LOGINKata realistis itu menusuk, seakan mengatakan bahwa duka Sheza sudah tidak relevan lagi. Dukanya tak berarti di depan sepasang mertuanya. Tangisnya hampir pecah di sana. Sheza berdiri. “Aku mau istirahat dulu.”
Ayah Prabu mengangguk. “Ya sudah, kami pulang. Lagian Dio juga belum pulang, kan? Puspa juga sepertinya sebentar lagi nyampe rumah. Nggak bisa ninggalin anak gadis di rumah sendirian lama-lama.” Tanpa banyak basa-basi, keduanya pergi. Tidak menanyakan apakah Sheza butuh ditemani. Mereka hanya berjalan keluar, masuk ke mobil, dan menghilang. Rumah itu kembali sunyi. ***** Termenung di meja makan tak sadar menghabiskan waktu hampir setengah jam. Sheza tersentak melihat jam karena tadi sudah janji pada Athar akan menjemput Dio dari rumah ibunya. Sore tadi Athar langsung pulang ke rumah karena ibu mereka minta dijemput sekalian dari pasar. “Sekalian aja biar nggak bolak-balik,” kata Bu Pur, ibunya. Sheza melangkah ke dalam rumah yang dulu ditinggalinya. Aroma parfum tajam bercampur bau rokok tipis menyambutnya. Yang membuatnya makin sesak adalah suara tawa laki-laki dari kamar belakang. Suami muda ibunya. Bu Pur muncul dari dapur, wajahnya ceria seperti tidak ada masalah dunia. Umurnya memang baru 48 tahun, tapi cara ia berdandan selalu seperti ingin terlihat 30. Atau 28. Apa pun yang membuatnya bisa disebut “muda.” “Kamu datang juga,” katanya datar. Sheza langsung duduk. “Bu, aku mau cerita.” “Udah diceritain semua sama Athar,” kata Bu Pur sambil memotong bawang. “Katanya rumahmu mau disita?” Sheza mengangguk pelan. “Iya, Bu. Ini serius. Ada gugatan besar. Kalau klien-klien Prabu yang lain ikut gugat, aku nggak tau harus gimana.” Bu Pur menghentikan pisau. Lalu ia tersenyum, senyum yang tidak membuat Sheza merasa aman. “Kamu bilang kalau teman-temannya Prabu peduli, kan?” Bu Pur meletakkan satu tangannya di pinggang. Sheza mengusap wajahnya. “Iya. Mereka datang. Mereka bantu cari kuasa hukum.” “Nah, itu.” Bu Pur menunjuk Sheza dengan pisau bawang. “Benar kata ibunya Prabu.” Sheza menegang. “Kalau ada yang mau menikahi kamu…mending nikah aja. Cepat.” “Bu ….” Bu Pur angkat bahu, seakan masalah Sheza seremeh kompor bocor. “Satu perusahaan aja nuntut, rumahmu hampir hilang. Kalau semuanya nuntut, kamu bisa jadi gembel.” Ia mendekat, suaranya meninggi sedikit. “Kamu mau tinggal di mana? Di sini? Mana mungkin. Suamiku ya kamu tau sendiri gimana.” Sheza memejamkan mata. Dadanya mencelos. Bu Pur lanjut. “Mumpung ada laki-laki yang mau melirik janda anak satu, ya ambil. Jangan pakai lama. Apalagi kalau dia mapan. Yang penting Dio aman.” Sheza menelan ludah, suaranya nyaris hilang. “Bu … aku baru dua minggu ditinggal Mas Prabu…” “Ya, terus?” Bu Pur balas cepat. “Emang dunia mau nunggu kamu selesai nangis?” Sheza terdiam. Bu Pur menepuk bahu Sheza, ringan tapi menusuk. “Kalau ada teman Prabu yang mau, ya pertimbangkan. Setau Ibu temennya Prabu orang kaya semua. Terus … yang penting bisa lindungi kamu. Kalau Satria mau? Bagus. Kalau Roman mau? Lebih bagus. Yang penting kalian aman. Jangan terlalu banyak perasaan.” Ada kalimat yang ingin Sheza ucapkan. Ada air mata yang ingin jatuh. Tapi suara bocah kecil dari samping memotong semuanya. “Ibun .…” Dio menarik ujung baju Sheza. “Kita pulang? Aku rindu Ayah.” Dan di detik itu, Sheza sadar; tidak ada siapa pun yang benar-benar berdiri untuknya. Kecuali dua orang kecil, Dio dan dirinya sendiri. Dio menarik ujung baju Sheza, matanya berkaca. “Ibun ….” Sheza mengusap kepala putranya. Di tengah dunia yang berubah begitu cepat; rumah disita, gugatan datang bertubi-tubi, orang-orang dewasa menuntut keputusan besar hanya demi keberlangsungan hidup, Dio adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan. Mereka pulang dengan hati yang sama-sama berat. Rumah terasa makin sepi dari sebelumnya. Ia baru saja meletakkan tas kecil Dio ke sofa ketika ponselnya bergetar. Tring. Sheza memandang layarnya. Nama di notifikasi muncul jelas. Julian. Ia mengerjap pelan. “Julian?” bisiknya. Sahabat Prabu yang paling sering bicara meski tidak seceria Roman. Baginya, Julian lebih mirip seperti seorang kakak laki-laki. Perlahan ia membuka pesannya. Julian : ‘Za, kami semua sudah ngobrol soal masalah Prabu. Juga soal kamu dan Dio.’ Sheza menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Pesan berikutnya menyusul. Julian : ‘Besok sore kami semua datang ke rumah kamu buat membicarakannya. Gimana? Kamu bisa?’ Beberapa detik Sheza hanya berdiri mematung. Empat laki-laki; sahabat suaminya. Orang-orang yang paling Prabu percaya. Orang-orang yang selama ini ikut menahan dunianya agar tidak runtuh bersama kepergian Prabu. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Sheza merasakan sesuatu yang mirip sebuah harapan. Mungkin, mungkin saja … mereka membawa sesuatu yang ia butuhkan. Jalan keluar. Dengan tangan yang bergetar namun tekadnya mantap, Sheza mengetik jawabannya. “Bisa.” Dan malam itu, Sheza tahu: Besok, hidupnya akan berubah. Entah menjadi lebih baik atau lebih rumit. ***** Sehari sebelumnya terjadi pertemuan lima orang sahabat-sahabat Prabu di rumah Julian. Pertemuan itu sebenarnya seperti yang lalu-lalu. Tapi kali ini tanpa sosok Prabu. Halaman belakang rumah Julian malam itu terasa lebih berat dari biasanya. Lampu taman menyala temaram. Suara serangga malam bersahut-sahutan, bercampur samar dengan suara jalanan yang jauh. Meja kayu besar di tengah halaman sudah penuh gelas, asbak, dan piring kecil camilan yang tak tersentuh. Roman duduk paling dulu, setengah menyelonjor, rokok terselip di sela jemari. Vian bersandar di kursi besi, menggoyang-goyangkan kakinya pelan. Arga duduk tegak dengan map hitam di sampingnya. Julian menatap kosong halaman belakang yang dulu sering dipakai Prabu bercanda dan tertawa keras-keras. Satria datang paling akhir. Ia menaruh kunci mobil di atas meja, duduk di ujung, menyalakan rokok tanpa banyak bicara. Hanya ada anggukan singkat sebagai salam. Beberapa menit pertama hanya diisi hening dan suara korek api. Asap rokok perlahan naik ke udara. Roman, seperti biasa, yang pertama memecah sunyi. “Gue nggak nyangka Prabu begini,” katanya pelan. Suaranya terdengar letih, tak seceria biasanya. “Di depan kita, dia keliatan rapi. Kerjaannya jalan. Di rumah dia ngasih yang terbaik buat Sheza sama Dio. Ternyata di belakang ada proyek gagal bayar, pinjem kapal … sampai-sampai rumah keikut.” …Sebenarnya, tidak ada pasangan yang bertengkar dengan niat mengakhiri pernikahannya.Hampir semua pertengkaran dimulai dari hal-hal yang terasa biasa. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kalimat-kalimat yang terlontar karena emosi sesaat.Begitu pula yang terjadi pada Calvin dan Ratri.Perbedaan latar belakang yang begitu jauh membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk saling memahami. Cara mereka memandang hidup berbeda. Cara mereka menyelesaikan masalah pun sering kali tidak sejalan.Namun, semua itu masih terasa wajar.Setidaknya, begitulah yang selalu diyakini Ratri.Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pertengkaran mereka pada suatu pagi akan menjadi percakapan terakhir sebelum Calvin menghilang dari hidupnya.Yang hingga kini masih terus menghantuinya adalah satu pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.Apa sebenarnya yang sedang dipikul Calvin saat itu?Ratri tidak pernah benar-benar tahu.Ia hanya menyadari, beberapa hari sebelum menghilang, Calvin m
Mata Nayla langsung membulat. “Tapi...” Ia kembali menoleh ke arah perut Sheza. “Sagara masih kecil, kan?”Sheza mengangguk sambil tersenyum. “Iya.”“Terus kok udah punya adik lagi?” Pertanyaan polos itu membuat Sheza terkekeh.“Kenapa memangnya?”“Soalnya adiknya temen-temen aku nggak secepat itu.” Nayla mulai menghitung dengan jari-jarinya. “Temenku yang adiknya masih bayi ... ya cuma satu-satu gitu. Nggak ada yang punya adik bayinya dua.”Sheza baru saja hendak menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu yang tersambung dengan garasi.Pria itu masuk sambil membuka kancing kemeja di lengannya. “Lagi ngomongin apa?”Nayla langsung menoleh. “Papa ... kenapa Sagara masih kecil tapi udah punya adik?”Satria tersenyum. “Karena adiknya Nayla memang masih sedikit.”Nayla mengernyit. “Sedikit?”“Iya.” Satria duduk di ujung sofa—di dekat kaki Sheza. “Papa kan memang berencana punya anak lebih banyak.”Kali ini mata Nayla benar-benar melebar. “Banyak?”Satria mengangguk santa
Karena melihat Sheza masih terpaku menatap alat tes kehamilan dengan raut tak percaya, Satria mengambil alat tes yang satunya lagi.“Ayo,” ujarnya sambil tersenyum. “Sekali lagi. Biar aku juga puas lihat hasilnya.”Tanpa banyak bicara, ia menggandeng Sheza kembali mendekati kloset.“Aku happy, Zee,” ucapnya pelan, tetapi kali ini terdengar jauh lebih tulus.Ya, tentu saja Satria bahagia.Bukankah hampir setiap hari pria itu bercanda, atau bahkan dengan serius, mengatakan ingin memiliki banyak anak?Mendengar pengakuan itu, Sheza pun tak bisa memungkiri kebahagiaannya sendiri. Perempuan mana yang tidak ingin merasa dicintai dan diinginkan sedemikian besar oleh laki-laki yang menjadi suaminya?Hanya saja ….Di balik rasa bahagia itu, pikirannya masih dipenuhi kegelisahan.Studio yang baru saja ia bangun akhirnya menerima proyek pertamanya. Ia bahkan sudah mendapat tawaran menjadi model katalog pakaian ibu dan bayi untuk sebuah department store.Bukan proyek yang besar.Namun, bagi Sheza
Berikutnya … Sheza tak bertanya lagi. Desahnya sudah memenuhi ruang kerja yang terang benderang, dengan tubuh mereka yang terlindung di satu sisi dinding.Geraman rendah Satria mengiringi napas hangatnya yang menerpa leher Sheza.“Nggak lama lagi bakal ada dua bayi,” bisik Satria di telinga Sheza.Sheza hanya menghela napas kasar. Percintaan siang hari di ruang kerja membuat debar jantungnya menjadi dua kali lipat. Terutama saat pelan-pelan intensitas kenikmatan semakin meningkat. Suaranya jadi sulit disembunyikan dan gerakannya semakin kacau.Punggung Sheza yang tadi tegak, kini sudah bersandar ke bahu Satria. Dengan kedua tangan yang merangkul leher pria itu, tubuhnya sedikit menegang seiring dengan puncak kenikmatan yang menghantamnya.Pelukannya di leher Satria menjadi erat beberapa saat, lalu tubuhnya terkulai. Dagunya bertumpu di bahu Satria dengan mata terpejam.“Soal hamil ini … aku belum yakin. Soalnya aku belum ada ngerasain apa-apa.”“Nggak lama lagi bakal ngerasain. Soal i
Sheza masih memejamkan mata, menikmati kecupan Satria yang lembut di bibirnya.Ia sadar hari di luar masih terang. Tirai vitrase hanya menghalangi sebagian cahaya matahari yang masuk ke ruang kerja itu.Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Satria tentang me time beberapa saat yang lalu.Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang benar-benar memiliki waktu berdua.Rumah mereka lebih sering dipenuhi suasana keluarga besar. Obrolan yang diselingi aneka camilan, celoteh anak-anak, serta tawa yang tak pernah benar-benar berhenti. Terlebih sejak Sagara tumbuh menjadi bayi berusia enam bulan yang, menurut Om Franky, adalah bayi paling anteng yang pernah ditemuinya.Mereka tetap menghabiskan banyak waktu bersama.Hanya saja, momen seperti siang itu, ketika hanya ada mereka berdua tanpa gangguan apa pun, menjadi sesuatu yang semakin jarang terjadi.Deru halus pendingin udara terdengar samar memenuhi ruangan. Satria memang tidak pernah menyukai suhu yang terlalu dingin. Baginya, udara sejuk
Mobil yang membawa Om Franky dan Tante Vonny perlahan menghilang di tikungan.Satria masih berdiri di depan pintu sambil merangkul bahu Sheza. Keduanya memandangi halaman rumah yang kembali lengang.Sheza mendongak menatap suaminya, lalu terkekeh pelan. Satria baru saja mengatakan soal ‘me time’ di sofa padanya. "Mas ….” Tangannya merangkul pinggang Satria."Hm?""Sekarang udah bisa lucu juga, ya."Satria menoleh lalu ikut tertawa pelan. Sheza menyenggol pelan lengan suaminya. "Perubahan besar."“Tapi mau, kan?” tanya Satria lagi. Kali ini sambil mengerling penuh arti.“Aku ngikut aja,” sahut Sheza.Mereka tertawa kecil bersamaan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.Begitu pintu tertutup, Sheza langsung menoleh."Eh, minggu ini Nayla bisa datang?"Satria mengangguk. "Bisa. Kenapa? Ada perlu sama Nayla?”"Aku mau masak yang spesial buat anak-anak." Senyum Sheza melebar. "Udah lama Nayla nggak makan ayam mentega buatanku.""Bisa.""Mas yang jemput?""Iya."Sheza mengernyit. “Minggu la
Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.
Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i







