MasukBan SUV mewah itu melindas kerikil tajam di pelataran parkir rumah makan di perbatasan desa. Debu mengepul, menyelimuti bodi mobil yang mengkilap, kontras dengan deretan motor bebek butut dan angkutan pedesaan yang terparkir semrawut.
Aku turun, membiarkan pintu mobil tertutup dengan dentuman solid yang membuat beberapa orang di sana menoleh. Kaos oblongku yang sudah mulai menipis di bagian pundak dan celana pendek selututku tampak seperti penghinaan terhadap kendaraan yang baru saja kupakai.
"Tuan, apakah tempat ini cukup layak untuk Anda?"
Nadia berdiri di sampingku. Dia merapikan rok span hitamnya yang ketat, membalut paha padat yang semalam kucumbui habis-habisan di lantai semen. Kemeja putihnya yang tipis sedikit kusut, tapi tetap memancarkan aura kelas atas yang tidak bisa disembunyikan.
"Layak atau tidak, perutmu yang menjawab tadi, kan?"
Aku melangkah masuk ke rumah makan semi terbuka itu. Aroma sambal terasi dan ikan bakar menyerbu indra penciumanku. Aku memilih meja di pojok, yang memberikan pandangan luas ke seluruh ruangan sekaligus ke jalan raya di luar.
Nadia duduk di hadapanku dengan posisi punggung tegak sempurna, tangannya diletakkan di atas pangkuan dengan sopan.
"Pesan apa saja yang kau mau. Jangan menahan diri."
Nadia menatap menu dengan binar mata yang sulit disembunyikan. "Boleh saya memesan ikan gurame bakar dan tumis kangkung, Tuan?"
"Pesanlah. Aku yang pegang kendalinya, tapi kau yang harus mengisi tenagamu."
Saat pesanan datang, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Wanita ini, yang biasanya hanya menyentuh salad atau makanan porsi kecil di kantin eksekutif, kini menyantap ikan bakar itu dengan rakus.
Jemarinya yang lentur dengan manikur mahal kini berlepotan bumbu kuning. Dia menyuap nasi dengan porsi yang sanggup membuat buruh bangunan sekalipun merasa minder.
"Enak?"
Nadia mendongak, sebutir nasi menempel di sudut bibirnya yang merah. Dia mengangguk cepat, matanya berbinar penuh pengabdian. "Luar biasa, Tuan. Saya tidak pernah menyangka makanan di pinggir jalan bisa selezat ini."
"Mungkin karena kau makan tanpa beban harga diri lagi."
Tawaku pecah melihatnya mengangguk patuh sambil terus mengunyah. Namun, keceriaan kecil itu menguap saat sepasang kaki melangkah berat menuju meja kami. Aku mengenali langkah itu.
Langkah orang yang merasa memiliki seluruh dunia padahal hanya menguasai sepetak tanah curian.
"Lho, Bejo? Masih belum balik ke kota, Jo?"
Pakde Tarman berdiri di samping meja kami, tangannya memeluk pinggang Sari yang menatap kami dengan pandangan menghina. Mata Pakde langsung terpaku pada Nadia.
Dia tidak lagi melihatku. Bola matanya yang kuning dan berminyak mulai menggerayuti lekuk tubuh Nadia, berhenti agak lama di belahan kemeja putih yang sedikit terbuka saat Nadia membungkuk untuk mengambil piring.
"Waduh, ini siapa, Jo? Teman kantor?"
Sari mencibir, menyikut perut buncit Tarman dengan kasar. "Mas Tarman ini gimana sih. Mana mungkin Bejo punya teman secantik ini. Paling ini bosnya yang sedang kasihan, atau... entahlah. Hei, Mbak, kok mau-maunya makan sama kuli seperti dia?"
Nadia berhenti mengunyah. Dia tidak menatap mereka dengan jijik seperti biasanya. Dia justru menatapku, menunggu instruksi.
Tidak ada lagi amarah Manajer HRD yang biasanya akan langsung menyemprot orang-orang kampung seperti mereka dengan kata-kata pedas. Dia diam, patuh sepenuhnya.
"Namanya Nadia, Pakde. Dia temanku dari kota."
Aku menyandarkan punggung, menatap Tarman dengan senyum miring. "Kami baru saja beres-beres rumah Nenek. Rencananya aku masih mau menumpang di sana beberapa hari lagi. Masih banyak yang harus dirapikan."
Tarman berdehem, matanya masih belum lepas dari dada Nadia yang naik turun teratur. "Oalah, begitu. Ya boleh saja, asal jangan lama-lama. Tanah itu sudah ada yang menawar, Jo. Jangan sampai kehadiranmu malah merusak kesepakatan."
"Tenang saja, Pakde. Aku tahu diri."
Aku melirik Nadia, lalu beralih ke Sari yang tampak gerah karena suaminya terus-menerus memandangi Nadia.
Sebuah ide liar melintas di kepalaku. Kacamata di wajahku memberikan getaran halus, seolah-olah sistem di dalamnya sedang menganalisis peluang yang baru saja tercipta.
"Nadia, sepertinya Pakde Tarman tertarik dengan ceritamu di kota."
Aku mencondongkan tubuh, menyentuh lengan Nadia dengan lembut namun penuh tekanan. "Buka kancing paling atas kemejamu. Di sini agak panas, bukan?"
Nadia tidak bertanya. Dengan gerakan tenang dan sensual yang alami, jemarinya membuka satu kancing teratas kemeja putihnya. Kain itu meregang, memamerkan lebih banyak kulit putih mulus dan sedikit renda hitam dari branya.
Tarman menelan ludah dengan suara yang jelas terdengar di tengah kebisingan rumah makan.
"Pakde, boleh saya minta tolong?"
Aku menatap Tarman yang kini tampak seperti kerbau dicocok hidung. "Nadia ingin tahu lebih banyak soal silsilah keluarga kita di sini. Katanya dia tertarik dengan sejarah desa. Bagaimana kalau Pakde jelaskan padanya di meja pojok sana? Biar lebih tenang."
"Oh, tentu! Tentu saja boleh!" Tarman menjawab dengan semangat yang meluap-luap. Dia bahkan lupa kalau Sari masih berdiri di sampingnya.
"Tapi Mas..." Sari mencoba memprotes.
"Sudah, kamu diam dulu, Sari! Ini urusan orang tua. Kamu di sini saja dulu sama Bejo," Tarman mengibaskan tangannya, mengusir istri mudanya seolah-olah dia hanyalah lalat pengganggu.
Nadia berdiri, memberikan senyum manis yang sangat terlatih—senyum yang bisa menghancurkan pertahanan pria manapun. Dia melangkah menuju meja di sudut ruangan, diikuti Tarman yang berjalan dengan langkah cepat, matanya terpaku pada bokong Nadia yang bergoyang di balik rok ketat itu.
Sari berdiri kaku, wajahnya memerah karena malu sekaligus marah. Dia menatap suaminya dengan penuh kebencian. Saat itulah aku beraksi.
"Duduklah, Sari. Jangan berdiri seperti pelayan begitu. Malu dilihat orang."
Sari menoleh padaku, matanya menyipit. "Apa maumu, Bejo? Jangan pikir karena suamiku tergoda dengan temanmu itu, aku jadi mau bicara dengamu."
"Duduk saja. Pakde sepertinya akan lama bicara dengan Nadia. Daripada kamu jadi tontonan orang-orang di sini, lebih baik duduk denganku. Aku tidak akan menggigitmu."
Sari melirik Tarman yang kini sudah duduk berhadapan dengan Nadia, tampak asyik mengobrol sementara tangan Tarman mulai mencoba menyentuh jemari Nadia di atas meja. Sari mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi yang tadi diduduki Nadia.
"Laki-laki memang semuanya sama. Brengsek."
[TINGKAT KEPATUHAN TARGET SARI: 30%]
Notifikasi itu berkedip di lensa kacamataku. Aku tertegun sejenak. Jadi begitu cara kerjanya. Sistem ini tidak selalu butuh ancaman langsung.
Ketika seseorang menuruti keinginan kita—sekecil apapun itu, bahkan jika dipicu oleh rasa kesal atau terpaksa karena situasi—tingkat kepatuhannya akan merangkak naik. Dan setiap kenaikan itu akan mengubah persepsi mereka terhadapku.
"Minum ini, Sari. Biar kepalamu sedikit dingin."
Aku menyodorkan gelas es teh manis milik Nadia yang masih setengah penuh. Sari menatap gelas itu, lalu menatapku. Matanya tidak lagi setajam tadi. Ada kilatan keraguan, mungkin juga rasa haus yang mengalahkan gengsinya.
"Terima kasih."
Dia mengambil gelas itu dan meminumnya dengan cepat. Aku memperhatikan lehernya yang bergerak naik turun saat menelan air.
Sari adalah wanita yang cantik untuk ukuran desa, dengan kuning langsat yang bersih dan tubuh yang berisi. Sayangnya, dia memilih untuk menjadi parasit bagi pria menjijikkan seperti Tarman.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Sari meletakkan gelas dengan sedikit dentuman. "Mau menghinaku juga? Bilang kalau aku ini istri simpanan yang tidak berguna?"
"Tidak. Aku justru kasihan padamu."
Aku memutar-mutar gelas di tanganku. "Punya suami yang lebih tua darimu, pelit, dan masih jelalatan pada wanita lain. Kamu pasti merasa sangat kesepian di rumah sebesar itu, kan?"
Wajah Sari berubah. Benteng pertahanannya mulai retak. Dia tidak membantah. Dia justru mengalihkan pandangannya ke arah Tarman yang kini tertawa terbahak-bahak mendengar sesuatu yang dikatakan Nadia.
"Kamu tidak tahu apa-apa soal hidupku, Bejo."
"Mungkin aku tidak tahu semuanya," aku mencondongkan tubuh, suaraku merendah hingga hampir menyentuh telinganya. "Tapi aku tahu kamu punya rahasia. Rahasia yang bisa membuat Pakde Tarman atau bahkan seluruh desa ini mengusirmu tanpa membawa sepeser pun uang."
Sari tersentak. Dia menatapku dengan mata yang membelalak penuh ketakutan. "Apa... apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura bodoh, Sari. Ponselmu... isinya cukup menarik, bukan? Terutama percakapanmu dengan bendahara desa soal dana bantuan itu."
Wajah Sari pucat pasi. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya tampak lemas. "Kamu... kamu dari mana tahu?"
"Duduk kembali, Sari. Tetap tenang jika tidak ingin Pakde Tarman curiga."
Sari kembali duduk, tubuhnya gemetar hebat. Dia kini menatapku bukan lagi sebagai keponakan suaminya yang miskin, tapi sebagai ancaman yang nyata. Dan di situlah letak kekuatanku sekarang.
[TINGKAT KEPATUHAN TARGET SARI: 45%. STATUS: TERINTIMIDASI.]
"Apa yang kamu mau, Bejo? Uang? Aku bisa memberimu sedikit, asal kau tutup mulut."
Aku tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar dingin di telingaku sendiri. "Uang? Aku tidak butuh uangmu, Sari. Aku ingin sesuatu yang lain."
Aku melirik ke arah meja pojok. Nadia memberikan kode dengan kedipan mata, menandakan Tarman sudah sepenuhnya masuk ke dalam perangkapnya. Aku kembali menatap Sari, yang kini menunduk, tidak berani membalas tatapanku.
"Mulai sekarang, kamu akan mengikuti semua arahanku. Jika aku menyuruhmu datang ke rumah Nenek, kamu datang. Jika aku menyuruhmu diam, kamu diam. Mengerti?"
Sari menelan ludah. Dia melirik suaminya, lalu kembali menatapku dengan tatapan pasrah yang mulai menyerupai Nadia. "Iya, Bejo. Aku mengerti."
Aku tersenyum puas. Kacamata ini benar-benar alat yang luar biasa. Dalam hitungan menit, aku baru saja menjinakkan satu lagi musuhku di desa ini. Dan ini baru permulaan.
"Bagus. Sekarang, pergilah ke toilet. Cuci wajahmu agar tidak terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Aku akan memanggil Pakde Tarman untuk segera pulang."
Sari berdiri dengan patuh, berjalan menuju toilet tanpa sepatah kata pun. Aku memberi isyarat pada Nadia. Dia segera mengakhiri pembicaraannya dengan Tarman dengan gerakan yang sangat halus, membuat pria tua itu tampak kecewa karena harus berpisah begitu cepat.
"Waduh, Jo, temanmu ini pintar sekali bicara," Tarman menghampiriku dengan wajah berseri-seri. "Kapan-kapan ajak dia main ke rumah, ya? Sari pasti senang punya teman baru."
"Tentu, Pakde. Nanti kalau ada waktu kami mampir."
Aku memperhatikan Tarman yang berjalan menuju mobilnya, menyusul Sari yang sudah menunggu di sana dengan wajah datar. Nadia kembali ke meja kami, berdiri di sampingku dengan sikap pelayan yang sempurna.
"Bagaimana, Tuan? Apakah penampilan saya sudah cukup?"
Aku berdiri, mengusap kepala Nadia dengan lembut. "Sangat cukup, Nadia. Kamu melakukan pekerjaan hebat."
Aku mengantar Nadia keluar dari rumah makan, membiarkan mata-mata penasaran mengikuti setiap langkah kami. Di parkiran, SUV mewah itu menunggu, mencolok di antara kendaraan lusuh lainnya. Nadia membuka pintu, namun tidak langsung masuk. Dia menatapku, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Tuan... apakah Tuan yakin saya harus kembali sendirian?"
"Kau tidak sendirian, Nadia. Ada tanggung jawab yang menunggumu di kota. Dan juga, ada mata-mata yang mengawasimu."
"Tapi... saya tidak ingin jauh dari Anda, Tuan." Suaranya melirih, nyaris seperti rengekan anak kecil. Sebuah kontras yang aneh dengan postur tubuhnya yang elegan.
Aku memegang dagunya, mengangkat wajahnya agar matanya bertemu dengan tatapanku. "Kau harus pulang. Lakukan pekerjaanmu seperti biasa. Jangan terlalu galak lagi dengan bawahanmu. Tapi ingat satu hal."
"Apa itu, Tuan?"
"Di kantor, lupakan semua ini. Lupakan 'Tuan'. Lupakan kepatuhanmu. Aku adalah Bejo, si OB kurus yang bodoh. Kau adalah Nadia, manajer HRD yang angkuh dan disegani. Jangan pernah menyapaku, jangan pernah menunjukkan bahwa kita saling mengenal lebih dari seharusnya. Anggap saja ini semua hanya mimpi buruk yang kau alami di desa."
Nadia menelan ludah. Wajahnya kembali muram, seolah beban berat baru saja diletakkan di pundaknya. "Tapi... bagaimana jika saya tidak tahan?"
"Kau akan tahan. Kau harus tahan. Atau, semua akan curiga, dan kau tidak bisa menutupi kebusukanmu."
Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Dia memelukku erat, menyandarkan kepalanya di dadaku. Aroma parfum mahalnya berpadu dengan bau asap knalpot dan tanah basah.
Pelukannya terlalu erat, seolah ingin menahanku, meleburkanku ke dalam tubuhnya.
"Ingat apa yang tugasmu, Nadia." Aku berbisik tepat di telinganya, menyalurkan sedikit kekuasaanku melalui setiap kata. "Kau harus kembali ke kota. Kau harus mengurus semuanya untukku. Jadilah mataku, telingaku, dan lidahku di sana."
Dia menarik diri, matanya berkaca-kaca. "Baik, Tuan. Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan."
Nadia masuk ke dalam mobil. Aku mengamatinya. Mobilnya melaju, perlahan menghilang ditelan tikungan jalan.
Aku sendirian, lagi. Namun, kali ini, rasa sepi itu tidak lagi menyayat. Ada semacam gairah yang menggebu di dadaku.
Kacamata di wajahku berkedip, menampilkan layar sistem.
[MISI SELANJUTNYA: KENDALIKAN SARI DAN GUNAKAN INFORMASINYA UNTUK MENGHANCURKAN TARMAN.]
Aku tersenyum tipis. Malam ini, aku akan kembali ke rumah nenek, ke rumah kayu yang penuh kenangan. Tapi besok, besok adalah awal dari permainanku yang sesungguhnya.
Aku kembali mengenakan kacamata dan mengaktifkan mode monitor. Layar hologram biru di kornea mataku berkedip, menampilkan jalan setapak yang remang-remang di tepi hutan.Sosok Sari berjalan sendirian, langkahnya anggun, dengan jeans ketat dan jaket denim lusuh yang tidak dikancingkan sepenuhnya. Malam mulai merayap, menyelimuti desa dengan keheningan.Kilatan cahaya di kacamata ini berkedip, menandai lokasi gudang. Tidak jauh dari sana, cahaya lampu sorot yang remang-remang memecah kegelapan. Sebuah truk kontainer besar terparkir di halaman.Sepuluh pria berbadan kekar, dengan otot-otot menonjol di balik kaus lusuh mereka, tampak sibuk memindahkan karung-karung pupuk ke dalam truk. Mereka bukan wajah-wajah desa yang kukenal. Sepertinya mereka preman bayaran dari luar yang biasa digunakan untuk pekerjaan kotor.Sari semakin mendekat. Setiap langkah kakinya yang jenjang, setiap ayunan pinggulnya, adalah magnet yang
Layar hologram di sudut mataku kembali berpijar, menampilkan interior rumah mewah Tarman yang pengap oleh hawa ketegangan. Sari melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, jejak-jejak pertemuanku dengannya tadi masih membekas di rona merah pipinya.Tarman sedang mondar-mandir di ruang tengah, puntung rokok berserakan di asbak kristal."Dari mana saja kamu? Bu RT bicara apa sampai lama sekali?"Sari meletakkan tasnya dengan dentum pelan di meja marmer, matanya menatap lurus ke arah suaminya yang tampak rapuh."Soal program desa, Mas. Tapi lupakan dulu. Aku baru saja berpikir, sebaiknya malam ini biar aku saja yang mengawasi pemindahan barang di gudang."Tarman menghentikan langkahnya, keningnya berkerut dalam. "Kamu? Sendirian? Sari, di sana itu cuma ada kuli-kuli bayaran dari luar desa. Mereka itu kasar, tidak kenal siapa kamu.""Justru itu, Mas. Kalau Kades baru itu atau intelny
Aku harus segera menyiapkan rencana karena nanti malam mereka akan beraksi. Jemariku menari di atas layar ponsel, mengetik pesan singkat kepada Sari."Ke rumah Nenek. Sekarang. Aku tidak suka menunggu."Di monitor, aku melihat ponsel Sari yang tergeletak di samping paha Tarman bergetar. Wanita itu menyambarnya dengan gerakan kilat. Matanya membelalak, binar kegembiraan yang liar terpancar dari pupilnya yang melebar.Dia mencoba menahan senyum, tapi napasnya yang tiba-tiba memburu tidak bisa membohongi suaminya. Melihat Sari yang tiba-tiba bersemangat mendapatkan pesan, Tarman sepertinya curiga. Dia menyipitkan mata, tangannya berhenti meremas paha Sari."Siapa itu, sayang? Kok wajahmu sampai merah begitu?""Ini... ini Bu RT, Mas. Katanya ada urusan mendesak soal bantuan sosial untuk ibu-ibu di blok sebelah. Dia minta aku datang sekarang juga."Sari menjawab tanpa ragu, suaranya ter
Sari mencapai televisi, jari-jari tangannya menyentuh dudukan TV yang rendah. Punggungnya melengkung indah, bokongnya menungging penuh tantangan ke arah para pekerja yang kini terdiam mematung.Tangan kanannya terulur meraih tombol fisik di sisi bawah tv led besar itu, sementara tangan kirinya bertumpu pada lututnya yang berlipat. Posisi itu semakin menonjolkan lekukan pinggangnya, membuat daster tipisnya melar menampakkan celana dalam yang tipis.Dia menekan tombol berkali-kali, seolah sungguh-sungguh mencari saluran. Setiap penekanan, tubuhnya sedikit berguncang, membuat pinggulnya ikut bergoyang pelan.Goyangan kecil itu, meskipun sepele, mengirimkan gelombang sensasi ke tubuhnya yang sensitif maksimal, membuat napasnya sedikit memberat."Aduh, kok enggak bisa diganti-ganti sih?" Sari menggumam, suaranya sedikit sengau.Dia menyandarkan tubuhnya lebih jauh ke depan, membuat bokongnya semakin terangka
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu, membiarkan pikiranku berputar liar memproses informasi di gudang tersembunyi itu. Bau korupsi ini jauh lebih menyengat daripada aroma bangkai tikus busuk yang tersembunyi di balik lemari.Di persimpangan dekat balai desa, sosok Pak RT muncul dengan bahu merosot dan langkah gontai. Wajahnya yang keriput terlihat lebih tua sepuluh tahun di bawah terik matahari siang ini. Aku langsung menghampiri dan mengiringi langkahnya dari samping."Lagi mikirin apa Pak RT? Sepertinya masalahnya berat."Sambil terus berjalan, Pak RT menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menghela napas berat, asap dari rokok lintingannya mengepul pelan."Berat banget, Jo. Ini masalah perut warga desa.""Ada masalah apa sebenarnya?""Jadi, beberapa hari lalu gudang desa dicuri. Semua alat pertanian dan pupuk subsidi yang baru datang untuk musim tanam
Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke tiang kayu teras yang kasar. Sari dan Herman sudah cukup membuat perutku mual dengan kemurahan mereka. Kini, aku butuh tontonan yang lebih berkelas.Aku beralih ke menu monitor Nadia. Layar monitor di kornea mataku berkedip, beralih dari pemandangan kumuh di kantor bendahara desa menuju kemewahan dingin sebuah gedung perkantoran di pusat kota.Nadia duduk di balik meja mahoni besarnya yang mengilap. Wajah oriental itu tampak sangat gelisah. Blazer hitam yang tadi pagi ia kenakan kini tersampir di sandaran kursi, meninggalkan tubuh bagian atasnya hanya dibalut blouse tanpa lengan setelan crop top yang tipis.Karena sensitivitas tubuhnya yang masih kusetting maksimal, aku bisa melihat bagaimana ia terus bergeser di kursi empuknya, seolah permukaan kulitnya terbakar oleh udara AC yang dingin.Setiap gerakan kecil membuat kain blouse itu menggesek ujung dadanya. Nadia memej







