/ Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 97. Masih Terlalu Pagi

공유

Bab 97. Masih Terlalu Pagi

작가: juskelapa
last update 게시일: 2026-02-08 23:49:21
Sheza terbangun saat rumah masih gelap.

Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam masih mencarinya.

Beberapa detik yang cukup lama, Sheza menatap Satria dengan sorot sendu. Lalu, pelan-pelan ia berdiri.

Ia berjalan berjingkat, menahan suara langkahnya, lalu keluar kamar. Bukan ke k
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (13)
goodnovel comment avatar
Larose
sabar karena istri hamil muda kan pak, banyak bener masalah Prabu yg harus diurus,semoga Alina bukan WIL Prabu
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Siapa lagi Alina ini
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Sheza bangun di saat satria lagi panas2nya untung ga ada serangan fajar hahaha ... Karena satria masih bisa nahan diri
댓글 더 보기

최신 챕터

  • KAMAR KEDUA   245. Rencana Kedatangan Tamu

    Sebuah malam yang biasa bagi sebuah rumah tangga. Tapi bagi Satria, kehangatan sesederhana itu pernah menjadi sesuatu yang tak berani ia impikan. Kini, ia hidup di dalamnya.Malam semakin larut.Satria baru saja menyelesaikan catatan khusus mengenai kasus Prabu yang selama ini ia telusuri dengan tangannya sendiri.Beberapa poin penting ia tuliskan sebagai kesimpulan akhir. Catatan itu nantinya akan diserahkan kepada Arga sebagai peninggalan terakhir yang berkaitan dengan sahabat mereka.Setidaknya, dari pengakuan Hendra Kusuma Wijaya serta isi ponsel si kidal yang sampai detik itu masih berada di tangannya, Satria menarik satu kesimpulan yang cukup jelas.Hampir seluruh pekerjaan kasar dalam rangkaian peristiwa itu dilakukan oleh si kidal dan orang-orang yang bekerja bersamanya.Pak Hendra bahkan nyaris tidak mengenal siapa Alina atau Anton. Ia juga tidak benar-benar peduli pada klien-klien Prabu yang dananya masih tertahan karena belum sempat dikembalikan.Bagi pria setingkat Hendra

  • KAMAR KEDUA   Bab 244. Sebagai Sepasang Orang Tua

    Sheza menyimpan sore itu sebagai sesuatu yang istimewa.Bukan semata karena keintiman yang baru saja ia bagi bersama Satria, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah menjadi orang tua baru, mereka kembali menemukan jalan pulang satu sama lain.Di antara tangisan Saga di malam hari, jadwal menyusui, botol ASI, dan rasa lelah yang datang bergantian, Sheza sempat takut bahwa sebagian dari dirinya akan tertinggal di sana.Bahwa ia hanya akan menjadi ibu, sementara bagian dirinya sebagai seorang istri perlahan memudar.Namun sore itu membuktikan sebaliknya.Satria masih memandangnya dengan cara yang sama. Masih menginginkannya dengan ketulusan yang tak pernah pandai ia ucapkan lewat kata-kata.Dan Sheza, yang selama ini selalu merasa harus kuat untuk semua orang, mendapati dirinya bisa begitu rapuh di dekat pria itu.Sore itu tidak hanya menjadi tentang mereka sebagai suami dan istri.Tetapi juga tentang dua orang tua baru yang sedang belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seorang

  • KAMAR KEDUA   Bab 243. Sore yang Hangat

    Sheza sampai lupa kalau siang telah berganti menuju sore.Padahal tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Satria. Tentang perlengkapan yang baru saja datang setelah dipesannya dari aplikasi online. Tentang ruangan dekat garasi yang akan disulap menjadi Studio Sheza, studio mungil yang sudah lama ingin ia miliki. Tempat untuk memulai proyeknya sendiri. Memanfaatkan media sosial yang pengikutnya terus bertambah sejak sebelum ia menikah.Namun sore itu, semua rencana pembicaraan itu menguap begitu saja.Entah kenapa, berada di dekat Satria selalu membuat pertahanannya melemah.Ia hanya ingin berada di dekat pria itu.Satria yang tidak banyak bicara justru membuatnya semakin penasaran. Membuatnya diam-diam ingin terus diperhatikan, disentuh, dan diinginkan oleh pria itu.Saat Satria berada di rumah, Sheza ingin suaminya tidak pergi jauh-jauh darinya.Kadang ia malu mengakuinya.Bahwa ia tidak suka Satria pulang terlalu larut. Bahwa ia tidak suka ketika nama Nadine terlalu sering m

  • KAMAR KEDUA   Bab 242. Seperti Kali Pertama 

    Satria kembali mencium Sheza.Kali ini ciumannya lebih dalam. Tangannya berpindah ke pinggang wanita itu, menahannya tetap dekat di atas pangkuannya.Napas Sheza mulai tidak teratur ketika kecupan-kecupan itu bergeser ke sudut rahangnya."Mas …,” bisiknya pelan.Satria hanya mendengus rendah sebagai jawaban. Bibirnya menyusuri garis leher Sheza perlahan. Berhenti beberapa detik di sana sebelum mengecupnya lagi. Tangan Sheza otomatis mencengkeram bahu pria itu. "Mas Satria ….”Satria mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya meredup. "Hm?""Ini..." Sheza melirik sekeliling bathtub. "...sempit."Satria diam beberapa detik. Lalu mengecup bahu Sheza singkat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Iya." Ia menyandarkan kepala ke bahu Sheza sesaat sebelum mundur sedikit. "Ke sini."Sheza mengerjap."Ayo, mandi dulu." Satria mengambil shower dari tepi bathtub.Nada bicaranya datar seperti biasa. Seolah beberapa menit sebelumnya bukan dia yang membuat wajah Sheza memerah.Sheza tertawa

  • KAMAR KEDUA   Bab 241. Air yang Tenang

    Satria masih tersenyum ketika menyusul Sheza ke kamar. Suara langkah ringan yang terburu-buru tadi berakhir dengan bunyi pintu kamar mandi yang tertutup."Pagi tadi udah mandi, kan?" tanya Satria seraya menutup pintu kamar kedua.Tatapannya berkeliling ruangan itu sejenak. Pompa ASI elektrik tergeletak di atas nakas. Pertanda Sheza memang baru menggunakannya beberapa saat lalu.Untuk sesaat ia berdiri di dekat nakas, menikmati keheningan siang di rumah yang jarang ia rasakan. Terutama di Kamar Kedua. Kamar utama di lantai satu yang terletak di pojok sayap kanan. Tidak sering dilalui orang."Aku udah mandi. Tapi jadi nggak pede kalau dekat Mas Satria siang-siang begini."Suara Sheza terdengar dari dalam kamar mandi.Satria hanya menanggapinya dengan tawa pelan. Sedikit tak menyangka kalau Sheza bisa merasa seperti itu.Dari balik pintu, ia mendengar suara gemericik air yang tenang.Langkahnya perlahan mendekat sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. Setelah terbuka seluruhnya,

  • KAMAR KEDUA   Bab 240. Rumah yang Dipilih

    Mendengar apa yang dikatakan Satria, Sheza terdiam cukup lama. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Satria sedikit mengencang. "Sendirian?" tanyanya.Satria mengangguk."Kenapa nggak ngajak aku?" Pertanyaan itu keluar pelan dari mulut Sheza. Meski sebenarnya ia sendiri belum siap bila tiba-tiba Satria mengajaknya menengok makam Prabu bersama.Satria memandang Saga yang mulai tertidur pulas di pelukannya. "Aku harus ngobrol sama Prabu dulu. Berdua.”Sheza masih diam. Kini pria itu duduk di salah satu kursi dan ia mengambil Saga yang sudah waktunya tidur di boksnya.“Aku kasih Saga sama Nila dulu,” kata Sheza, pergi sebentar dan tak lama kemudian sudah kembali ke dekat Satria. Pria itu lalu menunjuk lingkaran basah di dadanya.“Kayaknya Saga nyusunya kenyang banget, ya.” Ujung jari Satria menyentuh lingkaran basah itu.Sheza menunduk dan tertawa kecil. “Saga nyusu langsung dan aku baru ngosongin ASI. Dapatnya lumayan banget buat stok malam Saga.”“Ayo, kamu duduk di sini. Kita mak

  • KAMAR KEDUA   Bab 77. Pria Dingin Itu

    Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last update최신 업데이트 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status