Mag-log inSheza telentang di ranjang.Selimut yang ia tarik dengan setengah hati, hanya mampu menutup sebagian dadanya saja. Selebihnya ia berusaha mengendalikan gugup yang herannya masih saja hadir meski mereka sering bercinta.Ia tak tahu bagaimana penampilannya di bawah sana. Perutnya yang besar membuat pemandangan ke sana terhalang. Napasnya pun ikut sesak karena ia menopang berat bayi yang sudah maksimal di perutnya.Sheza hanya mengikuti apa yang dipinta Satria. Kini ia berbaring dengan sepasang kaki ditekuk dan paha terbuka. Satria sudah melepaskan pakaiannya sejak tadi. Pria itu sudah menunduk untuk merasakan bagian tubuhnya langsung. Membuat ia meringis karena gelenyar kenikmatan yang mengalir hingga ke ujung-ujung jarinya. Terutama … saat ia melihat otot lengan Satria yang terbentuk jelas. Padat dan hidup. Terlihat bergerak ketika pria itu menahan pahanya yang sesekali bergerak menutup. Satria di sana. Ia bisa melihatnya dengan jelas.Tatapan Satria tenang dan tidak terburu-buru. I
Sheza menatap ibunya beberapa saat, lalu mengerling cangkir teh di depannya seraya tersenyum samar. “Bu ….” Suaranya tetap rendah dan tenang. “Aku nggak pernah mikir sejauh itu.”Bu Pur mengernyit sedikit. “Sejauh apa?”Sheza menarik napas kecil. “Menikah dengan siapa pun, aku nggak pernah kepikiran harta yang suamiku cari bakal jatuh ke siapa.”Nada suaranya tenang dan nyaris terdengar bosan dengan topik yang diutarakan ibunya.“Karena menurut aku …” ia berhenti sebentar,“…laki-laki yang bertanggung jawab pasti tahu apa yang harus dia jaga.” Kata bertanggung jawab keluar lebih pelan.Sheza diam mengambil jeda. Merasa kalau kata-katanya cukup jelas. Ia tidak mencari keributan dengan ibunya yang sengaja diundang Satria ke sana.“Satria itu lebih ramah dengan Ibu dibanding Prabu. Walaupun … hidupnya keliatannya lebih rumit.” Bu Pur menatap pintu ruang kerja Satria yang tertutup.“Mas Satria ramah bisa jadi karena belum terlalu kenal keluarga kita.” Sheza tertawa sumbang.“Jangan terlal
Telepon itu berakhir begitu saja.Tangannya masih memegang ponsel. Pikirannya kosong. Kekesalanmya tidak tersalurkan. Terasa bertumpuk-tumpuk di dadanya. Sampai akhirnya Satria pulang tiba-tiba bersama Nayla. Sheza bahkan belum sempat menenangkan dirinya sendiri.Di pintu, Nayla berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Mereka sempat berpelukan sebentar dan ia mengusap pipi gadis kecil yang wajahnya seperti Satria.Sheza sudah membayangkan akan menghabiskan seharian itu bersama Nayla. Mungkin akan mengobrol soal sekolahnya, atau mereka akan menggunting dan menempel stiker seperti kemarin.Tapi belum lagi rencana itu diwujudkan, perutnya kembali terasa kencang. Entah karena ia melihat Nayla, lalu teringat soal Nadine. Atau kekhawatiran tentang bagaimana sikap ibunya di depan Satria.Sheza meringis.Detik itu, senyum Nayla langsung hilang dan Satria terlihat sedikit panik. Ya. Satria panik. Bisa dibilang baru kali itu ia melihat Satria gugup. Raut wajahnya berubah dan tangannya ikut mera
Entah itu bisa disebut firasat atau tidak. Atau hanya kecemasan kecil yang belakangan datang diam-diam dan menyusup di sela malam ketika kantuk justru enggan datang.Beberapa hari terakhir, Sheza tidak pernah benar-benar merasa tenang.Setelah Satria meninggalkan rumah pagi itu dalam keadaan belum sarapan, seperti yang diminta pria itu, Sheza langsung menghubungi ibunya lagi. Bukan karena panik atau benar-benar membutuhkan. Lebih seperti … berjaga-jaga.Ia ingin memastikan ada orang lain di rumah. Seperti saran Satria.Perutnya sudah sering terasa kencang. Datang dan pergi. Tidak teratur, tapi memang belum sakit. Meski cukup untuk membuatnya waspada.Sheza belum berani menyebutnya kontraksi.Hari kelahiran bayinya memang sudah sangat dekat. Bisa beberapa hari ke depan. Bisa juga … lebih cepat dari itu.Sebelum pergi, Satria selalu memeluknya lebih lama dari biasanya. Tidak pernah terburu-buru di bagian itu. Seolah waktu bisa ditahan sebentar di sana.Tangan Satria akan turun ke perutn
Satria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria
Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it
“Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny
Sheza terbangun saat rumah masih gelap. Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam mas
Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad
Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia







