Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 9. Sore Sayu

Share

Bab 9. Sore Sayu

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 15:29:15

“Gue rasa nggak cuma rumahnya yang keikut,” tegas Arga.

Julian menghela napas. “Gue juga nggak nyangka. Tapi yang paling berat sekarang Sheza sama Dio.”

Arga meraih map di sampingnya, membukanya. Kertas-kertas di dalamnya sudah penuh stabilo dan catatan tangan.

“Gue jelasin singkat, ya.” Nada suaranya berubah profesional. “Prabu punya beberapa kerja sama bisnis yang gagal dipenuhi. Sampai dengan hari ini yang gue cek, satu klien sudah masuk tahap gugatan. Yang lain siap nyusul. Rumah Sheza dijadiin agunan. Makanya sekarang jadi objek sita jaminan.”

Vian mengangkat alis. “Artinya kalau Sheza kalah, rumah itu melayang?”

“Kalau nggak ada yang bisa nanggung, iya.” Arga mengangguk.

Roman mengumpat pelan. “Bangsat.”

Arga melanjutkan, “Posisi Sheza itu rumit. Di mata hukum, dia ahli waris. Di mata sosial, dia janda muda dengan anak kecil. Di mata orang yang nggak ngerti, dia bisa aja keliatan ikut bersalah. Padahal dia beneran nggak tahu apa-apa.”

Julian mengangguk kecil. “Sheza bukan tipe istri yang ikut campur urusan kantor. Prabu memang orangnya gitu. Semua dipegang sendiri.”

“Makanya dia sekarang nggak punya siapa-siapa buat jadi tameng,” sambung Arga. “Secara hukum, Sheza butuh dua hal: satu, kuasa hukum. Itu lagi gue dan Firman usahain. Dua, wali hukum atau penanggung jawab yang sah. Dan di Indonesia … paling gampang ya suami.”

Vian mengangkat badan sedikit. “Jadi lo mau bilang, Sheza harus nikah lagi?” tanyanya to the point.

“Gue bilang, kalau nggak ada laki-laki yang cukup mapan dan berani maju sebagai penanggung jawab, Sheza akan habis dimakan sistem,” jawab Arga pelan. “Habis waktu, habis tenaga, habis uang. Belum lagi debt collector, gosip, dan tekanan keluarga. Dan ada satu hal lagi yang lebih berat daripada rumah disita atau Sheza dapat gugatan.”

Arga membuka lembar berikutnya di mapnya, suaranya pelan namun tegas.

“Kalau kasus ini masuk tahap penyidikan pidana, Sheza bisa ikut terseret. Setidaknya sebagai saksi yang dipaksa hadir di persidangan berulang kali. Kalau ada indikasi penggelapan dana atau penipuan korporasi di perusahaan Prabu, Sheza bisa dianggap mengetahui atau bahkan ikut terlibat, meskipun dia sama sekali nggak tau apa-apa.”

Vian menyandarkan punggung, menyilangkan tangan di dada. “Berarti suaminya harus yang kuat, mapan, dan royal. Yang kalau perlu bisa nelen semua masalah Prabu tanpa muntah.”

Roman terkekeh pendek. “Bahasanya, Vin.”

“Tapi bener.” Vian menatap mereka satu-satu. “Sheza nggak bisa nikah sama orang sembarangan. Harus yang bisa cover finansial, tahan banting, dan nggak kabur kalau gosip mulai liar. Dan juga … laki-laki yang mau tukar pikiran dengan kita. Yah … biar gampang komunikasi sama kita.”

Roman mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. “Ya mendingan sama yang kenal Sheza dan Dio. Kayak gue misalnya. Gue nggak nolak kalau lo semua minta gue nikahin Sheza.”

Julian memandang Roman lekat-lekat. “Masalahnya, Sheza mau apa nggak?” suaranya pelan namun tegas. “Dia masih sangat berduka dan syok. Dia bahkan belum ngerti sepenuhnya apa yang terjadi. Nggak adil kalau kita terkesan ambil kesempatan dalam situasi kayak gini.”

Roman mendengus. “Yah, siapa yang ambil kesempatan, sih, Jul? Kalau sekarang situasinya kayak gini, gue tetap mau banget sama Sheza.”

Arga memijat dahinya, “Man ….”

“Gue serius,” potong Roman. “Sheza cantik, keibuan, masih polos kelihatannya, tubuh Sheza juga bagus dan dia itu….”

Julian spontan meraih bantal kecil di kursi samping dan melemparkannya ke Roman. “Nggak harus ngomong ‘tubuh Sheza’ segala, Roman.”

Roman tertawa kecil, tapi matanya serius.

Julian mengembuskan napas. “Lagian jangan mikir kejauhan dulu. Kita masih harus tanya Sheza, masih harus lihat dia mau apa.”

Arga kembali menunduk ke map. “Gue jelasin lagi, ya. Dalam waktu dekat, sidang pertama dari satu klien sudah dijadwalkan. Biayanya nggak kecil. Kalau cuma sekadar tinggal bareng dan nggak nikah, nggak cukup. Status penting, duit terutama.”

Vian mengangguk paham. “Kalau cuma numpang tinggal, secara sosial Sheza tetap disorot. Serumah dengan laki-laki bukan suaminya? Janda? Punya anak? Habis dia digosipin.”

“Persis,” sahut Arga. “Kalau sudah jadi suami, dia bisa jadi wali hukum, bisa maju sebagai penanggung jawab, bisa muncul di depan debt collector dan pengadilan tanpa Sheza sendirian. Secara sosial pun lebih aman.”

Julian ikut menyambung. “Dan kita semua tau, debt collector udah sering datang. Buat keamanan Sheza dan Dio, mereka memang harus pindah dari rumah itu.”

“Harus segera,” tambah Arga. “Sebelum benar-benar ditempel stempel sita dan dijadikan tontonan kompleks.”

Hening sebentar. Hanya suara kursi bergeser pelan.

Vian memecah hening. “Kalau nikah pun, dengan siapa? Roman?” Ia melirik ke arah Roman yang mengangkat tangan santai seolah menjawab ‘gue siap’. “Atau.…” Vian memindahkan pandangannya ke ujung meja. “Satria? Cuma lo berdua yang nggak ada istri.” Vian nyengir.

“Pokoknya percaya sama gue, kalau Sheza datang ke pengadilan sebagai janda tanpa pelindung, hakim, penggugat, dan publik akan melihat dia sebagai mangsa gampang. Tapi kalau dia datang sebagai istri dari seorang pria berkuasa dan mapan, perkara ini langsung berubah level. Mereka akan pikir ribuan kali sebelum menekan Sheza.” Arga kembali menegaskan.

Asap rokok melingkari kepala Satria. Dari tadi ia duduk diam, hanya sesekali menarik napas panjang dari rokoknya. Wajahnya datar, tapi dahinya mengernyit sejak percakapan tentang Sheza dimulai.

Arga menatap ke arah lain meja. “Selain Roman yang masih lajang, kita punya satu orang lagi yang paling kuat secara posisi dan finansial.” Pandangannya jatuh pada Satria. Suasana meja berubah lebih berat.

“Satria duda. Punya perusahaan sendiri. Nggak perlu kita jelasin lagi, dia orang yang paling Prabu percaya, salah satu yang paling dekat sama Dio, yang paling sering nongol di rumah mereka.” Arga menelan ludah. “Secara logis, kalau kita bicara kepastian hidup Sheza dan Dio, dia kandidat paling kuat.”

Arga akhirnya bertanya, pelan tapi jelas. “Gimana kalau kita minta Sheza yang milih? Kita jelaskan semuanya. Kita taruh pilihan di depan dia. Dan … lo mau nggak, Sat? Kalau ternyata Sheza milih lo?”

Semua pandangan tertuju pada Satria.

Asap rokoknya habis. Satria mematikan puntung rokok di asbak dengan gerakan pelan, rahangnya mengeras. Tangannya terlipat di dada sebentar, sebelum ia akhirnya bersandar.

Sekian detik terasa sangat panjang.

Satria mengangkat wajah. Sorot matanya tajam, suaranya rendah, datar. “Gue mau,” katanya.

Roman terdiam. Julian menegakkan punggung. Arga menahan napas. Vian berhenti memainkan kakinya.

Satria menambahkan, pelan namun tegas, seolah menetapkan batas yang tak bisa ditawar. “Kalau Sheza milih gue.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (28)
goodnovel comment avatar
1
good novel. semangatt
goodnovel comment avatar
Siti Rofikoh
bagus ceritax kak...seru dan tegang
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
pasti seru zee klu nikah sama satria
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 131. Training Adik Baru

    Satria meraih tangan kecil itu di atas meja. “Nayla.” Tatapannya hangat namun tegas. “Dengar baik-baik. Hati Papa itu bukan kamar satu pintu. Bukan kalau ada yang masuk, yang lain harus keluar.”Nayla menatapnya tanpa berkedip.“Cinta itu nggak terbagi,” lanjut Satria. “Cinta itu bertambah.”Sunyi beberapa detik.“Janji?” tanya Nayla.“Papa nggak pernah main-main,” ucap Satria.Nayla mengangguk.Lalu, dengan gaya yang lebih ringan, ia berkata, “Kalau gitu nanti bayinya jangan manja banget.”Satria tertawa kecil. “Kamu aja yang ajarin.”“Aku bakal ajarin dia jangan ganggu Papa kalau lagi jemput aku,” ujar Nayla diiringi tawa ringan.Satria tersenyum tipis. “Deal.”Percakapan itu mereda pelan. Nayla tidak lagi bertanya. Wajahnya sudah lebih tenang. Tidak sepenuhnya selesai, tapi cukup untuk hari itu.Beberapa detik mereka hanya duduk berdampingan menyantap pesanan mereka tadi. Lalu setelahnya Satria menoleh sedikit, seperti baru teringat sesuatu.“Kamu mau ikut Papa nggak?”Nayla langsu

  • KAMAR KEDUA   Bab 130. What We Don’t Say

    Satria tidak langsung bertanya lagi. Ia menggenggam tangan Nayla lebih lama dari biasanya sebelum membukakan pintu mobil.“Papa lapar,” katanya ringan. “Temenin makan siang?”Nayla mengerling. “Papa aja kali yang lapar.”“Kamu nggak?”Nayla pura-pura berpikir. “Kalau ada es krim, mungkin.”Satria tersenyum tipis. “Licik.”Saat Satria menggandeng Nayla, sopir pribadi keluarga Kertasoedibyo yang berdiri tak jauh dari mereka terlihat ragu.“Pak, Nayla habis ini ada les tambahan. Sekarang langsung pergi sama Bapak atau ….” Kalimatnya menggantung. Satria tahu yang tidak diucapkan: ‘Takut Bu Nadine marah.’Satria menatapnya tenang. “Pak Safri pulang saja.”“Tapi Bu Nadine—”“Saya yang antar Nayla nanti.” Nada suaranya datar, tapi sangat tegas. Pak Safri mengangguk cepat. “Baik, Pak.”Mereka berpisah di depan sekolah. Nayla kemudian masuk ke mobil dan tetap memperhatikan ke mana Safri pergi. “Pak Safri takut dimarahin Mama,” ucapnya.Satria melirik sebentar. “Kalau Pak Safri langsung bilang

  • KAMAR KEDUA   Bab 129. As Parents 

    Sheza terbangun lebih dulu pagi itu.Tubuhnya masih menyimpan sisa hangat malam sebelumnya. Di kulitnya, juga di dada. Ia berbaring beberapa detik, memandangi langit-langit kamar. Lalu ia menoleh pada Satria yang masih tertidur di sampingnya. Satu tangan berat pria itu masih di pinggangnya. Seakan percintaan semalam tak pernah benar-benar selesai.Sheza tersenyum kecil.Satria benar-benar tahu cara mencintainya, juga cara memenuhi pikirannya.Satria jarang berkata manis.Pria itu tidak pandai merangkai kalimat.Tapi Satria selalu menyempatkan diri mengantar, menjemput, mengusap punggungnya saat ia terlihat lelah, atau memijat bahunya saat ia kecewa, juga membelai perutnya tanpa diminta. Satria juga menyeka tubuhnya setelah bercinta, dan memastikan ia tak pernah merasa sendirian.Perlahan Sheza mengangkat tangan Satria dari pinggangnya dan duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana dalam. Rambutnya terurai, tubuhnya semakin berat oleh kehamilan yang usianya semakin bertambah. Payu

  • KAMAR KEDUA   Bab 128. Di Antara Napas yang Ditahan

    Satria menghembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan ketika Sheza mendekat lebih dalam. Ia tidak terburu-buru. Namun hal itu yang membuat segalanya terasa panjang.Sheza bergerak dengan kesabaran yang hampir bisa dibilang kejam. Lambat, memberi, lalu menahan. Mendekat, lalu mundur sedikit. Seolah ia sengaja membuat Satria menunggu setiap detik berikutnya.Tubuh Satria mengencang di bawahnya.Tangannya yang semula hanya tergeletak di sisi kini naik, menyusuri rambut Sheza perlahan lalu berdiam di kepala itu karena ikut merasakan gerakannya.Napasnya mulai berubah menjadi lebih berat dan dalam. “Zee ….” Suaranya serak, nyaris seperti peringatan yang formalitas saja.Sheza tidak menjawab.Wanita itu hanya menaikkan tatapannya sebentar. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berkilat di sana, yang bukan sekadar gairah.Sheza tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Dan Sheza melakukan itu untuknya.Sheza menggenggamnya, hangat, erat dan tetap lambat. Maju mundur dengan basah seperti omb

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status