ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 4. Pertemuan dengan Penasihat Hukum

共有

Bab 4. Pertemuan dengan Penasihat Hukum

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-01-05 15:28:22

Amplop cokelat itu masih tergeletak di meja makan. Bagian atas amplop terbuka dan menampakkan kop surat yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidup.

Jujur saja ia tidak tahu harus apa. Dalam keluarganya tidak ada yang cukup paham soal-soal hukum. Bisa dibilang keluarganya adalah keluarga ‘kelas menengah’. Selama ini …. “Semua Prabu yang urus,” bisik Sheza.

Athar duduk di seberang Sheza. Remaja itu berusaha tampak dewasa, menekuk keningnya sambil menatap lembaran surat di meja. “Kak…ini beneran, ya? Kalau Kak Sheza nggak bisa bayar, rumah ini bisa disita? Aku nggak enak mau nanya. Tapi … berarti Mas Prabu ada hutangnya?”

Sheza menatap meja. Bibirnya pecah-pecah. Sejak sore, suara tercekat tak pernah mau keluar. Hanya detak jam dinding yang terdengar, seirama dengan denyut kepalanya.

“Aku juga nggak tahu, Tha. Aku bahkan nggak ngerti tulisan di surat ini. Aku nggak pernah tahu apa pun tentang bisnis Mas Prabu. Sama sekali nggak pernah.” Sheza menjawab dengan tatapan menerawang.

Athar menyandarkan punggungnya, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. “Kalau gitu kita harus tanya orang yang ngerti. Salah satu temannya Mas Prabu itu pengacara, kan? Mas Arga? Kak Sheza kenal? Kita bisa coba tanya. Aku yakin mereka pasti mau bantu.”

Sheza diam saja. Tatapannya masih tertuju pada amplop cokelat.

“Atau kita tanya Mas Satria?” Athar memberi ide.

Kali ini Sheza tersentak. Wajahnya berubah berang. “Satria? Kenapa harus Satria?” Ia muak nama itu disebut berkali-kali.

“Iya. T-tadi Mas Satria nelepon. Aku yang jawab. Dia bilang … mungkin bakal mampir malam ini. Katanya ada hal penting. Aku kira bercanda, tapi… mungkin dia beneran serius.” Wajah Athar terlihat takut-takut.

Sheza meremas rok panjang yang dipakainya. Ia benci mengingat tatapan pria itu, dingin sekaligus menusuk.

Belum sempat ia menjawab, suara ketukan terdengar dari pintu. Tiga kali, pelan tapi tegas.

Athar melirik kakaknya. “Mungkin itu dia.”

Sheza menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah.

Athar berjalan ke pintu, membukanya pelan. Dan benar, di ambang pintu berdiri sosok Satria.

Pria itu mengenakan kemeja gelap, lengan digulung separuh. Wajahnya tanpa senyum, sorot matanya menyapu ruangan lalu berhenti di meja makan.

Sheza refleks berdiri. “Ada apa?” suaranya kering dan datar.

Satria tidak menjawab. Ia melangkah masuk dan mengambil amplop cokelat di meja tanpa izin. Matanya meneliti cepat, rahangnya makin mengeras.

Sheza tersentak, maju setapak hendak merebut. Tapi tatapan dingin Satria menghentikannya. Pandangan itu seperti dinding baja.

“Surat gugatan. Perkara pengadilan. Tenggat empat belas hari.” Satria meletakkan surat kembali ke meja, suaranya datar, seperti hakim menjatuhkan vonis. “Kalau kamu nggak siapin penasihat hukum, semua aset bisa habis. Termasuk rumah ini.”

Sheza terbelalak. Kata rumah menusuk lebih dalam dari apa pun. Rumah itu bukan sekadar bangunan tapi warisan cintanya dengan Prabu. Rumah tempat Dio lahir dan tumbuh.

“Kamu kira aku nggak tahu?” suara Sheza meninggi. “Aku memang nggak ngerti hukum, tapi aku ngerti maksud surat ini!” Air matanya menetes, tapi nadanya tajam.

Satria tetap dingin. “Makanya, kamu butuh orang yang ngerti.”

“Nggak usah menggurui aku.” Sheza menghapus air matanya. “Kamu datang ke sini mau apa?”

Satria menunjukkan amplop cokelat ke Sheza. “Perkara perusahaan Prabu. Aku juga dapat hal yang sama.”

“Maksudnya? Bisa jelasin dengan baik, nggak?” Suara Sheza pecah. Ia menghantam meja dengan kepalan tangan. Gelas di atasnya bergetar, hampir jatuh. Dio yang sedang tidur di kamar ikut terbangun, tangisnya terdengar lirih.

Athar buru-buru berlari masuk ke kamar untuk menenangkan keponakannya. Tinggal Sheza dan Satria berdiri berhadapan di ruang makan.

Keheningan merambat di antara mereka.

“Prabu ada pinjam kapal untuk ngangkut barang proyek. Kalau kamu dapat surat itu juga artinya … kamu terseret.” Satria mengusap wajahnya kasar. “Aku sarankan cari kuasa hukum atau diskusi dengan keluarga Prabu.”

“Ini maksudnya Mas Prabu gagal memenuhi kerja sama dan harus ganti rugi? Terus karena Mas Prabu nggak ganti rugi makanya dilaporkan?” Sheza menatapnya lama, matanya penuh amarah, luka, dan kelelahan.

“Sementara ini aku urus bagian kapalnya. Mungkin nanti Arga atau Roman….”

“Nggak perlu! Aku bisa urus sendiri. Prabu masih punya keluarga. Aku bisa diskusi dengan mereka. Kalau nggak keberatan Mas Satria bisa tinggalkan aku sekarang.” Sheza mengambil amplop cokelat dari tangan Satria dan meninggalkan pria itu.

Satria memandang Sheza beberapa detik, lalu mengangguk dan meninggalkan rumah itu.

*****

Keesokan paginya suara bel kembali terdengar. Sheza menahan napas. Dio sudah siap berangkat sekolah, Athar baru saja selesai membantu menyiapkan sarapan.

Sheza membuka pintu dengan hati-hati. Di sana berdiri Arga dan Roman, dua orang sahabat Prabu dan seorang pria berusia empat puluhan dengan jas rapi, membawa tas kulit hitam. Wajahnya tegas tapi terlihat sedikit ramah.

“Ini Pak Firman,” ujar Arga singkat. “Pak Firman ini pengacara kantornya Prabu. Kamu kenal, kan?” Arga yang berprofesi sebagai pengacara memperkenalkan pria yang datang bersamanya.

Pria yang diperkenalkan pada Sheza mengangguk sopan. “Selamat pagi, Bu Sheza. Saya sudah membaca dokumen dari pihak lawan. Kalau boleh, saya ingin menjelaskan dengan bahasa sederhana.”

Sheza memandang Arga dan Roman bergantian dengan tatapan penuh arti.

Lalu Roman maju ke sebelah Sheza. “Sepertinya Sheza nggak kenal dengan Pak Firman, Ga.”

“Maaf, Mas Arga, Mas Roman. Saya memang baru ketemu hari ini dengan Pak Firman. Saya memang belum ada rencana….”

“Satria minta kami ke sini buat bantu kamu. Satria ngomong seperti yang kamu sebut barusan. Sheza pasti belum ada rencana. Jadi … kami di sini sekarang.” Roman mengusap bahu Sheza dengan sikap hangat.

Sheza menelan ludah, lalu mempersilakan mereka masuk. Mereka duduk di ruang tamu. Dio menatap dari kejauhan, menempel di sisi Athar. Sheza meremas tangannya sendiri, mencoba mendengarkan.

Pak Firman membuka map hitamnya, lalu mengeluarkan salinan dokumen. “Rumah ini ternyata pernah dijadikan agunan dalam perjanjian bisnis Pak Prabu. Itu sebabnya pihak lawan menuntut hak. Kalau tidak ada penyelesaian, rumah ini bisa dilelang.”

Sheza menutup mulut dengan tangan. Napasnya tercekat. “Rumah ini? Rumah ini atas nama saya. Apa rumah ini tercantum dalam inventaris perusahaan?” Suara Sheza bergetar.

“Pak Prabu pernah meminta Ibu menandatangani berkas tertentu? Bisa jadi itu surat jaminan proyek. Soalnya perjanjian ini mengikat ahli waris.” Suara Pak Firman yang tenang malah membuat Sheza terdiam.

“Jadi … rumah saya memang bakal disita?” Sheza menatap Arga menuntut jawaban. Pria itu membalas pandangannya dengan sorot muram lalu mengangguk.

…

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (23)
goodnovel comment avatar
Nurjayani Yani
shezaa dan satria seperti ada sesuatu,,?
goodnovel comment avatar
Nurjayani Yani
dan istri yg terlalu percaya pd suami...
goodnovel comment avatar
Larose
sepertinya couple ini jarang deeptalk,secuek²nya sama kerjaan suami minimal tau garis besarnya suaminya sedang ada proyek apa atau kendala apa,antara Prabu yg gak terbuka atau Sheza yg cuek
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 357. Sebuah Titipan

    Kandungan Sheza sudah memasuki bulan kesembilan, dan malam itu ia belum juga bisa tidur. Kontraksi palsu datang dan pergi sejak sore, membuatnya gelisah berpindah posisi berkali-kali di atas ranjang. Kapan saja bisa terjadi, kata dokter kandungannya minggu lalu."Sini, Mas," katanya, membalikkan tubuh miring, menarik ujung kaus Satria. "Punggungnya pegel banget. Oles minyak telon dong."Satria meraih botol kecil dari laci nakas, menuangkan sedikit ke telapak tangannya, lalu mulai mengusapkannya perlahan di punggung Sheza yang sudah lama tidak merasakan posisi tidur nyaman."Rania jadi pulang minggu ini?" tanya Satria, melanjutkan obrolan yang sempat terhenti."Harusnya. Tapi aku tahan dia." Sheza mengerang pelan ketika Satria menekan satu titik yang terasa paling pegal. "Minimal tunggu aku lahiran dulu, Mas. Untungnya dia mau.""Oh, iya. Roman kemarin chat, lho." Satria terkekeh, mengusap area pinggang istrinya. "Makasih katanya, karena kamu nahan Rania.""Roman jadi mau nganterin? Em

  • KAMAR KEDUA   Bab 356. Secangkir Kopi Larut Malam

    Pukul sepuluh malam, restoran mulai sepi. Nadine berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan dan wajah yang sudah memutuskan sesuatu.“Pak Damar … makasih buat makan malam yang sangat menyenangkan buat kami, terutama buat Nayla.” Tangannya menyentuh bahu Nayla yang berdiri tegak di depannya.“Saya juga senang sekali. Semuanya sesuai dengan yang saya harapkan. Terutama ada bintang tamu yang pinter ini.” Damar menyodorkan kepalan tangannya. Nayla menyambutnya dengan mengadu kepalan tangan mereka. “Saya antar, ya.”"Kamj pulang berdua aja, Pak Damar. Seperti datang tadi. Aman,” kata Nadine dengan nada optimisnya seperti biasa."Saya tidak meragukan keamanannya," jawab Damar. "Saya meragukan jalanan Jakarta jam segini.""Sudah puluhan tahun saya nyetir sendiri jam segini.""Kalau begitu, begini saja." Damar mengulurkan tangan, setengah bercanda. "Saya yang bawa mobil Ibu. Ibu dan Nayla duduk manis. Nanti saya pulang naik taksi dari rumah Bu Nadine.”Nadine langsung menggeleng. "Da

  • KAMAR KEDUA   Bab 355. Makan Malam Sempurna (2)

    Ruang privat restoran itu didominasi warna krem lembut dengan pencahayaan temaram yang hangat. Satu meja bundar diatur di tengah ruangan, taplaknya putih bersih, tiga set alat makan tersusun rapi. Sebuah vas kecil berisi bunga segar diletakkan di tengah meja, bukan berlebihan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa lebih istimewa dari makan malam biasa.Damar sudah berdiri menunggu ketika pintu ruangan itu terbuka. Ia mengenakan kemeja biru dongker, lengan tergulung rapi sampai siku, jauh dari penampilan kasualnya yang biasa terlihat berantakan di kantor konsultan kecilnya."Bu Nadine." Ia tersenyum, lalu menoleh ke sosok mungil yang berdiri di samping Nadine, matanya langsung berbinar. "Dan ini pasti Nayla."Nayla mengangguk, sedikit malu-malu, tapi matanya penuh rasa ingin tahu memandangi pria di depannya dari atas ke bawah."Halo, Nayla. Saya Damar," katanya, berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Nayla, mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang akhirnya bisa ketemu kamu la

  • KAMAR KEDUA   Bab 354. Makan Malam Sempurna (1)

    Begitu pembicaraan dengan Nayla selesai, Nadine segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Damar.Nadine:Nayla udah siap. Kami berdua udah siap.Balasan pesan itu tidak butuh waktu lama.Damar:Oke. Biar saya yang atur. Saya mau bikin makan malam paling menyenangkan buat Nayla.Nadine membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit gugup membayangkan pertemuan itu benar-benar akan terjadi.**********Dua minggu kemudian, di Jalan Pine II No. 8, suara ketukan palu kecil memantul pelan di dinding bengkel kerja Satria.Siang itu ia sedang berkutat dengan sebuah lempengan emas kuning yang tipis dan memanjang, menempa bagian tepinya dengan hati-hati di atas landasan baja. Kacamata pembesarnya terpasang di hidung, dan beberapa alat ukir tersusun rapi di sampingnya—sketsa desain yang baru setengah jadi tergeletak di sudut meja kerja.Langkah kecil terdengar dari arah pintu. Satria menghentikan ketukannya, menoleh."Nay?

  • KAMAR KEDUA   Bab 353. Apa yang Diinginkan Nadine

    Setelah beberapa hari tenggelam dalam kesibukan memimpin perusahaan, ia mendapat laporan perkembangan hasil kerja gedung. Bagian kolom gedung sudah selesai. Bersamaan dengan itu, ia kembali teringat obrolannya bersama Damar soal makan malam.Malam itu, lewat pukul sepuluh, Nadine baru menyetir sendiri pulang dari kantor. Jalanan Jakarta yang biasanya ramai sudah lengang, tapi pikirannya justru mengembara ke banyak hal yang selama ini jarang ia izinkan muncul.Setelah Satria, tentu ada beberapa orang yang pernah mencoba mendekatinya. Entah karena ia memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, atau karena kenyamanan yang ia rasakan sekarang terasa berbeda, Nadine tidak pernah benar-benar berpikir untuk meladeni percakapan lebih jauh dengan siapa pun. Semuanya berhenti di basa-basi, lalu lenyap begitu saja dari ingatannya.Berbeda dengan Damar.Damar baginya seperti teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka nyambung, entah bagaimana caranya. Damar easygoing, dan anehnya, cukup saba

  • KAMAR KEDUA   Bab 352. Nasi Goreng Sepiring Berdua

    Mobil Damar melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang. Nadine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan."Kita ke mana?" tanyanya akhirnya."Gultik," jawab Damar singkat, matanya tetap di jalan. "Di Blok M. Udah pernah coba?"Nadine menggeleng. "Gultik? Namanya lucu.”"Katanya sih kepanjangannya gulai tikungan. Porsinya kecil-kecil, jadi setelah gultik, kita bisa makan yang lain.” Damar tersenyum, memperhatikan anggukan Nadine dan sepasang mata wanita yang bercahaya. Ia lalu membelokkan mobil ke arah Blok M.Mereka berhenti di deretan gerobak yang berjejer di pinggir jalan, asap mengepul dari arang yang menyala, aroma daging bercampur bumbu gulai memenuhi udara malam. Damar memesan dua porsi tanpa bertanya dulu, lalu duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang ketika Nadine ikut duduk."Ini aman buat perut Ibu?" tanya Damar, sedikit meragu begitu makanan datang—sepiring nasi putih yang disiram gulai."Saya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status