MasukNadine biasanya pulang lebih lama dari orang-orang di rumahnya.Kadang ia baru tiba di rumah sekitar pukul sepuluh malam. Kalau ingin menghindari kemacetan, paling cepat ia bisa sampai sekitar pukul delapan. Namun yang jelas, hampir tidak pernah Nadine sudah berada di rumah pada sore hari.Ia juga tidak menggunakan sopir.Bukan karena tidak mampu atau tidak memiliki orang yang bisa mengantarnya. Nadine hanya lebih suka menyetir sendiri. Ia merasa lebih bebas berbicara melalui telepon tanpa khawatir ada orang lain yang mendengarkan percakapannya.Entah kenapa, ia memang tidak pernah nyaman jika ada sopir yang seakan-akan bisa selalu menyimak apa yang sedang dibicarakannya. Selama masih bisa menyetir sendiri, Nadine akan melakukannya.Karena sudah berjanji akan berbicara dengan papanya, Nadine sengaja pulang lebih cepat. Bahkan ketika tiba di rumah, hari masih menyisakan cahaya sore.Alih-alih langsung menuju kamarnya, Nadine justru melangkah ke kamar Nayla.Biasanya ia hanya membuka p
“Begini, Bu. Kami sebenarnya ingin mengatur pertemuan dengan Ibu terkait progres proyek. Sekaligus memperkenalkan arsitek yang akan melanjutkan pekerjaan—”“Saya lagi nggak bisa.” Nadanya langsung berubah ketus.Perempuan di seberang sempat diam. “Maaf, Bu?”“Kalau soal proyek itu, hubungi sekretaris saya saja.”“Tapi, Bu, kami ingin—”“Saya bilang, hubungi sekretaris saya. Dia yang akan mengatur waktu pertemuan. Nggak pernah ke saya langsung karena saya juga nggak tau kapan waktu saya kosong.” Nadine menekan pelipisnya. “Sekarang saya sedang ada urusan.”“Baik, Bu. Tapi kalau memungkinkan, kami berharap—”“Sekretaris saya akan mengatur jadwalnya,” ulang Nadine. Kali ini suaranya lebih tegas. “Terima kasih.” Ia langsung memutus panggilan dan meletakkan ponsel di pangkuan.“Proyek segala macam. Kenapa harus dilimpahkan ke aku lagi, sih,” gerutunya.Beberapa detik kemudian, Nadine menghela napas. Ia tahu perempuan tadi tidak salah apa-apa. Hanya saja hari ini bukan hari yang tepat untuk
Nadine masih menatap Warsito beberapa saat setelah pria itu selesai bercerita.Air matanya telah ia hapus, tetapi matanya masih menyisakan merah. Ada terlalu banyak hal yang baru saja ia dengar. Tentang kapal yang selama ini hanya ia kenal sebagai bagian dari masa lalu Satria. Tentang Margareth yang ternyata berada di sana bukan sekadar sebagai istri pemilik perusahaan. Tentang Daniel yang berada di bagian mesin ketika semuanya berakhir.Dan tentang dirinya sendiri. Tentang keluarganya. Nadine menarik napas panjang.“Pak Warsito.”Pria itu memandangnya. “Saya rasa cukup sampai di sini.”Warsito tampak sedikit terkejut. “Ibu nggak mau bertanya lagi?”“Nggak untuk sekarang.”Nadine menggeleng pelan. “Saya sudah mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang saya bayangkan ketika datang ke sini.”Warsito diam.Nadine meraih tasnya yang sejak tadi diletakkan di samping kursi.“Saya juga nggak mau memaksa Bapak mengingat semuanya. Apalagi kalau sebagian besar hanya tersimpan dari cerita oran
Warsito memandang berkeliling beberapa saat. Ia lalu sedikit menundukkan kepalanya seolah sedang berbisik. “Bukan karena mereka nggak tau risikonya.” Rautnya menegang. “Justru karena ada orang yang tau risikonya, saya pikir keputusan itu dibuat dengan sengaja.”Nadine menatapnya. “Siapa yang minta?”Warsito kembali menegakkan tubuhnya. “Saya nggak mau menuduh Pak Salim kalau saya nggak bisa membuktikannya, Bu.” Ia menarik napas. “Tapi saya bisa mengatakan satu hal. Kalau … orang yang mengurus perubahan itu bukan pegawai biasa.”Pria itu kembali mengangguk. Wajahnya masih terlihat amat serius. “Dan permintaan itu datang dari pihak KSD Holding.”Nadine sedikit mencondongkan tubuh. “Tapi saya butuh nama, Pak.”Warsito diam.“Begini,” lanjut Nadine. “Kalau hal ini menjadi momok dan terus memenuhi pikiran Bapak sampai puluhan tahun, saya memang nggak janji bisa menebus rasa bersalah itu.”Ia menelan ludah. “Tapi ini hal penting.” Nadine menatap Warsito lebih dalam. “Ini soal keluarga say
Pertanyaan itu membuat Nadine terdiam sesaat. Warsito masih memandangnya dari seberang meja. Pria itu tidak terlihat seperti seseorang yang datang untuk menjual informasi. Justru sebaliknya. Ada kehati-hatian dalam caranya duduk, dalam tatapannya yang sesekali bergerak ke sekitar kafe, bahkan dalam cara kedua tangannya saling bertaut di atas meja.Nadine menarik napas.“Maaf kalau hari ini saya banyak mengganggu Bapak.”Warsito tidak menyela.“Tapi soal peristiwa beberapa puluh tahun lalu, soal KSD Holding ini memang sudah lama sekali. Kejadiannya bahkan terjadi ketika saya masih di bangku sekolah.”Ia tersenyum tipis.“Jadi, saya memang sama sekali nggak pernah berpikir soal KSD Holding sampai beberapa waktu lalu.”Nadine berhenti sebentar.“Ada sesuatu yang membuat saya penasaran. Saya jadi mencari-cari siapa yang mungkin bisa menjelaskan kepada saya.”Tatapan Warsito tetap tertuju kepadanya.“Karena saya tahu orang tua saya tidak akan memberitahu yang sesungguhnya.”Nadine mengang
Nadine melewatkan waktu makan siang karena dua jam berikutnya ia habiskan untuk menelepon satu per satu nama yang diberikan sekretarisnya.Dua-tiga nama sudah terlalu tua dan tidak lagi mengingat detail kejadian di tahun dan bulan yang disebutkan Nadine. Sebagian lainnya terang-terangan menolak membicarakan masa lalu perusahaan. Sebagian ada yang dengan sungguh-sungguh mengatakan tidak paham kenapa Nadine bertanya soal bulan dan tahun yang ia sebutkan. Namun ada beberapa orang yang membuat Nadine merasa aneh. Ada yang nada suaranya berubah begitu tahu siapa yang menelepon. Jelas kalau mereka bersikap waspada.Seolah nama Salim Kusuma Wijaya dan keturunannya masih cukup kuat untuk membuat mereka memilih diam.Bahkan dari bekas pegawai yang dihubungi Nadine ada yang langsung mengakhiri pembicaraan.Sampai akhirnya satu panggilan tersambung."Bu Nadine?""Iya.""Anaknya Pak Salim?""Iya, Pak." Nadine langsung menegakkan punggungnya. Hanya tersisa dua nama, dan pria yang menjawab panggi







