Início / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 10. Kata Sheza

Compartilhar

Bab 10. Kata Sheza

Autor: juskelapa
last update Data de publicação: 2026-01-05 15:29:29

Seharian itu, Sheza tidak bisa duduk tenang. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai dugaan soal jalan keluar yang akan dibawakan Julian untuknya. Ia amat yakin kalau Julian pasti akan berusaha membantunya. Prabu adalah sahabat dekatnya. Mereka semua sudah seperti saudara. Begitu isi pikiran Sheza menebak-nebak.

Sheza membuka kulkas, menutupnya kembali, lalu bersandar pada meja makan sambil menatap kosong. Ia tidak tahu apakah pantas menyiapkan jamuan untuk lima pria sahabat Prabu atau apakah lebi
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (14)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
roman yg ceria ga cocok jdi pelindung sheeza dan dio. satria baru cocok
goodnovel comment avatar
~kho~
emang harus suami yg punya power sih... Roman mah kalah ama bang Sat... Satria baru masuk ajah aura nya udah beda
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 164. Urutan Investigasi

    “Gue nggak pernah nunggu Prabu mati,” ucap Satria tenang.Arga terdiam.Satria melanjutkan, “Dan apa yang ada sekarang … bukan sesuatu yang gue rencanain.” Ia diam lalu berkata pelan, “Tapi gue jaga.”“Gue cuma khawatir … kalau lo masuk terlalu jauh ke kasus ini, Sheza bisa kehilangan suaminya dua kali, Sat. Sorry kalau yang gue bilang ini kejam, tapi gue beneran khawatir.” Khawatir yang disebut-sebut Arga memang terdengar dari nada suaranya.“Lo tau nggak apa yang gue pikir sekarang?” Suara Satria sedikit lebih dalam dan pelan.“Gue nggak tau apa yang lo pikirin, Sat. Gue bukan Prabu yang bisa nebak-nebak aja terus bener tiap ngomong sama lo.” Arga tertawa kecil.Satria mengangguk. “Bercandanya Prabu itu selalu pas.”“Gue jadi mikir … andai Prabu bisa menilai kedekatan kita semua, andai ada masalah di perusahaannya, dia bisa minta bantuan kita. Atau setidaknya … Prabu bisa minta bantuan lo.” Arga meninju pelan bahu Satria.Sementara Satria menggeleng. “Nggak. Prabu bukan orang yang k

  • KAMAR KEDUA   Bab 163. Semakin Berani

    Mendengar ucapan Sheza, Pak Heri mulai ragu.Di depan, polisi lalu lintas itu tetap jalan—motor jenis trail dengan plat kepolisian yang tak dimengerti Sheza. Di belakang, pengendara motor masih mengikuti mereka.Sheza tidak punya waktu untuk berpikir panjang. “Pak, bunyiin klakson,” pintanya pada Pak Heri.“Bu?”“Bunyiin sekarang!”Tak lama klakson panjang terdengar.Sekali.Lalu dua kali.Mobil kemudian melambat dan berhenti.Polisi lalu lintas di depan langsung menoleh, lalu berputar dan kembali mendekati dari sisi Sheza.“Ada apa, Bu?” tanyanya saat tiba di dekat pintu. Tubuhnya condong dan mendekat seakan mengamati dengan cermat apa yang terjadi di dalam mobil.Sheza membuka kaca. Tangannya memegang perut.Dan dalam satu detik—ia berubah.“Pak …. Tolong…” suaranya pecah. “Saya … saya sakit … perut saya sakit banget ini. Sepertinya saya mau lahiran ….”Pak Heri langsung panik menoleh ke belakang. “Bu?”Sheza menunduk, napasnya memburu. Ia mencoba bersandar lalu kembali mencondongk

  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 72. Sepertinya Belum Yakin

    Sebenarnya … ia tidak berniat mengatakan apa pun dengan nada seperti itu pada mertuanya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Satria, Sheza merapikan meja makan pelan-pelan. Dio kembali ke kamar dan Tuti mencuci piring dengan gerakan yang menenangkan. Suara air dan denting piring seharusnya cukup un

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status