LOGINLampu teras yang hanya berkekuatan lima watt itu berayun pelan ditiup angin malam, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas lantai kayu rumah Nenek yang berderit.
Aku menyandarkan punggung pada kursi jengki tua, membiarkan kegelapan pekat dari kebun nangka di depan menyelimutiku. Sunyi di sini berbeda dengan kota; ia lebih berat, lebih menekan paru-paru.
Aku menyentuh pelipisku tiga kali. Layar hologram biru transparan segera membiaskan cah
Aku lalu bergegas kembali ke unit karena yakin Sari akan berbuat nakal. Aku begitu penasaran, karena Sari kerap melakukan hal-hal tidak terduga yang menggairahkan. Begitu sampai di sofa, aku langsung menghempaskan tubuhku sambil memegang gagang kacamata."Mode monitor: Pelayan 2, Sari."Dunia di sekitarku seketika memudar, berganti dengan proyeksi tiga dimensi yang jernih. Aku melihat Sari sedang berada di dalam kamar rumah Pakde Tarman yang remang.Dia baru saja meletakkan ponselnya, namun kacamata ini menangkap riwayat aktivitasnya dengan presisi digital. Alisku bertaut. Ternyata, setelah mengirimkan rentetan foto panas itu kepadaku, dia meneruskan foto-foto yang sama kepada Herman."Apa yang sedang kau rencanakan, Sari? Kenapa kau mengirimkan foto-foto itu pada Herman?"Suaraku menggelegar langsung di pusat kesadaran Sari. Dia tersentak, hampir terjungkal dari tepi tempat tidur. Matanya yang sayu membelalak, menoleh panik ke penjuru kamar yang kosong."T-tuan? Ampun, Tuan Bejo!"Sa
Layar kacamata emas itu masih menampilkan visual tiga dimensi Mila yang sedang gelisah di lorong rak, tapi dorongan adrenalin di nadiku menuntut sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar proyeksi digital. Aku melepaskan kacamata itu, menyeringai menatap pantulan diriku yang kerempeng namun penuh kuasa di cermin ruang kerja. Unit penthouse ini terasa terlalu sunyi. Aku butuh melihat langsung bagaimana pelayan baruku itu gemetar di bawah tatapanku di tempat umum. Aku menyambar kemeja flanel gelap, memakainya tanpa dikancing untuk menutupi kaus oblongku, lalu melangkah keluar menuju lift pribadi. Denting halus lift membawa perasaanku turun ke lantai dasar. Begitu pintu terbuka di area komersial yang sejuk oleh angin sore, aku berjalan santai menuju minimarket berlogo merah-biru itu. Lonceng di atas pintu berdenting saat aku melangkah masuk. Aroma khas pembersih lantai dan roti murah langsung menyambut. Mila sedang membelakangiku, berjinjit untuk menata deretan susu kotak di rak pal
Mila melangkah keluar dari toilet dengan gerakan yang kaku, seolah-olah setiap sendinya terbuat dari kaca yang hampir retak. Aku menikmati keresahannya sambil bersandar di kursi kulit kerjaku, melihat pemandangan tiga dimensi dari Mila yang yang terpampang nyata. Kain kemeja seragam minimarket yang berbahan poliester kasar itu bergesekan langsung dengan kulit payudaranya yang sensitif. Setiap helai napas yang ia tarik membuat kain itu mengikis kuncup dadanya, menciptakan sensasi geli yang menyiksa sekaligus membangkitkan gairah yang terpancar dari rona merah di pipinya. Sepasang tonjolan kecil tercetak jelas di balik kain tipis seragamnya. Tanpa penyangga bra, gundukan kembar itu bergoyang bebas mengikuti irama langkahnya yang ragu. Untungnya, sore itu minimarket cukup lengang, hanya deru mesin pendingin dan suara barang yang digeser dari arah gudang yang memecah keheningan. Rekan kerjanya, seorang wanita berambut dikuncir kuda, mendongak dari balik meja kasir. Matanya menyi
Lantai marmer penthouse menyambut langkah kakiku dengan keheningan yang mahal. Istana rahasiaku ini terasa semakin seperti rumah, jauh lebih nyaman daripada bilik kantor yang menyesakkan dan penuh tekanan atasan. Aku meregangkan bahu, merasakan empuknya sofa kulit yang menyangga tubuh kerempengku. Nadia belum pulang. Di kantor, aku juga tidak melihat batang hidungnya. Tapi biarlah, sepertinya dia sedang "bertugas" menjadi santapan para elit politik busuk itu. Bayangan dia sedang melayani pria-pria berjas itu sempat melintas, namun rasa penasaranku justru tertuju pada mangsa lain. Mila. Pelayan ketigaku yang baru saja kutaklukkan semalam. Aku berjalan menuju meja kerja, tempat kacamata berbingkai emas itu tergeletak diam. Seharian ini aku sengaja meninggalkannya. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak bergantung pada benda ini. Namun, rindu akan kendali mutlak itu mulai menggerogoti kewarasanku. "Kamu m
Lampu-lampu taman di sekitar kolam renang memantul redup pada permukaan air yang tenang, menciptakan riak cahaya yang menari-nari di kulit Mila yang masih berkeringat. Aku merapikan ikat pinggang, mengabaikan Mila yang sibuk memunguti pakaian dalamnya dari lantai semen yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, aku membalikkan badan, melangkah meninggalkan kegelapan gudang alat itu menuju lobi utama. "Mas! Eh.. Tuan Bejo, tunggu!" Derap langkah kecil yang terburu-buru mengejarku. Sebuah tangan yang ramping dan masih gemetar mencengkeram lengan kemejaku, menahan gerakanku. Mila berdiri di depanku dengan napas tersengal, kancing kemejanya salah pasang dan kerudungnya tersampir asal-asalan, membingkai wajahnya yang pucat penuh harap. "Uang itu... Tuan akan benar-benar membayar semua hutang-hutang saya, kan?" Aku berhenti, memutar tubuh perlahan hingga bayanganku yang tinggi menutupi sosok mungilnya. Ujung t
Jarum jam di dinding penthous menunjukkan pukul 00.30. Sudah lewat setengah jam dari janji pertemuan dengan Mila. Sial, semua gara-gara aku terlalu fokus mengerjai Sari. Aku bergegas turun dan melintasi lobi apartemen yang mulai sepi, hanya tersisa aroma pembersih lantai yang tajam dan dengung pelan mesin pendingin ruangan. Langkah kakiku menggema di lantai marmer saat aku menuju area kolam renang yang terletak di dekat zona komersial. Sesosok wanita duduk meringkuk di salah satu kursi santai kayu di pinggir kolam. Cahaya dari layar ponselnya menerangi wajahnya yang cemas di tengah kegelapan. Mila. Begitu menyadari kehadiranku, dia langsung melompat berdiri. Napasnya terembus panjang, seolah seluruh beban di pundaknya baru saja luruh. "Kira-kira lima menit lagi Mas Bejo nggak muncul, aku sudah mau pulang." Mila merapikan kemejanya yang sedikit kusut, matanya yang bulat menatapku dengan binar lega sekaligus lelah. "Ada urusan yang
Begitu daun pintu kayu rumah Pakde Tarman berderit tertutup, Joko langsung memutar kunci dua kali. Bunyi "klik" logam itu seolah menjadi lonceng dimulainya pesta liar bagi mereka. Di bawah temaram lampu teras yang merembas masuk dari celah jendela, aku melihat melalui kacamata emas ini
Jantungku berdentum kencang, seirama dengan napas Sari yang memburu di layar kacamata ajaibku. Semua ini benar-benar di luar dugaan. Dua pria yang selama ini kukenal sebagai tetangga baik-baik, Pak Supri yang ramah ke semua orang dan Mas Joko yang pendiam, kini menatap Sari seolah
Sari masih terengah-engah di atas lantai gudang yang dingin, dadanya yang montok naik turun dengan liar seiring detak jantungnya yang belum stabil. Sisa-sisa cairan kenikmatan masih berkilau di celah paha dalamnya, membasahi semen kusam di bawahnya. Aku memperhatikannya dari balik
Pintu sedan mewah itu tertutup dengan debuman berat, mengunci kesunyian yang mencekam di dalam kabin yang beraroma kulit mahal dan sisa-sisa keringat gairah.Bram menyandarkan punggungnya, melonggarkan dasi yang sejak tadi mencekik lehernya, sementara matanya yang tajam melirik ke samp







