Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 23. Waktu yang Merangkak

Share

Bab 23. Waktu yang Merangkak

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-09 22:51:07
Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sana kemarin.

Rumahnya memang biasa sepi dan minim bunyi-bunyian, tapi hari itu sepi rumahnya lain dari kemarin. Sepinya hidup.

Cahaya matahari jatuh miring ke permukaan kolam renang, memantulkan kilau
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Mamah Aster
Bukan cinta....bukan nyaman...terus apa dong zee?
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
pokoknya Zee dibuat sibuk sama bang sat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 187. Malam Sebelum Kejadian

    Sheza telentang di ranjang.Selimut yang ia tarik dengan setengah hati, hanya mampu menutup sebagian dadanya saja. Selebihnya ia berusaha mengendalikan gugup yang herannya masih saja hadir meski mereka sering bercinta.Ia tak tahu bagaimana penampilannya di bawah sana. Perutnya yang besar membuat pemandangan ke sana terhalang. Napasnya pun ikut sesak karena ia menopang berat bayi yang sudah maksimal di perutnya.Sheza hanya mengikuti apa yang dipinta Satria. Kini ia berbaring dengan sepasang kaki ditekuk dan paha terbuka. Satria sudah melepaskan pakaiannya sejak tadi. Pria itu sudah menunduk untuk merasakan bagian tubuhnya langsung. Membuat ia meringis karena gelenyar kenikmatan yang mengalir hingga ke ujung-ujung jarinya. Terutama … saat ia melihat otot lengan Satria yang terbentuk jelas. Padat dan hidup. Terlihat bergerak ketika pria itu menahan pahanya yang sesekali bergerak menutup. Satria di sana. Ia bisa melihatnya dengan jelas.Tatapan Satria tenang dan tidak terburu-buru. I

  • KAMAR KEDUA   Bab 186. Sebelum Hari Penentuan 

    Sheza menatap ibunya beberapa saat, lalu mengerling cangkir teh di depannya seraya tersenyum samar. “Bu ….” Suaranya tetap rendah dan tenang. “Aku nggak pernah mikir sejauh itu.”Bu Pur mengernyit sedikit. “Sejauh apa?”Sheza menarik napas kecil. “Menikah dengan siapa pun, aku nggak pernah kepikiran harta yang suamiku cari bakal jatuh ke siapa.”Nada suaranya tenang dan nyaris terdengar bosan dengan topik yang diutarakan ibunya.“Karena menurut aku …” ia berhenti sebentar,“…laki-laki yang bertanggung jawab pasti tahu apa yang harus dia jaga.” Kata bertanggung jawab keluar lebih pelan.Sheza diam mengambil jeda. Merasa kalau kata-katanya cukup jelas. Ia tidak mencari keributan dengan ibunya yang sengaja diundang Satria ke sana.“Satria itu lebih ramah dengan Ibu dibanding Prabu. Walaupun … hidupnya keliatannya lebih rumit.” Bu Pur menatap pintu ruang kerja Satria yang tertutup.“Mas Satria ramah bisa jadi karena belum terlalu kenal keluarga kita.” Sheza tertawa sumbang.“Jangan terlal

  • KAMAR KEDUA   Bab 185. Merasa Sendirian

    Telepon itu berakhir begitu saja.Tangannya masih memegang ponsel. Pikirannya kosong. Kekesalanmya tidak tersalurkan. Terasa bertumpuk-tumpuk di dadanya. Sampai akhirnya Satria pulang tiba-tiba bersama Nayla. Sheza bahkan belum sempat menenangkan dirinya sendiri.Di pintu, Nayla berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Mereka sempat berpelukan sebentar dan ia mengusap pipi gadis kecil yang wajahnya seperti Satria.Sheza sudah membayangkan akan menghabiskan seharian itu bersama Nayla. Mungkin akan mengobrol soal sekolahnya, atau mereka akan menggunting dan menempel stiker seperti kemarin.Tapi belum lagi rencana itu diwujudkan, perutnya kembali terasa kencang. Entah karena ia melihat Nayla, lalu teringat soal Nadine. Atau kekhawatiran tentang bagaimana sikap ibunya di depan Satria.Sheza meringis.Detik itu, senyum Nayla langsung hilang dan Satria terlihat sedikit panik. Ya. Satria panik. Bisa dibilang baru kali itu ia melihat Satria gugup. Raut wajahnya berubah dan tangannya ikut mera

  • KAMAR KEDUA   Bab 184. Firasat Beberapa Hari Terakhir

    Entah itu bisa disebut firasat atau tidak. Atau hanya kecemasan kecil yang belakangan datang diam-diam dan menyusup di sela malam ketika kantuk justru enggan datang.Beberapa hari terakhir, Sheza tidak pernah benar-benar merasa tenang.Setelah Satria meninggalkan rumah pagi itu dalam keadaan belum sarapan, seperti yang diminta pria itu, Sheza langsung menghubungi ibunya lagi. Bukan karena panik atau benar-benar membutuhkan. Lebih seperti … berjaga-jaga.Ia ingin memastikan ada orang lain di rumah. Seperti saran Satria.Perutnya sudah sering terasa kencang. Datang dan pergi. Tidak teratur, tapi memang belum sakit. Meski cukup untuk membuatnya waspada.Sheza belum berani menyebutnya kontraksi.Hari kelahiran bayinya memang sudah sangat dekat. Bisa beberapa hari ke depan. Bisa juga … lebih cepat dari itu.Sebelum pergi, Satria selalu memeluknya lebih lama dari biasanya. Tidak pernah terburu-buru di bagian itu. Seolah waktu bisa ditahan sebentar di sana.Tangan Satria akan turun ke perutn

  • KAMAR KEDUA   Bab 183. Dengan Sengaja

    Satria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 182. Jejak yang Kembali

    Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it

  • KAMAR KEDUA   Bab 112. Cerita Pelabuhan Lama

    Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri berbicara dengan dua lelaki pelaku di dunia tambang yang usianya jauh lebih tua. Jas hitamnya pas di badan. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa.Tapi semua orang mendengarkan saat ia bicara. Wajahnya tegas. Garis rahangnya jelas. Tatapannya tenang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • KAMAR KEDUA   Bab 110. Irama yang Sama

    Satria merasakan tubuh Sheza menyambutnya sepenuhnya. Di dalam, tubuh Sheza hangat, hidup dan … berdenyut bagai nadi mereka. Satria memejamkan mata, menarik napas panjang ketika tubuh mereka menyatu lebih dalam. Sensasi itu membuat rahangnya mengeras. Kenikmatan yang sulit digambarkan menggelenyar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • KAMAR KEDUA   Bab 101. Di Antara Angka dan Nama

    Satria tertawa.Tawa kecil yang membuat orang di ruangan itu cukup kaget. Untungnya tidak ada yang terganggu oleh tawa itu. Malah, Vian ikut tertawa meski Satria yakin pria itu tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.Satria menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir dengan apa yang baru dilontark

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 103. Reaksi Penasaran 

    Arga yang pertama memecah sunyi. Ia tidak meninggikan suara atau bergerak mendekati Roman. Ia hanya menyilangkan tangan, menatap Roman sejenak—cukup lama untuk membuat orang lain sadar, sekarang giliran siapa yang diuji.“Man,” kata Arga ringan, “gue mau nanya satu hal.”Roman mengangkat wajah, lal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status