Share

Bab 6 Jauhi Dia!

Author: Farid-ha
last update Last Updated: 2025-01-04 08:25:24

“Ibu hanya takut Rafa diantar pulang oleh orang yang tidak dikenal.” Aku melepaskan pelukan pelan-pelan, mengusap punggungnya seolah menyingkirkan sisa degup yang masih mengguncang dadaku.

“Tapi, Om itu nggak jahat kok, Bu. Baik. Malah nganterin Rafa sampai depan rumah.”

Jawaban polos itu menamparku lebih keras dari kenyataan apa pun. Lidahku kelu. Tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar.

Aku cuma bisa mengangguk kecil, mengatur napas yang tersengal.

“Rafa, sekarang masuk kamar, ya. Ganti baju, habis itu ikut Ibu.” Aku berusaha memasang senyum, walau pipiku masih terasa basah oleh sisa air mata.

“Tapi, Ibu harus bilang terima kasih dulu ke Om baik itu. Kan Ibu sendiri yang bilang, kalau dibantu orang, kita harus ucapin terima kasih.”

Aku terdiam sepersekian detik. Anak sekecil dia bisa sejujur itu, sementara orang dewasa malah ahli berbohong.

“Iya,” aku mengangguk lirih. “Ibu akan nemuin Om baik itu. Sekarang Rafa masuk kamar dulu, ya.” Tatapanku kupenuhi dengan permohonan, berharap dia tidak banyak tanya.

“Oke.” Rafa berbalik dan berjalan masuk. Langkah kecilnya terasa seperti tikaman lain di rongga hatiku.

Aku menghela napas panjang, menegakkan bahu, memaksa segala luka untuk diam. Tanganku menggenggam erat gagang pintu sebelum mendorongnya terbuka.

Damar langsung menoleh mendengar derit pintu yang terbuka.

“Tunggu.”

Suaraku berhasil menghentikan langkahnya yang sudah siap masuk ke dalam mobil. Ia mematung, ragu, lalu menoleh penuh ketidakpastian.

Tidak ada jalan lain untuk mengakhiri semuanya. Mau tak mau, aku harus menuntaskan percakapan ini.

“Terima kasih sudah nganterin anakku pulang.” Nada suaraku tegas, tak ada ramah tamah di sana.

“Dia juga anakku.” Damar menjawab mantap, sorot matanya penuh bara semangat.

“Rafa udah nggak punya bapak sejak dia ada di dalam kandungan,” balasku dingin.

Kalimatku pelan, tapi tajam. Damar hanya mampu menunduk, mungkin sedang menelan egonya bersama rasa bersalah.

“Aku cuma mau bilang,” lanjutku sembari menyilangkan tangan di dada, “jangan pernah lagi datang menemui Rafa. Apalagi ngaku menjadi bapaknya. Buat Rafa, bapaknya sudah mati.”

Damar mendongak cepat, jelas kaget. Rahangnya mengeras, matanya memerah, mungkin antara marah dan malu.

“Aku masih hidup, Ratih.” Suaranya terdengar berat, seakan menahan sesuatu yang ingin meledak. “Dan darahku tetap mengalir di tubuhnya.”

“Betul.” Aku mengangguk tipis, menatapnya tanpa gentar.

“Sayangnya, aku sudah terlanjur bilang bapaknya mati. Jadi berhenti berharap bisa ambil peran yang sudah kamu kubur sendiri.”

Wajahnya berubah tegang. Ada amarah, ada penyesalan, ada kesombongan yang masih tersisa.

“Jangan lupa, kita masih sah suami istri,” Damar menekan setiap kata, seperti hendak mengingatkanku tentang sesuatu yang masih bisa ia menangkan. “Kapan saja aku bisa datang ke rumah ini.”

Aku tersenyum miring, senyum paling sinis yang bisa kupaksakan.

“Nggak usah khawatir,” jawabku tenang, “Sebentar lagi bukan lagi suamiku. Aku akan ajukan khulu secepatnya.”

Udara di antara kami terasa panas sekita. Damar terlihat menelan ludah dengan susah payah.

“Apa segitu bencinya kamu sama aku? Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku lagi?"

Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh di telingaku. Dia benar-benar tak tahu diri, atau pura-pura lupa apa yang sudah dia lakukan?

“Aku minta maaf atas semua luka yang kutorehkan." Suaranya pelan, penuh penyesalan, seolah kata itu cukup untuk membenamkan semua dosa-dosanya.

Aku terkekeh sinis, tawa yang penuh ejekan.

Apa dia pikir satu kata ‘maaf’ bisa menyapu habis luka yang di dada ini?

“Katakan,” lanjutnya lirih, “bagaimana cara aku minta maaf padamu?”

Mataku menatapnya tajam, tanpa ampun.

“Jauhi Rafa. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!”

Ucapanku keluar tegas, mantap, tanpa jeda sebelum aku membalikkan badan dan meninggalkan dia yang berdiri mematung.

Aku kembali masuk ke rumah. Pintu kututup pelan, seolah takut suara debamnya mengguncang perasaanku yang masih compang-camping.

Aku melihat ke arah pintu kamar Rafa, masih tertutup.

Jalan satu-satunya, aku harus segera bercerai dengan Damar. Statusku harus jelas.

Aku memantapkan hati.

Kualihkan pandanganku pada ponsel. Jari-jariku sempat ragu sebelum menekan nama yang sudah lama tidak kusapa.

“Assalamualaikum, Ratih. Gimana kabarnya?” suara Afrizal terdengar ramah.

“Waalaikumussalam, Pak Afrizal. Alhamdulillah, kabar baik.”

“Tumben nelpon, ada apa?”

“Gini… aku butuh bantuan Anda. Aku… mau mengajukan perceraian.”

“Cerai? Memangnya Ibu punya suami? Bukankah Ayah sudah lama meninggal dunia?”

Suara itu datang bukan dari seberang telepon.

Tapi dari belakang punggungku.

Tubuhku langsung kaku. Ponsel hampir terlepas dari genggaman.

Aku tak berani menoleh.

Napasku tercekat.

Pertanyaan Rafa yang polos menghantam tepat d4 da ini, hingga membuatku kesulitan untuk bernapas.

“Bu, kenapa diam?” tanya Rafa lagi. Langkah kecilnya makin dekat.

Derap kecil Rafa membuatku kian takut. Takut anak itu mampu membaca kebohongan dari sorot mata ini.

Aku mengigit bibir, memejamkan mata dengan pikiran yang kacau.

Rafa anak yang kritis. Bagaimana jika ia tahu kalau aku telah berbohong padanya tentang bapaknya selama ini? Dan bagaimana jika Rafa justru membenci aku setelah ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa Alasan Kau Pertemuan Kami Lagi?

    Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Karma Itu Nyata

    "Iya, karena punya anak yang sakit-sakitan. Rafi sebentar-sebentar masuk rumah sakit. Aku kasihan dengan Mas Damar waktu itu, Mbak. Mas Damar capek kerja tapi uang hanya habis untuk mengobati anaknya yang punya gangguan imun. Dan di saat itu, Rinjani yang masih mencinta Mas Damar sering memberikan aku banyak uang. Hingga aku khilaf. itulah dosaku, Mbak.” Suara Dina semakin serak dan bergetar.Tapi, sayangnya tidak mampu menggetarkan hatiku sama sekali.“Kamu pikir Rafi mau punya penyakit seperti itu? Hah? Kamu pikir penyakit itu kami yang buat, hah?” Darahku naik ke ubun-ubun, suaraku tak lagi bisa dikendalikan. Aku berdiri dengan telunjuk mengacung ke arah wajahnya.“Dasar manusia pisang! Punya jantung tapi tidak punya hati! Kalau kamu punya otak, seharusnya menyuruh Damar semakin menyayangi anaknya yang sedang sakit bukan suruh menjauhinya. Sepertinya karma yang kamu dapatkan itu belum setimpal dengan perbuatanmu, Dina!”Spontan Dina berlutut, memegangi kakiku dengan wajah yang ba

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Kejahatan Dina

    “Tapi, aku tidak punya waktu untuk mendengar ceritamu!” Aku menjawab dengan tegas setelah bisa menguasai keadaan.“Aku akan menunggu kesiapan Mbak Ratih.” Dina menjawab tanpa keraguan.Ngeyel juga ini orang.“Rasa bersalah ini sebenarnya sudah lama menghantui aku, Mbak. Tapi, tidak tahu harus mencari Mbak Ratih ke mana. Dan aku yakin, keinginan Azka untuk makan di kedai ini kemarin bukan sebuah kebetulan,” ucap Dina dengan suara serak di tengah isak tangisnya.Aku terdiam. Namun, mata ini memandang ke sekeliling, terlihat beberapa pasang mata menatap aneh ke arah kami.Pasti mereka berpikir owner Seblak ECO telah berlaku yang tidak-tidak terhadap orang yang lemah. Pasti, di mata mereka aku seperti orang jahat. Sungguh ironis. Padahal, bukan seperti itu kejadian yang sesungguhnya.Dina menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Penuh permohonan.“Tolong kasih kesempatan aku untuk mengungkap semuanya, Mbak.”Aku menatap matanya lebih dalam. Menelusuri keseriusannya. Dan dia tampak tida

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Rahasia Dina

    Dina tampak menunduk, menatap piring di hadapannya yang mulai dingin. Azka, bocah kecil itu, menoleh bingung ke arah ibunya. Tangannya mengguncang lengan Dina, seakan menyadarkan ibunya. Tapi Dina hanya diam. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya kaku. Seperti seseorang yang sedang merenungi sesuatu. Aku menarik napas panjang, menempelkan dahi pada kaca dingin itu. Membiarkan amarah dan sakit hatiku menekan kuat-kuat di dada.Aku tahu, apa yang kulihat di wajah Dina saat ini bukan sekadar keterkejutan. Ada penyesalan yang dalam.Sepertinya di sini, bukan aku saja yang hidup dengan menggenggam luka. Dina pun sama. Luka itu membuat wajahnya kucel, membuat bahunya merunduk, membuat sorot matanya kosong. Bedanya, aku mampu sekarang sudah bisa berdiri dengan kepala tegak sambil mengangkat dagu, sementara ia masih tampak berjuang dengan keras. Tapi apa artinya penyesalan itu bagiku sekarang? Tidak bisa mengembalikan Rafi. Tidak bisa menghapus malam-malam panjang penuh tangis dan doa yang kulalui

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Aku Tidak Boleh Simpati!

    “Dina?” Tubuhku membeku saat nama itu tereja dari bibir ini.Kenapa dia itu harus muncul di hadapanku lagi? Perempuan yang dengan terang-terangan punya andil dalam kehancuran hatinya Rafi.Sungguh, hatiku masih sakit. Terlebih saat aku menoleh ke arah bocah yang ada di sampingnya. Wajahnya mirip sekali dengan almarhum anakku, Rafi.Allah….Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di saat seperti ini. Kenapa aku harus melihat anak yang wajahnya nyaris mirip dengan Rafi?“Mbak Ratih?” Meski tidak terucap, aku tahu pergerakan bibir Dina yang juga tampak syok dengan kehadiranku di sini.Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk menguasai keadaan. Tidak boleh terlihat hancur di mata Dina.Aku harus profesional. Dia adalah customer yang wajib mendapatkan haknya, dilayaninya dengan baik atau ramah.Dengan langkah pasti, aku kembali melanjutkan langkah, berjalan ke arah meja mereka.“Pesanan meja nomor sepuluh.” Aku tersenyum ramah ke Dina yang terlihat tersenyum canggung.“Mbak, apa

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 14. Kenapa Ada Di Sini?

    Suami saya tidak di rumah, Mbak.” Aku tersenyum canggung. Hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas di dalam kepala ini.Sakinah terlihat membuka bibir, sebelum pertanyaan lain di lemparkan, aku segera membuka suara kembali."Semoga secepatnya suami Mbak Sakina segera menyadari kekeliruannya dan bisa membuka hati sepenuhnya untuk istri, ya, Mbak." Aku mendoakan dengan sepenuh hati."Aamiin. Makasih banyak, ya, Mbak. Dengan Mbak Ratih aku merasa nyaman untuk bercerita. Selama ini aku pendam sendiri. Sembilan tahun lamanya. Di luar, orang melihat kami pasangan yang serasi, punya usaha, hubungan yang tampak harmonis. Mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan cadangan meski sebagai istri sah."Aku tidak tahu lagi harus ngomong apa lagi. Pasti berat banget menjadi Sakina. Tidak bisa dibayangkan bagaimana berada di posisinya.Sampai tadi, aku masih berpikir perjalanan rumah tanggaku yang paling berat. Diuji anak yang sakit-sakitan, lalu tinggal minggat saat hamil muda. Tapi,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status