Share

Bab 4

"Mas Amran sudah siap?" Penghulu kembali bertanya untuk kedua kalinya padaku. Mungkin dia menyadari ada sesuatu yang tak beres dariku hingga membuatnya mengulang pertanyaan yang sama. 

"InsyaAllah siap, Pak," balasku dengan sedikit gugup. Penghulu kembali mengangguk pelan lalu mengedarkan pandangan. Entah siapa yang dia cari, sepertinya sedang mengamati beberapa tamu yang datang. 

"Mas Amran bilang, istri pertama sudah setuju dengan pernikahan ini kan?" tanyanya lagi. Aku mendongak, lalu kembali mengangguk. Penghulu kembali tersenyum lalu menepuk lenganku pelan.

"Saya boleh tahu yang mana perempuan hebat itu? Perempuan yang rela dimadu demi menyenangkan hati suaminya." Lagi, penghulu tersenyum lalu menoleh ke area tamu yang hadir. 

Apa dia bilang? Menyenangkan suaminya? Mungkin bagi lelaki lain, memiliki istri lebih dari satu adalah hal yang menyenangkan. Apalagi jika istri pertama merestui pernikahan kedua suaminya dengan istri barunya yang tak kalah rupawan. Sayangnya, aku nggak bisa seperti mereka. Saat ini aku justru tersiksa sebab sejak dulu tak pernah berniat mendua apalagi mengkhianati cinta istri pertamaku, Zilva. Keadaanlah yang memaksaku menerima ini semua. 

"Dia tak bisa datang, Pak. Mungkin ingin menjaga hatinya agar tak sakit saja, tapi bapak bisa lihat jika ini adalah surat pernyataan istri saya. Sengaja saya minta dia untuk membuat pernyataan seperti ini agar tak ada suatu masalah di kemudian hari. Setidaknya ini sebagai bukti jika saya sudah izin pada istri pertama sebelum menikah lagi. Jadi, saya tak sembarangan mengambil keputusan," balasku menjelaskan.  

Iya, aku memang sengaja meminta Zilva membuat pernyataan itu sebagai pegangan saat mengurus cuti kantor. Aku tak ingin menikah sembunyi-sembunyi apalagi peraturan dikantor memang tak memperbolehkan poligami kecuali atas izin istri sah. 

Jadi, pernyataan Zilva inilah pegangan kuatku untuk tetap bekerja di kantor itu sebagai manager keuangan dengan aman tanpa takut ada masalah di kemudian hari. Semua sudah kupersiapkan sedemikian rupa, agar kedua rumah tanggaku bisa berjalan beriringan tanpa ada yang merasa diabaikan.  

"Baiklah kalau begitu. Kita mulai akad nikah ini meski tanpa kehadiran istri pertama ya, Mas?" Aku kembali mengangguk setelah penghulu membaca surat pernyataan Zilva itu. 

"Sebenarnya, laki-laki boleh menikah lagi meski tanpa izin dari istri pertama. Namun, sebagai penghulu bapak selalu menasehati mempelai laki-laki agar lebih terbuka pada istrinya jika memang ingin menikah untuk yang kedua, ketiga ataupun keempat. Jika sudah mendapatkan izin, pernikahan bisa segera dilaksanakan. Namun, jika belum diizinkan, mungkin mempelai laki-laki harus kembali berusaha dan mengajari istrinya soal agama dan bolehnya poligami apalagi demi mendapatkan keturunan yang InsyaAllah saleh dan shalehah. InsyaAllah, rumah tangga akan semakin sakinah, mawadah warahmah jika saling terbuka satu sama lain. Semua demi kebaikan bersama. Jangan sampai demi nafsu harus mengorbankan pernikahan sebelumnya," ujar penghulu panjang lebar. 

Lagi-lagi aku mengiyakan lalu sedikit menjelaskan bagaimana sosok Zilva dan ketaatannya pada suami. Aku menjabat tangan Om Galih yang menatapku lekat sedari tadi.  

"Kita mulai akadnya sekarang. Para saksi sudah siap?" tanya penghulu lagi. 

Saksi-saksi itu pun mengangguk bersamaan. Semua khusyuk mendengarkan wejangan penghulu. Suasana yang tadi cukup berisik, kini mendadak hening. 

Kulirik Lala yang duduk di samping mama dan Tante Risma. Dia terlihat begitu anggun dengan kebaya putih gadingnya sangat cantik dan mempesona.

"Saya nikah dan kawinkan anak perempuan saya yang bernama Ayunda Nurlaila dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas dua puluh gram dibayar tunai." 

Om Galih begitu lancar mengucapkan ijabnya. Aku pun memejamkan mata sesaat lalu menarik napas panjang sebelum mengucapkan qabul. 

"Saya terima nikah dan kawinnya Zilva Azzahra bin-- 

"Salah, Mas." Aku tercekat saat penghulu memintaku berhenti dan mengulang qabul yang kuucapkan. Mungkin terlalu sibuk memikirkan Zilva sampai aku menyebutnya saat qabul ini. 

Ya Allah, mama pasti murka karena aku salah menyebut nama bahkan hingga kedua kalinya. Pikiranku benar-benar tak tenang. Aku tak bisa fokus dengan pernikahan ini sementara Zilva tak ada kabarnya hingga sekarang.  

"Amran! Jangan keterlaluan kamu!" Mama menepuk pundaknya dari belakang. Kulihat kedua mata Lala berkaca-kaca. Kasak-kusuk terdengar di antara para tamu undangan. Lala dan keluarganya pasti sangat malu melihatku gagal mengucapkan qabul untuk kedua kalinya.  

"Ma-- maafkan saya. Saya akan ulangi lagi," ucapku terbata. Om Galih yang sebelumnya begitu tenang, kini kulihat tatapan matanya yang nyalang. Ada emosi tertahan dalam tatapnya.  

"Jangan mempermalukan keluargaku, Amran. Sudah syukur saya izinkan kamu menikah dengan Lala meski hanya sebagai istri kedua. Jika memang tak menginginkan pernikahan ini, batalkan saja. Lala anak yang cantik, berprestasi dengan karir yang bagus. Dia bahkan bisa menjadi istri pertama dari seorang pengusaha sukses. Jika tak suka, batalkan. Saya pun tak ingin merendahkan harga diri keluarga hanya untuk pernikahan seperti ini!" Om Galih menekankan tiap kata yang terucap dari bibirnya. 

"Papa ...." Lala menyahut. Aku tahu dia tak mungkin setuju dengan permintaan sang papa untuk membatalkan pernikahanku dengannya. 

Sejak dulu, Lala memang mencintaiku. Bahkan dia sempat pergi ke luar negeri selama dua tahun belakangan karena sakit hati karena aku lebih memilih Zilva dibandingkan dia. 

Lala kembali pulang karena janji mama untuk menikahkanku dengannya. Dia pun menerima dengan senang hati meski hanya dijadikan yang kedua. 

"Jangan cinta buta, Lala. Kamu cantik dan pintar. Jangan merendahkan harga dirimu sendiri seperti ini!" sentak Om Galih pada anak bungsunya. Seketika Lala terisak lalu memeluk sang mama. 

Dengan matanya yang memerah, mama kembali mencubit punggungku dari belakang. Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya mama memilih duduk di sampingku sembari menatapku tajam saat kembali menjabat tangan Om Galih untuk ketiga kalinya.

"Saya beri kesempatan sekali lagi, jika gagal, pernikahan ini batal!" ancam Om Galih lagi. 

"Jangan begitulah, Lih. Kamu tahu sendiri kalau aku sama Risma bersahabat dekat. Sejak dulu kami ingin besanan. Tolong maafkan Amran. Dia memang kepikiran istri pertamanya itu karena tak ada kabar sejak kemarin. Harap dimaklumi ya? Saya yakin kesempatan ketiga ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin olehnya," ucap mama dengan sedikit gugup. Mama pasti takut jika Om Galih murka dan benar-benar mencabut izinnya untuk menikahkan Lala denganku. 

"Iya, Pa. Harap dimaklumi, yang penting kan anak kita akan bahagia hidup bersama orang yang dicintainya," sambung Tante Risma sembari mengusap pipi anak bungsunya dengan tissu.  

"Sekali saja, Amran," tekan Om Galih lagi, aku pun mengiyakan. 

Baru mengucapkan Basmallah, tiba-tiba terdengar salam dari luar. Aku menoleh ke sumber suara. Di depan pintu utama, kulihat kembali senyum tipis dari bibir perempuan cantik itu. Perempuan yang sudah membuatku tak fokus saat mengucapkan qabul sedari tadi. Zilva, akhirnya dia datang juga. 

***  

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Venusiana Elizabeth
aku br nemu novel ini n br bc..tp udah gemes sm zilva..knp lo dtg oon dah..
goodnovel comment avatar
Sareta Ahmad
lanjut kan lagi
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status