LOGINUpdate Senin-Sabtu pukul 22.00-00.00 Minggu off Jadi bukan lama update ya sayang-sayangku. Mmuuaahh.
Tak perlu waktu lama bagi Satria untuk tahu kalau Roman sedang membutuhkan sesuatu dari Athar. Tidak ada yang membuat Roman bisa seramah dan sepersuasif itu selain keperluannya sendiri.Anak-anak yang mengambilkan Roman jagung dan hasil panggangan menyerahkan piring itu pada pria itu sesaat kemudian.Menjelang pukul sembilan, anak-anak sudah tidak terlihat lagi di dekat kolam renang. Nayla mengajak Violetta ke kamarnya, sedangkan Dio sudah pamit lebih dulu karena mengantuk.Satria baru saja kembali keluar setelah meletakkan Sagara di kamar. Kini ia berdiri di sebelah Sheza."Jamuan malam ini benar-benar luar biasa. Gue kekenyangan, Sat." Vian mengusap perutnya, merangkul Tania yang tersenyum-senyum di sebelahnya."Ntar kapan-kapan di rumah lo ya. Biar lain kali ikutan manggang." Arga menimpali dari sisi lain, dengan Wenny yang berdiri memeluk pinggangnya."Semua makanannya enak. Terutama bumbu barbeque-nya. Sheza yang bikin katanya." Wenny tersenyum menatap Sheza."Dari dulu Sheza sel
Roman bangkit dari kursinya.Ia tidak langsung menuju Athar. Langkahnya justru dibuat santai, seolah hanya ingin mengambil minuman yang berada di meja dekat kolam renang.Namun setelah gelas berada di tangannya, arah kakinya berubah.Athar masih duduk di kursi panjang bersama Dio, Nayla, dan Vio. Ketiga anak itu sedang sibuk memainkan permainan kartu yang entah bagaimana sudah berpindah dari meja makan ke dekat kolam.Roman berhenti beberapa langkah dari mereka.“Tha!”Athar mendongak. “Hm?”“Gue duduk sini, ya.”Athar menggeser sedikit tubuhnya. “Duduk aja.”Roman menarik kursi kosong di dekat bangku panjang. Ia duduk. Diam. Mengamati anak-anak yang masih sibuk bermain UNO. Athar melirik sebentar, lalu kembali memperhatikan permainan anak-anak.Roman ikut diam.Namun saat permainan kartu terhenti di putaran berikutnya, ia mulai menegakkan tubuh.“Nay, ajak adik-adiknya ke seberang sana buat ambilin Om Roman jagung bakar.” Ia menunjuk sisi di mana terdapat grill, meja makan panjang d
Roman tidak langsung kembali ke rumah Satria.Mobilnya justru melaju di belakang taksi yang membawa Rania.Ia sendiri tidak benar-benar tahu kenapa melakukannya.Awalnya hanya ingin memastikan arah taksi itu. Setidaknya begitu alasan yang muncul di kepalanya. Namun setelah beberapa persimpangan dilewati, rasa penasarannya justru semakin besar.Beberapa menit kemudian, taksi itu berbelok masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.Roman memperlambat mobil.Di kanan kiri jalan berdiri beberapa bangunan bertingkat yang cukup padat. Lampu jalan tidak terlalu terang. Suasananya jauh lebih tenang dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati.Taksi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai dengan papan bertuliskan Kost Putri Athena.Roman ikut menghentikan mobil beberapa meter di belakangnya.Ia memandang bangunan itu dari balik kaca depan.“Oh, di sini.” Roman masih menatap papan tulisan seraya mematikan nyala lampu mobil. “Jauh juga.”Ia mengerutkan kening.“Kalau praktik klinik bera
Selepas Maghrib, halaman belakang rumah Satria sudah berubah menjadi tempat berkumpul yang ramai.Lampu-lampu taman menyala mengelilingi halaman, sebagian cahayanya jatuh ke permukaan kolam renang yang tenang. Pantulan lampu bergerak pelan mengikuti riak air yang sesekali tercipta kerena hembusan angin.Di dekat kolam, gas grill sudah mulai digunakan.Pak Heri berdiri di depan panggangan sambil membolak-balik daging yang mulai kecokelatan. Sesekali ia mengangkat tutup grill untuk memeriksa tingkat kematangannya. Aroma daging yang dipanggang bersama jagung dan ikan memenuhi halaman belakang.Meja panjang di bawah area terbuka sudah dipenuhi makanan. Piring-piring berisi daging panggang, jagung, kentang, salad, buah, dan berbagai macam saus memenuhi hampir seluruh permukaannya.Anak-anak berkumpul di sekitar meja, sesekali mengambil makanan yang mereka sukai sebelum kembali bermain.Para perempuan berkumpul di meja makan. Sheza duduk bersama Marina, Wenny; istri Arga dan Tania; istri Vi
Halaman belakang rumah sudah jauh lebih ramai dibanding satu jam sebelumnya. Di dekat kolam renang, sebuah gas grill premium sudah siap digunakan. Grill itu menyatu dengan meja dapur luar ruangan berbahan baja tahan karat, dilengkapi empat tungku gas, jeruji besi tebal, serta tutup besar untuk menjaga panas. Di bagian bawahnya terdapat beberapa laci penyimpanan dan ruang tertutup untuk tabung gas..Pak Heri berjongkok di depannya, memeriksa sambungan selang dan memastikan setiap tungku bekerja dengan baik. Sesekali ia memutar kenop untuk menguji nyala api sebelum mematikannya kembali.“Sudah beres, Pak,” katanya ketika Satria mendekat.“Oke. Nanti nyalakan setelah yang lain datang.”Sementara dua orang pegawai rumah yang biasanya membantu Tuti mengurus ruang tamu dan taman ikut turun tangan untuk menata meja.Beberapa lampu taman sudah menyala meskipun langit masih menyisakan cahaya sore.Di atas meja panjang, bahan makanan sudah tersusun dalam beberapa wadah.Daging yang telah dimarin
Sagara masih menyusu tenang dalam dekapan Sheza. Tubuh kecilnya terlentang nyaman dengan satu tangan mengusap dada ibunya yang lain. Sementara Sheza sesekali mengusap rambut Sagara dengan satu tangan dan tangan lainnya menyangga kepala.Kamar terasa tenang setelah sejak sore rumah mereka dipenuhi suara orang-orang yang sedang mempersiapkan acara malam nanti.Satria belum bicara. Ia berbaring di depan Sheza sambil satu tangannya terulur mengusap pelan pipi Sagara. Dari tempatnya, ia bisa melihat wajah Sagara yang mulai mengantuk.“Padahal dia udah ngantuk dari tadi. Tapi dia tahanin,” ucap Satria pelan.“Dia memang nunggu dibawa ke sini buat nyusu.” Sheza tersenyum masih sambil menatap putranya. “Kalau aku di kantor, Saga gini juga? Bukan karena hari ini banyak main sama Nayla dan Dio?” Sheza melihat putranya. “Entahlah. Belakangan kalau udah nyusunya model begini biasanya jadi lama. Kalau udah tidur terus langsung dilepas, dia nangis. Tau aja.”Satria mengangkat alis. “Mungkin dia







