satria dari pinggangnya dan duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana dalam. Rambutnya terurai, tubuhnya semakin berat oleh kehamilan yang usianya semakin bertambah. Payu

  • KAMAR KEDUA   Bab 128. Di Antara Napas yang Ditahan

    Satria menghembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan ketika Sheza mendekat lebih dalam. Ia tidak terburu-buru. Namun hal itu yang membuat segalanya terasa panjang.Sheza bergerak dengan kesabaran yang hampir bisa dibilang kejam. Lambat, memberi, lalu menahan. Mendekat, lalu mundur sedikit. Seolah ia sengaja membuat Satria menunggu setiap detik berikutnya.Tubuh Satria mengencang di bawahnya.Tangannya yang semula hanya tergeletak di sisi kini naik, menyusuri rambut Sheza perlahan lalu berdiam di kepala itu karena ikut merasakan gerakannya.Napasnya mulai berubah menjadi lebih berat dan dalam. “Zee ….” Suaranya serak, nyaris seperti peringatan yang formalitas saja.Sheza tidak menjawab.Wanita itu hanya menaikkan tatapannya sebentar. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berkilat di sana, yang bukan sekadar gairah.Sheza tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Dan Sheza melakukan itu untuknya.Sheza menggenggamnya, hangat, erat dan tetap lambat. Maju mundur dengan basah seperti omb

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

  • KAMAR KEDUA   Bab 125. Bukan Bekal Biasa

    Pertanyaan Nadine itu keluar begitu ringan. Nayla masih berdiri di depan meja makan. Kantong pink itu sudah tergeletak di atas meja. Tangannya belum juga melepaskan pegangan tasnya. “Ibun … ya Ibun,” jawabnya pelan.Nadine mengangkat alis tipis. “Mama nggak pernah ngajarin kamu manggil orang sembarangan pakai sebutan begitu.”Nayla terdiam.Ia membuka resleting tas pink itu pelan, seolah mencari waktu. Kotak bekal itu ia keluarkan dengan hati-hati dan diletakkan di atas meja granit yang dingin.Nadine memperhatikan setiap gerakan itu. “Kamu makan di sana?” tanyanya.Nayla menggeleng. “Belum.”“Kenapa?”“Aku mau makan di rumah.” Jawaban itu sederhana. Tapi nadanya membuat Nadine menyipitkan mata.“Kenapa nggak makan di sana saja?” lanjut Nadine.Nayla membuka tutup kotak itu perlahan. Nasi berbentuk beruang kecil masih utuh, sedikit mengeras di sudutnya. Sosis bunga. Telur gulung yang mulai pucat. “Biar bisa makan pelan-pelan,” jawab Nayla.“Pelan-pelan?” Nadine tersenyum tipis. “Atau

  • KAMAR KEDUA   Bab 124. Cahaya di Balik Pintu

    Satria tidak langsung masuk seluruhnya. Ia membuka sepersekian, cukup untuk membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap.Cahaya tipis memang berasal dari meja kerja Prabu. Lampu meja kecil menyala redup, terarah ke permukaan kayu yang penuh bayangan.Di sudut ruangan, dekat lemari arsip, seseorang sedang membungkuk. Jaket hitam. Gerakan cepat tapi hati-hati. Seperti orang yang sudah tahu apa yang ia cari atau justru sedang panik karena tidak menemukannya.Satria melangkah masuk.Selangkah. Dua langkah.Lantai berkarpet memantulkan bunyi halus di bawah sepatu kulitnya.Pria itu berhenti.Hanya sepersekian detik.Tidak menoleh.Lalu refleks.Tubuhnya berputar setengah, cukup bagi Satria menangkap siluet wajah yang tertutup bayangan. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berlari dan melompat keluar jendela yang memang sudah terbuka setengah.Angin malam masuk mendadak.Jendela itu mengarah ke balkon kecil. Tidak terlalu tinggi. Dua lantai saja. Cukup bagi orang yang nekat untuk turun ce

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status