Home / Thriller / Kacamata Penakluk / 8. Rahasia Sari

Share

8. Rahasia Sari

Author: Lincooln
last update publish date: 2026-02-16 19:29:06

Ban SUV mewah itu melindas kerikil tajam di pelataran parkir rumah makan di perbatasan desa. Debu mengepul, menyelimuti bodi mobil yang mengkilap, kontras dengan deretan motor bebek butut dan angkutan pedesaan yang terparkir semrawut.

Aku turun, membiarkan pintu mobil tertutup dengan dentuman solid yang membuat beberapa orang di sana menoleh. Kaos oblongku yang sudah mulai menipis di bagian pundak dan celana pendek selututku tampak seperti penghinaan terhadap kendaraan yang baru saja kupakai.

"Tuan, apakah tempat ini cukup layak untuk Anda?"

Nadia berdiri di sampingku. Dia merapikan rok span hitamnya yang ketat, membalut paha padat yang semalam kucumbui habis-habisan di lantai semen. Kemeja putihnya yang tipis sedikit kusut, tapi tetap memancarkan aura kelas atas yang tidak bisa disembunyikan.

"Layak atau tidak, perutmu yang menjawab tadi, kan?"

Aku melangkah masuk ke rumah makan semi terbuka itu. Aroma sambal terasi dan ikan bakar menyerbu indra penciumanku. Aku memilih meja di pojok, yang memberikan pandangan luas ke seluruh ruangan sekaligus ke jalan raya di luar.

Nadia duduk di hadapanku dengan posisi punggung tegak sempurna, tangannya diletakkan di atas pangkuan dengan sopan.

"Pesan apa saja yang kau mau. Jangan menahan diri."

Nadia menatap menu dengan binar mata yang sulit disembunyikan. "Boleh saya memesan ikan gurame bakar dan tumis kangkung, Tuan?"

"Pesanlah. Aku yang pegang kendalinya, tapi kau yang harus mengisi tenagamu."

Saat pesanan datang, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita ini, yang biasanya hanya menyentuh salad atau makanan porsi kecil di kantin eksekutif, kini menyantap ikan bakar itu dengan rakus.

Jemarinya yang lentur dengan manikur mahal kini berlepotan bumbu kuning. Dia menyuap nasi dengan porsi yang sanggup membuat buruh bangunan sekalipun merasa minder.

"Enak?"

Nadia mendongak, sebutir nasi menempel di sudut bibirnya yang merah. Dia mengangguk cepat, matanya berbinar penuh pengabdian. "Luar biasa, Tuan. Saya tidak pernah menyangka makanan di pinggir jalan bisa selezat ini."

"Mungkin karena kau makan tanpa beban harga diri lagi."

Tawaku pecah melihatnya mengangguk patuh sambil terus mengunyah. Namun, keceriaan kecil itu menguap saat sepasang kaki melangkah berat menuju meja kami. Aku mengenali langkah itu.

Langkah orang yang merasa memiliki seluruh dunia padahal hanya menguasai sepetak tanah curian.

"Lho, Bejo? Masih belum balik ke kota, Jo?"

Pakde Tarman berdiri di samping meja kami, tangannya memeluk pinggang Sari yang menatap kami dengan pandangan menghina. Mata Pakde langsung terpaku pada Nadia.

Dia tidak lagi melihatku. Bola matanya yang kuning dan berminyak mulai menggerayuti lekuk tubuh Nadia, berhenti agak lama di belahan kemeja putih yang sedikit terbuka saat Nadia membungkuk untuk mengambil piring.

"Waduh, ini siapa, Jo? Teman kantor?"

Sari mencibir, menyikut perut buncit Tarman dengan kasar. "Mas Tarman ini gimana sih. Mana mungkin Bejo punya teman secantik ini. Paling ini bosnya yang sedang kasihan, atau... entahlah. Hei, Mbak, kok mau-maunya makan sama kuli seperti dia?"

Nadia berhenti mengunyah. Dia tidak menatap mereka dengan jijik seperti biasanya. Dia justru menatapku, menunggu instruksi.

Tidak ada lagi amarah Manajer HRD yang biasanya akan langsung menyemprot orang-orang kampung seperti mereka dengan kata-kata pedas. Dia diam, patuh sepenuhnya.

"Namanya Nadia, Pakde. Dia temanku dari kota."

Aku menyandarkan punggung, menatap Tarman dengan senyum miring. "Kami baru saja beres-beres rumah Nenek. Rencananya aku masih mau menumpang di sana beberapa hari lagi. Masih banyak yang harus dirapikan."

Tarman berdehem, matanya masih belum lepas dari dada Nadia yang naik turun teratur. "Oalah, begitu. Ya boleh saja, asal jangan lama-lama. Tanah itu sudah ada yang menawar, Jo. Jangan sampai kehadiranmu malah merusak kesepakatan."

"Tenang saja, Pakde. Aku tahu diri."

Aku melirik Nadia, lalu beralih ke Sari yang tampak gerah karena suaminya terus-menerus memandangi Nadia.

Sebuah ide liar melintas di kepalaku. Kacamata di wajahku memberikan getaran halus, seolah-olah sistem di dalamnya sedang menganalisis peluang yang baru saja tercipta.

"Nadia, sepertinya Pakde Tarman tertarik dengan ceritamu di kota."

Aku mencondongkan tubuh, menyentuh lengan Nadia dengan lembut namun penuh tekanan. "Buka kancing paling atas kemejamu. Di sini agak panas, bukan?"

Nadia tidak bertanya. Dengan gerakan tenang dan sensual yang alami, jemarinya membuka satu kancing teratas kemeja putihnya. Kain itu meregang, memamerkan lebih banyak kulit putih mulus dan sedikit renda hitam dari branya.

Tarman menelan ludah dengan suara yang jelas terdengar di tengah kebisingan rumah makan.

"Pakde, boleh saya minta tolong?"

Aku menatap Tarman yang kini tampak seperti kerbau dicocok hidung. "Nadia ingin tahu lebih banyak soal silsilah keluarga kita di sini. Katanya dia tertarik dengan sejarah desa. Bagaimana kalau Pakde jelaskan padanya di meja pojok sana? Biar lebih tenang."

"Oh, tentu! Tentu saja boleh!" Tarman menjawab dengan semangat yang meluap-luap. Dia bahkan lupa kalau Sari masih berdiri di sampingnya.

"Tapi Mas..." Sari mencoba memprotes.

"Sudah, kamu diam dulu, Sari! Ini urusan orang tua. Kamu di sini saja dulu sama Bejo," Tarman mengibaskan tangannya, mengusir istri mudanya seolah-olah dia hanyalah lalat pengganggu.

Nadia berdiri, memberikan senyum manis yang sangat terlatih—senyum yang bisa menghancurkan pertahanan pria manapun. Dia melangkah menuju meja di sudut ruangan, diikuti Tarman yang berjalan dengan langkah cepat, matanya terpaku pada bokong Nadia yang bergoyang di balik rok ketat itu.

Sari berdiri kaku, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menatap suaminya dengan penuh kebencian. Saat itulah aku beraksi.

"Duduklah, Sari. Jangan berdiri seperti pelayan begitu. Malu dilihat orang."

Sari menoleh padaku, matanya menyipit. "Apa maumu, Bejo? Jangan pikir karena suamiku tergoda dengan temanmu itu, aku jadi mau bicara dengamu."

"Duduk saja. Pakde sepertinya akan lama bicara dengan Nadia. Daripada kamu jadi tontonan orang-orang di sini, lebih baik duduk denganku. Aku tidak akan menggigitmu."

Sari melirik Tarman yang kini sudah duduk berhadapan dengan Nadia, tampak asyik mengobrol sementara tangan Tarman mulai mencoba menyentuh jemari Nadia di atas meja. Sari mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi yang tadi diduduki Nadia.

"Laki-laki memang semuanya sama. Brengsek."

[TINGKAT KEPATUHAN TARGET SARI: 30%]

Notifikasi itu berkedip di lensa kacamataku. Aku tertegun sejenak. Jadi begitu cara kerjanya. Sistem ini tidak selalu butuh ancaman langsung.

Ketika seseorang menuruti keinginan kita—sekecil apapun itu, bahkan jika dipicu oleh rasa kesal atau terpaksa karena situasi—tingkat kepatuhannya akan merangkak naik. Dan setiap kenaikan itu akan mengubah persepsi mereka terhadapku.

"Minum ini, Sari. Biar kepalamu sedikit dingin."

Aku menyodorkan gelas es teh manis milik Nadia yang masih setengah penuh. Sari menatap gelas itu, lalu menatapku. Matanya tidak lagi setajam tadi. Ada kilatan keraguan, mungkin juga rasa haus yang mengalahkan gengsinya.

"Terima kasih."

Dia mengambil gelas itu dan meminumnya dengan cepat. Aku memperhatikan lehernya yang bergerak naik turun saat menelan air.

Sari adalah wanita yang cantik untuk ukuran desa, dengan kuning langsat yang bersih dan tubuh yang berisi. Sayangnya, dia memilih untuk menjadi parasit bagi pria menjijikkan seperti Tarman.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"

Sari meletakkan gelas dengan sedikit dentuman. "Mau menghinaku juga? Bilang kalau aku ini istri simpanan yang tidak berguna?"

"Tidak. Aku justru kasihan padamu."

Aku memutar-mutar gelas di tanganku. "Punya suami yang lebih tua darimu, pelit, dan masih jelalatan pada wanita lain. Kamu pasti merasa sangat kesepian di rumah sebesar itu, kan?"

Wajah Sari berubah. Benteng pertahanannya mulai retak. Dia tidak membantah. Dia justru mengalihkan pandangannya ke arah Tarman yang kini tertawa terbahak-bahak mendengar sesuatu yang dikatakan Nadia.

"Kamu tidak tahu apa-apa soal hidupku, Bejo."

"Mungkin aku tidak tahu semuanya," aku mencondongkan tubuh, suaraku merendah hingga hampir menyentuh telinganya. "Tapi aku tahu kamu punya rahasia. Rahasia yang bisa membuat Pakde Tarman atau bahkan seluruh desa ini mengusirmu tanpa membawa sepeser pun uang."

Sari tersentak. Dia menatapku dengan mata yang membelalak penuh ketakutan. "Apa... apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura bodoh, Sari. Ponselmu... isinya cukup menarik, bukan? Terutama percakapanmu dengan bendahara desa soal dana bantuan itu."

Wajah Sari pucat pasi. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya tampak lemas. "Kamu... kamu dari mana tahu?"

"Duduk kembali, Sari. Tetap tenang jika tidak ingin Pakde Tarman curiga."

Sari kembali duduk, tubuhnya gemetar hebat. Dia kini menatapku bukan lagi sebagai keponakan suaminya yang miskin, tapi sebagai ancaman yang nyata. Dan di situlah letak kekuatanku sekarang.

[TINGKAT KEPATUHAN TARGET SARI: 45%. STATUS: TERINTIMIDASI.]

"Apa yang kamu mau, Bejo? Uang? Aku bisa memberimu sedikit, asal kau tutup mulut."

Aku tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar dingin di telingaku sendiri. "Uang? Aku tidak butuh uangmu, Sari. Aku ingin sesuatu yang lain."

Aku melirik ke arah meja pojok. Nadia memberikan kode dengan kedipan mata, menandakan Tarman sudah sepenuhnya masuk ke dalam perangkapnya. Aku kembali menatap Sari, yang kini menunduk, tidak berani membalas tatapanku.

"Mulai sekarang, kamu akan mengikuti semua arahanku. Jika aku menyuruhmu datang ke rumah Nenek, kamu datang. Jika aku menyuruhmu diam, kamu diam. Mengerti?"

Sari menelan ludah. Dia melirik suaminya, lalu kembali menatapku dengan tatapan pasrah yang mulai menyerupai Nadia. "Iya, Bejo. Aku mengerti."

Aku tersenyum puas. Kacamata ini benar-benar alat yang luar biasa. Dalam hitungan menit, aku baru saja menjinakkan satu lagi musuhku di desa ini. Dan ini baru permulaan.

"Bagus. Sekarang, pergilah ke toilet. Cuci wajahmu agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Aku akan memanggil Pakde Tarman untuk segera pulang."

Sari berdiri dengan patuh, berjalan menuju toilet tanpa sepatah kata pun. Aku memberi isyarat pada Nadia. Dia segera mengakhiri pembicaraannya dengan Tarman dengan gerakan yang sangat halus, membuat pria tua itu tampak kecewa karena harus berpisah begitu cepat.

"Waduh, Jo, temanmu ini pintar sekali bicara," Tarman menghampiriku dengan wajah berseri-seri. "Kapan-kapan ajak dia main ke rumah, ya? Sari pasti senang punya teman baru."

"Tentu, Pakde. Nanti kalau ada waktu kami mampir."

Aku memperhatikan Tarman yang berjalan menuju mobilnya, menyusul Sari yang sudah menunggu di sana dengan wajah datar. Nadia kembali ke meja kami, berdiri di sampingku dengan sikap pelayan yang sempurna.

"Bagaimana, Tuan? Apakah penampilan saya sudah cukup?"

Aku berdiri, mengusap kepala Nadia dengan lembut. "Sangat cukup, Nadia. Kamu melakukan pekerjaan hebat."

Aku mengantar Nadia keluar dari rumah makan, membiarkan mata-mata penasaran mengikuti setiap langkah kami. Di parkiran, SUV mewah itu menunggu, mencolok di antara kendaraan lusuh lainnya. Nadia membuka pintu, namun tidak langsung masuk. Dia menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca.

"Tuan... apakah Tuan yakin saya harus kembali sendirian?"

"Kau tidak sendirian, Nadia. Ada tanggung jawab yang menunggumu di kota. Dan juga, ada mata-mata yang mengawasimu."

"Tapi... saya tidak ingin jauh dari Anda, Tuan." Suaranya melirih, nyaris seperti rengekan anak kecil. Sebuah kontras yang aneh dengan postur tubuhnya yang elegan.

Aku memegang dagunya, mengangkat wajahnya agar matanya bertemu dengan tatapanku. "Kau harus pulang. Lakukan pekerjaanmu seperti biasa. Jangan terlalu galak lagi dengan bawahanmu. Tapi ingat satu hal."

"Apa itu, Tuan?"

"Di kantor, lupakan semua ini. Lupakan 'Tuan'. Lupakan kepatuhanmu. Aku adalah Bejo, si OB kurus yang bodoh. Kau adalah Nadia, manajer HRD yang angkuh dan disegani. Jangan pernah menyapaku, jangan pernah menunjukkan bahwa kita saling mengenal lebih dari seharusnya. Anggap saja ini semua hanya mimpi buruk yang kau alami di desa."

Nadia menelan ludah. Wajahnya kembali muram, seolah beban berat baru saja diletakkan di pundaknya. "Tapi... bagaimana jika saya tidak tahan?"

"Kau akan tahan. Kau harus tahan. Atau, semua akan curiga, dan kau tidak bisa menutupi kebusukanmu."

Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Dia memelukku erat, menyandarkan kepalanya di dadaku. Aroma parfum mahalnya berpadu dengan bau asap knalpot dan tanah basah.

Pelukannya terlalu erat, seolah ingin menahanku, meleburkanku ke dalam tubuhnya.

"Ingat apa yang tugasmu, Nadia." Aku berbisik tepat di telinganya, menyalurkan sedikit kekuasaanku melalui setiap kata. "Kau harus kembali ke kota. Kau harus mengurus semuanya untukku. Jadilah mataku, telingaku, dan lidahku di sana."

Dia menarik diri, matanya berkaca-kaca. "Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan."

Nadia masuk ke dalam mobil. Aku mengamatinya. Mobilnya melaju, perlahan menghilang ditelan tikungan jalan.

Aku sendirian, lagi. Namun, kali ini, rasa sepi itu tidak lagi menyayat. Ada semacam gairah yang menggebu di dadaku.

Kacamata di wajahku berkedip, menampilkan layar sistem.

[MISI SELANJUTNYA: KENDALIKAN SARI DAN GUNAKAN INFORMASINYA UNTUK MENGHANCURKAN TARMAN.]

Aku tersenyum tipis. Malam ini, aku akan kembali ke rumah nenek, ke rumah kayu yang penuh kenangan. Tapi besok, besok adalah awal dari permainanku yang sesungguhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kacamata Penakluk   72. Jalanan raya

    Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka

  • Kacamata Penakluk   71. Di kamar mandi

    Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman

  • Kacamata Penakluk   70. Hadiah untuk preman

    Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman

  • Kacamata Penakluk   69. Ancaman Herman

    Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da

  • Kacamata Penakluk   68. Sari ingin dilihat

    Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,

  • Kacamata Penakluk   67. Mengunjungi Mila

    Langkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status