FAZER LOGIN“Gue rasa nggak cuma rumahnya yang keikut,” tegas Arga.
Julian menghela napas. “Gue juga nggak nyangka. Tapi yang paling berat sekarang Sheza sama Dio.” Arga meraih map di sampingnya, membukanya. Kertas-kertas di dalamnya sudah penuh stabilo dan catatan tangan. “Gue jelasin singkat, ya.” Nada suaranya berubah profesional. “Prabu punya beberapa kerja sama bisnis yang gagal dipenuhi. Sampai dengan hari ini yang gue cek, satu klien sudah masuk tahap gugatan. Yang lain siap nyusul. Rumah Sheza dijadiin agunan. Makanya sekarang jadi objek sita jaminan.” Vian mengangkat alis. “Artinya kalau Sheza kalah, rumah itu melayang?” “Kalau nggak ada yang bisa nanggung, iya.” Arga mengangguk. Roman mengumpat pelan. “Bangsat.” Arga melanjutkan, “Posisi Sheza itu rumit. Di mata hukum, dia ahli waris. Di mata sosial, dia janda muda dengan anak kecil. Di mata orang yang nggak ngerti, dia bisa aja keliatan ikut bersalah. Padahal dia beneran nggak tahu apa-apa.” Julian mengangguk kecil. “Sheza bukan tipe istri yang ikut campur urusan kantor. Prabu memang orangnya gitu. Semua dipegang sendiri.” “Makanya dia sekarang nggak punya siapa-siapa buat jadi tameng,” sambung Arga. “Secara hukum, Sheza butuh dua hal: satu, kuasa hukum. Itu lagi gue dan Firman usahain. Dua, wali hukum atau penanggung jawab yang sah. Dan di Indonesia … paling gampang ya suami.” Vian mengangkat badan sedikit. “Jadi lo mau bilang, Sheza harus nikah lagi?” tanyanya to the point. “Gue bilang, kalau nggak ada laki-laki yang cukup mapan dan berani maju sebagai penanggung jawab, Sheza akan habis dimakan sistem,” jawab Arga pelan. “Habis waktu, habis tenaga, habis uang. Belum lagi debt collector, gosip, dan tekanan keluarga. Dan ada satu hal lagi yang lebih berat daripada rumah disita atau Sheza dapat gugatan.” Arga membuka lembar berikutnya di mapnya, suaranya pelan namun tegas. “Kalau kasus ini masuk tahap penyidikan pidana, Sheza bisa ikut terseret. Setidaknya sebagai saksi yang dipaksa hadir di persidangan berulang kali. Kalau ada indikasi penggelapan dana atau penipuan korporasi di perusahaan Prabu, Sheza bisa dianggap mengetahui atau bahkan ikut terlibat, meskipun dia sama sekali nggak tau apa-apa.” Vian menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di dada. “Berarti suaminya harus yang kuat, mapan, dan royal. Yang kalau perlu bisa nelen semua masalah Prabu tanpa muntah.” Roman terkekeh pendek. “Bahasanya, Vin.” “Tapi bener.” Vian menatap mereka satu-satu. “Sheza nggak bisa nikah sama orang sembarangan. Harus yang bisa cover finansial, tahan banting, dan nggak kabur kalau gosip mulai liar. Dan juga … laki-laki yang mau tukar pikiran dengan kita. Yah … biar gampang komunikasi sama kita.” Roman mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. “Ya mendingan sama yang kenal Sheza dan Dio. Kayak gue misalnya. Gue nggak nolak kalau lo semua minta gue nikahin Sheza.” Julian memandang Roman lekat-lekat. “Masalahnya, Sheza mau apa nggak?” suaranya pelan namun tegas. “Dia masih sangat berduka dan syok. Dia bahkan belum ngerti sepenuhnya apa yang terjadi. Nggak adil kalau kita terkesan ambil kesempatan dalam situasi kayak gini.” Roman mendengus. “Yah, siapa yang ambil kesempatan, sih, Jul? Kalau sekarang situasinya kayak gini, gue tetap mau banget sama Sheza.” Arga memijat dahinya, “Man ….” “Gue serius,” potong Roman. “Sheza cantik, keibuan, masih polos kelihatannya, tubuh Sheza juga bagus dan dia itu….” Julian spontan meraih bantal kecil di kursi samping dan melemparkannya ke Roman. “Nggak harus ngomong ‘tubuh Sheza’ segala, Roman.” Roman tertawa kecil, tapi matanya serius. Julian mengembuskan napas. “Lagian jangan mikir kejauhan dulu. Kita masih harus tanya Sheza, masih harus lihat dia mau apa.” Arga kembali menunduk ke map. “Gue jelasin lagi, ya. Dalam waktu dekat, sidang pertama dari satu klien sudah dijadwalkan. Biayanya nggak kecil. Kalau cuma sekadar tinggal bareng dan nggak nikah, nggak cukup. Status penting, duit terutama.” Vian mengangguk paham. “Kalau cuma numpang tinggal, secara sosial Sheza tetap disorot. Serumah dengan laki-laki bukan suaminya? Janda? Punya anak? Habis dia digosipin.” “Persis,” sahut Arga. “Kalau sudah jadi suami, dia bisa jadi wali hukum, bisa maju sebagai penanggung jawab, bisa muncul di depan debt collector dan pengadilan tanpa Sheza sendirian. Secara sosial pun lebih aman.” Julian ikut menyambung. “Dan kita semua tau, debt collector udah sering datang. Buat keamanan Sheza dan Dio, mereka memang harus pindah dari rumah itu.” “Harus segera,” tambah Arga. “Sebelum benar-benar ditempel stempel sita dan dijadikan tontonan kompleks.” Hening sebentar. Hanya suara kursi bergeser pelan. Vian memecah hening. “Kalau nikah pun, dengan siapa? Roman?” Ia melirik ke arah Roman yang mengangkat tangan santai seolah menjawab ‘gue siap’. “Atau.…” Vian memindahkan pandangannya ke ujung meja. “Satria? Cuma lo berdua yang nggak ada istri.” Vian nyengir. “Pokoknya percaya sama gue, kalau Sheza datang ke pengadilan sebagai janda tanpa pelindung, hakim, penggugat, dan publik akan melihat dia sebagai mangsa gampang. Tapi kalau dia datang sebagai istri dari seorang pria berkuasa dan mapan, perkara ini langsung berubah level. Mereka akan pikir ribuan kali sebelum menekan Sheza.” Arga kembali menegaskan. Asap rokok melingkari kepala Satria. Dari tadi ia duduk diam, hanya sesekali menarik napas panjang dari rokoknya. Wajahnya datar, tapi dahinya mengernyit sejak percakapan tentang Sheza dimulai. Arga menatap ke arah lain meja. “Selain Roman yang masih lajang, kita punya satu orang lagi yang paling kuat secara posisi dan finansial.” Pandangannya jatuh pada Satria. Suasana meja berubah lebih berat. “Satria duda. Punya perusahaan sendiri. Nggak perlu kita jelasin lagi, dia orang yang paling Prabu percaya, salah satu yang paling dekat sama Dio, yang paling sering nongol di rumah mereka.” Arga menelan ludah. “Secara logis, kalau kita bicara kepastian hidup Sheza dan Dio, dia kandidat paling kuat.” Arga akhirnya bertanya, pelan tapi jelas. “Gimana kalau kita minta Sheza yang milih? Kita jelaskan semuanya. Kita taruh pilihan di depan dia. Dan … lo mau nggak, Sat? Kalau ternyata Sheza milih lo?” Semua pandangan tertuju pada Satria. Asap rokoknya habis. Satria mematikan puntung rokok di asbak dengan gerakan pelan, rahangnya mengeras. Tangannya terlipat di dada sebentar, sebelum ia akhirnya bersandar. Sekian detik terasa sangat panjang. Satria mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, suaranya rendah, datar. “Gue mau,” katanya. Roman terdiam. Julian menegakkan punggung. Arga menahan napas. Vian berhenti memainkan kakinya. Satria menambahkan, pelan namun tegas, seolah menetapkan batas yang tak bisa ditawar. “Kalau Sheza milih gue.” …Sheza tersenyum seraya meletakkan kotak bekal di meja tamu dan menarik napas.Satria bangkit dari kursinya. Wajahnya masih datar, tapi ia melangkah mendekat dan meraih lengan Sheza dengan hati-hati. Ia membimbing istrinya memutari meja, lalu mendudukkannya di kursinya sendiri. Sheza menurut, sedikit kikuk. Satria berdiri bersandar di tepi meja dengan tangan di saku, dan tetap memandangnya. "Ke sini jauh," katanya. "Kamu nggak capek, Zee?"Zee. Sheza menangkap panggilan itu. Bukan Sheza, seperti semalam. Ada sedikit perasaan lega yang menyusup. Namun ia tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya mengerucutkan bibir dengan raut sedikit manja, seperti anak kecil yang tahu ia sedang dibujuk.__________Satria menahan diri untuk tidak tersenyum.Istrinya duduk di kursinya, dengan terusan elegan dan wajah yang tipis dirias, cantik seperti biasa, tapi ada sesuatu yang membuatnya lebih gemas hari ini. Bekal itu.Sheza datang jauh-jauh membawa makan siang, mengingatkannya akan cerita masa lalu mere
Setelah mobil Satria keluar dari gerbang, Sheza berdiri sebentar di ruang tamu. Dio sudah berangkat lebih dulu bersama Pak Heri. Dari ruang makan terdengar suara Nila membujuk Sagara.Bayi laki-laki itu duduk di kursi makannya, tapi baru dua suap ia sudah turun dan berjalan mondar-mandir sambil mulutnya penuh.Sheza menghampiri. "Saga, duduk dulu."Saga menoleh dengan wajah protes, tapi tidak melawan."Boleh pilih mainan," kata Sheza lembut, "tapi makannya sambil duduk."Saga menimbang, lalu menunjuk mobil-mobilan kecil di rak tak jauh dari mereka. “Mobil yang ini? Berapa! Dua aja ya.” Sheza mengambil dua mobil-mobilan berwarna paling mencolok dan memberikannya.Anak itu naik ke kursinya sendiri, dan Nila bisa lanjut menyuapi dengan tenangDari kamar bayi terdengar tangis Sofia yang baru bangun.Sheza berjalan ke kamar tapi Lastri sudah muncul di ambang pintu dengan bayi perempuan yang pipinya semakin memerah saat menangis.“Sini, Sofia nyusu dulu sama saya. Bu Lastri bisa siapin ala
Pahanya masih sedikit bergetar. Sheza memejamkan mata, menarik napas panjang, membiarkan sisa kenikmatan itu surut pelan-pelan. Di atas perutnya, kehangatan yang dicurahkan Satria terasa nyaris panas, dan jauh lebih banyak dari biasanya.Satria belum bergeser. Tangannya masih menahan paha Sheza agar tetap terbuka. Pria itu menunduk, memandang sesuatu di sana dengan raut yang hampir malu sendiri, seolah ia tertangkap basah sedang memperhatikan hal yang tak seharusnya.Lalu tangannya terulur, dan jarinya menyentuh celah itu pelan-pelan, seperti sedang memeriksa sesuatu.Sheza menggeliat. "Liat apa, Mas?""Hmm?" Satria menoleh sebentar padanya, lalu kembali menunduk ke bagian yang selalu membuatnya tergila-gila. "Malam ini kamu lebih ... basah, Zee."Sheza membeku.Tentu saja ia tahu ke mana arah percakapan Satria. Ia belum tahu kapan akan menjawab dugaan pria itu. Memang belum ada tes, tapi ia sudah hampir yakin. Ia hamil. Pasti.Satria berdiri dan mengambil handuk hangat dari kamar man
Sudah tiga hari sejak Nayla berangkat ke Denmark bersama Nadine dan Damar. Gadis itu sama sekali tidak melupakan mereka. Ia terlalu sering menelepon, seolah ingin menjaga hati orang-orang yang ditinggalkannya di Jakarta, sampai-sampai Satria harus meyakinkannya cukup lama bahwa mereka semua baik-baik saja.Pagi tadi Nayla mengirim foto dari sana. Ia berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan jaket tebal dan hidung merah karena dingin, tersenyum ke kamera seperti anak yang sedang berusaha tidak terlalu senang. Sheza memandangi foto itu lama, lalu menyimpannya. Ia ikut senang. Hanya saja, entah kenapa, hari ini ia merasa tidak punya tenaga untuk merasakan lebih dari itu.Pukul delapan malam, rumah sudah tenang. Dio sudah masuk kamarnya dan sibuk dengan buku gambarnya. Saga sudah tertidur lebih dulu setelah dimandikan Nila. Sofia baru saja menghabiskan botol susunya dan kini terlelap di kamarnya bersama Bu Lastri. Tadi ia sempat menyusu langsung, tapi hanya sebentar, lalu rewel, dan She
Sebelum turun ke lantai satu, Nadine sempat menghampiri kamar Nayla. Dari balik pintu yang sedikit terbuka ia mengamati tubuh remaja itu dari belakang.Ternyata … Nayla benar-benar beranjak remaja. Tingginya sudah menyusul papanya. Dengan bentuk tubuh persis sepertinya ketika mereka seumuran—terlebih bagian rambutnya. Panjang dan lurus. Namun kalau soal wajah, Nayla jelas mengambil wajah papanya. Satria mendominasi dalam hal itu.Di kamar itu mereka bicara dari hati ke hati. Tidak lama, tapi mereka berhasil menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Pagi itu memang semuanya terasa berbeda. Bahkan pelukan mereka terasa lebih erat. Seakan setelah ijab kabul nanti mereka tidak akan lagi sama seperti dulu karena akan ada sosok baru yang masuk ke dalam hidup mereka.Saat ia melangkah turun, Damar sudah menunggu di bawah tangga. Ia mengenakan setelan berwarna putih gading. Pria itu tidak duduk, hanya berdiri dan memandangi Nadine yang menuruni anak tangga satu per satu.Setelah bergandengan ta
Bagi Nayla, keluarga tidak pernah hadir utuh dalam ingatannya. Selalu setengah-setengah. Kadang hanya Papa, kadang hanya Mama. Seringnya begitu.Dalam hidupnya sudah terbiasa ada kalimat, "Kamu sama Papa dulu ya." Atau, "Hari ini kamu sama Oma dulu ya." Atau, "Papa janji minggu depan kita sama-sama." Kalimat-kalimat seperti itu mengisi masa tumbuhnya.Ia tak pernah mengeluh. Atau setidaknya saat kalimat-kalimat itu dilontarkan, ia belum pandai mengeluh. Rumah besar yang ia tinggali adalah rumah keluarga Mama. Mama anak tunggal dari keluarga yang memang berkecukupan sejak dulu. Karena itu, Nayla merasa sebenarnya tidak ada yang perlu ia keluhkan dalam hidupnya. Semuanya cukup, kecuali waktu Papa atau waktu Mama untuknya.Seperti janji Mama beberapa waktu yang lalu, sebelum ke Denmark ia boleh menghabiskan waktu bersama keluarga Papa, atau lebih tepatnya bersama Papa dan adik-adiknya. Rencana itu sudah lama, tapi baru bisa terwujud tahun itu.Mereka sekeluarga pergi ke Ubud, Bali. Di s







