Beranda / Rumah Tangga / KINASIH / Perempuan gatal

Share

Perempuan gatal

Penulis: Bulbin
last update Tanggal publikasi: 2025-10-27 22:23:29

Pertemuan dengan masa lalunya, membuat perasaan Bayu menjadi tak menentu. Dia senang karena dapat melihat kembali, wajah ayu yang selama ini dirindukan. Namun, bayang penolakan di malam itu, diikuti senyum bahagia Asih dan Aryo di acara pernikahan mereka, membuat dada Bayu seketika lara, pedih tak terkira.

Bayu terus mondar-mandir di kamarnya. Jam menunjuk pukul sebelas malam dan kantuknya tak kunjung datang. Dia keluar kamar, turun menuju kolam renang di samping rumah.

Bukan untuk berenang. Bayu memilih duduk sendiri di tepian kolam, dengan kaki yang terjuntai ke dalam air.

Dingin mulai merayap naik dari kakinya. Bayu tetap diam, mencoba menghirup udara malam yang tenang dan terang oleh cahaya bulan.

Sementara itu di dalam kamarnya, Asih gelisah. Dia bangkit perlahan, meninggalkan tempat tidur dan berjalan mengendap ke arah pintu. Tak ingin mengganggu yang lain, Asih membukanya dengan hati-hati. Dia berjalan melewati dapur dan teringat sesuatu, dia belum mengunci pintu samping, di mana itu sebenarnya tugas Susi. Namun entah mengapa, akhir-akhir ini selalu saja dia yang diminta untuk melakukan semuanya.

Asih berjalan pelan menyusuri ruang demi ruang di rumah mewah itu dalam cahaya temaram. Keheningan membuatnya tersenyum pilu, karena saat seperti itu, berbagai pikiran mendadak berlomba untuk muncul dalam benak.

(Itu siapa? )

Asih mengeryit, coba untuk memperjelas penglihatannya. Lalu menarik kembali tangan yang siap menutup pintu kaca itu. Naas, tatapannya justru bertemu dengan orang di tepi kolam yang kini menatap dan melambai —meminta Asih untuk mendekat.

Dengan ragu, Asih mendekat. Dia yang saat itu memakai baju tidur panjang berwarna lembut, membuat Bayu semakin tersenyum lebar.

"Kamu belum tidur, As?"

Asih masih berdiri kaku di dekat Bayu. Kemudian, laki-laki itu bangkit dan mengajak Asih ke kursi yang ada di sana.

Bayu kembali mengulang pertanyaannya dan Asih, menjawab dengan wajah menunduk.

Sadar akan itu, Bayu cepat-cepat meraih baju dan mengenakannya.

"Maaf, As. Tadi panas banget."

Bayu tertawa kecil untuk mencairkan ketegangan di antara mereka, dan lanjut berkata, "udah nggak usah nunduk terus, nggak ada duit jatuh kok."

Wanita itu mengangkat wajah dan cepat memalingkannya saat tatapan mereka kembali bertemu.

"Asih, gimana kabar keluargamu? Di mana Aryo sekarang?"

Bayu membuka obrolan, sedangkan Asih terlihat tak nyaman. Namun dia tetap menjawab, meski suaranya lirih.

Bayu merasa ada sesuatu yang ditutupi, namun dia tak ingin menanyakan lebih lanjut. Dia mengalihkan topik, membahas keseharian mereka dan entah siapa yang memulai, pembahasan itu merembet sampai ke masa lalu.

"Andai dulu aku lebih cepat ya, As. Mungkin, sekarang kamu di sini, jadi istriku," tutur Bayu dengan mata menerawang. Asih diam sesaat, menatap sekilas pada wajah yang dulu menemaninya dan membuka suara.

"Sekarang aku juga di sini, Mas. Toh takdir tak ada yang tahu. Mau sekuat apa kita mengelak, takdir selalu berjalan sesuai perintah-Nya."

Keduanya bergeming, sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

"Maaf, Mas. Sudah malam, aku kembali ke kamar dulu. Mas juga istirahat, jaga kesehatan," ucap Asih yang berdiri dan menjauh. Meninggalkan Bayu sendiri dengan setitik bahagia yang membuatnya tersenyum cerah.

Dia mengikuti perintah itu, beranjak pergi dan kembali ke kamarnya di lantai atas.

*

Keesokan harinya, Bayu sengaja tidak berangkat ke kantor. Dia ingin di rumah, menatap wajah Asih yang terus mengusik hidupnya selama ini.

Dering ponsel terdengar nyaring. Dengan malas, Bayu meraih benda pipih itu dan menerima panggilan.

(Bayu, kamu kenapa nggak datang? Kamu sakit?)

Laki-laki itu menarik ponsel dari telinga, menatap layar lalu menggerutu tak jelas. Dia tak menjawab, namun suara Bella kembali terdengar, kali ini dengan sedikit paksaan.

(Kamu kenapa? Aku akan ke sana sekarang.)

Belum sempat dijawab, panggilan itu terputus. Bayu melempar ponselnya ke tempat tidur, lalu mengacak rambutnya dengan wajah memerah.

Dia menoleh saat pintu kamar diketuk seseorang.

"Siapa?"

Bayu berteriak dari tempatnya, sementara balasan dari luar, membuat dia lekas membenahi penampilan dan berjalan membuka pintu.

Asih berdiri di sana dengan nampan berisi sarapan untuknya.

"Masuk, As. Letakkan di meja, nanti aku makan. Kamu udah sarapan?" tanya Bayu dengan wajah cerah. Asih mengangguk dan berniat untuk keluar kamar.

Bayu cepat menahan, dia mencekal tangan Asih dan berbisik. "Temani aku sarapan ya, jangan menolak."

"Maaf, Mas. Tapi ...."

Kata-kata menggantung di udara, karena Bayu sudah menariknya untuk duduk di samping laki-laki itu.

"Aku yang akan bilang ke Bi Sumi. Tenang aja."

Sementara di dapur, Susi mencari-cari keberadaan Asih. Beberapa temannya ditanya, namun mereka tak menjawab.

Susi menggertakkan giginya. Tangan terkepal kuat, matanya nyalang, mengamati setiap sudut rumah dan berhenti saat menatap ujung tangga atas.

Mulutnya terbuka, tak percaya akan apa yang dilihatnya. Dengan cepat, dia merogoh kantong seragamnya dan mengeluarkan ponsel dari sana. Susi bersembunyi di dekat guci besar, mengarahkan kamera pada dua sosok yang berdekatan di ujung tangga.

Susi menyeringai dan balik badan, berniat pergi sebelum ada yang melihat. Namun naas, karena terburu-buru, tangannya menyenggol guci besar itu dan benda itu roboh ke lantai, hancur berkeping.

Bayu dan Asih terkejut, keduanya menatap ke bawah, di mana Susi terjerembab di sana dan pelayan lain pun berdatangan untuk membantu.

"Maaf, Mas. Aku ke bawah dulu."

Asih berlari kecil menuruni anak tangga, menanyakan apa yang terjadi pada temannya.

"Kamu ngapain berduaan sama Tuan? Dasar perempuan gatal, aku laporkan kamu ke Tuan besar!"

Susi menatap tajam pada Asih. Dia menepis tangan Asih yang siap membantunya berdiri.

"Laporkan saja."

Suara dingin namun terdengar bagai petir di telinga Susi. Wanita itu menunduk, "maaf, Tuan," balasnya pelan lalu bergegas pergi. Sementara yang lain, cepat membereskan sisa pecahan di lantai.

Sejak saat itu, Asih menjadi bulan-bulanan Susi dan beberapa temannya. Mereka menatap Asih dengan sorot tajam, penuh kebencian yang berkobar di dalam sana.

Hanya bi Sumi dan Rani yang datang mendekati dan membesarkan hatinya. "Aku ke sini untuk kerja, Bi. Aku butuh uang untuk bisa pulang kampung, menjenguk pusara anakku. Dan aku, sama sekali nggak ada hubungan apa pun dengan Tuan."

Asih duduk tegak, menatap kedua wajah di hadapannya.

Dari balik dinding dapur, Bayu mendengar semua itu dengan hati terluka.

Laki-laki itu berjalan menjauh, menaiki tangga menuju kamarnya.

Di dalam, dia kembali merenung, merasakan kesedihan dari setiap kata yang baru saja didengarnya.

(Aku akan bantu kamu agar bisa datang ke makam buah hatimu, As. Dan aku, tak akan mengambil yang bukan milikku —setidaknya untuk saat ini.)

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KINASIH   Titik akhir

    Sementara itu, kabar tentang kematian Mariana juga sampai ke telinga Aryo di kampung. Tanpa pikir panjang, pria itu justru menghubungi Asih dan mengatakan hal yang memang sudah Asih prediksikan sejak awal. "Kau tega, As. Kau jahat! Tak punya hati. Kau tak lebih dari kacang yang melupakan kulitnya. Dia yang menjadikanmu seperti sekarang, justru kau habisi juga. Kukira kau hanya bermain, nyatanya tidak. Kau jahat, As!" Setelah mengatakan demikian, Aryo menutup panggilan dan Asih menatap kosong pada kerumunan orang yang turut mengantar ke pemakaman. Satu per satu dari mereka mulai pergi meninggalkan lokasi, menyisakan Asih, Sumi dan beberapa pria berpakaian hitam yang berjaga di sekitar mereka. Sumi tak henti menangis, sementara Asih masih terdiam dengan wajah sembab. Wajah Mariana seakan hadir di dekatnya dengan senyum menenangkan. "Maafkan aku, Ma —" gumam Asih yang kini bangkit bersama Sumi untuk kembali pulang. "Bi, aku pulang dulu. Nanti kuajak Arya ke sini juga ya," bisik Asih

  • KINASIH   Dua jasad

    Setelah beberapa saat menunggu dalam ruangan, akhirnya pintu diketuk perlahan dan Asih langsung membentak tamunya tanpa peduli pada karyawan yang masih berdiri di ambang pintu. "Maaf, Tuan. Saya pergi dulu," bisik wanita dengan apron di tubuhnya. Pria yang menjadi tamu tersebut, melangkah masuk lalu duduk santai di depan Asih. Kakinya disilangkan, dengan tatapan lurus pada wanita yang kini terlihat siap meledakkan amarah. "Apa maksudmu mengatakannya pada Arya? Dia hanya anak kecil yang tak perlu kita bawa dalam masalah ini!" bentak Asih dengan tangan terkepal kuat di atas meja. "Kenapa? Bukankah yang dia katakan benar adanya? Lagi pula, kau mendekat hanya untuk menutupi kasus kemarin, bukan?" balas si pria yang kini tersenyum kecil. Dia membuka ponselnya dan memperlihatkan adegan yang Asih pikir, hanya dia dan 'orang-orangnya' saja yang tahu. Wajahnya semakin merah, karena baru menyadari ada penghianat di antara mereka. Si tamu menarik kembali lengannya dan meletakkan ponsel di

  • KINASIH   Berita terbaru

    Di kediamannya, Jatmiko sudah terlihat bugar kembali. Wajahnya cerah, tak ada lagi raut lesu dan pucat seperti beberapa waktu lalu. Yatmi tersenyum senang melihat perubahan tersebut, meski dirinya masih saja berada di atas kursi roda. "Mak, kenapa Asih belum juga datang?" Pertanyaan itu mendapat tatapan tajam istrinya, sementara Aryo yang kini berada di kamar, hanya mendengar tanpa berniat keluar. "Nggak usah ngomongin perempuan itu, Pak! Gara-gara dia, Bapak jadi sakit sampe masuk rumah sakit, kan?" timpal Yatmi dengan wajah kesal.Jatmiko siap menjawab, namun suara pintu terbuka membuat kedua orang tua itu menoleh."Mak, cukup! Kenapa Mamak jadi gini? Padahal di awal kalian begitu akur. Apa karena wanita ular itu? ... Ya, ya, pasti dia yang bikin ulah!" Aryo mendekati bapaknya yang duduk di tepi ranjang, lalu menjelaskan jika Asih tengah sibuk di kota sana dan belum sempat menjenguk lagi. "Tolong, Yo. Suruh dia datang ke sini, ajak Arya juga. Bapak ingin ketemu cucu," bisik Jat

  • KINASIH   Wanita pirang

    Asih kembali mendapat teror dari nomor yang dia sendiri sudah mengetahui pemiliknya. Dia menerima panggilan itu dengan senyum kecil di sudut bibir, lalu mendengarkan segala sumpah serapah yang dilayangkan. "Temui aku di taman kota, tepat pukul tujuh," ucap Asih tenang dan memutus sambungan itu. Matahari mulai beranjak ke barat, sedangkan Arya tak kunjung pulang dari les yang diikuti. Berulang kali Asih menghubungi sopir, menanyakan keberadaan Arya dan seketika darahnya berdesir mendengar suara di seberang sana. "Siapa yang berani menyentuh anakku!" Asih membanting vas bunga di meja kerjanya, lalu bergegas keluar dengan kunci mobil di tangan. Dirinya melaju ke arah tempat les, yang kini telah kosong tak berpenghuni. Sementara ponselnya kembali berdering, menampilkan nomor yang sama. "Tak usah khawatir, aku akan datang bersama anakmu," tutur suara dingin di seberang sana. Belum juga Asih menjawab, sambungan terputus dan suaranya diterbangkan angin lalu. Asih marah besar, membanting

  • KINASIH   Tipu daya wanita ular

    Bagai dejavu, Asih menapaki koridor panjang dengan orang-orang yang duduk juga berdiri di sekitarnya. Tawa, tangis, juga perkataan tak jelas, terdengar sepanjang kakinya melangkah. Tak jarang, Asih mendapat sambutan bak seorang artis yang datang menemui para fans-nya. Di sebuah ruangan tertutup dengan jeruji besi yang menjadi pintunya, Asih berhenti. Di dalam sana, seorang wanita dengan rambut berantakan dan tubuh yang kurus kering, duduk seorang diri sembari menekuri lantai putih, seolah ada sesuatu yang sangat penting di sana. Asih mendekat, menatap si perawat yang mengantarnya dan mengangguk. Wanita berseragam putih itu melangkah pergi, meninggalkan Asih yang masih berdiri di depan pintu. Perlahan, Asih mendorong pintu yang tak lagi terkunci dan mendekati wanita di sudut ruang. "Ma —" Asih menyapa lembut. Si wanita menoleh, menatap lama lalu berkata lirih dengan tangan direntangkan -memanggil pelukan. Dialah Mariana. Wanita karir pemilik Wijaya Group yang kini menjadi pasien d

  • KINASIH   Gadis pengasuh

    Arya terus memeluk ibunya, seakan tak ingin lepas dari wanita tersebut. Sementara Asih kewalahan menjawab setiap tanya yang dilayangkan putranya tanpa henti. "Bu, Ibu ke mana saja? Kenapa nggak ajak aku?" tutur bibir pucat yang terus menggeleng saat si pengasuh memberinya makan. "Ibu ada pekerjaan, Sayang. Sekarang kamu makan dulu ya." Arya tetap menolak, bahkan menampik sendok yang disodorkan padanya, membuat nasi berantakan di lantai. Asih ingin marah, namun meredam semuanya agar sang anak tak semakin menjadi. Tangisan Arya melengking, anak itu menendang juga melempar segala sesuatu di dekatnya. Asih sendiri heran akan perubahan sikap tersebut, tak menyangka anak yang penurut itu kini seakan menjadi pribadi lain yang tak Asih kenal. Si pengasuh membersihkan lantai dan membawa keluar makanan Arya. Dia kembali dengan segelas susu untuk si anak yang tetap saja menolak. "Sudah, biar saya saja, Sus. Kamu istirahat atau makan sana, sudah hampir sore belum makan," titah Asih yang men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status