بيت / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

مشاركة

Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

مؤلف: juskelapa
last update تاريخ النشر: 2026-02-24 02:14:06

Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.

Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”

Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.

Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (28)
goodnovel comment avatar
Diva Yusvita (DY)
sejauh ini baru kamar kedua bacaan yang bikin aku candu. isinya bukan cuma pasangan yang kebawa nafsu, tapi hubungan halal
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih kk jus
goodnovel comment avatar
Anies
apapun masalahnya bakalan baik² saja kalo udah ketemu "Rumahnya"
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • KAMAR KEDUA   Bab 302. Setajam Kata-katanya

    Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Senyum yang tadi masih tersisa di wajah Sheza perlahan menghilang. Hari yang sejak pagi terasa begitu ringan tiba-tiba berubah arah.Dari sorot mata Nadine, Sheza langsung tahu bahwa pertemuan mereka kali ini tidak akan berlangsung sebentar.Ada sesuatu yang menyala di sana. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketegasan yang jauh lebih sulit dihadapi. Seolah-olah perempuan itu sudah lama menunggu kesempatan untuk berbicara dengannya tanpa kehadiran Satria di antara mereka.Kaki Sheza terasa sedikit lemas.Terlebih ketika beberapa detik sebelumnya ia menangkap perubahan kecil pada wajah Nadine saat melihat Nayla duduk bersama mereka.Sheza tidak tahu apa yang terjadi antara ibu dan anak itu. Namun ia cukup mengenal Nadine untuk tahu bahwa perempuan itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.Nadine berjalan mendekati meja.Wajahnya datar. Tidak ada kemarahan yang diperlihatkan secara terang-terangan. Mung

  • KAMAR KEDUA   Bab 301. Pertemuan di Luar Jadwal 

    Setelah selesai dengan pemotretan itu, Sheza mengganti pakaiannya tadi dengan pakaian yang lebih ringan untuk bepergian.Ia memilih atasan warna merah muda pucat dengan detail ruffle bertumpuk di bagian depan dan lengan pendek yang jatuh lembut di bahunya. Atasan itu dipadukan dengan rok panjang berwarna putih gading yang melebar ringan dari pinggang, cukup longgar untuk perutnya yang mulai membulat.Sheza menambahkan sepasang anting mutiara kecil dan handbag berwarna nude yang senada dengan sepatunya. Bukan high heels seperti yang biasa ia kenakan ketika menghadiri acara, melainkan sepatu berhak rendah sekitar tiga sentimeter. Cukup untuk membuat langkahnya tetap terlihat anggun tanpa membuat kakinya cepat lelah.Ia berdiri sebentar di depan cermin.Perutnya belum terlalu besar, tetapi bentuknya mulai terlihat jelas jika diperhatikan. Sheza tanpa sadar mengusapnya sebentar.“Kita pergi, ya.” Senyum kecil muncul di wajahnya.Pagi itu, Sheza merasa jauh lebih segar daripada hari-hari s

  • KAMAR KEDUA   Bab 300. Studio Sheza

    Rumah terasa lebih hidup daripada beberapa minggu sebelumnya. Tidak ada suara muntah dari kamar mandi—yang biasa disertai langkah tergesa-gesa seseorang yang panik mencari obat atau air putih.Kehamilan Sheza sudah memasuki bulan ketiga.Tubuhnya memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum hamil, tetapi pagi-pagi seperti ini mulai terasa lebih mudah. Mual masih sesekali datang, terutama kalau perutnya terlalu kosong, tetapi tidak lagi sampai membuatnya menghabiskan separuh hari di tempat tidur.Pagi ini bahkan Sheza sudah mandi, merapikan rambut, dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman dan cantik.Ia sedang sibuk di ruangan yang belakangan sudah ditempel tulisan manis ‘Studio Sheza’. Ruangan kosong di belakang garasi dan berbatasan langsung dengan ruang keluarga—yang sekarang semakin terlihat lengkap dan benar-benar menyerupai studio berkarya. Ruangan kecil itu perlahan berubah menjadi tempat kerjanya. Ada meja, rak penyimpanan, kamera, tripod, beberapa lampu, serta berbagai pro

  • KAMAR KEDUA   Bab 299. Ketika Semuanya Luruh

    “Papa jatuh kasihan kepada Satria.” Suara Salim terdengar lebih pelan. “Waktu itu Papa melihat dia dan terpikir anak sendiri. Papa cuma berpikir … bagaimana kalau kamu yang berada di posisi dia?”“Papa nggak kasihan sama Satria.”Salim mengangkat wajah.“Papa cuma mementingkan diri Papa sendiri.”“Nadine!”Bentakan Salim membuat ruangan itu seketika terasa lebih sempit.“Bukan Papa yang meledakkan kapal itu!” suaranya meninggi. “Bukan Papa yang membuat kapal orang tua Satria mengangkut bahan kimia berbahaya dengan manifest palsu!”“Harusnya Papa cari Bram Hanggodo, bajingan itu!”“Sudah!” Salim menghantam telapak tangannya ke atas meja. “Sudah, Nadine!”Napasnya memburu.“Papa sudah cari dia. Papa bayar banyak orang untuk mencarinya. Kalau bajingan itu ditemukan, KSD Holding nggak perlu tutup!” Salim menunjuk dokumen di atas meja. “Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau kasus itu terus berjalan? Papa bisa ikut ditahan. Kamu mau jadi anak seorang narapidana?”Nadine terdiam.“Kamu pikir

  • KAMAR KEDUA   Bab 298. Kebenaran yang Menyakitkan 

    Untuk sesaat Nadine menatap Salim tanpa berkedip. Ia membasahi bibirnya sedikit gugup seraya mengangguk pelan. “Dan Papa pikir aku akan mudah percaya gitu aja?”Salim menggeleng. “Papa nggak pernah berpikir akan dengan mudah meyakinkan kamu.” Terdengar helaan napas panjang. “Meski Papa tau hari ini pasti akan datang.”Salim kemudian berdiri dan pergi ke lemari besi yang berdiri kokoh di sisi lain ruangan. Itu adalah lemari berkasnya. Setelah memasukkan angka kombinasi, ia kembali mendekati meja dan meletakkan clear holder.Nadine mengambil benda itu dan membukanya. Isinya bukan berkas melainkan kliping berita dari koran. Untuk sesaat lamanya ia membalik-balik tiap lembar dan membaca tanggalnya. Semua kliping itu berisikan berita kapal MV Satria Elang yang meledak. Nadine membaca lebih cermat dan di bagian akhir menemukan seorang manajer yang kemudian dijadikan tersangka dan raib sejak paska ledakan.“Dia memang menghilang. Mungkin pelariannya terlalu bagus sampai sekarang nggak perna

  • KAMAR KEDUA   Bab 297. Pintu Rahasia yang Terbuka

    “Nggak nyaman …,” ulang Nadine pelan. Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari sang ayah yang juga sedang menatapnya. Anehnya … tatapan pria yang sangat dekat dengannya itu tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.Bukan … bukan. Itu bukan sorot takut. Seorang Salim Prajogo tidak sedang memandangnya dengan sorot takut. Itu sorot sedih. Atau … itu sorot menyerah?“Kenapa Papa nggak nyaman menyebut nama itu?” Nadine tidak mengalihkan pandangan. “Karena itu perusahaan yang sudah lama nggak ada?”Salim mengembuskan napas. “Bukan cuma itu.”“Lalu apa?”Salim menyandarkan tubuhnya ke kursi.Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan. “Kamu sudah bertemu siapa?”Nadine mengerutkan kening. “Kenapa tanya begitu?”“Karena kamu nggak mungkin tiba-tiba bertanya tentang PT. SEpelayaran kalau nggak ada yang memberitahumu sesuatu.”Nadine tersenyum tipis. “Nggak harus ketemu siapa-siapa. Bisa aja aku ketemunya berkas, bukan ketemu orang.”“Kalau kamu nggak bisa menyebut n

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status