Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 84. Apa Mungkin?

Share

Bab 84. Apa Mungkin?

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-02 23:58:24
“Banyak perempuan merasa mual, gampang kedinginan, atau seperti mau sakit di awal kehamilan,” ujar dokter sambil mencatat. “Selama tidak disertai keluhan berat, itu tanda tubuh sedang merespons hormon kehamilan. Jadi jangan langsung khawatir.”

Satria masih ingat betul masa itu. Sepuluh tahun lalu, ketika satu kalimat dari dokter mengubah cara ia membaca dunia. Sejak hari Nadine dinyatakan hamil, isi kepalanya ikut bergeser. Buku-buku bisnis perlahan tergeser oleh bacaan tentang kehamilan, horm
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (20)
goodnovel comment avatar
Larose
jd kepikiran Prabu... semoga dia bukan seseorang yg sengaja dibentuk pak Salim agar tidak selurus Satria dan bisa dikendalikan
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
perhatian sekali satria..peka kalau Sheza hamil
goodnovel comment avatar
mrs.wiraTAMAyuda
gak jg mba tuti , masa srh hamil tiap hari , aku emohhhhhh hahahaha
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 199. Malam Kegaduhan

    Beberapa detik yang lama, gudang itu kembali sunyi. Hanya suara kipas tua di langit-langit yang berputar lambat. Berderit. Berulang. Membuat suasana terasa semakin sesak.Satria berdiri di tengah lorong gudang dengan tubuh sedikit miring. Posisi yang tampak santai, padahal seluruh ototnya sudah menegang penuh.Dua pria di depannya mulai menyebar pelan.Mengurung.Si kidal tersenyum kecil sambil memainkan sesuatu di tangannya. Cable ties hitam panjang.“Masih mau nyari handphone-nya Prabu?” tanyanya santai. “Handphone-nya udah gue remukin jadi abu. Sisanya gue buang ke sungai. Lo nggak akan bisa nemuin apa-apa buat dijadiin barang bukti.”“Kalau handphone lo? Isinya apa aja? Bisa jadi barang bukti?” Satria bertanya dengan nada penasaran yang wajar. Seperti sedang bicara dengan rekannya.“Jangan mimpi bisa pegang handphone gue.” Si kidal tertawa terbahak-bahak. “Isi handphone gue udah bukan kelas teri lagi,” lanjutnya.“Nggak perlu mimpi untuk itu,” sahut Satria. Langkahnya mundur. Kin

  • KAMAR KEDUA   Bab 198. Kebusukan Terorganisir 

    Mendengar itu Satria tak bergerak. Ia mengulangi kata-kata itu dalam kepala.“Pak Salim tahu. Tapi seperti biasa Pak Salim diam.”Detak jantungnya semakin cepat. Tangannya pasti sudah sedingin es.Artinya … Pak Salim punya kesempatan besar untuk mencegah hal itu terjadi.“Jangan marah, Sat,” ucap Pak Hendra. “Kan sudah saya bilang kalau Prabu masih hidup, kamu nggak akan memiliki yang kamu inginkan.” Ia kembali tertawa pendek. Seakan sedang menertawakan cucunya.“Prabu nggak akan sepicik itu mengelola perusahaannya. Kadang kucing memang suka mempermainkan tikus meski tidak benar-benar tertarik memakannya.” Ucapan Satria membuat senyum di wajah Pak Hendra menghilang.Pak Hendra berjalan pelan kembali ke meja. “Awalnya transaksi kecil,” lanjutnya. “Satu invoice. Dua invoice. Semuanya legal di atas kertas.”“Lalu lama-lama Prabu sadar uang yang muter terlalu besar?” tebak Satria.Pak Hendra menatapnya sambil mengangguk tipis.“Prabu bukan orang bodoh,” kata Satria. “Kalian pasti membuatn

  • KAMAR KEDUA   Bab 197. Kenyataan Penting dan Pahit

    Pak Hendra mencondongkan tubuhnya pelan. Tangannya mengambil botol air mineral kaca di atas meja kecil, lalu menuangkan isinya ke gelas kertas kosong di depannya.Gerakannya tenang. Seolah mereka hanya dua orang yang sedang mengobrol bisnis biasa di tengah malam.“Kenapa?” tanya Satria akhirnya.Suaranya rendah seperti bisikan.Tapi cukup berat untuk membawa semua hal yang sejak tadi menyesakkan dadanya.Satu pertanyaan untuk semuanya.Untuk Prabu. Untuk kecelakaan itu. Untuk darah di jalan. Untuk alasan kenapa sahabatnya harus mati.“Kalau semua masih bisa dibicarakan…” rahang Satria mengeras, “…dia nggak harus mati, kan?”Ia bahkan tidak mau menyebut nama Prabu di depan pria itu. Entah kenapa rasanya kotor. Pak Hendra seharusnya berada di rumah. Duduk santai menonton televisi bersama cucu-cucunya. Bukan berdiri di tengah gudang gelap seperti ini. Kontras itu justru membuat bulu kuduk Satria terasa dingin.Pak Hendra tersenyum kecil sambil mendorong gelas air ke arah Satria. “Kita se

  • KAMAR KEDUA   Bab 196. Gudang Nomor Tujuh Belas

    Satria meninggalkan rumah sakit dengan langkah cepat.Lorong persalinan masih terang saat ia berjalan menjauh. Suara monitor detak jantung bayi dan langkah perawat masih samar terdengar di belakangnya. Tapi kepalanya sudah penuh oleh hal lain.Sheza.Gudang nomor 17.Lalu ….Obrolan bersama Arga dan Julian.“Seluruh berkas di gudang nomor 17 untuk barang bukti dan memusnahkan berkas Prabu.”“Harus punya sesuatu untuk dibarter biar mereka bisa diam.”Rahang Satria mengeras. Rambutnya yang tadi rapi sekarang sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyugar rambutnya.“Yang dibarter itu pasti harus besar dan berharga buat si tua itu,” Satria berbisik.Pintu lift tertutup di depannya. Pantulan wajahnya muncul samar di dinding stainless. Tegang. Letih. Lalu ponselnya kembali bergetar. Kali ini pendek-pendek. Satria membuka pesan masuk.‘Saya hanya ingin memastikan semuanya tetap tenang.’‘Saya rasa kita sama-sama tidak ingin keluarga kita terganggu, bukan?’Tatapan Satria meredup.Pak De

  • KAMAR KEDUA   Bab 195. Sesuatu yang Perlu Penyelesaian

    Mobil berhenti di depan pintu IGD. Satria keluar lebih dulu. Seorang satpam langsung membantu membuka pintu penumpang.“Saya minta kursi roda buat istri saya,” kata Satria pada satpam. Tak lama satpam itu kembali dengan sebuah kursi roda. Satria membantu Sheza turun dan tangannya sigap menopang tubuh Sheza. “Pelan,” katanya.Sheza memelankan gerakannya. Napasnya sedikit lebih berat, tapi masih terkendali. Seorang perawat lalu mendekat dan mengambil alih kursi roda sementara Satria meletakkan mobil ke sisi lain halaman. “Saya kontraksi ringan,” kata Sheza pada perawat.“Baik. Kita langsung ke bagian persalinan ya, Bu.”Tak lama Satria bergabung dan tiba di sebelah Sheza. Sementara Bu Pur terlihat melambatkan langkah di belakang. Hening memperhatikan perlakuan Satria pada putrinya.Sheza didorong masuk melewati lorong rumah sakit yang terang dan dingin. Suara roda kursi menyusuri lantai mengisi keheningan di malam yang sudah larut.Beberapa saat berjalan dengan keheningan dan pikiran m

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 62. Yang Harus Ditahan

    Tekanan pada Satria itu tidak datang tiba-tiba. Bukan seperti telepon Nadine di Jumat pagi yang memaksanya berhenti sejenak dan menatap layar ponsel terlalu lama. Tekanan itu datang pelan-pelan. Bertahap. Disamarkan sebagai urusan kerja yang tampak normal.Beberapa hari terakhir sebelum Jumat, rapat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 61. Pria yang Tidak Mengancam

    Kafe itu tidak terlalu ramai. Kebetulan hari itu malah terlihat agak sepi dari hari biasanya. Tapi suasana di sana cukup aman untuk percakapan yang tidak ingin terdengar seperti wawancara resmi, tapi juga tidak terlalu personal.Sheza mengangguk pada Teguh yang menunggunya di depan cafe.“Kita dudu

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 60. Ada Jarak Tak Kasat Mata

    Setelah sedikit kemanisan sikap Satria yang dirasakan Sheza usai demamnya, hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang tidak pernah benar-benar tenang. Sheza memperhatikan perubahan itu pelan-pelan. Satria lebih banyak diam. Pulang lebih larut. Duduk lebih lama dengan ponsel atau tablet di tanga

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 63. Posisi Tawar

    Keluar dari restoran Jepang meninggalkan Salim dan putrinya, Satria tahu ia tidak sempat lagi kembali ke kafe di mana Sheza berada. Ia langsung memutar setir ke kantor pusat.Ada jenis tekanan yang, jika ditunda, justru menggerogoti kepala. Dan ini salah satunya.Ia tidak naik ke ruangannya. Langka

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status