بيت / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 23. Waktu yang Merangkak

مشاركة

Bab 23. Waktu yang Merangkak

مؤلف: juskelapa
last update تاريخ النشر: 2026-01-09 22:51:07
Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sana kemarin.

Rumahnya memang biasa sepi dan minim bunyi-bunyian, tapi hari itu sepi rumahnya lain dari kemarin. Sepinya hidup.

Cahaya matahari jatuh miring ke permukaan kolam renang, memantulkan kilau
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (13)
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Mamah Aster
Bukan cinta....bukan nyaman...terus apa dong zee?
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
pokoknya Zee dibuat sibuk sama bang sat
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 191. Malam Panjang 

    Arga dan Julian masih menatap punggung Satria saat pria itu membuka pintu dan menghilang.Keduanya saling pandang dalam diam. Bahkan sampai pintu sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.Satria pergi begitu saja membawa berkas, membawa pikirannya, dan meninggalkan sisa ketegangan yang belum benar-benar reda di ruangan itu.Julian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya sempat mengusap wajah, lalu berhenti di sana sebelum akhirnya ia menatap Arga. “Menurut lo … ini masih wajar?”Arga membalas pandangannya sambil merapikan beberapa kertas di meja, meski jelas pikirannya tidak benar-benar ada di situ. “Apanya?” tanyanya datar.“Ya, Satria.”Lalu hening sebentar sebelum Julian melanjutkan, “Gue tahu dia kehilangan Prabu. Kita semua juga,” kata Julian, suaranya lebih rendah. “Tapi ini udah bukan sekadar cari tau lagi, Ga. Dia kayak … ngejar sesuatu yang nggak mau dia lepas.”Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit-langit sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Gue juga udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 190. Keputusan Setengah Jadi

    Satria memang belum melupakan suatu malam beberapa bulan yang lalu.Malam ketika ia dan Arga masih sibuk mencari ponsel kedua milik Prabu. Malam yang waktu itu terasa seperti jalan buntu … dan sekarang, setelah semua potongan puzzle tersusun, justru terlihat sebagai sesuatu yang lebih besar.Hendra Kusuma Wijaya.Sebuah nama yang memang tidak pernah terpikirkan oleh Satria sama sekali. Pria yang lebih ramah, hangat, terlihat penuh perhatian dan sayang keluarga itu ternyata menyimpan banyak misteri dalam identitasnya.Malam ketika ia memergoki seorang pria di kantor Prabu, ia berpikir bahwa pria itu juga mencari ponsel kedua Prabu. Seperti mereka. Ke sana kemari mengais informasi yang disisakan Prabu, serta berlomba dengan pihak yang belum kasat di mata mereka.Satria menerawang—menjatuhkan tatapannya ke sudut ruangan tempat di mana sebuah speaker besar diletakkan. “Malam itu gue mengira orang yang masuk kantor Prabu nyari handphone kedua Prabu. Sama seperti kita. Tapi setelah gue piki

  • KAMAR KEDUA   Bab 189. Yang Semakin Nyata

    Julian mengangguk ragu.“Prabu punya klien yang sama berulang-ulang,” kata Satria. “Perusahaan kecil. Nggak terlalu dikenal. Tapi frekuensinya tinggi. Yang sedang kita lihat ini.” Ia mengetukkan jari di atas kertas-kertas.Julian langsung menyela, “Itu biasa. Repeat client—”“Enggak,” potong Satria. Pendek dan tegas. “Bukan repeat biasa.”Ia menarik satu lembar kertas lagi. Lalu satu lagi. Menyusunnya berdampingan. “Perusahaannya beda nama. Direksinya beda orang,” lanjutnya, “tapi jalur dan caranya sama semua. Persis.”Julian menyipitkan mata. “Jalur itu sama dengan alur persetujuan semua dokumen di pelabuhan, sampai kapan bisa diberangkatkan?”Satria mengangguk, lalu terlihat ia menelan ludah pelan. “Awalnya gue kira normal, tapi … nama direksi dua perusahaan yang berusaha kita cek sama-sama tadi, ternyata orang dari lingkungan Pak De Hendra sendiri.”“Jadi … semua yang di pelabuhan itu keliatannya aja perusahaannya banyak. Tapi sebenarnya orang yang main itu-itu juga, kan?” Arga men

  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 21. Hal-hal yang Tidak Diucapkan

    Satria sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan berdiri di ruang makan dengan kemeja kerja yang belum dikancing penuh.Kopi di tangannya belum disentuh. Matanya justru tertuju ke meja makan tempat di mana blister obat sakit kepala yang ia letakkan semalam.Bertahun yang lalu, Prabu pernah tertawa sa

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 20. Malam Diskusi

    Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 22. Jangan Sampai Pusing

    Menatap berkas KUA yang bertuliskan nama lengkapnya dan Satria membuat perasaan asing yang tidak nyaman menggerogotinya. Sheza merasa ditarik ke sebuah lorong yang ia belum paham betul ke mana arah dan tujuannya. Ia malu. Bukan pada siapa-siapa melainkan pada Satria. Malu karena ia berdiri di sebe

    last updateآخر تحديث : 2026-03-18
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status