Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 10. Kata Sheza

Share

Bab 10. Kata Sheza

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-05 15:29:29

Seharian itu, Sheza tidak bisa duduk tenang. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai dugaan soal jalan keluar yang akan dibawakan Julian untuknya. Ia amat yakin kalau Julian pasti akan berusaha membantunya. Prabu adalah sahabat dekatnya. Mereka semua sudah seperti saudara. Begitu isi pikiran Sheza menebak-nebak.

Sheza membuka kulkas, menutupnya kembali, lalu bersandar pada meja makan sambil menatap kosong. Ia tidak tahu apakah pantas menyiapkan jamuan untuk lima pria sahabat Prabu atau apakah lebi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
roman yg ceria ga cocok jdi pelindung sheeza dan dio. satria baru cocok
goodnovel comment avatar
~kho~
emang harus suami yg punya power sih... Roman mah kalah ama bang Sat... Satria baru masuk ajah aura nya udah beda
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 273. Seseorang yang Tak Pernah Meninggalkan 

    Sebenarnya, tidak ada pasangan yang bertengkar dengan niat mengakhiri pernikahannya.Hampir semua pertengkaran dimulai dari hal-hal yang terasa biasa. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kalimat-kalimat yang terlontar karena emosi sesaat.Begitu pula yang terjadi pada Calvin dan Ratri.Perbedaan latar belakang yang begitu jauh membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk saling memahami. Cara mereka memandang hidup berbeda. Cara mereka menyelesaikan masalah pun sering kali tidak sejalan.Namun, semua itu masih terasa wajar.Setidaknya, begitulah yang selalu diyakini Ratri.Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pertengkaran mereka pada suatu pagi akan menjadi percakapan terakhir sebelum Calvin menghilang dari hidupnya.Yang hingga kini masih terus menghantuinya adalah satu pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.Apa sebenarnya yang sedang dipikul Calvin saat itu?Ratri tidak pernah benar-benar tahu.Ia hanya menyadari, beberapa hari sebelum menghilang, Calvin m

  • KAMAR KEDUA   Bab 272. Yang Mencari Jawaban

    Mata Nayla langsung membulat. “Tapi...” Ia kembali menoleh ke arah perut Sheza. “Sagara masih kecil, kan?”Sheza mengangguk sambil tersenyum. “Iya.”“Terus kok udah punya adik lagi?” Pertanyaan polos itu membuat Sheza terkekeh.“Kenapa memangnya?”“Soalnya adiknya temen-temen aku nggak secepat itu.” Nayla mulai menghitung dengan jari-jarinya. “Temenku yang adiknya masih bayi ... ya cuma satu-satu gitu. Nggak ada yang punya adik bayinya dua.”Sheza baru saja hendak menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu yang tersambung dengan garasi.Pria itu masuk sambil membuka kancing kemeja di lengannya. “Lagi ngomongin apa?”Nayla langsung menoleh. “Papa ... kenapa Sagara masih kecil tapi udah punya adik?”Satria tersenyum. “Karena adiknya Nayla memang masih sedikit.”Nayla mengernyit. “Sedikit?”“Iya.” Satria duduk di ujung sofa—di dekat kaki Sheza. “Papa kan memang berencana punya anak lebih banyak.”Kali ini mata Nayla benar-benar melebar. “Banyak?”Satria mengangguk santa

  • KAMAR KEDUA   Bab 271. Calon Adik Baru

    Karena melihat Sheza masih terpaku menatap alat tes kehamilan dengan raut tak percaya, Satria mengambil alat tes yang satunya lagi.“Ayo,” ujarnya sambil tersenyum. “Sekali lagi. Biar aku juga puas lihat hasilnya.”Tanpa banyak bicara, ia menggandeng Sheza kembali mendekati kloset.“Aku happy, Zee,” ucapnya pelan, tetapi kali ini terdengar jauh lebih tulus.Ya, tentu saja Satria bahagia.Bukankah hampir setiap hari pria itu bercanda, atau bahkan dengan serius, mengatakan ingin memiliki banyak anak?Mendengar pengakuan itu, Sheza pun tak bisa memungkiri kebahagiaannya sendiri. Perempuan mana yang tidak ingin merasa dicintai dan diinginkan sedemikian besar oleh laki-laki yang menjadi suaminya?Hanya saja ….Di balik rasa bahagia itu, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan.Studio yang baru saja ia bangun akhirnya menerima proyek pertamanya. Ia bahkan sudah mendapat tawaran menjadi model katalog pakaian ibu dan bayi untuk sebuah department store.Bukan proyek yang besar.Namun, bagi Sheza

  • KAMAR KEDUA   Bab 270. Kehidupan Tetap Berjalan

    Berikutnya … Sheza tak bertanya lagi. Desahnya sudah memenuhi ruang kerja yang terang benderang, dengan tubuh mereka yang terlindung di satu sisi dinding.Geraman rendah Satria mengiringi napas hangatnya yang menerpa leher Sheza.“Nggak lama lagi bakal ada dua bayi,” bisik Satria di telinga Sheza.Sheza hanya menghela napas kasar. Percintaan siang hari di ruang kerja membuat debar jantungnya menjadi dua kali lipat. Terutama saat pelan-pelan intensitas kenikmatan semakin meningkat. Suaranya jadi sulit disembunyikan dan gerakannya semakin kacau.Punggung Sheza yang tadi tegak, kini sudah bersandar ke bahu Satria. Dengan kedua tangan yang merangkul leher pria itu, tubuhnya sedikit menegang seiring dengan puncak kenikmatan yang menghantamnya.Pelukannya di leher Satria menjadi erat beberapa saat, lalu tubuhnya terkulai. Dagunya bertumpu di bahu Satria dengan mata terpejam.“Soal hamil ini … aku belum yakin. Soalnya aku belum ada ngerasain apa-apa.”“Nggak lama lagi bakal ngerasain. Soal i

  • KAMAR KEDUA   Bab 269. Akhirnya Satu Kabar Bahagia

    Sheza masih memejamkan mata, menikmati kecupan Satria yang lembut di bibirnya.Ia sadar hari di luar masih terang. Tirai vitrase hanya menghalangi sebagian cahaya matahari yang masuk ke ruang kerja itu.Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Satria tentang me time beberapa saat yang lalu.Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang benar-benar memiliki waktu berdua.Rumah mereka lebih sering dipenuhi suasana keluarga besar. Obrolan yang diselingi aneka camilan, celoteh anak-anak, serta tawa yang tak pernah benar-benar berhenti. Terlebih sejak Sagara tumbuh menjadi bayi berusia enam bulan yang, menurut Om Franky, adalah bayi paling anteng yang pernah ditemuinya.Mereka tetap menghabiskan banyak waktu bersama.Hanya saja, momen seperti siang itu, ketika hanya ada mereka berdua tanpa gangguan apa pun, menjadi sesuatu yang semakin jarang terjadi.Deru halus pendingin udara terdengar samar memenuhi ruangan. Satria memang tidak pernah menyukai suhu yang terlalu dingin. Baginya, udara sejuk

  • KAMAR KEDUA   Bab 268. Sedikit Latar Belakang

    Mobil yang membawa Om Franky dan Tante Vonny perlahan menghilang di tikungan.Satria masih berdiri di depan pintu sambil merangkul bahu Sheza. Keduanya memandangi halaman rumah yang kembali lengang.Sheza mendongak menatap suaminya, lalu terkekeh pelan. Satria baru saja mengatakan soal ‘me time’ di sofa padanya. "Mas ….” Tangannya merangkul pinggang Satria."Hm?""Sekarang udah bisa lucu juga, ya."Satria menoleh lalu ikut tertawa pelan. Sheza menyenggol pelan lengan suaminya. "Perubahan besar."“Tapi mau, kan?” tanya Satria lagi. Kali ini sambil mengerling penuh arti.“Aku ngikut aja,” sahut Sheza.Mereka tertawa kecil bersamaan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.Begitu pintu tertutup, Sheza langsung menoleh."Eh, minggu ini Nayla bisa datang?"Satria mengangguk. "Bisa. Kenapa? Ada perlu sama Nayla?”"Aku mau masak yang spesial buat anak-anak." Senyum Sheza melebar. "Udah lama Nayla nggak makan ayam mentega buatanku.""Bisa.""Mas yang jemput?""Iya."Sheza mengernyit. “Minggu la

  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 20. Malam Diskusi

    Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

    Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 145. Yang Tidak Selesai Sekali

    Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status