MasukSepanjang perjalanan menuju rumah, Nayla dan Tante Vonny tak berhenti bercerita. Namun topik pembicaraan mereka hanya satu.Saga.Kadang suara Nayla terdengar begitu ceria ketika menceritakan adik laki-lakinya yang sudah hampir tiga bulan itu."Saga sekarang udah bisa senyum kalau diajak ngobrol, Oma.""Iya?""Iya. Terus kalau Ibun nyanyi, dia suka diem. Anteng, tapi nggak tidur. Kalau Papa yang gendong, Saga sering ketiduran. Entah kenapa. Heran juga.”Vonny tertawa kecil mendengarnya."Lalu Saga udah bisa apa lagi?"Nayla langsung menghitung dengan jari-jarinya."Udah bisa tengkurap miring sedikit. Terus dia kalau lapar nangis. Suaranya kenceng banget. Tapi kalau kenyang lucu. Gampang ketiduran.”Namun beberapa saat kemudian, nada suara Nayla bisa berubah pelan. "Sayangnya aku nggak bisa sering-sering lihat Saga."Tante Vonny terdiam sejenak.Satria yang sedang menyetir melirik melalui kaca spion tengah.Nayla sedang memainkan ujung sabuk pengamannya."Tapi nggak apa-apa," lanjut Na
Satria tetap berdiri di tempatnya.Sementara Nadine terlihat semakin sulit mengendalikan nada bicaranya. "Papaku cuma minta waktu ngobrol," ucap Nadine tajam. "Kenapa sesulit itu buat kamu?""Aku lagi sibuk.""Sibuk?" Nadine tertawa pendek. "Sibuk sampai nggak bisa balas telepon? Sampai orang lain harus nungguin kamu?""Aku punya prioritas lain."Jawaban datar itu justru membuat Nadine semakin kesal."Berasa kamu aja yang punya prioritas.”Tatapan Satria tetap tenang."Dulu waktu masih jadi bagian dari keluarga ini, kamu nggak pernah seperti ini."Satria memandang Nadine beberapa detik sebelum menjawab. "Dulu aku memang masih bagian dari keluarga ini."Kalimat itu membuat wajah Nadine menegang.Tepat saat itu, suara langkah terdengar dari dalam rumah. Pak Salim muncul dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding putrinya."Nadine."Wanita itu mendecakkan lidah pelan sebelum bergeser.Pak Salim lalu memandang Satria. "Sebentar aja," katanya. "Saya cuma mau bicara."Satria menghela napas
Sebuah malam yang biasa bagi sebuah rumah tangga. Tapi bagi Satria, kehangatan sesederhana itu pernah menjadi sesuatu yang tak berani ia impikan. Kini, ia hidup di dalamnya.Malam semakin larut.Satria baru saja menyelesaikan catatan khusus mengenai kasus Prabu yang selama ini ia telusuri dengan tangannya sendiri.Beberapa poin penting ia tuliskan sebagai kesimpulan akhir. Catatan itu nantinya akan diserahkan kepada Arga sebagai peninggalan terakhir yang berkaitan dengan sahabat mereka.Setidaknya, dari pengakuan Hendra Kusuma Wijaya serta isi ponsel si kidal yang sampai detik itu masih berada di tangannya, Satria menarik satu kesimpulan yang cukup jelas.Hampir seluruh pekerjaan kasar dalam rangkaian peristiwa itu dilakukan oleh si kidal dan orang-orang yang bekerja bersamanya.Pak Hendra bahkan nyaris tidak mengenal siapa Alina atau Anton. Ia juga tidak benar-benar peduli pada klien-klien Prabu yang dananya masih tertahan karena belum sempat dikembalikan.Bagi pria setingkat Hendra K
Sheza menyimpan sore itu sebagai sesuatu yang istimewa.Bukan semata karena keintiman yang baru saja ia bagi bersama Satria, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah menjadi orang tua baru, mereka kembali menemukan jalan pulang satu sama lain.Di antara tangisan Saga di malam hari, jadwal menyusui, botol ASI, dan rasa lelah yang datang bergantian, Sheza sempat takut bahwa sebagian dari dirinya akan tertinggal di sana.Bahwa ia hanya akan menjadi ibu, sementara bagian dirinya sebagai seorang istri perlahan memudar.Namun sore itu membuktikan sebaliknya.Satria masih memandangnya dengan cara yang sama. Masih menginginkannya dengan ketulusan yang tak pernah pandai ia ucapkan lewat kata-kata.Dan Sheza, yang selama ini selalu merasa harus kuat untuk semua orang, mendapati dirinya bisa begitu rapuh di dekat pria itu.Sore itu tidak hanya menjadi tentang mereka sebagai suami dan istri.Tetapi juga tentang dua orang tua baru yang sedang belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seorang
Sheza sampai lupa kalau siang telah berganti menuju sore.Padahal tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Satria. Tentang perlengkapan yang baru saja datang setelah dipesannya dari aplikasi online. Tentang ruangan dekat garasi yang akan disulap menjadi Studio Sheza, studio mungil yang sudah lama ingin ia miliki. Tempat untuk memulai proyeknya sendiri. Memanfaatkan media sosial yang pengikutnya terus bertambah sejak sebelum ia menikah.Namun sore itu, semua rencana pembicaraan itu menguap begitu saja.Entah kenapa, berada di dekat Satria selalu membuat pertahanannya melemah.Ia hanya ingin berada di dekat pria itu.Satria yang tidak banyak bicara justru membuatnya semakin penasaran. Membuatnya diam-diam ingin terus diperhatikan, disentuh, dan diinginkan oleh pria itu.Saat Satria berada di rumah, Sheza ingin suaminya tidak pergi jauh-jauh darinya.Kadang ia malu mengakuinya.Bahwa ia tidak suka Satria pulang terlalu larut. Bahwa ia tidak suka ketika nama Nadine terlalu sering m
Satria kembali mencium Sheza.Kali ini ciumannya lebih dalam. Tangannya berpindah ke pinggang wanita itu, menahannya tetap dekat di atas pangkuannya.Napas Sheza mulai tidak teratur ketika kecupan-kecupan itu bergeser ke sudut rahangnya."Mas …,” bisiknya pelan.Satria hanya mendengus rendah sebagai jawaban. Bibirnya menyusuri garis leher Sheza perlahan. Berhenti beberapa detik di sana sebelum mengecupnya lagi. Tangan Sheza otomatis mencengkeram bahu pria itu. "Mas Satria ….”Satria mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya meredup. "Hm?""Ini..." Sheza melirik sekeliling bathtub. "...sempit."Satria diam beberapa detik. Lalu mengecup bahu Sheza singkat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Iya." Ia menyandarkan kepala ke bahu Sheza sesaat sebelum mundur sedikit. "Ke sini."Sheza mengerjap."Ayo, mandi dulu." Satria mengambil shower dari tepi bathtub.Nada bicaranya datar seperti biasa. Seolah beberapa menit sebelumnya bukan dia yang membuat wajah Sheza memerah.Sheza tertawa
“Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar
Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat
Satria sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan berdiri di ruang makan dengan kemeja kerja yang belum dikancing penuh.Kopi di tangannya belum disentuh. Matanya justru tertuju ke meja makan tempat di mana blister obat sakit kepala yang ia letakkan semalam.Bertahun yang lalu, Prabu pernah tertawa sa
Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sa







