Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

Share

Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-30 00:07:26
Hari terasa berlalu tanpa jeda.

Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi.

Seolah hidupnya kembali ke mode lama.

Tapi kali ini, bukan hanya urusan Prabu yang mengganggu.

Ada tekanan yang lebih halus, lebih rapi, dan jauh lebih personal. Satu kapalnya belum bisa berangkat. Bukan karena cuaca atau muatan. Tapi hanya karena satu tanda tangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (19)
goodnovel comment avatar
Syahriah Banjarmasin
Suka dengan cerita
goodnovel comment avatar
Kusmiatyningsih
kenapa iklan banyak kx kadang sudah Samapi 1o buka Ilham bab nya ga bisa dibuka juga
goodnovel comment avatar
Meli Cute
sehat slalu Njus... trimakasih update nya🫰
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 204. Malam Penebusan

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.Brraaaammm!Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.Brak!Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya. Namun Satria tetap bertahan.Ia langsung mengambil sisi kanan sebuah truk kontainer besar di depannya. Menempel sangat dekat dengan truk itu. Terlalu dekat bahkan untuk ukuran motor besar.Si kidal menyusul di sampingnya.Lalu melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Prabu. Sengaja terus mendesak dari kanan. Berusaha kembali membuat Satria menghantam badan truk. Suara besi bergesekan nyaris terdengar. Namun tepat beberapa meter sebelum ruang di depan menutup … Satria memutar gas penuh.Brraaaammm!Motornya melon

  • KAMAR KEDUA   Bab 203. Rencana Cadangan 

    Beberapa hari sebelumnya saat Satria dan Arga sudah terlalu lelah membahas Hendra Kusuma Wijaya, ada obrolan santai yang keluar dari mulut mereka. Obrolan itu seperti janji yang tidak dramatis.Hanya obrolan pria yang membicarakan sesuatu yang terdengar seperti candaan buruk.Tentang gudang nomor tujuh belas.Tentang kemungkinan paling gila yang bisa dilakukan Satria.“Kalau gue nekat masuk ke gudang itu dan ngerampok semua isinya…” Satria memutar gelas di tangannya. “Lo bakal ngapain?”Arga langsung mendengkus. “Gue bakal cegah lo.”Satria tertawa kecil. “Segitunya?”“Karena itu ide paling goblok yang pernah gue dengar dari lo.” Arga tertawa.Julian yang duduk di sofa lain ikut tertawa pendek sambil memainkan korek api.Namun Satria tetap diam. Tatapannya serius. “Hm…” ia mengangguk pelan. “Tapi gimana kalau lo nggak bisa cegah gue?”Ruangan itu sempat hening beberapa detik. Arga menatap Satria lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar.“Kalau gue nggak bisa cegah lo…” katanya p

  • KAMAR KEDUA   Bab 202. Persalinan Maju

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria sempat oleng ketika si kidal menghantam setangnya.Brak!Motor besarnya bergeser liar beberapa senti ke samping.Namun refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari rasa sakit di bahunya. Dalam sepersekian detik Satria kembali menguasai motor itu. Tangannya mencengkeram setang lebih erat sementara ban motornya kembali lurus membelah jalan.Sisi kirinya kosong.Tanpa ragu ia membelokkan motor sedikit ke kiri. Si kidal tetap menempel dari sisi kanan.Terus di sana.Terus mencoba mencari celah.Sorot mata Satria menyipit di balik visor helmnya. Ia mencoba membaca gerakan lawannya.Cara pria itu mengambil tikungan. Cara pria itu menahan stang. Cara ia menjaga keseimbangan. Dan semakin lama Satria semakin sadar satu hal.Si kidal ternyata tidak terlalu hebat dengan motor.Mungkin hari di mana Prabu kecelakaan memang berbeda. Prabu tidak sadar sedang diburu. Tidak sadar sedang diarahkan menuju kematian.Karena itu Prabu le

  • KAMAR KEDUA   Bab 201. Duel Sesungguhnya

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria meraih sebotol air mineral dari dalam ranselnya.Tanpa pikir panjang, air itu langsung disiramkannya ke kepala sendiri. Membasahi rambut, wajah, sampai lehernya yang panas terkena hawa api.Sisanya ia tuang ke handuk kecil yang juga diambil dari dalam tas.Handuk basah itu langsung menutupi hidung dan mulutnya.Persiapan kecil yang bahkan tadi terasa berlebihan saat ia memasukkannya ke dalam ransel. Tapi sekarang … justru menyelamatkannya.Sejak berangkat menuju gudang nomor tujuh belas, ada bayangan aneh yang terus mengganggu kepalanya. Bayangan tentang dirinya yang mungkin tidak akan dibiarkan keluar begitu saja dari tempat itu.Dan karena pikiran gila itulah, tanpa sadar ia membawa benda-benda yang bahkan tidak ia rencanakan sebelumnya.Kakinya mulai terseret saat berjalan menuju pintu gudang.Bahu belakangnya berdenyut semakin liar. Asap membuat pandangannya kabur. Tapi ia tetap memaksa bergerak. Tangannya me

  • KAMAR KEDUA   Bab 200. Luka Untuk Menang

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Tatapan Satria dan si kidal beradu di tengah kobaran api yang mulai membesar.Tatapan yang sama-sama gelisah. Sama-sama menghitung kemungkinan hidup.Mata Satria bergerak cepat. Ke ranselnya yang tergeletak di dekat kaki rak besi. Lalu ke pintu gudang yang masih terkunci rantai. Dan terakhir … ke jerigen bensin yang terguling miring, membiarkan cairannya terus mengalir pelan di lantai.Sementara itu si kidal menoleh ke arah rak roboh yang menimpa tubuh rekannya. Pria besar itu tak bergerak sama sekali di bawah tumpukan besi.Lalu matanya ikut berpindah ke pintu. Ke api. Ke bensin. Dan akhirnya … kembali ke Satria.Keduanya menyadari hal yang sama. Mereka tidak lagi sedang bertarung untuk menang. Mereka sedang berebut keluar hidup-hidup dari gudang yang sebentar lagi berubah jadi neraka.“‘Kita perlu berkas-berkas di gudang nomor tujuh belas buat jadi barang bukti.’”Suara Arga kembali terngiang di kepala Satria.Namun t

  • KAMAR KEDUA   Bab 199. Malam Kegaduhan

    Beberapa detik yang lama, gudang itu kembali sunyi. Hanya suara kipas tua di langit-langit yang berputar lambat. Berderit. Berulang. Membuat suasana terasa semakin sesak.Satria berdiri di tengah lorong gudang dengan tubuh sedikit miring. Posisi yang tampak santai, padahal seluruh ototnya sudah menegang penuh.Dua pria di depannya mulai menyebar pelan.Mengurung.Si kidal tersenyum kecil sambil memainkan sesuatu di tangannya. Cable ties hitam panjang.“Masih mau nyari handphone-nya Prabu?” tanyanya santai. “Handphone-nya udah gue remukin jadi abu. Sisanya gue buang ke sungai. Lo nggak akan bisa nemuin apa-apa buat dijadiin barang bukti.”“Kalau handphone lo? Isinya apa aja? Bisa jadi barang bukti?” Satria bertanya dengan nada penasaran yang wajar. Seperti sedang bicara dengan rekannya.“Jangan mimpi bisa pegang handphone gue.” Si kidal tertawa terbahak-bahak. “Isi handphone gue udah bukan kelas teri lagi,” lanjutnya.“Nggak perlu mimpi untuk itu,” sahut Satria. Langkahnya mundur. Kin

  • KAMAR KEDUA   Bab 102. Alur yang Disimpan

    Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 104. Batas Yang Tidak Boleh Dilewati

    Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 92. Biar Aku Jelaskan

    Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-28
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status