Mag-log inSheza memejamkan mata saat Satria merengkuhnya lebih erat.Napasnya sempat tertahan oleh perubahan jarak di antara mereka. Jemarinya spontan mencengkeram bahu pria itu, lalu perlahan mengendur ketika bagian paling lelaki di tubuh Satria memasukinya pelan. Memenuhinya dengan kehangatan yang memabukkan. Ia mengembuskan napas panjang.Rasa gugup yang sempat muncul perlahan larut, berganti dengan ketenangan yang hanya bisa ia rasakan ketika berada dalam pelukan Satria.Pipinya memerah.Mata yang sejak tadi menatap suaminya perlahan terpejam, sementara dahinya menyentuh dahi pria itu."Mas Satria …,” bisiknya lirih.“Hmm.” Satria mengecup bibirnya lembut.Jawaban itu membuat Sheza merasa aman. Sheza menjulurkan tangan untuk membelai rambut Satria. Jemarinya menyelusup di antara helai-helai rambut pria itu. Tangan yang lain mengusap rahang Satria, membelainya dengan lembut, lalu bergerak turun menjelajahi lehernya.Aroma oud yang hangat tercium begitu jelas dari kulit Satria. Hangat dan m
Malam itu, lampu utama kamar sudah dimatikan. Hanya diterangi lampu tidur yang redup kekuningan.Sheza berbaring menyamping membelakangi pintu. Selimut tipis menutupi pinggangnya. Rambut yang sejak pagi dijepit kini telah terurai, menutupi sebagian pipinya.Pintu kamar terbuka perlahan. Satria masuk setenang mungkin. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu meletakkan ponsel di atas nakas.Baru saja merapikan bantalnya, suara pelan terdengar dari sebelahnya. “Kok baru masuk?” Sheza berbalik pelan. Satria menoleh. "Ternyata belum tidur."Sheza mengulurkan tangannya perlahan. "Aku nungguin."Senyum tipis muncul di bibir Satria. "Dari kamar bayi. Tadi Sagara bangun sebentar. Jadi aku gendong ke depan tv. Sekalian nonton bola.”Sheza langsung membalikkan tubuh menghadap suaminya. “Diajakin nonton bola? Anaknya sekarang melek?” “Enggak. Dibawa ke depan tv malah nyenyak.” Satria terkekeh, lalu naik ke ranjang. Sebegitu kepalanya menyentuh bantal, ia lalu bergeser mendekati Sheza. “Sini,” katany
Dua minggu setelah segala kebutuhan administrasi dan surat menyurat dibereskan oleh Ratri, ia meminta asisten rumah tangga menyusun seluruh kopernya di dekat pintu ruang tengah.Dua koper besar. Satu koper kecil milik Raka. Beberapa kardus telah lebih dulu dikirim ke Swiss beberapa hari sebelumnya. Dua hari belakangan ia juga sudah menitipkan banyak pesan-pesan kepada asisten rumah tangga dan seorang asisten pribadi papanya yang sering mengunjungi rumah itu untuk kebutuhan kantor.Rumah itu tampak sama seperti biasanya. Tenang. Nyaris tak berubah. Hanya saja, sudah dua minggu tidak ada lagi percakapan antara Ratri dan papanya. Mereka tinggal di bawah atap yang sama. Berpapasan setiap hari. Namun tak pernah benar-benar saling menyapa.Hendra menjalani harinya seolah tidak pernah terjadi pertengkaran apa pun. Seolah putrinya tidak pernah mengatakan ingin pergi. Seolah semua akan kembali seperti semula.Namun pagi itu … Ratri tahu, ia benar-benar akan meninggalkan rumah tersebut.Ia mer
Bagi Ratri, tak ada hari yang lebih menyakitkan daripada hari itu. Belum genap sehari sejak ia mengetahui Calvin telah meninggal dunia. Luka itu bahkan belum sempat mengering.Namun pagi itu, untuk pertama kali dalam hidup, ia meninggikan suara kepada ayahnya.Pria yang selama ini paling ia hormati. Pria yang membesarkannya seorang diri setelah kepergian sang ibu. Kenangan demi kenangan bermunculan tanpa diminta.Seorang Hendra yang menggandeng tangannya pada hari pertama masuk sekolah. Hendra yang menungguinya demam semalaman. Hendra yang tak pernah absen menghadiri pembagian rapor. Hendra yang selalu mengatakan bahwa selama ia masih hidup, tak akan ada seorang pun yang menyakiti putrinya.Ratri tahu … ayahnya telah mengorbankan begitu banyak hal untuk membesarkannya.Ia tidak pernah meragukan kasih sayang itu.Justru karena itulah ...Meninggalkan Hendra dalam usia yang tak lagi muda dan kondisi kesehatan yang mulai menurun terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang sanggup ia ungka
Tangis Ratri semakin pecah. Tubuhnya sampai berguncang. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangann, berusaha meredam isak yang tak lagi bisa ditahan.Hendra menatap putrinya lama. Wajahnya mulai memerah. Nada bicaranya pun berubah."Kamu begini karena masih membela Calvin?"Ratri tidak menjawab."Kamu lupa apa yang dia lakukan ke kamu?" Suara Hendra meninggi. "Kamu pernah ditampar sama dia, Ratri. Kamu ingat nggak?""Papa yang dari kecil ngebesarin kamu … apa pernah main tangan sama kamu?"Ratri mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah. Pipinya basah."Aku nggak pernah ngebenerin apa yang Mas Calvin lakuin ke aku, Pa." Suaranya bergetar. "Itu salah. Kasar."Ratri mengusap wajahnya. "Aku tahu.""Tapi ….” Ia menggigit bibirnya sendiri. "Apa Papa nggak pernah sadar … kalau Papa juga menghancurkan Mas Calvin sedikit demi sedikit?"Hendra terdiam."Papa terus menghina Mas Calvin. Selalu melecehkan Mas Calvin dengan kata-kata tajam. Papa selalu … selalu masuk dalam masalah rumah tangg
__________Memang sepertinya aku harus pindah dari sini.Aku mulai merasa seperti tahanan.Takut keluar. Takut pulang. Takut setiap orang asing yang menatapku.Kalau mereka memang menginginkan uang itu … kenapa tidak ada satu pun yang menghubungiku untuk membicarakannya?__________Ratri ...Apa kabar? Raka sekarang sudah suka pisang? Atau masih lebih suka apel sama mangga seperti dulu?Aku baru saja menandatangani kontrak kerja. Aku diterima sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Sepertinya jalan hidupku mulai terbuka di sini.Andai kita masih bersama … aku pasti minta kamu dan Raka menyusul ke Swiss.Kita mulai dari nol. Nggak perlu rumah besar. Nggak perlu mobil mahal.Yang penting ... kita tinggal serumah lagi.__________Hari ini aku cuma keluar dua jam. Waktu pulang … rumah sudah berantakan.Ada orang yang masuk dengan kunci. Pintu tidak dibobol tapi semuanya berantakan.Semua laci dibuka. Isi lemari diacak-acak.Aku bahkan nggak sempat membereskannya. Besok pagi aku harus berangk







