Share

3. Kontrol absolut

Author: Lincooln
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-05 09:47:07

"Apa kacamata ini bisa mengendalikan?"

Eva tersenyum, "Bisa, Tuan."

Aku mengulang. "Maksudmu... alat ini bisa mengontrol orang? Siapa yang bikin benda gila begini? Sony? Meta? Tidak mungkin ada teknologi segila ini di pasaran"

"Hihihi.."

Eva terkekeh, suaranya seperti denting lonceng perak yang membelai telingaku. Dia mulai berjalan mengitari tubuhku dengan langkah kucing yang elegan, seolah memamerkan betapa mulusnya setiap sendi dan ototnya bergerak.

Tidak ada gerakan patah-patah. Dia benar-benar cair, luwes, dan sangat manusiawi.

"Tuan tidak akan menemukan mereknya di pasar manapun, bahkan di pasar gelap sekalipun." Eva berhenti di sampingku, menatapku dengan binar mata yang terlalu cerdas untuk sebuah kecerdasan buatan.

Aku mengangkat kedua tanganku ke depan wajah. Aku mencoba menggerakkan jemariku, menekankan ujung jempol ke setiap ujung jari lainnya secara bergantian.

Aku bisa merasakan gesekan sidik jariku, sensasi kasar yang halus, dan tekanan yang sangat presisi. "Ini gila...."

Eva tiba-tiba menghilang dari pandanganku dan muncul tepat di belakang punggungku.

Aku tersentak saat merasakan sepasang lengan ramping melingkar di pinggangku. Tubuh mungilnya tentu tidak setinggi tubuh tambunku, sehingga dia hanya bisa memeluk area perutku. Ujung kedua tangannya bahkan tidak bisa bertaut di depan perutku yang buncit, tapi bukan itu yang membuat napasku tercekat.

Punggungku menangkap sensasi panas yang menjalar hebat. Sepasang gumpalan daging yang sangat empuk, padat, dan besar menekan kuat ke tulang belikatku.

Aku bisa merasakan detak jantungnya—atau mungkin itu detak jantungku sendiri yang berdegup liar—bersatu dengan hembusan napasnya yang berat dan hangat di punggungku.

"Teknologi ini adalah anomali, Tuan Bima. Manusia biasa di dimensimu belum saatnya memiliki ini. Penciptaku... dia berasal dari tempat yang jauh melampaui pemahamanmu tentang ruang dan waktu."

Eva sengaja menggesekkan dadanya yang montok ke punggungku, bergerak perlahan naik dan turun. Getaran itu terasa nyata hingga ke sumsum tulangku, membuat aliran darahku menderu kencang menuju selangkangan. Celanaku terasa mendadak sempit.

"Oleh karena itu, Tuan akan bisa memanipulasi dunia tiga dimensi yang Tuan tempati sekarang. Kau adalah admin, dan mereka hanyalah bidak yang bisa kau atur sesuka hati."

Aku mencoba menoleh ke samping, berusaha melihat wajahnya yang tersembunyi di balik bahuku. "Memanipulasi? Apa maksudmu? Aku bisa mengubah orang lain? Seperti curang di dalam game?"

Eva melepaskan pelukannya, membiarkan rasa dingin sesaat menyergap punggungku yang tadi hangat. Dia kembali berjalan ke depanku, berdiri dengan jarak yang sangat intim hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya yang seperti perpaduan melati dan keringat tipis yang menggoda.

"Seiring berjalannya waktu, Tuan pasti paham. Simpan dulu semua pertanyaan."

Dia mengedipkan sebelah matanya. Tangannya yang mungil merayap ke dadaku, mempermainkan kerah kausku.

"Sekarang, mari kita masuk ke pengaturan karakterku. Aku adalah asisten pribadimu, pelayanmu. Tuan ingin aku menjadi seperti apa?"

Aku menatap wajah orientalnya yang sempurna. Kulit putih porselen itu seolah bercahaya di ruangan serba putih ini. Keberanian yang tidak pernah kumiliki di dunia nyata mendadak muncul.

Aku melangkah maju, memperpendek jarak hingga perutku bersentuhan dengan dadanya. Aku mengangkat tangan, menjepit dagunya yang lancip dengan ibu jari dan telunjukku.

"Aku ingin kau menjadi..... nakal?" gugupnya

Eva menatapku sayu. Matanya mendadak basah, bibir merah delimanya sedikit terbuka, membiarkan desahan manja keluar dari kerongkongannya. "Pilihan yang sangat berani, Tuan Bima. Aku bisa menjadi pemuasmu yang paling setia."

Aku merangkul pinggangnya yang kecil, menarik tubuhnya hingga menempel total pada tubuh besarku. Rasanya sangat kontras, namun sangat nikmat. "Jadi, apa yang bisa kau berikan padaku sekarang, Eva?"

Eva mengulum senyum nakal. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di dadaku, lalu mendorongku dengan lembut namun tegas.

Setelah aku mundur selangkah, tangannya beralih ke bagian atas pakaian perak ketat yang membungkus tubuhnya. Jemarinya yang lentik memegang kepala resleting tepat di bawah lehernya.

"Lihat baik-baik, Tuan."

Sreettt.

Suara halus resleting terdengar saat dia menurunkannya perlahan. Mataku tak berkedip, mengikuti gerak tangannya. Resleting itu melewati lembah dadanya yang dalam, membuka celah yang memperlihatkan gundukan putih tanpa bra.

Kulitnya terlihat sangat kenyal, dengan gurat pembuluh darah halus yang samar di bawah permukaan kulit, membuktikan betapa realistisnya sistem ini.

Dia terus menurunkan resleting itu melewati pusarnya yang mungil, hingga ke pangkal paha. Pakaian perak itu terbelah, jatuh dari bahunya dan menumpuk di lantai, meninggalkannya berdiri sepenuhnya polos di depanku.

Aku terkesiap. Napasku tertahan di tenggorokan.

Dadanya yang montok membusung indah, dengan kuncup merah muda yang mengeras karena udara dingin ruangan. Perutnya rata, lembut, dan berakhir pada hamparan kulit mulus di bagian bawahnya yang bersih tanpa bulu sehelai pun.

Semuanya terlihat begitu nyata, begitu mengundang untuk disentuh.

Eva mengangkat kedua tangannya, menyimpulkan jemarinya di belakang kepala. Gerakan ini membuat ketiaknya yang mulus terlihat menyempurnakan tubuhnya. Dadanya semakin terangkat tinggi, menonjolkan bentuknya yang sempurna dan bulat.

Dia sedikit melengkungkan punggungnya, memamerkan lekuk pinggulnya yang lebar. "Silakan, Tuan. Cek tubuh ini sepuasmu. Apakah ini sudah sesuai dengan imajinasimu?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kacamata Penakluk Wanita   171. Akhir yang manis

    Hari yang dinanti akhirnya tiba. Ruang sidang yang kumasuki bersama Rahmi itu terasa dingin. Bukan hanya oleh pendingin udara yang menderu pelan dari langit-langit, tapi juga oleh atmosfer yang menusuk tulang begitu aku melangkah masuk bersama Rahmi di sisi kananku.Mataku menyapu ruangan—meja-meja kayu berlapis veneer tua, kursi-kursi berderet seperti bangku gereja, dan di depan sana, di balik podium tinggi berlapis kain merah hati, Yudha duduk dengan toga hitam yang membungkus tubuhnya.Rahmi menggenggam lenganku. Jemarinya yang mungil mencengkeram kemejaku erat-erat, dan aku bisa merasakan getaran kecil di ujung jemarinya."Tenang," bisikku tanpa menoleh. "Kita di sini cuma buat nonton.""Iya, Kak Bima," jawabnya lirih, tapi genggamannya tidak mengendur.Kami memilih bangku di baris ketiga. Rahmi duduk di sebelahku, dan Monica—yang sudah menungguku di lobi sejak setengah jam lalu—kini melangkah masuk dan duduk di sebelah kiri Rahmi. Rok pensil abu-abu dan blazer hitam membuatnya ta

  • Kacamata Penakluk Wanita   170. Serahkan ke Monica

    Ruangan itu berbau vanila dan kertas tua, khas ruang dosen yang jarang dibuka jendelanya. Tanganku memutar kunci hingga terdengar klik, mengurung kami berdua dari dunia luar. Monica berdiri di belakang kursi kerjanya, posturnya tegak—tidak ada lenggokan nakal atau senyum menggoda seperti biasanya. Matanya menatapku lurus dengan sorot penuh perhitungan, tapi di balik itu, aku masih bisa melihat kepatuhan mutlak yang tidak pernah luntur. Aku berjalan mendekat, dan tanpa diperintah, Monica melangkah ke samping, memberi ruang untukku menduduki kursi empuk miliknya. Aku memutar kursi itu, menghadap dia yang kini berdiri dengan tangan terlipat di depan perut, seperti seorang ajudan yang menunggu instruksi dari jenderalnya. "Apa yang sebaiknya kita lakukan, Tuan?" Suaranya datar, efisien. "Sepertinya kita mulai dengan menunjukkan bukti-bukti yang ada agar Yudha terjebak." Jemariku mengetuk-ngetuk sandaran tangan. "Kita tidak bisa memberinya waktu berpikir terlalu lama. Begitu rekaman i

  • Kacamata Penakluk Wanita   169. Rencana pembalasan

    Deru ponsel di meja samping ranjang membangunkanku dari tidur yang lelap. Mataku mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya pagi yang menerobos tirai tipis. Nama Monica tertera di layar, membuatku langsung menekan tombol hijau."Selamat pagi, Monica. Ada kabar penting?"Suara di seberang terdengar tegas namun tetap menyimpan nada takluk yang khas. "Tuan, saya baru dapat informasi, jadwal sidang Alex dan Charles ternyata dijadwalkan di hari yang sama, minggu depan.""Sempurna," ujarku sambil menegakkan punggung. Aku mengusap dagu, otakku mulai bekerja. "Aku perlu kita bertemu. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan. Di mana kau sekarang?""Saya ada di kampus, Tuan. Baru saja selesai mengajar kelas pagi. Mau saya ke rumah Tuan?""Tidak perlu. Aku yang akan ke kampus. Tunggu di ruanganmu. Aku sampai sekitar satu jam lagi.""Baik, Tuan."Panggilan terputus. Aku melempar ponsel ke ranjang dan bangkit, melangkah ke kamar mandi dengan langkah mantap. Air dingin mengguyur tubuhku, membersihkan s

  • Kacamata Penakluk Wanita   168. Habis-habisan

    Aku menyaksikan Ajeng yang kini merangkak di atas aspal kasar, lututnya yang putih mulus kemerahan oleh gesekan dengan permukaan parkiran. Pria dengan singlet basah mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya ke belakang sementara pria terbesar berdiri di depannya, batangnya yang masih berlumuran campuran lendir dan cairan jantan sudah siap untuk ronde berikutnya."Buka mulutmu lagi, Neng. Kali ini kita gabung dua."Ajeng mendongak, matanya yang sayu menatap batang di depannya dengan rakus. "Iya, Mas... kasih Ajeng semuanya..."Pria singlet kini menusuk liang Ajeng dari belakang sementara pria terbesar menjejalkan batangnya ke dalam mulut Ajeng. Tubuh Ajeng terjepit di antara dua tubuh tambun itu, payudaranya yang montok berguncang liar oleh hentakan dari dua arah."Nghmmphh... hmmphh...""Rasain! Dari depan belakang, Neng!"Pria gempal yang sudah selesai kini berlutut di samping tubuh Ajeng. Dia meraih tangan Ajeng dan membimbingnya ke batangnya sendiri yang sudah setengah mengeras lag

  • Kacamata Penakluk Wanita   167. Di dekat truk

    Pria besar itu menarik tubuh Ajeng dari ranjang. Jemarinya yang kapalan mencengkeram lengan atas Ajeng, menyeretnya telanjang bulat keluae kamar. Udara malam yang lembab dan bau solar langsung menyambut kulitnya yang berlumur keringat dan air kejantanan."Mau dibawa ke mana, Mas?" suara Ajeng terdengar serak, tapi matanya berkilat penuh gairah."Ke tempat yang lebih luas, Neng. Biar semua pada lihat."Pria dengan singlet basah dan pria ketiga mengikuti dari belakang, batang mereka masih berdiri tegak dan berdenyut-denyut. Telapak kaki Ajeng yang telanjang menginjak aspal kasar di parkiran truk, kerikil-kerikil kecil menusuk kulit lembutnya, tapi dia hanya meringis nikmat.Mereka berhenti di depan sebuah truk besar berwarna hijau pudar. Badan truk itu menjulang seperti monster tidur di tengah kegelapan. Lampu parkiran yang redup berkedip-kedip di kejauhan, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di atas kontur tubuh Ajeng yang putih mulus—kontras sempurna dengan kegelapan di sekelili

  • Kacamata Penakluk Wanita   166. Berpura-pura takut

    "Mau teriak minta tolong, Neng?" pria dengan singlet basah itu menyeringai, memperlihatkan giginya yang kuning kecoklatan. "Silakan aja. Di sini cuma ada sopir truk yang juga pengen nyobain tubuh mulus kayak punyamu."Ajeng membuka mulut, berpura-pura akan berteriak, tapi sebelum suara keluar dari tenggorokannya, pria yang satunya sudah melesat. Lengannya yang sebesar batang kelapa memiting leher Ajeng dari samping, sementara telapak tangannya yang kasar membekap mulutnya rapat-rapat."Nggghhh... lep... lepaskan..." suara Ajeng teredam di balik jemari kapalan itu.Dia memberontak. Tubuhnya menggeliat liar di atas sprei kumal, membuat hoodie pendeknya tersingkap naik dan payudaranya yang montok berayun-ayun bebas. Pria yang memitingnya langsung membelalakkan mata."Gilaaa! Cewek ini nggak pakai BH!"Tangannya yang bebas langsung meraih dada Ajeng, meremasnya kasar hingga daging empuk itu menonjol di antara jemarinya. Kuncup payudara Ajeng mengeras seketika oleh sentuhan paksa itu. Ajen

  • Kacamata Penakluk Wanita   161. Ajeng dan Tejo mudik

    Langit sore mulai menguning saat aku dengan motor bututku memasuki garasi rumah. Aku memarkir di ruangan yang luas dan rapi itu, lalu berjalan menuju pintu samping di garasi. Biasanya, Ajeng akan muncul dalam hitungan detik, dengan daster sederhana dan senyum malu-malu khasnya.Tapi kali ini berbed

  • Kacamata Penakluk Wanita   160. Posesif

    Jemariku mencengkeram kerah sweater rajut Rahmi, lalu menariknya ke atas dengan satu sentakan brutal. Benang-benang rajut itu melolos dari tubuh mungilnya, memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus tanpa sehelai benang pun.Payudaranya yang besar dan montok berguncang bebas, kuncup merah mudanya men

  • Kacamata Penakluk Wanita   2. Sistem pengendali manusia

    “Perkenalkan, namaku Eva, pemandu dan asisten tuan dalam kacamata ini.”Suara perempuan yang mengaku bernama Eva itu terdengar lembut namun bergetar di telingaku seolah dia berbisik langsung di dalam kepalaku. Dia melangkah mendekat dengan anggun dan menggoda.Aku mengamati setiap gerakannya. Tubuh

  • Kacamata Penakluk Wanita   1. Kacamata ajaib

    "Ini sampah, Bima! Kamu mau lulus tahun ini atau nunggu sampai jenggotan di kampus ini?"Suara dosenku, Monica melengking. Ia membanting bundel kertas revisiku ke atas meja. Matanya menatapku tajam, dia bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan kaki jenjangnya yang terbungkus rok span ketat. Gerak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status