Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

Share

Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-12 23:09:29
“Bu Sheza mau keluar?”

Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya.

“Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar.”

“Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke Pak Satria ….”

Sheza mengangkat tangannya untuk mencegah. “Jangan, Mbak. Nggak semuanya harus dilapor ke Pak Satria. Bapak juga sibuk, kan? Nggak apa-apa. Nan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (20)
goodnovel comment avatar
Mpok Poernama
bu pur kawin sama brondong Mokondo
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
ngapain nanya2 kalo nggak ada niat buat bantuin
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 344. Lima Belas Menit yang Meleset

    Di sudut bangunan, Damar membentangkan gambar kerja di atas meja lipat, menahan salah satu sudutnya dengan gelas teh yang sudah dingin. Ia menunjuk garis merah yang melingkari salah satu kolom."Ini kolom K-14, Bu. Retakannya masih di ambang aman, tapi posisinya persis di titik yang menahan beban terbesar dari lantai tiga ke atas." Ia menggeser jarinya ke bagian lain gambar. "Kalau saya biarkan dan dipaksa lanjut, dalam dua tahun ke depan retaknya bisa menjalar. Bukan besok roboh, Bu. Tapi bukan sesuatu yang saya mau tanda tangani nama saya di atasnya."Nadine menyilangkan tangan. "Berapa biayanya kalau diperbaiki?""Kalau cuma injeksi epoksi dan perkuatan lokal, sekitar dua ratus juta. Selesai tiga minggu." Damar tidak perlu membuka catatan mana pun. "Tapi saya sarankan sekalian evaluasi lima kolom di sekitarnya. Developer sebelumnya memangkas volume tulangan di beberapa titik. Saya baru tahu setelah bongkar selubung beton kemarin.""Kenapa baru sekarang ketahuan?""Karena orang sebe

  • KAMAR KEDUA   Bab 343. Belum Kenal

    Roman menarik napas, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku celana. Bukan gaya santai seperti biasanya. Kali ini ia terlihat seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.Ia sedikit berputar agar bisa menatap mata Rania. "Maksudku…" Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Aku serius sama kamu, Ran. Bukan serius yang cuma ngajak makan atau jalan. Aku mau kita menuju ke arah yang jelas."Rania tidak menyela. Jemarinya kembali memegang tali tas, kali ini lebih erat. Roman sudah berganti panggilan menyebut dirinya. Dari saya yang terkesan berjarak, kini menjadi aku, yang terasa lebih dekat."Aku nggak akan minta kamu ngambil keputusan apa pun sekarang. Kamu masih praktik, masih ada skripsi." Roman menatapnya lurus. "Tapi kalau skripsi kamu udah selesai, aku mau datang ke Kebumen. Ketemu orang tuamu, dan melamar kamu secara baik-baik. Ini … soal hubungan serius yang begitu, Rania.”Angin siang berembus pelan. Dari dalam rumah terdengar tawa Nayla, samar dan jauh, seakan berasal dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 342. Yang Perlu Diketahui

    Sagara sudah terlelap di pangkuan Sheza. Ia memindahkan bayi itu ke stroller di samping sofa, lalu kembali duduk menghadap Rania yang masih tertunduk dengan pipi hangat."Ran," panggilnya pelan. "Ada yang perlu Kakak jelasin soal Roman. Bukan buat nakut-nakutin. Kamu berhak tahu dari orang yang nggak punya kepentingan bela dia."Rania mengangkat wajah. "Iya, Kak.""Roman itu memang supel dan banyak temen wanita. Dari dulu. Tapi selama Kakak kenal, dia belum pernah bawa satu pun buat dikenalin ke kami." Sheza menghela napas. "Jadi kalau kamu dengar cerita macem-macem tentang dia, pasti ada. Orang suka bicara.""Cerita macam apa, Kak?""Cerita masa lalu. Siapa dia dulu, sama siapa aja." Sheza menatapnya lurus. "Nah, itu risikonya. Bukan dari Roman, tapi dari luar. Gosip, orang yang bandingin kamu, atau orang yang nggak percaya dia bisa berubah. Itu nyata, Ran. Kakak nggak mau bohong."Rania mengangguk pelan, jemarinya saling meremas di atas lutut. "Terus ... Mas Roman harus cerita semua

  • KAMAR KEDUA   Bab 341. Percakapan Laki-laki

    Di teras belakang, Satria duduk di tepi kolam renang. Ia mengeluarkan rokok dari kantongnya dan meletakkannya ke meja kecil hingga menimbulkan bunyi sentakan pelan.Roman sedikit kaget melihatnya. "Udah lama nggak gini, Sat. Boleh? Soalnya sejak punya anak, lo ketat banget sama protokol kesehatan." Ia terkekeh.Satria mengambil sebatang dan menyulutnya. "Boleh. Kadang gue rasa perlu sesekali. Kalau ngomong begini, kita bisa lebih santai. Obrolan laki-laki."Roman ikut mengambil sebatang dari bungkus yang tergeletak di meja, menyulutnya, lalu duduk di kursi seberang Satria. Asap tipis mengepul di antara mereka, menyatu dengan udara sore yang mulai teduh."Udah berapa lama, Sat? Rokok terakhir kapan?" tanya Roman, mencoba membuka obrolan santai."Sejak Sheza hamil Sagara." Satria menghembuskan asap pelan-pelan, matanya menatap permukaan kolam yang beriak kecil. Ia lalu memandang temannya di sebelah. "Lo nggak ada mau cerita sesuatu ke gue?"Roman yang tadi memperlihatkan gurat senyum sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 340. Wawancara dari Sheza

    Saat Roman datang dan terlihat oleh Satria, pria itu langsung diajak ke belakang. Satria hanya memberi isyarat dengan dagu, dan seketika itu juga Roman paham maksudnya.Roman melangkah melewati meja makan, tempat Sheza dan Rania masih berdiri. Ia tersenyum sekilas pada keduanya. Siang itu ia mengenakan jeans dan kemeja lengan pendek bermotif ombak laut berwarna biru pastel dan putih."Hai…," sapa Roman. "Saya ke belakang dulu, ya. Dipanggil Mas Satria," katanya.Sheza terbelalak, kaget mendengar Roman memanggil suaminya dengan sebutan "Mas". Namun Roman sudah keburu berlalu sebelum sempat ditanya lebih jauh, mengikuti langkah Satria menuju bagian belakang rumah.Sheza masih menatap punggung dua pria itu yang menjauh, lalu berpaling pada Rania."Mas? Ada apa? Kenapa tiba-tiba manggil temennya dengan sebutan Mas? Biasa dia nggak gitu," kata Sheza, memandang Rania.Rania masih memandangi punggung Roman yang berjalan mengikuti Satria ke belakang. Ia lalu menoleh pada Sheza. "Biasa manggil

  • KAMAR KEDUA   Bab 339. Silaturahmi Kebetulan?

    Setelah selesai makan, Roman membayar dua porsi mie ayam. Rania sempat menawarkan untuk membayar bagiannya sendiri, tetapi Roman menolaknya."Kali ini biar aku aja," katanya.Rania mengangkat alis. "Kali ini?" Setelah kali ini, apakah artinya akan ada kali lainnya?, batinnya.Roman terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Kalau kamu mau."Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. "Ya sudah."Mereka meninggalkan gerobak pedagang. Udara malam terasa lebih sejuk. Jalan di depan rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas."Kos kamu benar-benar dekat?" tanya Roman."Dekat.""Biasanya jalan kaki?""Iya. Di sana," katanya, menunjuk lokasi di seberang rumah sakit.Roman melihat arah jalan yang ditunjuk Rania. "Saya temenin.""Nggak usah, Mas.""Kenapa?""Sudah malam.""Karena udah malem, makanya ditemenin. Yuk."Rania terdiam, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah."Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada kendaraan di antara mereka, tidak ada jarak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status