Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

Share

Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-30 00:07:26
Hari terasa berlalu tanpa jeda.

Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi.

Seolah hidupnya kembali ke mode lama.

Tapi kali ini, bukan hanya urusan Prabu yang mengganggu.

Ada tekanan yang lebih halus, lebih rapi, dan jauh lebih personal. Satu kapalnya belum bisa berangkat. Bukan karena cuaca atau muatan. Tapi hanya karena satu tanda tangan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (19)
goodnovel comment avatar
Syahriah Banjarmasin
Suka dengan cerita
goodnovel comment avatar
Kusmiatyningsih
kenapa iklan banyak kx kadang sudah Samapi 1o buka Ilham bab nya ga bisa dibuka juga
goodnovel comment avatar
Meli Cute
sehat slalu Njus... trimakasih update nya🫰
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak D

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 37. Selama Badai Belum Reda

    Di tepi kolam renang, lima pria masih duduk bertukar cerita. Topik pembahasan masih sama. Acara hari Jumat. Vian dan Roman bertukar cerita tentang jadwal. Julian mengamati raut serius Arga yang masih memegang amplop cokelat pemberian Satria barusan. Arga membacanya perlahan, sesekali berhenti, lal

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 26. Seiris Masa Lalu

    Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja.

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status