Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 329. Waktu Keluarga

Share

Bab 329. Waktu Keluarga

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-09-12 23:56:21

Sagara masih menyusu tenang dalam dekapan Sheza. Tubuh kecilnya terlentang nyaman dengan satu tangan mengusap dada ibunya yang lain.

Sementara Sheza sesekali mengusap rambut Sagara dengan satu tangan dan tangan lainnya menyangga kepala.

Kamar terasa tenang setelah sejak sore rumah mereka dipenuhi suara orang-orang yang sedang mempersiapkan acara malam nanti.

Satria belum bicara. Ia berbaring di depan Sheza sambil satu tangannya terulur mengusap pelan pipi Sagara. Dari tempatnya, ia bisa meliha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
lilyedy.
Ibu lagi ada masalah sama suaminya ...
goodnovel comment avatar
carsun18106
nuhun upnya juuus
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Seru mereka nih 🫢🫢🫢🫢🩷🩷🩷
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 330. Malam Ramai

    Halaman belakang rumah sudah jauh lebih ramai dibanding satu jam sebelumnya. Di dekat kolam renang, sebuah gas grill premium sudah siap digunakan. Grill itu menyatu dengan meja dapur luar ruangan berbahan baja tahan karat, dilengkapi empat tungku gas, jeruji besi tebal, serta tutup besar untuk menjaga panas. Di bagian bawahnya terdapat beberapa laci penyimpanan dan ruang tertutup untuk tabung gas..Pak Heri berjongkok di depannya, memeriksa sambungan selang dan memastikan setiap tungku bekerja dengan baik. Sesekali ia memutar kenop untuk menguji nyala api sebelum mematikannya kembali.“Sudah beres, Pak,” katanya ketika Satria mendekat.“Oke. Nanti nyalakan setelah yang lain datang.”Sementara dua orang pegawai rumah yang biasanya membantu Tuti mengurus ruang tamu dan taman ikut turun tangan untuk menata meja.Beberapa lampu taman sudah menyala meskipun langit masih menyisakan cahaya sore.Di atas meja panjang, bahan makanan sudah tersusun dalam beberapa wadah.Daging yang telah dimari

  • KAMAR KEDUA   Bab 329. Waktu Keluarga

    Sagara masih menyusu tenang dalam dekapan Sheza. Tubuh kecilnya terlentang nyaman dengan satu tangan mengusap dada ibunya yang lain. Sementara Sheza sesekali mengusap rambut Sagara dengan satu tangan dan tangan lainnya menyangga kepala.Kamar terasa tenang setelah sejak sore rumah mereka dipenuhi suara orang-orang yang sedang mempersiapkan acara malam nanti.Satria belum bicara. Ia berbaring di depan Sheza sambil satu tangannya terulur mengusap pelan pipi Sagara. Dari tempatnya, ia bisa melihat wajah Sagara yang mulai mengantuk.“Padahal dia udah ngantuk dari tadi. Tapi dia tahanin,” ucap Satria pelan.“Dia memang nunggu dibawa ke sini buat nyusu.” Sheza tersenyum masih sambil menatap putranya. “Kalau aku di kantor, Saga gini juga? Bukan karena hari ini banyak main sama Nayla dan Dio?” Sheza melihat putranya. “Entahlah. Belakangan kalau udah nyusunya model begini biasanya jadi lama. Kalau udah tidur terus langsung dilepas, dia nangis. Tau aja.”Satria mengangkat alis. “Mungkin dia

  • KAMAR KEDUA   Bab 328. Mungkin Perpisahan

    Tanpa menunggu malam Darto mengemasi barang-barangnya. Kesabaran yang ia pupuk selama bekerja di sana seakan menguap hanya dalam beberapa menit.Melihat Pak Hendra berganti-ganti asisten rumah tangga adalah hal biasa untuknya. Ia sudah lama bekerja di sana dan malahan biasanya ia jarang sekali ikut turun tangan membersihkan rumah. Biasa selalu ada pegawai lain. Belakangan, ia mengerjakan semuanya karena Pak Hendra tak pernah cocok dengan orang-orang baru yang bekerja hanya dalam hitungan hari. Untuk itu ia tidak apa-apa.Namun berbeda dengan kali ini. Sejak pagi ia sudah dibentak-bentak terus. Diteriaki pemalas, bodoh dan menghina soal pekerjaannya. Bahkan ia dituduh melakukan kecerobohan yang bahkan tidak ia mengerti.Ia juga manusia yang bisa dilanda letih.Di depan pagar, Darto berhenti menatap rumah itu untuk beberapa detik.Ada banyak hal yang terasa berbeda beberapa bulan terakhir. Terutama saat anak dan cucu majikannya pindah ke luar negeri. Pria tua itu semakin mudah marah.S

  • KAMAR KEDUA   Bab 327. Selang-seling Kehidupan 

    Beberapa bulan terakhir, rumah kediaman keluarga Hendra Kusuma Wijaya mulai kehilangan keteraturan yang selama puluhan tahun selalu dijaga.Majalah dan koran bertumpuk di meja ruang tengah. Beberapa cangkir teh dibiarkan begitu saja di sudut-sudut ruangan. Ada pakaian yang seharusnya sudah dimasukkan ke dalam lemari atau ke keranjang cucian tetapi justru tergeletak di kursi.Mainan Raka juga semakin sering terlihat di mana-mana.Mobil-mobilan kecil di bawah meja. Balok kayu di dekat tangga. Sebuah boneka tergeletak di sofa ruang keluarga.Darto sang asisten rumah tangga pria sudah membersihkan rumah itu berkali-kali dalam sehari.Pagi setelah Hendra sarapan, ia membersihkan ruang tengah. Setelah makan siang, ia kembali merapikannya. Sore hari, ia menyapu dan mengepel lagi.Tetapi rumah itu selalu kembali berantakan.Pertama kali hal itu terjadi, Darto mengira Raka sudah kembali ke rumah atau Pak Hendra menerima tamu yang membawa anak. Nyatanya tidak. Mainan itu keluar begitu saja dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 326. Kenyataan yang Harus Disadari 

    Pak Salim masih terdiam setelah mengucapkan nama Calvin.Tatapannya tidak lagi benar-benar tertuju pada Satria. Ia seperti sedang mengulang percakapan mereka beberapa menit terakhir di dalam kepalanya.Bram menghilang.Calvin juga menghilang dengan cara yang tidak pernah benar-benar terjelaskan.Dan sebelum itu, Satria mengatakan bahwa mungkin selama ini Hendra melihat KSD Holding sebagai pesaing, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.Pak Salim mengusap dagunya. “Kalau dipikir-pikir …,” gumamnya.Satria menunggu.“Saya memang nggak pernah merasa Hendra bersaing dengan saya. Begitu pula sebaliknya.” “Karena Bapak menganggapnya keluarga?”“Iya.”Pak Salim tersenyum tipis. “Kami sudah kenal sejak kecil. Saya tahu bagaimana dia berpikir. Setidaknya, saya merasa tahu.”Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan,“Tapi mungkin ada beberapa hal yang dulu saya anggap biasa.”Satria tidak menyela.“Pernah ada satu tender pengangkutan yang cukup besar. Wak

  • KAMAR KEDUA   Bab 325. Yang Dilepaskan

    Satria tetap diam.Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar permintaan maaf itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijawab dengan kata-kata, tetapi tidak dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.Pak Salim adalah salah satu orang yang paling banyak mengajarinya setelah kedua orang tuanya meninggal. Itu tidak bisa dipungkiri. Ia banyak belajar tentang bagaimana membaca sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Tentang bagaimana memperlakukan orang yang bekerja bersamanya. Tentang bagaimana sebuah hubungan bisa menjadi bagian penting dari sebuah bisnis tanpa harus selalu dibicarakan sebagai angka.Banyak relasi yang sekarang dimiliki Satria juga berawal dari orang-orang yang dikenalkan Pak Salim kepadanya bertahun-tahun lalu.Ia tidak pernah melupakan itu.Satria mengangkat cangkir di hadapannya, lalu meneguk sedikit.“Dulu Bapak sering ngajak saya ikut ketemu orang penting.”Salim menatapnya. “Masih ingat?”“Ingat.”“Padahal waktu itu kamu lebih suka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status