Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 131. Training Adik Baru

Share

Bab 131. Training Adik Baru

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-26 03:07:46

Satria meraih tangan kecil itu di atas meja. “Nayla.” Tatapannya hangat namun tegas. “Dengar baik-baik. Hati Papa itu bukan kamar satu pintu. Bukan kalau ada yang masuk, yang lain harus keluar.”

Nayla menatapnya tanpa berkedip.

“Cinta itu nggak terbagi,” lanjut Satria. “Cinta itu bertambah.”

Sunyi beberapa detik.

“Janji?” tanya Nayla.

“Papa nggak pernah main-main,” ucap Satria.

Nayla mengangguk.

Lalu, dengan gaya yang lebih ringan, ia berkata, “Kalau gitu nanti bayinya jangan manja banget.”

Sat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
gen satria lebih dominan turun ke Nayla.drpd gen Kel kertosudibyo..
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
Alhamdulillah..... satria junior nanti segera hadir.semoga ibu dan calon bayi sehat sehat saja..Nayla sayang kamu akan punya adik laki laki.. bahagia ya sayang
goodnovel comment avatar
Lembayung NanElok
Partnya seneng banget.. kehangatan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 131. Training Adik Baru

    Satria meraih tangan kecil itu di atas meja. “Nayla.” Tatapannya hangat namun tegas. “Dengar baik-baik. Hati Papa itu bukan kamar satu pintu. Bukan kalau ada yang masuk, yang lain harus keluar.”Nayla menatapnya tanpa berkedip.“Cinta itu nggak terbagi,” lanjut Satria. “Cinta itu bertambah.”Sunyi beberapa detik.“Janji?” tanya Nayla.“Papa nggak pernah main-main,” ucap Satria.Nayla mengangguk.Lalu, dengan gaya yang lebih ringan, ia berkata, “Kalau gitu nanti bayinya jangan manja banget.”Satria tertawa kecil. “Kamu aja yang ajarin.”“Aku bakal ajarin dia jangan ganggu Papa kalau lagi jemput aku,” ujar Nayla diiringi tawa ringan.Satria tersenyum tipis. “Deal.”Percakapan itu mereda pelan. Nayla tidak lagi bertanya. Wajahnya sudah lebih tenang. Tidak sepenuhnya selesai, tapi cukup untuk hari itu.Beberapa detik mereka hanya duduk berdampingan menyantap pesanan mereka tadi. Lalu setelahnya Satria menoleh sedikit, seperti baru teringat sesuatu.“Kamu mau ikut Papa nggak?”Nayla langsu

  • KAMAR KEDUA   Bab 130. What We Don’t Say

    Satria tidak langsung bertanya lagi. Ia menggenggam tangan Nayla lebih lama dari biasanya sebelum membukakan pintu mobil.“Papa lapar,” katanya ringan. “Temenin makan siang?”Nayla mengerling. “Papa aja kali yang lapar.”“Kamu nggak?”Nayla pura-pura berpikir. “Kalau ada es krim, mungkin.”Satria tersenyum tipis. “Licik.”Saat Satria menggandeng Nayla, sopir pribadi keluarga Kertasoedibyo yang berdiri tak jauh dari mereka terlihat ragu.“Pak, Nayla habis ini ada les tambahan. Sekarang langsung pergi sama Bapak atau ….” Kalimatnya menggantung. Satria tahu yang tidak diucapkan: ‘Takut Bu Nadine marah.’Satria menatapnya tenang. “Pak Safri pulang saja.”“Tapi Bu Nadine—”“Saya yang antar Nayla nanti.” Nada suaranya datar, tapi sangat tegas. Pak Safri mengangguk cepat. “Baik, Pak.”Mereka berpisah di depan sekolah. Nayla kemudian masuk ke mobil dan tetap memperhatikan ke mana Safri pergi. “Pak Safri takut dimarahin Mama,” ucapnya.Satria melirik sebentar. “Kalau Pak Safri langsung bilang

  • KAMAR KEDUA   Bab 129. As Parents 

    Sheza terbangun lebih dulu pagi itu.Tubuhnya masih menyimpan sisa hangat malam sebelumnya. Di kulitnya, juga di dada. Ia berbaring beberapa detik, memandangi langit-langit kamar. Lalu ia menoleh pada Satria yang masih tertidur di sampingnya. Satu tangan berat pria itu masih di pinggangnya. Seakan percintaan semalam tak pernah benar-benar selesai.Sheza tersenyum kecil.Satria benar-benar tahu cara mencintainya, juga cara memenuhi pikirannya.Satria jarang berkata manis.Pria itu tidak pandai merangkai kalimat.Tapi Satria selalu menyempatkan diri mengantar, menjemput, mengusap punggungnya saat ia terlihat lelah, atau memijat bahunya saat ia kecewa, juga membelai perutnya tanpa diminta. Satria juga menyeka tubuhnya setelah bercinta, dan memastikan ia tak pernah merasa sendirian.Perlahan Sheza mengangkat tangan Satria dari pinggangnya dan duduk di tepi ranjang hanya mengenakan celana dalam. Rambutnya terurai, tubuhnya semakin berat oleh kehamilan yang usianya semakin bertambah. Payu

  • KAMAR KEDUA   Bab 128. Di Antara Napas yang Ditahan

    Satria menghembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan ketika Sheza mendekat lebih dalam. Ia tidak terburu-buru. Namun hal itu yang membuat segalanya terasa panjang.Sheza bergerak dengan kesabaran yang hampir bisa dibilang kejam. Lambat, memberi, lalu menahan. Mendekat, lalu mundur sedikit. Seolah ia sengaja membuat Satria menunggu setiap detik berikutnya.Tubuh Satria mengencang di bawahnya.Tangannya yang semula hanya tergeletak di sisi kini naik, menyusuri rambut Sheza perlahan lalu berdiam di kepala itu karena ikut merasakan gerakannya.Napasnya mulai berubah menjadi lebih berat dan dalam. “Zee ….” Suaranya serak, nyaris seperti peringatan yang formalitas saja.Sheza tidak menjawab.Wanita itu hanya menaikkan tatapannya sebentar. Mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang berkilat di sana, yang bukan sekadar gairah.Sheza tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Dan Sheza melakukan itu untuknya.Sheza menggenggamnya, hangat, erat dan tetap lambat. Maju mundur dengan basah seperti omb

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status