/ Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 76. Bukan Pagi yang Tenang

공유

Bab 76. Bukan Pagi yang Tenang

작가: juskelapa
last update 게시일: 2026-01-30 00:08:14

Ada ketenangan yang tidak perlu dijelaskan di meja makan. Cahaya jatuh lembut, piring-piring diam di tempatnya, dan Dio duduk dengan wajah berseri-seri karena menyimpan sesuatu yang ingin ia banggakan.

“Pa,” katanya sambil mendorong kertas gambar ke arah Satria. “Nilai gambarku.”

Satria berhenti mengunyah. Mengambil kertas itu, menatap agak terlalu serius untuk anak seusia Dio. Lalu alisnya terangkat sedikit. “Kapal?” tanyanya.

“Iya,” jawab Dio cepat. “Aku gambar kapal laut. Bu guru bilang b
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (29)
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
jaga anak sakit udah biasa ngapain sih laporan segala, Satria udah mati rasa juga ga usah cari muka
goodnovel comment avatar
henny.orlee
heiiii pak salim licik, jng berharap bisa mengujutkn permintaan anak mu si nadine itu untuk membuat bang Sat jdi suaminya lg y. dah bau tanah tobat y pak
goodnovel comment avatar
iedh
si nadine gagal move on sih ini, setelah cerai baru nyesel ya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 164. Urutan Investigasi

    “Gue nggak pernah nunggu Prabu mati,” ucap Satria tenang.Arga terdiam.Satria melanjutkan, “Dan apa yang ada sekarang … bukan sesuatu yang gue rencanain.” Ia diam lalu berkata pelan, “Tapi gue jaga.”“Gue cuma khawatir … kalau lo masuk terlalu jauh ke kasus ini, Sheza bisa kehilangan suaminya dua kali, Sat. Sorry kalau yang gue bilang ini kejam, tapi gue beneran khawatir.” Khawatir yang disebut-sebut Arga memang terdengar dari nada suaranya.“Lo tau nggak apa yang gue pikir sekarang?” Suara Satria sedikit lebih dalam dan pelan.“Gue nggak tau apa yang lo pikirin, Sat. Gue bukan Prabu yang bisa nebak-nebak aja terus bener tiap ngomong sama lo.” Arga tertawa kecil.Satria mengangguk. “Bercandanya Prabu itu selalu pas.”“Gue jadi mikir … andai Prabu bisa menilai kedekatan kita semua, andai ada masalah di perusahaannya, dia bisa minta bantuan kita. Atau setidaknya … Prabu bisa minta bantuan lo.” Arga meninju pelan bahu Satria.Sementara Satria menggeleng. “Nggak. Prabu bukan orang yang k

  • KAMAR KEDUA   Bab 163. Semakin Berani

    Mendengar ucapan Sheza, Pak Heri mulai ragu.Di depan, polisi lalu lintas itu tetap jalan—motor jenis trail dengan plat kepolisian yang tak dimengerti Sheza. Di belakang, pengendara motor masih mengikuti mereka.Sheza tidak punya waktu untuk berpikir panjang. “Pak, bunyiin klakson,” pintanya pada Pak Heri.“Bu?”“Bunyiin sekarang!”Tak lama klakson panjang terdengar.Sekali.Lalu dua kali.Mobil kemudian melambat dan berhenti.Polisi lalu lintas di depan langsung menoleh, lalu berputar dan kembali mendekati dari sisi Sheza.“Ada apa, Bu?” tanyanya saat tiba di dekat pintu. Tubuhnya condong dan mendekat seakan mengamati dengan cermat apa yang terjadi di dalam mobil.Sheza membuka kaca. Tangannya memegang perut.Dan dalam satu detik—ia berubah.“Pak …. Tolong…” suaranya pecah. “Saya … saya sakit … perut saya sakit banget ini. Sepertinya saya mau lahiran ….”Pak Heri langsung panik menoleh ke belakang. “Bu?”Sheza menunduk, napasnya memburu. Ia mencoba bersandar lalu kembali mencondongk

  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 97. Masih Terlalu Pagi

    Sheza terbangun saat rumah masih gelap. Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam mas

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 92. Biar Aku Jelaskan

    Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
  • KAMAR KEDUA   Bab 88. Belum Baik-Baik Saja

    Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status