Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 85. Hangat yang Dipaksakan

Share

Bab 85. Hangat yang Dipaksakan

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-02-02 23:59:59
Satria meletakkan mangkuk sup di meja kecil di samping sofa. Uap tipis masih naik perlahan, membawa aroma jahe dan bawang yang lembut. Ia tidak langsung menyodorkannya. Ia justru berdiri sebentar, mengamati Sheza yang masih meringkuk, dengan selimut menutup bahunya.

“Duduk, yuk,” katanya pendek.

Sheza membuka mata setengah. “Nanti aja.”

“Sekarang …,” ulang Satria. Nadanya tetap rendah, tapi tidak memberi ruang tawar-menawar. Ia menyelipkan satu tangan ke bawah bahu Sheza, mengangkat tubuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
mrs.wiraTAMAyuda
ayokkk mas cepetannnn aku mauuuuu hahahahah
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
diajak ke kamar kedua kamu zee,mas satria ga mau kamu kedinginan. liat percakapan mereka aq yg senyum2,ngomongnya pendek2 tapi bikin gumussshhhh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   245. Rencana Kedatangan Tamu

    Sebuah malam yang biasa bagi sebuah rumah tangga. Tapi bagi Satria, kehangatan sesederhana itu pernah menjadi sesuatu yang tak berani ia impikan. Kini, ia hidup di dalamnya.Malam semakin larut.Satria baru saja menyelesaikan catatan khusus mengenai kasus Prabu yang selama ini ia telusuri dengan tangannya sendiri.Beberapa poin penting ia tuliskan sebagai kesimpulan akhir. Catatan itu nantinya akan diserahkan kepada Arga sebagai peninggalan terakhir yang berkaitan dengan sahabat mereka.Setidaknya, dari pengakuan Hendra Kusuma Wijaya serta isi ponsel si kidal yang sampai detik itu masih berada di tangannya, Satria menarik satu kesimpulan yang cukup jelas.Hampir seluruh pekerjaan kasar dalam rangkaian peristiwa itu dilakukan oleh si kidal dan orang-orang yang bekerja bersamanya.Pak Hendra bahkan nyaris tidak mengenal siapa Alina atau Anton. Ia juga tidak benar-benar peduli pada klien-klien Prabu yang dananya masih tertahan karena belum sempat dikembalikan.Bagi pria setingkat Hendra

  • KAMAR KEDUA   Bab 244. Sebagai Sepasang Orang Tua

    Sheza menyimpan sore itu sebagai sesuatu yang istimewa.Bukan semata karena keintiman yang baru saja ia bagi bersama Satria, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah menjadi orang tua baru, mereka kembali menemukan jalan pulang satu sama lain.Di antara tangisan Saga di malam hari, jadwal menyusui, botol ASI, dan rasa lelah yang datang bergantian, Sheza sempat takut bahwa sebagian dari dirinya akan tertinggal di sana.Bahwa ia hanya akan menjadi ibu, sementara bagian dirinya sebagai seorang istri perlahan memudar.Namun sore itu membuktikan sebaliknya.Satria masih memandangnya dengan cara yang sama. Masih menginginkannya dengan ketulusan yang tak pernah pandai ia ucapkan lewat kata-kata.Dan Sheza, yang selama ini selalu merasa harus kuat untuk semua orang, mendapati dirinya bisa begitu rapuh di dekat pria itu.Sore itu tidak hanya menjadi tentang mereka sebagai suami dan istri.Tetapi juga tentang dua orang tua baru yang sedang belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seorang

  • KAMAR KEDUA   Bab 243. Sore yang Hangat

    Sheza sampai lupa kalau siang telah berganti menuju sore.Padahal tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Satria. Tentang perlengkapan yang baru saja datang setelah dipesannya dari aplikasi online. Tentang ruangan dekat garasi yang akan disulap menjadi Studio Sheza, studio mungil yang sudah lama ingin ia miliki. Tempat untuk memulai proyeknya sendiri. Memanfaatkan media sosial yang pengikutnya terus bertambah sejak sebelum ia menikah.Namun sore itu, semua rencana pembicaraan itu menguap begitu saja.Entah kenapa, berada di dekat Satria selalu membuat pertahanannya melemah.Ia hanya ingin berada di dekat pria itu.Satria yang tidak banyak bicara justru membuatnya semakin penasaran. Membuatnya diam-diam ingin terus diperhatikan, disentuh, dan diinginkan oleh pria itu.Saat Satria berada di rumah, Sheza ingin suaminya tidak pergi jauh-jauh darinya.Kadang ia malu mengakuinya.Bahwa ia tidak suka Satria pulang terlalu larut. Bahwa ia tidak suka ketika nama Nadine terlalu sering m

  • KAMAR KEDUA   Bab 242. Seperti Kali Pertama 

    Satria kembali mencium Sheza.Kali ini ciumannya lebih dalam. Tangannya berpindah ke pinggang wanita itu, menahannya tetap dekat di atas pangkuannya.Napas Sheza mulai tidak teratur ketika kecupan-kecupan itu bergeser ke sudut rahangnya."Mas …,” bisiknya pelan.Satria hanya mendengus rendah sebagai jawaban. Bibirnya menyusuri garis leher Sheza perlahan. Berhenti beberapa detik di sana sebelum mengecupnya lagi. Tangan Sheza otomatis mencengkeram bahu pria itu. "Mas Satria ….”Satria mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya meredup. "Hm?""Ini..." Sheza melirik sekeliling bathtub. "...sempit."Satria diam beberapa detik. Lalu mengecup bahu Sheza singkat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Iya." Ia menyandarkan kepala ke bahu Sheza sesaat sebelum mundur sedikit. "Ke sini."Sheza mengerjap."Ayo, mandi dulu." Satria mengambil shower dari tepi bathtub.Nada bicaranya datar seperti biasa. Seolah beberapa menit sebelumnya bukan dia yang membuat wajah Sheza memerah.Sheza tertawa

  • KAMAR KEDUA   Bab 241. Air yang Tenang

    Satria masih tersenyum ketika menyusul Sheza ke kamar. Suara langkah ringan yang terburu-buru tadi berakhir dengan bunyi pintu kamar mandi yang tertutup."Pagi tadi udah mandi, kan?" tanya Satria seraya menutup pintu kamar kedua.Tatapannya berkeliling ruangan itu sejenak. Pompa ASI elektrik tergeletak di atas nakas. Pertanda Sheza memang baru menggunakannya beberapa saat lalu.Untuk sesaat ia berdiri di dekat nakas, menikmati keheningan siang di rumah yang jarang ia rasakan. Terutama di Kamar Kedua. Kamar utama di lantai satu yang terletak di pojok sayap kanan. Tidak sering dilalui orang."Aku udah mandi. Tapi jadi nggak pede kalau dekat Mas Satria siang-siang begini."Suara Sheza terdengar dari dalam kamar mandi.Satria hanya menanggapinya dengan tawa pelan. Sedikit tak menyangka kalau Sheza bisa merasa seperti itu.Dari balik pintu, ia mendengar suara gemericik air yang tenang.Langkahnya perlahan mendekat sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. Setelah terbuka seluruhnya,

  • KAMAR KEDUA   Bab 240. Rumah yang Dipilih

    Mendengar apa yang dikatakan Satria, Sheza terdiam cukup lama. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Satria sedikit mengencang. "Sendirian?" tanyanya.Satria mengangguk."Kenapa nggak ngajak aku?" Pertanyaan itu keluar pelan dari mulut Sheza. Meski sebenarnya ia sendiri belum siap bila tiba-tiba Satria mengajaknya menengok makam Prabu bersama.Satria memandang Saga yang mulai tertidur pulas di pelukannya. "Aku harus ngobrol sama Prabu dulu. Berdua.”Sheza masih diam. Kini pria itu duduk di salah satu kursi dan ia mengambil Saga yang sudah waktunya tidur di boksnya.“Aku kasih Saga sama Nila dulu,” kata Sheza, pergi sebentar dan tak lama kemudian sudah kembali ke dekat Satria. Pria itu lalu menunjuk lingkaran basah di dadanya.“Kayaknya Saga nyusunya kenyang banget, ya.” Ujung jari Satria menyentuh lingkaran basah itu.Sheza menunduk dan tertawa kecil. “Saga nyusu langsung dan aku baru ngosongin ASI. Dapatnya lumayan banget buat stok malam Saga.”“Ayo, kamu duduk di sini. Kita mak

  • KAMAR KEDUA   Bab 62. Yang Harus Ditahan

    Tekanan pada Satria itu tidak datang tiba-tiba. Bukan seperti telepon Nadine di Jumat pagi yang memaksanya berhenti sejenak dan menatap layar ponsel terlalu lama. Tekanan itu datang pelan-pelan. Bertahap. Disamarkan sebagai urusan kerja yang tampak normal.Beberapa hari terakhir sebelum Jumat, rapat

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 61. Pria yang Tidak Mengancam

    Kafe itu tidak terlalu ramai. Kebetulan hari itu malah terlihat agak sepi dari hari biasanya. Tapi suasana di sana cukup aman untuk percakapan yang tidak ingin terdengar seperti wawancara resmi, tapi juga tidak terlalu personal.Sheza mengangguk pada Teguh yang menunggunya di depan cafe.“Kita dudu

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 63. Posisi Tawar

    Keluar dari restoran Jepang meninggalkan Salim dan putrinya, Satria tahu ia tidak sempat lagi kembali ke kafe di mana Sheza berada. Ia langsung memutar setir ke kantor pusat.Ada jenis tekanan yang, jika ditunda, justru menggerogoti kepala. Dan ini salah satunya.Ia tidak naik ke ruangannya. Langka

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 55. Alasan untuk Pergi

    Ada keputusan yang terlihat benar saat diambil. Tapi bertahun-tahun kemudian berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Satria tidak pernah berniat masuk ke hidup Sheza. Ia hanya ingin satu jam dalam sehari di mana dunia tidak menuntut apa pun darinya. Dua meja kosong d

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status