Mag-log inUpdate Senin-Sabtu pukul 22.00-00.00 Minggu off Jadi bukan lama update ya sayang-sayangku. Mmuuaahh.
Sheza sudah berada di dapur keesokan harinya saat hari masih benar-benar gelap.Rumah masih sunyi. Anak-anak belum terdengar bangun dari kamar masing-masing.Dari jendela dapur, langit di luar masih berwarna kelabu kebiruan, sementara lampu-lampu di dalam rumah menjadi satu-satunya penerang.Dengan nightdress pendek bertali tipis, Sheza berdiri di depan kompor, mengaduk sup labu yang sedang dipanaskan perlahan. Aroma lembutnya memenuhi dapur.Semalam perutnya terasa kurang nyaman. Bukan sakit, hanya sedikit begah sehingga membuatnya sulit tidur setelah mereka bercinta. Setelah bangun menjelang subuh, ia merasa lebih baik dan tiba-tiba ingin makan sesuatu yang hangat.Ia baru saja mengecilkan api ketika dua lengan melingkar di perutnya dari belakang.Sheza sedikit terkejut. Ia menunduk memandang tangan tegap yang mengusap perutnya. “Pasti nyariin aku.”Satria menempelkan dagu di bahu istrinya. “Aku masih mau peluk kamu. Harusnya masih bisa sekali lagi sebelum anak-anak bangun.”Sheza t
Satria melangkah keluar dengan handuk yang hanya terlilit longgar di pinggang, air masih menetes dari ujung rambutnya, menyusuri leher, turun ke bahu yang lebar. Di usia empat puluh satu tahun, tubuhnya masih menyimpan bentuk yang terjaga—bukan karena obsesi, tapi karena kebiasaan bertahun-tahun yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Bahu bidang, dada yang kokoh, lengan yang terbentuk dari disiplin yang diam-diam konsisten.Ia menyeberang ke walk-in closet yang terhubung langsung dengan kamar mereka, membuka satu pintu lemari, mengambil sepotong pakaian dalam, menutupnya kembali tanpa suara berlebih.Ketika ia muncul lagi beberapa menit kemudian, hanya mengenakan boxer gelap, rambutnya masih setengah basah, cahaya lampu kamar memantul lembut di kulitnya yang masih sedikit lembap.Sheza sudah menunggu di tempat tidur. Mendengar langkahnya, ia menoleh.Satria tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat perlahan, seakan waktu sengaja melambat untuknya.Ia naik ke ranjang, merebahkan dir
“Aku memang kepikiran,” ucap Sheza pelan.“Soal Nadine?”Sheza mengangguk kecil. “Bukan karena aku takut atau apa.” Ia menarik napas. “Aku cuma capek lihat Mas harus terus berhadapan dengan hal yang sama. Mau nggak mau aku jadi berpikir kalau konflik Mas dengan Mamanya Nayla akan selalu terulang.” Ia menunduk.Satria mengangguk tanda mengerti. Ia sebenarnya bisa langsung menjawab, tetapi memilih mendengarkan Sheza sampai selesai.“Kira-kira … Mas punya cara supaya nggak terus-terusan ribut sama Mbak Nadine? Terutama setiap urusan Nayla?” Sheza membasahi bibir. “Aku … aku juga kasihan sama Nayla.”Ia terdiam sebentar.“Kadang aku merasa Nayla sebenarnya pengin ke sini, tapi dia menahan diri karena takut Papa sama Mamanya ribut.”Satria menarik napas panjang. “Maaf.”Sheza mengangkat wajah.“Maaf kalau selama ini aku bikin kamu ikut cemas.” Satria meraih tangan Sheza di atas meja. “Aku juga minta maaf karena belum cerita semuanya.”“Bukan karena Mas nggak cerita,” jawab Sheza pelan. “Ak
Dio sudah tertidur lelap.Mungkin sebagian besar kenangan anak laki-laki itu tentang Prabu kelak hanya akan tersisa dalam potongan-potongan kecil.Suara.Wajah.Cara seseorang memanggil namanya.Pelukan yang samar-samar masih tersimpan di ingatan.Sheza menarik napas.Ia tahu perasaan itu.Kehilangan seseorang yang tidak mungkin kembali.Karena itu ia bisa memahami mengapa Nadine begitu takut kehilangan Nayla.Mungkin rasa takut perempuan itu memang membuatnya mengatakan banyak hal yang menyakitkan.Mungkin luka yang belum selesai membuatnya melihat Sheza sebagai seseorang yang mengambil sesuatu darinya.Padahal Sheza sendiri tidak pernah merasa sedang mengambil apa pun.Ia hanya menjalani hidup yang datang kepadanya.Dulu ia memiliki Prabu.Ia mencintai Prabu dan bahagia bersamanya.Lalu Prabu pergi, dan hidupnya berubah.Setelah itu Satria datang.Bukan sebagai pengganti Prabu.Bukan sebagai seseorang yang sengaja ia cari.Satria hanya hadir pada waktu yang tidak pernah direncanakan
Satria masih mengingat wajah Pak Hendra saat mereka bertemu terakhir kali. Lebih dari seminggu yang lalu.Tubuh Pak Hendra terlihat semakin lemah. Cara pria itu bangkit dari kursi dengan langkah yang tidak lagi tegap. Napas yang sesekali terdengar berat. Bahkan beberapa kali ia harus menahan dada dan batuk sebelum kembali berbicara seperti tidak terjadi apa-apa.Dulu, mungkin Satria akan melihat semua itu sebagai sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan apa yang telah dilakukan Pak Hendra.Sekarang ia tidak berpikir begitu.Bukan karena penyakit bisa menggantikan hukuman atas sebuah kesalahan. Tidak.Tetapi karena Satria tiba-tiba sadar bahwa manusia tidak selamanya punya waktu untuk membayar semua kesalahannya dengan cara yang kita inginkan.Pak Hendra sudah kehilangan Ratri.Sudah kehilangan Raka.Rumah yang dulu penuh orang kini hanya menyisakan seorang lelaki tua, beberapa ruangan yang terlalu besar, dan benda-benda yang tidak lagi memiliki siapa pun untuk diberikan.Satria tidak
Satria duduk di bangku panjang dan menatap lantai.Selama ini ia selalu mengingat perceraian mereka sebagai sesuatu yang terjadi karena Nadine terlalu banyak menuntut.Itu tidak sepenuhnya salah.Tetapi juga tidak sepenuhnya benar.Nadine memang terlalu sering meminta semuanya segera.Nadine ingin rumah tangga yang sempurna. Ingin suami yang selalu ada.Ingin semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan. Dan keinginan itu sebenarnya tidak salah.Yang salah adalah mereka tidak pernah memberi waktu kepada satu sama lain untuk menemukan cara mencapai keinginan itu.Satria mengembuskan napas.Ia ingin membangun perusahaan.Nadine ingin membangun keduanya sekaligus dan dalam jangka waktu yang ia tentukan sendiri.Keduanya sama-sama memiliki tujuan.Masalahnya, mereka tidak pernah benar-benar belajar bagaimana berjalan menuju tujuan itu bersama-sama.Satria terobsesi membangun perusahaannya dan lepas dari bayang-bayang mertua.Nadine terlalu sibuk menuntut hasil.Dan di antara keduanya, tida







