Inicio / Male Adult / Kacamata Penakluk Wanita / 10. Mendapatkan Rahmi

Compartir

10. Mendapatkan Rahmi

Autor: Lincooln
last update Fecha de publicación: 2026-04-11 13:00:17

Lantai semen yang dingin tak menghentikan gemetar di kaki Rahmi saat helai terakhir pakaiannya jatuh ke lantai. Dia berdiri di sana, polos, mencoba menutupi dadanya yang montok dengan kedua tangan yang menggigil.

Napasnya pendek-pendek, menciptakan uap tipis yang seolah-olah mempertegas keheningan mencekam di kamar kos sempit itu.

"Singkirkan tanganmu, Rahmi. Aku ingin melihat apa yang Pak Rahmat nikmati tadi."

Rahmi tersentak, perlahan menurunkan lengannya. Matanya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kacamata Penakluk Wanita   122. Mobil curian

    Aroma tumis bawang putih dan cabai menyeruak masuk ke rongga hidung, membangunkanku dari tidur panjang yang lelap. Kesadaranku merayap pelan, mengumpulkan serpihan ingatan tentang malam sebelumnya—tentang Iis, Ajeng, dan Tejo yang saling memangsa di atas sofa ruang tengah.Kakiku menapak lantai kayu yang dingin. Langkahku gontai menuju sumber aroma yang semakin menggoda. Begitu aku muncul di area ruang tengah yang menyatu dengan dapur, pemandangan yang sangat kontras dari kekacauan malam tadi menyambutku.Iis berdiri di depan kompor dengan kaos tipis putih yang sama dari tadi malam, rambut hitam sebahu-nya diikat asal dengan karet gelang. Tangannya lincah mengaduk wajan berisi tumisan sayur dan daging yang mengeluarkan asap putih mengepul.Sementara itu, Ajeng—masih dengan pakaian tidur minimalisnya—tengah menyapu lantai kayu dengan gerakan teratur. Rambut panjang bergelombangnya dige

  • Kacamata Penakluk Wanita   121. Keganasan Pak Tejo

    Sesuatu berubah dalam diri Tejo saat Iis menungganginya dengan liar. Pria tua yang tadinya gemetar dan ragu kini mendengus seperti binatang terluka. Jemarinya yang keriput mencengkeram pinggul Iis dengan kasar, meninggalkan bekas kemerahan di kulit kuning langsatnya. "Cukup kau permainkan aku, l*nte!" geramnya tiba-tiba. "Apa—" Belum sempat Iis menyelesaikan kalimatnya, Tejo sudah mendorong tubuhnya jatuh ke samping. Iis terhempas di sofa dengan napas tersengal. Tejo bangkit dengan mata liar, menatap dua wanita di hadapannya dengan sorot kelaparan yang mengerikan. "Aku sudah dua tahun tidak menyentuh perempuan. Sekarang kalian mau mempermainkanku?" "Pak Tejo, kami hanya—" "Diam kau!" Tangannya yang kurus namun kuat mencengkeram rambut Ajeng, menarik kepala pelayanku itu hingga dia menjerit. Tejo memutar tubuh Ajeng dengan brutal, membungkukkan tubu

  • Kacamata Penakluk Wanita   120. Memuaskan Pak Tejo

    "Pak Tejo, berdiri dan berjalanlah ke sofa itu sekarang."Tejo menatapku dengan wajah melongo, mulutnya setengah terbuka memperlihatkan gigi-gigi kuningnya yang tidak rata. "M-Mas Bima... saya... ke sofa...?""Kau tidak tuli, kan? Ayo berdiri."Pria paruh baya kurus ceking itu bangkit dari kursinya dengan lutut gemetar. Pandangannya kosong, tidak percaya pada apa yang baru saja diperintahkan padanya. Dia melangkah seperti sapi yang dicolok hidungnya, tubuh ringkihnya bergoyang pelan mendekati sofa hitam tempat dua wanita rupawan yang tergeletak lemas nyaris tanpa busana.Iis mendorong tubuhnya yang sintal untuk duduk perlahan di sisi kanan sofa. Sisa-sisa cairan dari klimaksnya bersama Ajeng masih membasahi paha dalamnya yang kuning langsat, berkilauan di bawah lampu kristal. Dia menatap Tejo dengan mata sayu yang masih dipenuhi gairah meski tubuhnya sudah lelah.

  • Kacamata Penakluk Wanita   119 Pembalasan Ajeng

    Ajeng bangkit dari sofanya dengan lutut yang masih gemetar. Cairan cintanya sendiri masih membasahi paha dalamnya yang mulus, berkilau di bawah lampu kristal. Dia menatap Iis yang masih berlutut di atas karpet, menjilati sisa-sisa kenikmatan di bibirnya sendiri."Giliran aku sekarang, Teh Iis.""Kau yakin masih punya tenaga? Tadi kau sudah menjerit begitu keras sampai suaramu serak.""Aku belum puas. Tuan Bima ingin melihatku membalas perbuatanmu."Iis menyeringai dan bangkit dari lututnya, lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa hitam. "Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa binal dirimu sebenarnya."Ajeng tidak membuang waktu. Dia menaiki sofa, memposisikan dirinya mengangkangi paha Iis. Kedua tangannya mencengkeram ujung kaos tipis putih yang dikenakan Iis, lalu menariknya ke atas dengan satu gerakan cepat. Kaos itu melayang entah ke mana, mengekspos tubuh bagian atas Iis yang sintal khas wa

  • Kacamata Penakluk Wanita   118. Permainan Iis

    Kedua tangan Iis menyelinap di bawah kaos Ajeng, merayap naik dengan gerakan yang sangat lambat. Telapak tangannya yang hangat membelai perut rata Ajeng, melewati pusarnya yang mungil, lalu semakin naik hingga menyentuh bagian bawah payudara kenyal yang tidak terlindungi apa pun."Ini... sangat memalukan... Pak Tejo di sana... menatap kita..." rintih Ajeng sambil melirik ke arah meja makan."Jangan pedulikan dia. Fokuskan pikiranmu padaku."Aku menoleh ke arah Tejo yang duduk kaku di kursinya. Pria paruh baya itu menatap dengan mulut sedikit terbuka, matanya tidak berkedip seolah takut melewatkan satu detik pun dari adegan yang tersaji di depannya. Aku menyeringai puas, lalu kembali menatap kedua pelayanku.Iis akhirnya mendorong kaos putih Ajeng ke atas, mengekspos sepa

  • Kacamata Penakluk Wanita   117. Antara Iis dan Ajeng

    "Kalian berdua. Bercinta sekarang. Di depanku."Kata-kataku menghujam udara ruang tengah yang hangat. Ajeng dan Iis serentak menoleh dengan mata membelalak lebar, bibir mereka sedikit terbuka menahan napas yang tersentak. Jari-jemari Ajeng yang masih melingkar di pinggangku mengerut kaku."Tuan... apa yang barusan Anda katakan?" bisik Ajeng dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya."Telingamu tidak salah, Ajeng. Aku ingin melihat kalian berdua bercinta. Di depanku dan di depan Pak Tejo."Iis meneguk ludah, matanya yang sayu berpindah dariku ke arah Ajeng, lalu kembali ke arahku. "Tuan Bima... saya baru saja selesai melayani lima pria sekaligus... tubuh saya masih...""Aku tidak memintamu untuk melayaniku, Iis. Aku ingin ka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status