LOGIN“Ibu hanya takut Rafa diantar pulang oleh orang yang tidak dikenal.” Aku melepaskan pelukan pelan-pelan, mengusap punggungnya seolah menyingkirkan sisa degup yang masih mengguncang dadaku.
“Tapi, Om itu nggak jahat kok, Bu. Baik. Malah nganterin Rafa sampai depan rumah.” Jawaban polos itu menamparku lebih keras dari kenyataan apa pun. Lidahku kelu. Tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Aku cuma bisa mengangguk kecil, mengatur napas yang tersengal. “Rafa, sekarang masuk kamar, ya. Ganti baju, habis itu ikut Ibu.” Aku berusaha memasang senyum, walau pipiku masih terasa basah oleh sisa air mata. “Tapi, Ibu harus bilang terima kasih dulu ke Om baik itu. Kan Ibu sendiri yang bilang, kalau dibantu orang, kita harus ucapin terima kasih.” Aku terdiam sepersekian detik. Anak sekecil dia bisa sejujur itu, sementara orang dewasa malah ahli berbohong. “Iya,” aku mengangguk lirih. “Ibu akan nemuin Om baik itu. Sekarang Rafa masuk kamar dulu, ya.” Tatapanku kupenuhi dengan permohonan, berharap dia tidak banyak tanya. “Oke.” Rafa berbalik dan berjalan masuk. Langkah kecilnya terasa seperti tikaman lain di rongga hatiku. Aku menghela napas panjang, menegakkan bahu, memaksa segala luka untuk diam. Tanganku menggenggam erat gagang pintu sebelum mendorongnya terbuka. Damar langsung menoleh mendengar derit pintu yang terbuka. “Tunggu.” Suaraku berhasil menghentikan langkahnya yang sudah siap masuk ke dalam mobil. Ia mematung, ragu, lalu menoleh penuh ketidakpastian. Tidak ada jalan lain untuk mengakhiri semuanya. Mau tak mau, aku harus menuntaskan percakapan ini. “Terima kasih sudah nganterin anakku pulang.” Nada suaraku tegas, tak ada ramah tamah di sana. “Dia juga anakku.” Damar menjawab mantap, sorot matanya penuh bara semangat. “Rafa udah nggak punya bapak sejak dia ada di dalam kandungan,” balasku dingin. Kalimatku pelan, tapi tajam. Damar hanya mampu menunduk, mungkin sedang menelan egonya bersama rasa bersalah. “Aku cuma mau bilang,” lanjutku sembari menyilangkan tangan di dada, “jangan pernah lagi datang menemui Rafa. Apalagi ngaku menjadi bapaknya. Buat Rafa, bapaknya sudah mati.” Damar mendongak cepat, jelas kaget. Rahangnya mengeras, matanya memerah, mungkin antara marah dan malu. “Aku masih hidup, Ratih.” Suaranya terdengar berat, seakan menahan sesuatu yang ingin meledak. “Dan darahku tetap mengalir di tubuhnya.” “Betul.” Aku mengangguk tipis, menatapnya tanpa gentar. “Sayangnya, aku sudah terlanjur bilang bapaknya mati. Jadi berhenti berharap bisa ambil peran yang sudah kamu kubur sendiri.” Wajahnya berubah tegang. Ada amarah, ada penyesalan, ada kesombongan yang masih tersisa. “Jangan lupa, kita masih sah suami istri,” Damar menekan setiap kata, seperti hendak mengingatkanku tentang sesuatu yang masih bisa ia menangkan. “Kapan saja aku bisa datang ke rumah ini.” Aku tersenyum miring, senyum paling sinis yang bisa kupaksakan. “Nggak usah khawatir,” jawabku tenang, “Sebentar lagi bukan lagi suamiku. Aku akan ajukan khulu secepatnya.” Udara di antara kami terasa panas sekita. Damar terlihat menelan ludah dengan susah payah. “Apa segitu bencinya kamu sama aku? Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku lagi?" Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh di telingaku. Dia benar-benar tak tahu diri, atau pura-pura lupa apa yang sudah dia lakukan? “Aku minta maaf atas semua luka yang kutorehkan." Suaranya pelan, penuh penyesalan, seolah kata itu cukup untuk membenamkan semua dosa-dosanya. Aku terkekeh sinis, tawa yang penuh ejekan. Apa dia pikir satu kata ‘maaf’ bisa menyapu habis luka yang di dada ini? “Katakan,” lanjutnya lirih, “bagaimana cara aku minta maaf padamu?” Mataku menatapnya tajam, tanpa ampun. “Jauhi Rafa. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!” Ucapanku keluar tegas, mantap, tanpa jeda sebelum aku membalikkan badan dan meninggalkan dia yang berdiri mematung. Aku kembali masuk ke rumah. Pintu kututup pelan, seolah takut suara debamnya mengguncang perasaanku yang masih compang-camping. Aku melihat ke arah pintu kamar Rafa, masih tertutup. Jalan satu-satunya, aku harus segera bercerai dengan Damar. Statusku harus jelas. Aku memantapkan hati. Kualihkan pandanganku pada ponsel. Jari-jariku sempat ragu sebelum menekan nama yang sudah lama tidak kusapa. “Assalamualaikum, Ratih. Gimana kabarnya?” suara Afrizal terdengar ramah. “Waalaikumussalam, Pak Afrizal. Alhamdulillah, kabar baik.” “Tumben nelpon, ada apa?” “Gini… aku butuh bantuan Anda. Aku… mau mengajukan perceraian.” “Cerai? Memangnya Ibu punya suami? Bukankah Ayah sudah lama meninggal dunia?” Suara itu datang bukan dari seberang telepon. Tapi dari belakang punggungku. Tubuhku langsung kaku. Ponsel hampir terlepas dari genggaman. Aku tak berani menoleh. Napasku tercekat. Pertanyaan Rafa yang polos menghantam tepat d4 da ini, hingga membuatku kesulitan untuk bernapas. “Bu, kenapa diam?” tanya Rafa lagi. Langkah kecilnya makin dekat. Derap kecil Rafa membuatku kian takut. Takut anak itu mampu membaca kebohongan dari sorot mata ini. Aku mengigit bibir, memejamkan mata dengan pikiran yang kacau. Rafa anak yang kritis. Bagaimana jika ia tahu kalau aku telah berbohong padanya tentang bapaknya selama ini? Dan bagaimana jika Rafa justru membenci aku setelah ini?“Namun, saya tetap minta kamu waspada—bukan karena hukumnya, tapi karena langkah di luar hukum.”Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya. “Secara teori hukum, Damar hampir tidak punya peluang. Tapi pengadilan bukan satu-satunya medan. Orang seperti dia seringkali bermain bukan di ranah hukum—dan itu yang harus kita antisipasi.”Aku menarik napas, sedikit lega. Tapi, tidak benar-benar bisa tenang. Sebagai orang yang mengenal pribadi Damar, ketakutan itu masih ada meski kadarnya sudah tidak sebanyak tadi. “Ratih, fokus kamu sekarang satu saja, jaga kondisi kamu dan Rafa. Urusan menghadapi Damar, biar saya yang berdiri di depan. Kamu tidak sendirian dalam perkara ini,” ucap Afrizal, seolah bisa membaca pikiranku. Setelah konsultasi yang cukup panjang dengan Afrizal, aku pun pamit pulang dari gedung yang berada di barisan ruko-ruko elite di kota ini. Ke luar dari ruko, aku menatap jajaran bangunan yang ada di seberangnya. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa sedikit menenangkan pikiranku.Da
“Bu, kenapa sih sekarang makannya sedikit sekali. Bahkan, seperti orang yang tidak nafsu makan.” Teguran Rafa membuatku tercekat. Refleks, aku menghentikan tangan yang sedang mengaduk-aduk makan. Sendok kuletakkan di atas piring.“Makanannya nggak enak emangnya, Bu?” Rafa menirukan gaya bicaraku kala melihatnya tidak nafsu makan. Aku tersenyum tipis menanggapinya.“Ibu lagi diet,” jawabku asal.“Kalau mau diet seharusnya Ibu nggak ngambil piring. Cukup temani Rafa makan.” Aku kembali tersenyum mendengar sentilannya. “Baik, Bos. Lain kali Ibu tidak akan ambil piring deh,” jawabku sekenanya demi menyenangkan hatinya. Nyatanya, bukan karena diet aku menolak makanan. Tapi, pikiranku yang tidak tenang hingga menghilangkan nafsu makan. Sejak kedatangan Damar kemarin, aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Tidak bisa makan dengan kenyang. Kepalaku selalu berisik dengan ancaman Damar. Tinggal dua hari lagi kami bertemu di persidangan. Aku tahu, secara teori hukum dia pasti kalah.
“Izinkan aku masuk ke dalam,” katanya pelan, suaranya berat tapi jelas bergetar.Aku menahan napas, lalu meraih daun pintu erat-erat, seolah itu satu-satunya pelindungku. “Untuk apa kamu datang ke sini?” suaraku serak, bergetar.“Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” jawabnya, tatapannya menembus mataku.Aku menggeleng cepat, menahan amarah yang bercampur ketakutan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergilah sebelum anakku pulang melihat kehadiranmu.”Damar mendesah panjang, wajahnya menegang. “Untuk itulah aku datang ke sini.”Aku menyipitkan mata, jantungku berdegup kencang.Aku duduk di teras. Aku sengaja tak membiarkan lelaki itu masuk ke dalam rumahku. Ada ruang yang tak pantas ia injak lagi, setelah luka bertahun-tahun ia tinggalkan tanpa peduli. “Maksudmu apa?” Nada suaraku meninggi, hampir tak terkendali.“Aku sudah menerima surat panggilan dari pengadilan agama.” “Lalu apa masalahnya? Tinggal datang. Bisa kan?” Damar mengatur napas panjang. “Aku mohon cabut
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Berteman. Kata itu terdengar sederhana. Ringan. Tapi bagiku, kata itu sangat menakutkan bagiku. Karena bisa membuka lama dan menyerat Rafa menuju masa lalu yang selama ini kukunci rapat-rapat. Rafa tidak tahu apa-apa. Ia hanya melihat Azka sebagai anak kecil yang lapar, lelah, dan sendirian. Ia tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Azka adalah darah yang sama dengan darahnya yang mengalir dari ayahnya. Lelaki yang pernah mengkhianati kami dengan segala keburukannya. Aku mengalihkan pandangan ke Azka. Bocah itu berdiri diam di depan rumah reyotnya. Tangannya menggenggam bungkusan nasi dan uang yang tadi kuberikan, seolah benda-benda itu adalah harta paling berharga di dunia. Dan entah kenapa… hatiku semakin hancur melihatnya. “Bu?” Rafa memanggil lagi, suaranya lebih pelan. “Kenapa diam?” Aku menghela napas panjang. “Berteman itu boleh,” jawabku akhirnya. Suaraku lirih, nyaris tak terdengar. “Asal Rafa tetap nurut
"Bu, boleh ya Azka pulang ke rumah kita?”Aku mematung mendengar permintaan polos Rafa. Napasku tercekat di tenggorokan.Allah… apa maksud Engkau mengirimkan Azka di hidup kami?Anak ini polos. Tidak tahu apa-apa. Tidak tahu urusan ibunya di masa lalu. Salah jika aku membencinya. Namun, menerima Azka begitu saja rasanya mustahil. Karena, di balik kepolosan itu, aku tahu—tidak menutup kemungkinan Rafa akan semakin dekat dengan ayahnya. Dan aku… aku belum siap untuk itu.Aku mengusap wajahku kasar, menahan napas yang hampir tercekat. Tanganku gemetar. Tapi aku harus tetap tenang, setidaknya di depan Rafa dan bocah itu.“Memangnya kamu nggak sekolah?” Aku mencoba menahan suara yang mulai bergetar.Azka menggeleng, pandangannya menunduk lebih dalam. “Bajuku basah. Kemarin kamar kami kebocoran.”Allah… sesusah itukah hidup mereka? Dadaku remuk. Rasanya ingin aku peluk bocah itu, sembari menumpahkan seluruh kesedihan dan penyesalanku. Tapi luka lama tentang Dina menahan semua itu.Rafa mena
Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela







