Inicio / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 77. Pria Dingin Itu

Compartir

Bab 77. Pria Dingin Itu

Autor: juskelapa
last update Última actualización: 2026-01-30 02:16:20

Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin.

Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. Di sisi ranjang, Satria duduk dengan satu kaki menyilang, punggung tegak, ponsel di tangan. Layarnya penuh pesan masuk; pelabuhan, kantor, satu kapal yang akhirnya mendapat tanda tangan.

Ia membaca ta
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (34)
goodnovel comment avatar
Mamah Aster
Ternyata dari Satria muda sudah di manfaatkan pak Salim tapi secara halus
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
pak Salim waspada ya,sekarang satria bukan pria kecil yg mudah kamu kendalikan seperti dulu , dan sekarang pelan tapi pasti bisa melakukan yg bisa membuatmu ketar ketir
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
Satria pelan tapi pasti akan keluar dari lingkaran yang membuatnya tak nyaman
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas itu menarik napas. “Kami hanya menjalankan perintah.”“Perintah siapa?”Sunyi.Di luar, klakson kapal terdengar pendek. Satria melangkah lebih dekat ke meja. Ia berdiri terlalu dekat untuk diabaikan. Sebelum bicara terlihat Satria menarik napas pelan.“Manifest ini sudah diverifikasi tiga hari lalu. Nomor registrasi, berat muatan, rute, semuanya sudah sesuai. Kalau ada kekurangan, tunjukkan pasalnya.” Ia tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari petugas yang mulai kehilangan keberanian.Petugas itu membuka-buka berkas lagi. Tangannya sedikit gemetar. “Bagian tanda tangan digital—”“Sudah tervalidasi sistem pusat,” potong Satria tenang. “Saya punya salinannya.”Ia mengeluarkan ponsel, menu

  • KAMAR KEDUA   Bab 122. Angin Dingin di Tikungan 

    Suasana hening beberapa saat.Petugas di depan mereka ikut menegang. “Apakah korban biasa menggunakan lebih dari satu perangkat?” tanya Kanit hati-hati.Satria menjawab tenang, “Seharusnya tidak.” Ia tidak ingin terlalu cepat membuka asumsi.Arga kembali melihat log. “Panggilan ke Alina tercatat semua dari nomor ini,” gumamnya.Satria mengangguk.Berarti nomor lain itu bukan untuk Alina. Bukan untuk keluarga.Bukan untuk sahabat dekat.Lalu untuk siapa?Ruangan terasa lebih dingin.Petugas kepolisian kembali menyimpan semua catatan, foto, dan barang bukti ke dalam map tebal berlabel tanggal kejadian. Helm itu ikut diangkat dari meja—dimasukkan kembali ke plastik transparan yang sudah agak menguning.Arga dan Satria keluar dari ruangan berpendingin dingin itu dengan kepala lebih penuh daripada saat mereka masuk.Helmnya memang pecah.Satria ingat jelas bagaimana sore itu helm Prabu tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Helm mahal itu tidak hancur berkeping-keping. Tidak remuk sepert

  • KAMAR KEDUA   Bab 121. Ucapan Cinta Pertama

    Esoknya Sheza bangun lebih awal, saat rumah masih sunyi dan udara dingin belum terusir matahari. Ia sudah hafal tubuhnya sendiri, sekitar pukul delapan pusing itu biasanya datang. Jadi sebelum lelah mengejarnya, ia memilih bergerak lebih dulu.Dengan kimono sutra putih melingkari tubuhnya, ia menyalakan lampu dapur. Tangannya bekerja tenang—mencuci beras, mengiris ayam tipis, menumis sayur dengan api kecil. Bekal kali ini bukan untuk anak-anak. Tak ada nasi beruang atau sosis bunga. Hanya susunan sederhana, rapi, untuk orang dewasa.Saat menggulung telur, ia teringat Nayla yang kemarin pulang membawa tas bekal pink dengan wajah cerah. Soal kapan bentonya dimakan, Sheza belum tahu. Ia sempat bertanya pada Satria, dan pria itu hanya berkata, “Tunggu aja. Nanti dia cerita sendiri.”Sheza tersenyum kecil mengingatnya.Delapan tahun lalu, ia membuat kotak bekal pertamanya dengan tangan gemetar. Berjam-jam di dapur. Menonton video berkali-kali. Mengulang potongannya yang terlalu besar. Menc

  • KAMAR KEDUA   Bab 120. Bento Hari Minggu

    Dapur pagi itu lebih berisik dari biasanya. Suara sendok beradu dengan mangkuk. Teflon kecil mendesis pelan. Aroma telur dan nasi hangat bercampur dengan wangi sabun cuci piring yang masih tersisa di udara. Sheza berdiri di depan meja dapur dengan dress katun selutut warna lembut. Bentuk tubuhnya terlihat bagi siapa yang memperhatikan. Meski wajahnya masih agak pucat, Sheza pagi itu terlihat lebih riang. “Nggak usah terlalu padat, Bun. Nasinya nanti kepencet,” komentar Nayla serius sambil memegang cetakan nasi berbentuk beruang. Sheza tertawa kecil. “Yang bikin kamu atau Ibun sih?” “Aku dong,” jawab Nayla cepat. “Ibun cuma asisten.” “Oh, jadi Ibun cuma asisten sekarang?” Sheza pura-pura tersinggung. Nayla terkikik. “Asisten cantik dan nggak boleh capek kata Papa.” Sheza menggeleng sambil memotong wortel tipis-tipis. “Kata Papa? Kapan Papa ngomong gitu? Ibun nggak capek, kok.” Nayla dengan hati-hati menempelkan potongan nori sebagai mata. Satu terlalu besar, satu terlalu kecil.

  • KAMAR KEDUA   Bab 119. Tubuh yang Dikenali

    Sheza sempat mengira ia terlalu lelah untuk merasakan apa pun lagi malam itu. Rasanya ia sudah terlalu banyak muntah dan tubuhnya letih. Ia berbaring lalu tertidur lebih dulu. Berpikir bahwa ia akan terbangun esok hari dengan tubuh lebih segar.Tapi ia salah.Sentuhan Satria membangunkannya. Tangan besar yang hangat dan kasar itu menyentuh kulit perutnya, diikuti dengan terpaan napas pria itu dilehernya. Ia bergidik.Tubuhnya lelah, tapi ia tak bisa menolak Satria. Tubuhnya selalu bereaksi lebih cepat. Ia cepat lembut dan basah hanya dengan ciuman singkat dari Satria. Apa mungkin ini yang disebut orang sebagai fase pengantin baru? Yah … bisa dibilang mereka tengah menjalani fase itu sekarang.Lampu kamar redup dan dua pasang mata mereka beradu. Ia mendesah panjang. Tidak bisa tidak. Bagian tubuh Satria memang mengejutkannya sejak awal. Membuatnya merasa terisi penuh dan menyesakkan. Sekaligus kenikmatan yang harus ia akui malu-malu pada dirinya sendiri.Tak ada yang harus ia lakukan se

  • KAMAR KEDUA   Bab 118. Menginap di Rumah Papa

    “Kangen?” Satria tersenyum tipis. “Aku di sini aja.” Jawaban Satria pelan. Tangannya masih di pipi Sheza ketika wanita itu mengerjap pelan.Sheza tersenyum tipis. “Kayaknya Nay ngantuk banget tadi .…” Ia pelan-pelan hendak bangkit, tapi Satria sudah lebih dulu menopang bahunya.“Pelan,” katanya rendah.Satria membetulkan posisi Nayla lebih dulu—menarik selimut kecil ke atas tubuh putrinya, menyibakkan rambut yang menutup wajahnya. Setelah itu barulah ia menarik Sheza mendekat ke dadanya. Sheza bersandar, napasnya masih sedikit berat. “Itu kamar Nayla udah diberesin?” tanyanya pelan.“Udah,” jawab Satria. “Tadi Tuti yang bantuin. Kamu juga sempat lihat kan?” Sheza mengangguk. “Aku baru tau itu kamar Nayla. Lengkap banget. Lemarinya, mejanya, rak bukunya … Dia pasti betah.”Satria tersenyum tipis. “Memang aku bikin supaya dia betah di sini.”Sheza menoleh, menatapnya.Satria melanjutkan lebih pelan, “Aku pengin rumah ini jadi rumah yang hangat. Buat setiap anak.”Sheza mengulang pelan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status