Share

KSP - 2

Penulis: Azitung
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 20:30:11

Sepasang tangan Isyana mencengkeram kemudi dengan begitu erat, sementara selembar uang ratusan ribu dari Rehan tergeletak begitu saja di konsol tengah, sebuah simbol penghinaan yang justru memicu bahan bakar dendam di dadanya.

Tiba-tiba, ponsel Isyana yang terhubung ke dasbor mobil berdering nyaring. Layar digital memunculkan satu nama: Hendy, kepala divisi operasional sekaligus staf kepercayaannya.

Isyana menekan tombol di kemudi untuk menerima panggilan. "Ya, Hendy. Ada apa?"

"Halo, selamat sore, Ibu Isyana," suara Hendy terdengar agak terburu-buru dan cemas di seberang sana. "Maaf mengganggu waktu Ibu, tapi kami menghadapi situasi darurat di kantor."

Isyana tetap tenang, matanya menatap lurus ke jalan raya. "Katakan. Masalah apa?"

"Pihak Arkana Group, rekan bisnis dari luar kota yang menjanjikan investasi besar itu, tiba-tiba memajukan jadwal pertemuan, Ibu. Mereka baru saja mendarat dan meminta pertemuan diadakan sore ini juga."

Isyana menyipitkan mata. "Sore ini? Bukankah jadwal aslinya masih lusa?"

"Benar, Ibu. Perwakilan mereka bilang ada perubahan agenda mendadak dari jajaran direksi pusat. Masalahnya, proyek ini sejak awal di bawah pengawasan langsung Bapak Rehan. Seluruh berkas presentasi akhir dan proposal utama ada di tangan beliau."

"Lalu, apa kendalanya? Tinggal minta Mas Rehan untuk mempresentasikannya sekarang," sahut Isyana, nadanya datar seolah tidak tahu apa-apa.

"Itu dia masalahnya, Ibu," Hendy mendesah frustrasi. "Sejak satu jam yang lalu, nomor ponsel Bapak Rehan sama sekali tidak bisa dihubungi. Semua panggilan dialihkan ke kotak suara. Saya sudah meminta sekretarisnya memeriksa ruangan, tapi beliau tidak ada di tempat. Beberapa staf bilang melihat Bapak Rehan pergi terburu-buru sejak siang tadi."

Isyana membatin, sudut bibirnya tersenyum sinis. 'Bagaimana bisa dihubungi? Pria bajingan itu saat ini sedang berada di atas puncak kenikmatan bersama selingkuhannya di kamar hotel. Jangankan ponsel, dunia di sekitarnya pun pasti sudah dia lupakan saat wanita murah itu bergelayut di pangkuannya.'

"Ibu? Anda masih di sana?" panggil Hendy memecah lamunan dingin Isyana.

"Ya, aku masih mendengarkan."

"Menurut Ibu, apa yang harus kita lakukan? Waktu kita tidak banyak. Pihak investor sudah dalam perjalanan menuju kantor kita. Apa Ibu bisa membantu menghubungi Bapak Rehan? Mungkin beliau mengangkat jika Ibu yang menelepon."

Isyana menatap lembaran uang seratus ribu di sampingnya dengan tatapan merendahkan. 'Menghubunginya? Untuk apa? Mengganggu waktu bersenang-senangnya? Tidak perlu.'

"Lupakan tentang dia, Hendy," jawab Isyana tegas, suaranya terdengar dingin dan penuh wibawa. "Aku yang akan ke sana sekarang."

Hendy terdengar ragu di seberang telepon. "Tapi, Ibu... proyek ini sepenuhnya dipersiapkan oleh Bapak Rehan. Apakah Ibu menguasai materi yang akan dipresentasikan nanti? Investor dari Arkana Group sangat teliti dan perfeksionis."

"Kamu lupa siapa yang mendirikan perusahaan ini dari nol, Hendy?" tanya Isyana, nadanya menyiratkan dominasi yang mutlak. "Mas Rehan hanya menjalankan apa yang sudah kubangun. Aku tahu setiap sudut, setiap angka, dan setiap detail dari proyek itu, bahkan sebelum Mas Rehan menyentuh berkasnya."

"Ah, maaf, Ibu. Saya tidak bermaksud meragukan ibu," sahut Hendy cepat, terdengar sungkan. "Baiklah, saya akan segera menyiapkan ruang rapat dan menyambut pihak Arkana Group."

"Bagus. Berapa lama lagi mereka sampai?"

"Perkiraan sekitar dua puluh menit lagi, Ibu."

"Aku akan sampai dalam lima belas menit. Siapkan salinan cadangan dari berkas proyek di laptopmu. Kita tidak butuh Mas Rehan untuk memenangkan tender ini."

"Baik, Ibu. Saya laksanakan. Terima kasih."

Sambungan telepon terputus. Isyana segera memutar kemudi, berbelok tajam di persimpangan jalan menuju arah kantor pusat perusahaannya.

Ekspresi wajahnya mengeras, memancarkan aura ketangguhan seorang wanita yang tidak akan pernah membiarkan kerajaannya runtuh hanya karena ulah seorang pengkhianat.

'Kau ingin mengambil alih sahamku dan melemparkan surat cerai ke mukaku, Mas?' batin Isyana sambil menginjak pedal gas lebih dalam. 'Mari kita lihat, bagaimana ekspresimu besok saat mendapati proyek terbesar yang kau impikan justru jatuh sepenuhnya ke tanganku tanpa menyisakan namamu sedikit pun.'

Langkah kaki Isyana yang terbalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer lobi kantor dengan ritme yang tegas. Hendy sudah berdiri gelisah di dekat lift, langsung menyongsong Isyana begitu pintu kaca terbuka.

"Ibu Isyana, syukurlah Anda sudah tiba," bisik Hendy setengah berlari mengimbangi langkah Isyana yang cepat. "Tamu dari Arkana Group lebih cepat tiba dari perkiraan, mereka baru saja masuk ke ruang rapat utama."

"Bagaimana persiapannya?" tanya Isyana tanpa memperlambat langkah.

"Semua sudah siap, Ibu. Tapi seperti yang Anda tahu, ini bukan proyek biasa. Ini Proyek Stadion, rencana pembangunan stadion olahraga terbesar di Indonesia dengan konsep eco-green dan teknologi atap bergerak. Nilai investasinya triliunan rupiah." Hendy menyodorkan sebuah tablet berisi ringkasan draf presentasi. "Semua data teknis ada di sini, tapi jujur, saya sangat gugup. Bapak Rehan yang memegang semua analisis keuangannya secara detail."

Isyana melirik tablet itu mengetik sesuatu lalu menyerahkannya kembali pada Hendy. "Aku sudah menghafal seluruh struktur anggarannya di luar kepala, Hendy. Mari kita masuk."

Pintu ruang rapat yang terbuat dari kaca buram didorong terbuka oleh Hendy. Begitu Isyana melangkah masuk, keheningan langsung menyergap ruangan luas itu.

Di ujung meja panjang, duduk jajaran direksi dari Arkana Group yang dipimpin oleh seorang pria paruh baya berwajah dingin, ditemani oleh beberapa petinggi dari perusahaan Isyana sendiri.

Begitu melihat sosok yang masuk adalah Isyana, bukan Rehan, raut wajah para petinggi perusahaan seketika berubah lesu.

Beberapa orang saling berbisik kecewa, bahkan ada yang menghela napas panjang secara terang-terangan.

"Lho, Ibu Isyana?" Pak Dirman, salah satu komisaris perusahaan, langsung berbisik dengan nada cemas yang tertahan. "Di mana Pak Rehan? Ini presentasi krusial untuk Proyek Stadion. Pihak Arkana Group datang jauh-jauh untuk mendengar pemaparan langsung dari Pak Rehan selaku penanggung jawab utama."

"Suami saya sedang ada urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan, Pak Dirman," jawab Isyana tenang, suaranya terdengar merdu namun penuh penekanan. Dia berjalan anggun menuju ujung meja, tepat di depan layar proyektor besar.

"Urusan mendesak apa yang lebih penting dari proyek triliunan ini?" sahut salah satu direktur Arkana Group dengan nada kecewa yang kentara. "Kami menjadwalkan ulang pertemuan ini karena mengira Pak Rehan sudah siap. Jika hanya diwakili, kami khawatir presentasi ini tidak akan maksimal."

"Kami sangat menghargai waktu Anda yang berharga," Isyana menatap lurus pria itu tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya. "Dan saya jamin, kehadiran saya di sini tidak akan mengurangi satu persen pun kualitas dari apa yang akan kami tawarkan. Justru, Anda akan mendengar rincian yang jauh lebih matang."

Pak Dirman memijat pelipisnya, bergumam lirih pada direktur di sebelahnya, "Habis sudah. Proyek terbesar kita akan melayang hari ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Azzurra
Keren ya Isyana.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 92

    Genggaman tangan di atas meja marmer itu tidak terlepas selama beberapa detik. Hangatnya telapak tangan Linkin menyalurkan rasa tenang yang nyata, membuat debaran di dada Isyana berangsur mereda menjadi kelegaan yang lapang.Pintu kamar mandi berderit pelan saat Abim keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, diikuti oleh Friska di belakangnya. Melihat gerakan itu, Isyana menarik tangannya perlahan seraya merapikan ujung lengan gamis katunnya. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, dan Friska yang menangkap gelagat tersebut hanya menyunggingkan senyum penuh arti tanpa berkomentar sepatah kata pun."Ayo, Ma! Katanya mau ke kamar Nenek Ratna!" seru Abim penuh semangat seraya melompat mendekati ibunya.Linkin bangkit berdiri lebih dulu, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan anggun. "Mari kita turun ke lantai empat. Dr. van de Berg sudah menyiapkan kursi roda di teras taman dalam bila Bu Ratna ingin menghirup udara segar."Mereka berempat melangkah keluar menu

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 91

    Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis kamar VIP lantai lima Arkana Medical Sanctuary. Kamar itu lebih mirip apartemen mewah bernuansa abu-abu dan kayu ek ketimbang ruang rawat inap rumah sakit.Isyana terbangun saat sayup-sayup mendengar celoteh ceria Abim dari arah ruang tamu luar. Kepalanya yang berdenyut hebat semalam kini terasa jauh lebih ringan. Ia beranjak dari ranjang king size yang empuk, melangkah ke kamar mandi marmer untuk membasuh muka dan mengambil wudu.Setelah mengenakan gamis katun panjang warna hijau zaitun dan melilitkan hijab instan senada, Isyana mendorong pintu kamar tidur.Di meja makan bundar ruang tengah, Abim sedang asyik melahap roti panggang isi keju. Friska duduk di seberangnya sambil menyeruput kopi hitam, membaca tablet kerja dengan kacamata berbingkai tipis."Mama sudah bangun!" seru Abim riang, mulutnya belepotan remah roti. "Tadi Om Linkin bawain sereal madu sama buah stroberi segar banyak banget, Ma!"Isyana tersenyum hangat, menghampiri Abim da

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 90

    90Malam turun di Jakarta Pusat, membawa gerimis halus yang membasahi kaca ruang tunggu lantai empat Arkana Medical Sanctuary. Isyana masih berdiri mematung di samping ranjang Bu Ratna. Suara monitor jantung berdetak teratur, mengisi ruangan yang dingin dan steril.Obat penawar racun saraf perlahan mulai bekerja. Kelopak mata Bu Ratna yang keriput bergerak-gerak pelan sebelum terbuka sedikit, menatap Isyana dengan pandangan yang jauh lebih jernih dibanding saat di bukit Lembang."Isyana..." bisik Bu Ratna lemah.Isyana segera merapatkan duduknya, menggenggam jemari sang mertua. "Iya, Bu. Jangan banyak bicara dulu. Ibu sudah di Jakarta, di tempat yang sangat aman.""Rehan..." Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu, membasahi kain bantal putih. "Rehan anak kandung Ibu... tapi dosanya sudah terlalu besar, Nak. Jangan biarkan dia bawa kamu dan Abim ke neraka yang sama.""Isyana sudah mengurus semuanya, Bu," potong Isyana pelan namun tegas. "Rehan dan keluarga Brawijaya h

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 89

    Sirene ambulans yang meraung di depan membuka jalanan tol Jakarta-Cikampek yang padat. Kecepatan iring-iringan itu stabil, namun ketegangan di dalam mobil sedan hitam Linkin membuat setiap detik terasa lambat dan mencekik leher.Isyana menyandarkan keningnya ke kaca mobil yang bergetar pelan. Kepalanya kembali berdenyut ngilu, bekas jahitan operasi di balik kain pasminanya terasa berdenyut-denyut menolak beban pikiran yang menumpuk. Namun, rasa sakit di raganya itu tak sebanding dengan rasa sesak saat membayangkan anak semata wayangnya, Abim, yang sedang berada di rumah bersama Friska.Rucas Brawijaya sudah di dalam sel Bareskrim, tapi tangannya ternyata masih begitu panjang di luar. Percobaan pembunuhan terhadap Sinta di rumah sakit membuktikan bahwa jaringan kejahatan keluarga Brawijaya bergerak bagai ular berkepala banyak; memotong satu kepala hanya akan membuat kepala lain mematuk secara membabi buta."Arkana," panggil Isyana dengan suara tegas meski kerongkongannya kering.Arkana

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 88

    Kata "diledakkan" menggema di kamar berkabut itu bagai dentum meriam di ruang tertutup.Isyana mematung di lantai papan yang dingin. Tangan kurus Bu Ratna masih mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Namun, rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam keyakinan bahwa orang tuanya tewas karena cuaca buruk dan keteledoran teknis yang kebetulan. Pagi ini di Bareskrim, Rehan mengaku melonggarkan baut rotor demi iming-iming jabatan. Tapi kini, ibu kandung Rehan sendiri—orang yang diasingkan dan dicekoki obat penenang selama bertahun-tahun—membuka tabir yang jauh lebih mengerikan.Baut longgar itu hanyalah kamuflase cadangan. Pesawat itu dipastikan hancur sejak detik pertama roda rodanya lepas landas dari landasan Subang."Ibu... Ibu yakin dengan apa yang Ibu lihat?" bisik Isyana, suaranya tercekat di kerongkongan.Bu Ratna menangis terisak-

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 87

    Jalanan aspal menanjak di kawasan perbukitan Lembang terasa lengang. Deretan pohon pinus dan kebun teh yang berselimut kabut tipis tampak melintas cepat di balik jendela kaca mobil sedan hitam yang melaju stabil. Udara dingin pegunungan merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi, membuat Isyana merapatkan mantel katun yang membalut tubuhnya.Di kursi belakang, Isyana duduk berdampingan dengan Linkin. Selama dua jam perjalanan dari Jakarta, tangan Isyana bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan lama tentang ibu mertuanya. Bu Ratna, perempuan berdarah Sunda yang selalu bicara dengan nada lembut dan nyaris tak pernah bersuara keras di depan siapa pun."Dua puluh menit lagi kita sampai di gerbang panti, Bu Isyana," suara Arkana dari kursi depan memecah keheningan, matanya melirik spion tengah untuk memastikan kondisi atasannya. "Tim medis dari klinik rekanan Arkana Group di Bandung sudah berada di lokasi lebih dulu dengan izin khusus dari dinas sosial s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status