Masuk“Berarti ayah Rafa masih hidup, Bu?”
Aku tergagap mendengar pertanyaan Rafa yang kian tajam. Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu terasa seperti pisau dingin yang menembus d4 daku tanpa ampun. Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjaga napas agar tidak bergetar. Tanganku refleks meremas ujung jilbab, mencari pegangan di antara gemuruh rasa bersalah dan panik yang tiba-tiba menyerbu. “Tadi… tadi ibu sedang membantu teman yang mau cerai,” ucapku akhirnya, dengan suara gugup dan parau. Aku buru-buru memasukkan handphone ke dalam saku baju, tanpa sempat mematikannya lebih dulu. Seolah dengan menyembunyikan benda itu, aku juga bisa menyembunyikan kebenaran yang belum siap kuungkap. “Allah… maafkan hamba yang harus kembali berbohong," bisikku dalam hati, nyaris tanpa suara. Kejujuran seperti duri. Aku tahu harus mencabutnya cepat-cepat, tapi aku takut darah yang keluar justru tak akan berhenti mengalir. Aku belum siap, sungguh belum siap mengungkapkan semuanya. “Oh, untuk teman Ibu?” Rafa tersenyum lega, polos seperti biasanya. “Kirain ibu yang mau cerai.” Aku ikut tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke mata. Rasanya hambar. Kaku. Seperti topeng yang kupasang agar dunia tidak tahu betapa hancurnya aku di baliknya. “Kita mau ke mana, Bu?” tanya Rafa lagi, menatapku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Aku terdiam sejenak. Kepala kosong. Aku bahkan belum sempat memikirkan hendak pergi ke mana setelah semua ini. Belum sempat kuatur napas, suara dari saku bajuku memecah keheningan. “Bagaimana kalau kita bertemu di Cafe Penuh Kenangan. Sepertinya banyak hal yang harus kita bicarakan. Di sana juga ada tempat bermain untuk anak.” Suara Afrizal terdengar jelas, membuat dadaku langsung mencelos. “Oke. Sampai ketemu di sana. Setengah jam dari sekarang.” Aku terpaku. “Siapa yang berbicara, Bu?” Rafa menatap ke arah saku bajuku dengan wajah penuh tanda tanya. “Teman Ibu, Sayang,” jawabku cepat-cepat, mencoba tersenyum normal. “Kita mau ke kafe, ya? Ibu mau ketemu teman, kamu bisa main sepuasnya di sana.” “Mau! Hore!” Rafa meloncat kegirangan, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang kutahan di dalam dada. --- Kafe itu ramai sore ini. Tapi bagiku, setiap suara gelas beradu dan tawa orang-orang terasa jauh. Semua seperti sayup, tertelan pikiran yang tidak mau diam. Rafa sedang bermain perosotan, tertawa riang bersama anak lain yang baru saja dikenalnya. Suara tawanya lembut, tulus… dan menamparku keras-keras. Karena di balik tawa itu, ada kebohongan yang sedang kuhidupi. “Kenapa kamu merahasiakan perceraian kalian?” tanya Afrizal tiba-tiba. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membangunkan pikiranku dari kekosongan. Aku menelan ludah, menatap punggung kecil Rafa yang berlari ke arah jungkat-jungkit. Dadaku terasa nyeri melihatnya sebahagia itu. “Karena setahu Rafa… ayahnya sudah mati sejak dalam kandungan.” Kata-kata itu keluar perlahan, tapi beratnya seperti mengangkat batu di atas dada. Afrizal menatapku lama. Tatapannya penuh empati, tapi di matanya juga tersimpan sesuatu, mungkin rasa iba, mungkin juga terkejut. “Kamu ditinggalkan selama itu?” tanyanya pelan. Aku mengangguk. “Benar.” Suaraku sendiri terasa asing di telinga ini. “Sayangnya dia masih sah menjadi suamiku. Aku ingin mengakhiri semua. Sepenuhnya.” Afrizal menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. “Oke. Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Biasanya aku akan minta klienku mempertimbangkan lagi, tapi kali ini….” Ia menatapku dengan tatapan penuh hormat. “Aku gak akan menyarankan itu untukmu.” Aku menatapnya, berusaha menahan air mata yang sudah mendesak di pelupuk. “Terima kasih, Pak,” ucapku lirih. “Aku memang gak punya keinginan sedikit pun untuk kembali bersamanya. Jangankan kembali hidup bersama… kemunculannya saja sudah cukup membuat hidupku porak poranda.” “Dia masih berusaha mendekatimu?” Suara Afrizal merendah. Aku tersenyum getir. “Pak Afrizal tahu nggak rasanya, saat kembali bertemu dengan seseorang yang membuat luka setelah kita bersusah payah menyulam luka, menambal hidup yang robek, dan akhirnya mulai merasa tenang… tapi tiba-tiba semua diruntuhkan dengan kemunculannya?” Aku menarik napas panjang, kembali menoleh ke arah Rafa yang sedang tertawa riang dengan teman barunya. “Kedatangannya hanya membuat dan menambah luka baru,” lanjutku pelan. Afrizal terdiam lama. Sementara aku, menatap Rafa yang masih tertawa lepas. Tawa yang jadi pengingat bahwa aku tak boleh menyerah , meski hatiku ini kembali hancur. Rafa masih berlari-larian di area permainan. Suara tawanya menggema, bercampur dengan riuh anak-anak lain yang bermain kejar-kejaran. Aku sesekali menoleh ke arahnya, memastikan ia baik-baik saja, sebelum kembali menatap kopi yang sudah mulai dingin di hadapanku. “Kadang aku iri sama anak-anak,” ucapku pelan, setengah bicara pada diri sendiri. “Mereka begitu mudah tertawa, padahal dunia di sekitar mereka belum tentu seindah itu.” Afrizal menatapku, tapi sebelum sempat menjawab, suara tawa Rafa kembali terdengar, kali ini disusul suara benturan kecil yang membuatku menoleh. Jantungku seolah berhenti berdetak melihat pemandangan di depan sana. I“Namun, saya tetap minta kamu waspada—bukan karena hukumnya, tapi karena langkah di luar hukum.”Aku mengangguk, mengiyakan ucapannya. “Secara teori hukum, Damar hampir tidak punya peluang. Tapi pengadilan bukan satu-satunya medan. Orang seperti dia seringkali bermain bukan di ranah hukum—dan itu yang harus kita antisipasi.”Aku menarik napas, sedikit lega. Tapi, tidak benar-benar bisa tenang. Sebagai orang yang mengenal pribadi Damar, ketakutan itu masih ada meski kadarnya sudah tidak sebanyak tadi. “Ratih, fokus kamu sekarang satu saja, jaga kondisi kamu dan Rafa. Urusan menghadapi Damar, biar saya yang berdiri di depan. Kamu tidak sendirian dalam perkara ini,” ucap Afrizal, seolah bisa membaca pikiranku. Setelah konsultasi yang cukup panjang dengan Afrizal, aku pun pamit pulang dari gedung yang berada di barisan ruko-ruko elite di kota ini. Ke luar dari ruko, aku menatap jajaran bangunan yang ada di seberangnya. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa sedikit menenangkan pikiranku.Da
“Bu, kenapa sih sekarang makannya sedikit sekali. Bahkan, seperti orang yang tidak nafsu makan.” Teguran Rafa membuatku tercekat. Refleks, aku menghentikan tangan yang sedang mengaduk-aduk makan. Sendok kuletakkan di atas piring.“Makanannya nggak enak emangnya, Bu?” Rafa menirukan gaya bicaraku kala melihatnya tidak nafsu makan. Aku tersenyum tipis menanggapinya.“Ibu lagi diet,” jawabku asal.“Kalau mau diet seharusnya Ibu nggak ngambil piring. Cukup temani Rafa makan.” Aku kembali tersenyum mendengar sentilannya. “Baik, Bos. Lain kali Ibu tidak akan ambil piring deh,” jawabku sekenanya demi menyenangkan hatinya. Nyatanya, bukan karena diet aku menolak makanan. Tapi, pikiranku yang tidak tenang hingga menghilangkan nafsu makan. Sejak kedatangan Damar kemarin, aku tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Tidak bisa makan dengan kenyang. Kepalaku selalu berisik dengan ancaman Damar. Tinggal dua hari lagi kami bertemu di persidangan. Aku tahu, secara teori hukum dia pasti kalah.
“Izinkan aku masuk ke dalam,” katanya pelan, suaranya berat tapi jelas bergetar.Aku menahan napas, lalu meraih daun pintu erat-erat, seolah itu satu-satunya pelindungku. “Untuk apa kamu datang ke sini?” suaraku serak, bergetar.“Ada hal penting yang harus kita bicarakan,” jawabnya, tatapannya menembus mataku.Aku menggeleng cepat, menahan amarah yang bercampur ketakutan. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Pergilah sebelum anakku pulang melihat kehadiranmu.”Damar mendesah panjang, wajahnya menegang. “Untuk itulah aku datang ke sini.”Aku menyipitkan mata, jantungku berdegup kencang.Aku duduk di teras. Aku sengaja tak membiarkan lelaki itu masuk ke dalam rumahku. Ada ruang yang tak pantas ia injak lagi, setelah luka bertahun-tahun ia tinggalkan tanpa peduli. “Maksudmu apa?” Nada suaraku meninggi, hampir tak terkendali.“Aku sudah menerima surat panggilan dari pengadilan agama.” “Lalu apa masalahnya? Tinggal datang. Bisa kan?” Damar mengatur napas panjang. “Aku mohon cabut
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Berteman. Kata itu terdengar sederhana. Ringan. Tapi bagiku, kata itu sangat menakutkan bagiku. Karena bisa membuka lama dan menyerat Rafa menuju masa lalu yang selama ini kukunci rapat-rapat. Rafa tidak tahu apa-apa. Ia hanya melihat Azka sebagai anak kecil yang lapar, lelah, dan sendirian. Ia tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh Azka adalah darah yang sama dengan darahnya yang mengalir dari ayahnya. Lelaki yang pernah mengkhianati kami dengan segala keburukannya. Aku mengalihkan pandangan ke Azka. Bocah itu berdiri diam di depan rumah reyotnya. Tangannya menggenggam bungkusan nasi dan uang yang tadi kuberikan, seolah benda-benda itu adalah harta paling berharga di dunia. Dan entah kenapa… hatiku semakin hancur melihatnya. “Bu?” Rafa memanggil lagi, suaranya lebih pelan. “Kenapa diam?” Aku menghela napas panjang. “Berteman itu boleh,” jawabku akhirnya. Suaraku lirih, nyaris tak terdengar. “Asal Rafa tetap nurut
"Bu, boleh ya Azka pulang ke rumah kita?”Aku mematung mendengar permintaan polos Rafa. Napasku tercekat di tenggorokan.Allah… apa maksud Engkau mengirimkan Azka di hidup kami?Anak ini polos. Tidak tahu apa-apa. Tidak tahu urusan ibunya di masa lalu. Salah jika aku membencinya. Namun, menerima Azka begitu saja rasanya mustahil. Karena, di balik kepolosan itu, aku tahu—tidak menutup kemungkinan Rafa akan semakin dekat dengan ayahnya. Dan aku… aku belum siap untuk itu.Aku mengusap wajahku kasar, menahan napas yang hampir tercekat. Tanganku gemetar. Tapi aku harus tetap tenang, setidaknya di depan Rafa dan bocah itu.“Memangnya kamu nggak sekolah?” Aku mencoba menahan suara yang mulai bergetar.Azka menggeleng, pandangannya menunduk lebih dalam. “Bajuku basah. Kemarin kamar kami kebocoran.”Allah… sesusah itukah hidup mereka? Dadaku remuk. Rasanya ingin aku peluk bocah itu, sembari menumpahkan seluruh kesedihan dan penyesalanku. Tapi luka lama tentang Dina menahan semua itu.Rafa mena
Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela







