Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 77. Pria Dingin Itu

Share

Bab 77. Pria Dingin Itu

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-30 02:16:20

Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin.

Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. Di sisi ranjang, Satria duduk dengan satu kaki menyilang, punggung tegak, ponsel di tangan. Layarnya penuh pesan masuk; pelabuhan, kantor, satu kapal yang akhirnya mendapat tanda tangan.

Ia membaca ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (34)
goodnovel comment avatar
Mamah Aster
Ternyata dari Satria muda sudah di manfaatkan pak Salim tapi secara halus
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
pak Salim waspada ya,sekarang satria bukan pria kecil yg mudah kamu kendalikan seperti dulu , dan sekarang pelan tapi pasti bisa melakukan yg bisa membuatmu ketar ketir
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
Satria pelan tapi pasti akan keluar dari lingkaran yang membuatnya tak nyaman
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 183. Dengan Sengaja

    Satria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 182. Jejak yang Kembali

    Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it

  • KAMAR KEDUA   Bab 181. Petunjuk yang Mendebarkan

    Selesai mengikuti Satria berjalan ke sana kemari, Arga tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di samping pintu, menahan Satria dengan satu kalimat pendek yang jarang ia ulang dua kali.“Makan dulu.”Satria sudah membuka pintu mobilnya. Tangannya berhenti di gagang. Ia tidak menoleh. “Gue nggak lapar.”Arga mendengus pelan. “Lo bukan nggak laper. Lo lagi kebanyakan mikir.”Satria diam saja. Tatapannya beralih ke kapal-kapal yang terparkir di bawah terik matahari.Angin pelabuhan masih membawa sisa debu batubara yang menempel di lengan dan kerah baju mereka. Siang mulai naik. Terik, tapi tidak cukup untuk mengusir tegang yang masih menggantung di tubuh Satria.“Sat,” Arga menurunkan suaranya, lebih serius sekarang. “Lo dari pagi belum makan. Gue tau.”Kalimat itu menggantung beberapa detik.Dan entah kenapa … yang terlintas di kepala Satria bukan kata-kata Arga.Tapi suara Sheza barusan.Nada pelan yang berusaha tidak mengganggu. “Mas udah sarapan?”Tadi ia langsung mengiyakan. “Udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 180. Kelam Pelabuhan

    Langkah Satria tidak melambat sejak keluar dari ruang kontrol.Ia berjalan lurus ke arah stockpile tanpa menoleh, tanpa memberi aba-aba. Arga hanya mengikuti di belakang, cukup dekat untuk melihat, tapi tidak mengajak temannya bicara.Angin pelabuhan menyapu debu hitam tipis ke udara. Bau batubara pekat, terhirup dan menempel di tenggorokan.Hamparan stockpile berdiri seperti bukit-bukit gelap yang diam tapi menyimpan sesuatu.Satria langsung turun ke area bawah.Tanpa sarung tangan ia menggenggam batubara dari lapisan atas. Menggosoknya di telapak tangan. Menghancurkannya sedikit dengan ibu jari.Serbuknya halus dan terlihat normal. Ia menjatuhkannya kembali. Lalu melangkah lebih dalam. Kali ini ia menunduk lebih lama. Tangannya masuk sedikit lebih dalam ke lapisan tengah.Mengambil segenggam batubara dan menekannya dengan jemari. Wajahnya mengeras dan ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.Arga memperhatikan dari samping. “Gimana?”Satria belum langsung jawab. Ia mengangkat tangan

  • KAMAR KEDUA   Bab 179. Retakan Pertama

    Sarapan adalah salah satu hal penting yang tidak pernah dilewatkan Satria. Perutnya tak pernah kosong saat meninggalkan rumah. Namun pagi itu, ia bahkan tidak ingat soal sarapan.Ia melangkah keluar dari restoran Jepang tanpa meneguk air setetes pun. Tidak pernah ada keinginan untuk makan dan minum saat bicara dengan Pak Salim—juga Nadine. Seakan tiap topik yang diluncurkan setajam pisau yang harus ia siapkan perisainya.Walah raut wajah Nadine masih menyiratkan kepuasan, ia tahu wanita itu tidak mudah dibuat percaya. Nadine pasti akan selalu mencari tahu soal dia dan keluarganya.Sekali lagi, ini bukan soal cinta.Satria tahu betul mana wanita yang bertindak karena cinta dan kepedulian. Juga tahu mana wanita yang marah karena disebut-sebut kalah dari mantan suami yang lebih dulu memiliki keluarga baru.Udara di halaman kantor polisi terasa lebih panas dari biasanya meski matahari belum benar-benar naik di atas kepala.Satria turun dari mobil tanpa banyak pikir. Pintu ia tutup lebih k

  • KAMAR KEDUA   Bab 178. Hanya Perkara Waktu

    Satria menggeleng pelan. “Saya nggak bilang siapa pun,” katanya. “Tapi saya cukup tau jalur ini terlalu bersih untuk tiba-tiba kacau tanpa ada yang pegang kendali.” Nadine bergeser sedikit. Ia melepaskan sendok teh yang sejak tadi ia pegang. Kini pembicaraan itu semakin membuatnya tertarik. Salim tertawa pendek. Tidak ada kehangatan dalam tawa itu. “Kamu terlalu percaya diri,” kata Pak Salim. “Baru pegang sedikit, sudah merasa bisa baca semua.” Satria menyandarkan punggungnya. “Sedikit?” Ia ikut tertawa mengejek. “Kalau sedikit harusnya nggak sampai bikin seorang Pak Salim duduk di sini,” balasnya tenang. Ucapannya tepat sasaran. Nadine menoleh cepat. Memandang Satria dengan tatapan sengit. Lebih tajam. “Jangan lupa diri, Satria,” ucap Nadine akhirnya. “Kamu ada di posisi sekarang karena siapa.” Satria tidak berkedip—ia menoleh Nadine. “Dan kamu juga tau aku bertahan di posisi ini karena apa,” jawabnya. Suasana tiba-tiba hening. Seakan setiap orang sedang mempersiapkan kat

  • KAMAR KEDUA   Bab 82. Pria Paling Peka

    “Kamu udah dapat semuanya,” lanjut Satria, suaranya rendah dan kokoh. “Udah aku urus sampai selesai.” Ia menatap Nadine tanpa emosi. Tanpa kebencian. “Kamu lupa, Nadine,” katanya. “Perceraian kita itu clear. Selesai. Kita berbagi hak asuh. Kamu dapat tunjangan. Semuanya sah. Rapi.” Satria melangk

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 85. Hangat yang Dipaksakan

    Satria meletakkan mangkuk sup di meja kecil di samping sofa. Uap tipis masih naik perlahan, membawa aroma jahe dan bawang yang lembut. Ia tidak langsung menyodorkannya. Ia justru berdiri sebentar, mengamati Sheza yang masih meringkuk, dengan selimut menutup bahunya. “Duduk, yuk,” katanya pendek.

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 79. Telepon Malam

    Lampu ruang kerja masih menyala ketika ponsel Satria bergetar untuk kesekian kalinya malam itu. Berkas-berkas dari kantor Prabu terbuka di meja. Beberapa map sudah ia pilah. Beberapa angka ia lingkari dengan pena merah. Ada pola yang tidak rapi, dan ketidakteraturan itu membuatnya belum bisa berhent

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

    Hari terasa berlalu tanpa jeda. Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi. Seolah hidupnya kembali ke mode lama. Tapi kali ini, bukan hanya u

    last updateLast Updated : 2026-03-26
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status