Share

KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT
KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT
Author: Azitung

KSP - 1

Author: Azitung
last update publish date: 2026-07-21 20:29:29

"Sayang, kapan kau ceraikan wanita tua itu?"

Suara manja yang keluar dari bibir wanita ber-bathrobe putih itu langsung menyengat telinga Isyana.

Melalui celah pintu kamar 4020 yang sedikit terbuka, sepasang mata indahnya menyaksikan pemandangan yang memuakkan. Di atas sofa beludru, Rehan suaminya justru terkekeh.

Tangan pria itu bergerak mengusap pinggang wanita yang kini duduk dengan nyaman di pangkuannya. Tatapan penuh kehangatan yang tak pernah Isyana dapatkan di rumah, kini diobral murah untuk perempuan lain.

"Sabar, Sayang. Menyingkirkan Isyana tidak semudah membalik telapak tangan. Harta dan aset perusahaan masih atas namanya," jawab Rehan, santai tanpa beban.

Di balik masker kain hitam yang menutupi separuh wajahnya, sudut bibir Isyana justru terangkat. Senyuman dingin yang mengerikan terbentuk di sana.

Wanita tua? Menyingkirkannya?

Jemari lentik Isyana bergerak pelan menuju dada, menyentuh liontin perak berbentuk bulat yang menggantung di leher.

Sebuah ketukan halus menggunakan kuku jarinya mengaktifkan lensa mikroskopis yang tertanam di tengah liontin tersebut.

Alat pengintai mutakhir itu kini merekam setiap jengkal kemesraan menjijikkan mereka, lengkap dengan suara pengakuan dosa yang keluar dari mulut suaminya sendiri.

"Tapi aku bosan bersembunyi terus, Mas. Aku mau status kita resmi," rengek wanita itu lagi, memajukan bibirnya manja.

"Sebentar lagi. Begitu semua sahamnya berpindah tangan, aku sendiri yang akan melemparkan surat cerai itu ke mukanya. Dia tidak akan punya apa-apa lagi untuk disombongkan." Rehan mengecup kilat pipi wanita itu.

Isyana menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin koridor hotel menekan letupan amarah yang sempat menyengat dada.

Air mata? Tidak, mereka tidak layak mendapatkan setetes pun air matanya. Rasa sakit itu langsung menguap, berganti menjadi kalkulasi pembalasan dendam yang rapi di dalam kepala.

Mereka ingin bermain api dengannya? Isyana akan memastikan seberapa cepat mereka akan hangus terbakar.

Dengan gerakan yang sangat tenang, Isyana mendorong troli hotel yang dipinjamnya paksa dari pelayan asli di lantai bawah.

Dia melangkah masuk ke dalam kamar, mendekati sofa, lalu meletakkan dua botol air mineral di atas meja tepat di bawah hidung mereka.

"Silakan dinikmati, Bapak, Ibu," ucap Isyana dengan suara yang sengaja dibuat agak serak dan dalam.

Mendengar suara asing yang terlalu dekat, Rehan seketika menoleh tajam. Matanya menyipit penuh selidik, menatap seragam pelayan hotel yang dikenakan Isyana dan masker hitam yang menutupi wajah istrinya itu.

"Kamu pelayan baru? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?!" bentak Rehan, suaranya terdengar berwibawa namun penuh kepalsuan.

Isyana tidak gentar. Dari balik masker, matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria yang sudah bersamanya selama 11 tahun ini. Dia sengaja membungkukkan badan sedikit lebih dalam, menyembunyikan sorot matanya yang tajam di balik topi pet hotel.

"Maaf, Pak. Saya hanya mengantarkan pesanan tambahan dari dapur hotel," sahut Isyana dengan suara serak yang dibuat-buat, begitu tenang tanpa ada getaran panik sedikit pun.

Sinta, wanita ber-bathrobe putih yang merupakan rekan bisnis Rehan, mengibaskan tangannya acuh tak acuh. Dia kembali bergelayut di pundak Rehan, mengabaikan keberadaan pelayan di depan mereka.

"Sudahlah, Mas, jangan marahi pelayan itu. Mending kamu fokus ke aku saja. Oh ya, besok saat rapat tender proyek dengan investor baru, kamu pastikan Isyana tidak ikut campur, ya? Aku mau kita yang pegang kendali penuh," ucap Sinta dengan nada manja yang dibuat sehalus mungkin, penuh ambisi terselubung.

Rehan terkekeh, mengusap pipi Sinta dengan gemas. "Tenang saja, Sayang. Isyana itu cuma tahu beres-beres rumah. Dia tidak akan paham urusan tender besar seperti ini. Semua dokumen kuasa sudah aku siapkan untuk kutandatangani atas namanya."

Isyana tetap bergerak santai, menata piring-piring kecil berisi camilan di atas meja dengan gerakan tangan yang begitu presisi.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut dua orang di depannya justru menjadi peluru gratis yang tersimpan rapi dalam rekaman kalungnya.

Tidak ada air mata atau jeritan histeris. Otak jenius Isyana justru sedang sibuk mengalkulasi bagaimana cara membalikkan dokumen kuasa itu untuk menjerat Rehan ke dalam lubang pailit.

Setelah memastikan semua hidangan tertata, Isyana melangkah mundur. Dia memutar tubuhnya, bersiap mendorong troli untuk keluar dari kamar terkutuk itu.

"Hei, pelayan! Tunggu!" panggil Rehan tiba-tiba.

Langkah kaki Isyana seketika terhenti. Tubuhnya mematung di dekat pintu. Jantungnya sempat berdesir tajam. Apakah penyamarannya terbongkar? Apakah Rehan mengenali postur tubuhnya atau tatapan matanya?

Isyana mengatur napasnya agar tetap teratur, lalu perlahan membalikkan badan, kembali menundukkan kepalanya dengan patuh.

Rehan merogoh dompet dari saku celananya yang tergeletak di sandaran sofa. Pria itu menarik selembar uang ratusan ribu, lalu dengan angkuh melempar lembaran merah itu ke arah Isyana.

Uang itu melayang di udara sebelum akhirnya jatuh di atas lantai, tepat di dekat ujung sepatu Isyana.

"Uang tutup mulut. Jangan sampai ada yang tahu apa yang kamu lihat di kamar ini, atau kamu kehilangan pekerjaanmu besok pagi," ucap Rehan dengan nada merendahkan yang sangat kental.

Sinta di pangkuannya tertawa cekikikan, menganggap tindakan Rehan sangat keren dan berkuasa.

Isyana menatap lembaran uang di lantai itu sejenak. Sudut bibirnya di balik masker tertarik ke atas, membentuk senyuman sinis yang tersembunyi. Dengan gerakan anggun, dia membungkuk, memungut uang ratusan ribu itu dan menggenggamnya erat.

"Terima kasih atas kemurahan hatinya, Bapak," jawab Isyana pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Pintu kamar 4020 tertutup rapat di belakangnya. Isyana berjalan cepat menuju lift kosong di ujung koridor. Begitu pintu lift tertutup dan membawanya turun, Isyana melepaskan masker hitam dan topi pet yang dipakainya.

Dia mengangkat selembar uang ratusan ribu di tangan kanannya, menatap benda itu dengan sorot mata sedingin es yang mematikan.

"Seperti ini ternyata sifat aslimu, Mas," bisik Isyana, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman yang berbahaya. "Kuanggap uang ini adalah tawaran perang. Baiklah, akan kuladeni sampai akhir."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Keren ya Isyana bisa nggak langsung tantrum liat suaminya begitu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 92

    Genggaman tangan di atas meja marmer itu tidak terlepas selama beberapa detik. Hangatnya telapak tangan Linkin menyalurkan rasa tenang yang nyata, membuat debaran di dada Isyana berangsur mereda menjadi kelegaan yang lapang.Pintu kamar mandi berderit pelan saat Abim keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, diikuti oleh Friska di belakangnya. Melihat gerakan itu, Isyana menarik tangannya perlahan seraya merapikan ujung lengan gamis katunnya. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, dan Friska yang menangkap gelagat tersebut hanya menyunggingkan senyum penuh arti tanpa berkomentar sepatah kata pun."Ayo, Ma! Katanya mau ke kamar Nenek Ratna!" seru Abim penuh semangat seraya melompat mendekati ibunya.Linkin bangkit berdiri lebih dulu, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan anggun. "Mari kita turun ke lantai empat. Dr. van de Berg sudah menyiapkan kursi roda di teras taman dalam bila Bu Ratna ingin menghirup udara segar."Mereka berempat melangkah keluar menu

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 91

    Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis kamar VIP lantai lima Arkana Medical Sanctuary. Kamar itu lebih mirip apartemen mewah bernuansa abu-abu dan kayu ek ketimbang ruang rawat inap rumah sakit.Isyana terbangun saat sayup-sayup mendengar celoteh ceria Abim dari arah ruang tamu luar. Kepalanya yang berdenyut hebat semalam kini terasa jauh lebih ringan. Ia beranjak dari ranjang king size yang empuk, melangkah ke kamar mandi marmer untuk membasuh muka dan mengambil wudu.Setelah mengenakan gamis katun panjang warna hijau zaitun dan melilitkan hijab instan senada, Isyana mendorong pintu kamar tidur.Di meja makan bundar ruang tengah, Abim sedang asyik melahap roti panggang isi keju. Friska duduk di seberangnya sambil menyeruput kopi hitam, membaca tablet kerja dengan kacamata berbingkai tipis."Mama sudah bangun!" seru Abim riang, mulutnya belepotan remah roti. "Tadi Om Linkin bawain sereal madu sama buah stroberi segar banyak banget, Ma!"Isyana tersenyum hangat, menghampiri Abim da

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 90

    90Malam turun di Jakarta Pusat, membawa gerimis halus yang membasahi kaca ruang tunggu lantai empat Arkana Medical Sanctuary. Isyana masih berdiri mematung di samping ranjang Bu Ratna. Suara monitor jantung berdetak teratur, mengisi ruangan yang dingin dan steril.Obat penawar racun saraf perlahan mulai bekerja. Kelopak mata Bu Ratna yang keriput bergerak-gerak pelan sebelum terbuka sedikit, menatap Isyana dengan pandangan yang jauh lebih jernih dibanding saat di bukit Lembang."Isyana..." bisik Bu Ratna lemah.Isyana segera merapatkan duduknya, menggenggam jemari sang mertua. "Iya, Bu. Jangan banyak bicara dulu. Ibu sudah di Jakarta, di tempat yang sangat aman.""Rehan..." Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu, membasahi kain bantal putih. "Rehan anak kandung Ibu... tapi dosanya sudah terlalu besar, Nak. Jangan biarkan dia bawa kamu dan Abim ke neraka yang sama.""Isyana sudah mengurus semuanya, Bu," potong Isyana pelan namun tegas. "Rehan dan keluarga Brawijaya h

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 89

    Sirene ambulans yang meraung di depan membuka jalanan tol Jakarta-Cikampek yang padat. Kecepatan iring-iringan itu stabil, namun ketegangan di dalam mobil sedan hitam Linkin membuat setiap detik terasa lambat dan mencekik leher.Isyana menyandarkan keningnya ke kaca mobil yang bergetar pelan. Kepalanya kembali berdenyut ngilu, bekas jahitan operasi di balik kain pasminanya terasa berdenyut-denyut menolak beban pikiran yang menumpuk. Namun, rasa sakit di raganya itu tak sebanding dengan rasa sesak saat membayangkan anak semata wayangnya, Abim, yang sedang berada di rumah bersama Friska.Rucas Brawijaya sudah di dalam sel Bareskrim, tapi tangannya ternyata masih begitu panjang di luar. Percobaan pembunuhan terhadap Sinta di rumah sakit membuktikan bahwa jaringan kejahatan keluarga Brawijaya bergerak bagai ular berkepala banyak; memotong satu kepala hanya akan membuat kepala lain mematuk secara membabi buta."Arkana," panggil Isyana dengan suara tegas meski kerongkongannya kering.Arkana

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 88

    Kata "diledakkan" menggema di kamar berkabut itu bagai dentum meriam di ruang tertutup.Isyana mematung di lantai papan yang dingin. Tangan kurus Bu Ratna masih mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Namun, rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam keyakinan bahwa orang tuanya tewas karena cuaca buruk dan keteledoran teknis yang kebetulan. Pagi ini di Bareskrim, Rehan mengaku melonggarkan baut rotor demi iming-iming jabatan. Tapi kini, ibu kandung Rehan sendiri—orang yang diasingkan dan dicekoki obat penenang selama bertahun-tahun—membuka tabir yang jauh lebih mengerikan.Baut longgar itu hanyalah kamuflase cadangan. Pesawat itu dipastikan hancur sejak detik pertama roda rodanya lepas landas dari landasan Subang."Ibu... Ibu yakin dengan apa yang Ibu lihat?" bisik Isyana, suaranya tercekat di kerongkongan.Bu Ratna menangis terisak-

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 87

    Jalanan aspal menanjak di kawasan perbukitan Lembang terasa lengang. Deretan pohon pinus dan kebun teh yang berselimut kabut tipis tampak melintas cepat di balik jendela kaca mobil sedan hitam yang melaju stabil. Udara dingin pegunungan merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi, membuat Isyana merapatkan mantel katun yang membalut tubuhnya.Di kursi belakang, Isyana duduk berdampingan dengan Linkin. Selama dua jam perjalanan dari Jakarta, tangan Isyana bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan lama tentang ibu mertuanya. Bu Ratna, perempuan berdarah Sunda yang selalu bicara dengan nada lembut dan nyaris tak pernah bersuara keras di depan siapa pun."Dua puluh menit lagi kita sampai di gerbang panti, Bu Isyana," suara Arkana dari kursi depan memecah keheningan, matanya melirik spion tengah untuk memastikan kondisi atasannya. "Tim medis dari klinik rekanan Arkana Group di Bandung sudah berada di lokasi lebih dulu dengan izin khusus dari dinas sosial s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status