หน้าหลัก / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 68. Bukan Perasaan Sesaat

แชร์

Bab 68. Bukan Perasaan Sesaat

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-27 00:00:10
Sheza tak sempat keberatan. Kenikmatan yang lembut dan halus perlahan menariknya. Ia seakan lupa bahwa langkahnya sukarela menuju kamar kedua.

Yang pasti, kepalanya yang melayang ringan tak sempat membuat ia kikuk saat Satria menatapnya.

Ah … seharusnya ia malu, rikuh. Satria menatapnya seperti pria yang tak percaya akhirnya mendapatkan keinginannya setelah bertahun-tahun.

Ia kembali mengerang. Ciuman Satria basah dan rakus. Sesapannya begitu kuat sampai nyaris mengaburkan rasa nikmat. S
juskelapa

Update Senin-Sabtu pukul 22.00-00.00 Minggu off Jadi bukan lama update ya sayang-sayangku. Mmuuaahh.

| 99+
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (38)
goodnovel comment avatar
Yenny
detail ga buru2 bikin nahan nafas haih.. panas mass......
goodnovel comment avatar
Nani Sunarni
selalu diulang bacanya, setiap kata di resapi
goodnovel comment avatar
Indah Wirdianingsih
njus emang selalu detail setiap kalimatnya bikin yg baca terpuaskan
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 333. Menghimpun Informasi

    Roman bangkit dari kursinya.Ia tidak langsung menuju Athar. Langkahnya justru dibuat santai, seolah hanya ingin mengambil minuman yang berada di meja dekat kolam renang.Namun setelah gelas berada di tangannya, arah kakinya berubah.Athar masih duduk di kursi panjang bersama Dio, Nayla, dan Vio. Ketiga anak itu sedang sibuk memainkan permainan kartu yang entah bagaimana sudah berpindah dari meja makan ke dekat kolam.Roman berhenti beberapa langkah dari mereka.“Tha!”Athar mendongak. “Hm?”“Gue duduk sini, ya.”Athar menggeser sedikit tubuhnya. “Duduk aja.”Roman menarik kursi kosong di dekat bangku panjang. Ia duduk. Diam. Mengamati anak-anak yang masih sibuk bermain UNO. Athar melirik sebentar, lalu kembali memperhatikan permainan anak-anak.Roman ikut diam.Namun saat permainan kartu terhenti di putaran berikutnya, ia mulai menegakkan tubuh.“Nay, ajak adik-adiknya ke seberang sana buat ambilin Om Roman jagung bakar.” Ia menunjuk sisi di mana terdapat grill, meja makan panjang d

  • KAMAR KEDUA   Bab 332. Satu Keluarga

    Roman tidak langsung kembali ke rumah Satria.Mobilnya justru melaju di belakang taksi yang membawa Rania.Ia sendiri tidak benar-benar tahu kenapa melakukannya.Awalnya hanya ingin memastikan arah taksi itu. Setidaknya begitu alasan yang muncul di kepalanya. Namun setelah beberapa persimpangan dilewati, rasa penasarannya justru semakin besar.Beberapa menit kemudian, taksi itu berbelok masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.Roman memperlambat mobil.Di kanan kiri jalan berdiri beberapa bangunan bertingkat yang cukup padat. Lampu jalan tidak terlalu terang. Suasananya jauh lebih tenang dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati.Taksi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai dengan papan bertuliskan Kost Putri Athena.Roman ikut menghentikan mobil beberapa meter di belakangnya.Ia memandang bangunan itu dari balik kaca depan.“Oh, di sini.” Roman masih menatap papan tulisan seraya mematikan nyala lampu mobil. “Jauh juga.”Ia mengerutkan kening.“Kalau praktik klinik bera

  • KAMAR KEDUA   Bab 331. Layaknya Family Gathering 

    Selepas Maghrib, halaman belakang rumah Satria sudah berubah menjadi tempat berkumpul yang ramai.Lampu-lampu taman menyala mengelilingi halaman, sebagian cahayanya jatuh ke permukaan kolam renang yang tenang. Pantulan lampu bergerak pelan mengikuti riak air yang sesekali tercipta kerena hembusan angin.Di dekat kolam, gas grill sudah mulai digunakan.Pak Heri berdiri di depan panggangan sambil membolak-balik daging yang mulai kecokelatan. Sesekali ia mengangkat tutup grill untuk memeriksa tingkat kematangannya. Aroma daging yang dipanggang bersama jagung dan ikan memenuhi halaman belakang.Meja panjang di bawah area terbuka sudah dipenuhi makanan. Piring-piring berisi daging panggang, jagung, kentang, salad, buah, dan berbagai macam saus memenuhi hampir seluruh permukaannya.Anak-anak berkumpul di sekitar meja, sesekali mengambil makanan yang mereka sukai sebelum kembali bermain.Para perempuan berkumpul di meja makan. Sheza duduk bersama Marina, Wenny; istri Arga dan Tania; istri Vi

  • KAMAR KEDUA   Bab 330. Malam Ramai

    Halaman belakang rumah sudah jauh lebih ramai dibanding satu jam sebelumnya. Di dekat kolam renang, sebuah gas grill premium sudah siap digunakan. Grill itu menyatu dengan meja dapur luar ruangan berbahan baja tahan karat, dilengkapi empat tungku gas, jeruji besi tebal, serta tutup besar untuk menjaga panas. Di bagian bawahnya terdapat beberapa laci penyimpanan dan ruang tertutup untuk tabung gas..Pak Heri berjongkok di depannya, memeriksa sambungan selang dan memastikan setiap tungku bekerja dengan baik. Sesekali ia memutar kenop untuk menguji nyala api sebelum mematikannya kembali.“Sudah beres, Pak,” katanya ketika Satria mendekat.“Oke. Nanti nyalakan setelah yang lain datang.”Sementara dua orang pegawai rumah yang biasanya membantu Tuti mengurus ruang tamu dan taman ikut turun tangan untuk menata meja.Beberapa lampu taman sudah menyala meskipun langit masih menyisakan cahaya sore.Di atas meja panjang, bahan makanan sudah tersusun dalam beberapa wadah.Daging yang telah dimarin

  • KAMAR KEDUA   Bab 329. Waktu Keluarga

    Sagara masih menyusu tenang dalam dekapan Sheza. Tubuh kecilnya terlentang nyaman dengan satu tangan mengusap dada ibunya yang lain. Sementara Sheza sesekali mengusap rambut Sagara dengan satu tangan dan tangan lainnya menyangga kepala.Kamar terasa tenang setelah sejak sore rumah mereka dipenuhi suara orang-orang yang sedang mempersiapkan acara malam nanti.Satria belum bicara. Ia berbaring di depan Sheza sambil satu tangannya terulur mengusap pelan pipi Sagara. Dari tempatnya, ia bisa melihat wajah Sagara yang mulai mengantuk.“Padahal dia udah ngantuk dari tadi. Tapi dia tahanin,” ucap Satria pelan.“Dia memang nunggu dibawa ke sini buat nyusu.” Sheza tersenyum masih sambil menatap putranya. “Kalau aku di kantor, Saga gini juga? Bukan karena hari ini banyak main sama Nayla dan Dio?” Sheza melihat putranya. “Entahlah. Belakangan kalau udah nyusunya model begini biasanya jadi lama. Kalau udah tidur terus langsung dilepas, dia nangis. Tau aja.”Satria mengangkat alis. “Mungkin dia

  • KAMAR KEDUA   Bab 328. Mungkin Perpisahan

    Tanpa menunggu malam Darto mengemasi barang-barangnya. Kesabaran yang ia pupuk selama bekerja di sana seakan menguap hanya dalam beberapa menit.Melihat Pak Hendra berganti-ganti asisten rumah tangga adalah hal biasa untuknya. Ia sudah lama bekerja di sana dan malahan biasanya ia jarang sekali ikut turun tangan membersihkan rumah. Biasa selalu ada pegawai lain. Belakangan, ia mengerjakan semuanya karena Pak Hendra tak pernah cocok dengan orang-orang baru yang bekerja hanya dalam hitungan hari. Untuk itu ia tidak apa-apa.Namun berbeda dengan kali ini. Sejak pagi ia sudah dibentak-bentak terus. Diteriaki pemalas, bodoh dan menghina soal pekerjaannya. Bahkan ia dituduh melakukan kecerobohan yang bahkan tidak ia mengerti.Ia juga manusia yang bisa dilanda letih.Di depan pagar, Darto berhenti menatap rumah itu untuk beberapa detik.Ada banyak hal yang terasa berbeda beberapa bulan terakhir. Terutama saat anak dan cucu majikannya pindah ke luar negeri. Pria tua itu semakin mudah marah.S

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status