Share

Kadrun
Kadrun
Author: Mardiana Kappara

Chapter 1

Kadrun terlalu bahagia. Budak melayu kampung itu menyapa siapapun sepanjang gang masuk kontrakan rumahnya. Dia tidak menurunkan satu inci pun senyum di bibir sejak dia menemukan rasa bahagia yang fantastis dahsyat itu. Dia mencium tangan setiap perempuan yang berpapasan dengannya. Tua, muda, remaja, ataupun anak-anak yang penting berjenis kelamin perempuan dia rampas tangannya dan didaratkan ke bibirnya dengan cepat.

“Kurang ajar!” sebuah tamparan dari seorang perempuan dua puluh tahunan yang merasa tidak terima dengan sikap Kadrun mendarat telak di pipi tirus Kadrun. Kadrun malah tertawa lebar meraba pipinya. Dia tidak marah. Dia tetap girang. Perempuan itu saja yang marah-marah. Kadrun mengucapkan terima kasih berkali-kali atas tamparan itu.

“Hebat sekali! Aku sadar! Aku tidak bermimpi!” Kadrun berteriak mendongak ke langit.

Perempuan itu menaruh telunjuknya di jidat dengan posisi miring.

“Sinting kau ya?” kemudian si perempuan melangkah meninggalkan Kadrun.

“Hei, siapa namamu?” Kadrun meneriaki perempuan yang menamparnya namun tidak digubris, si perempuan malah terus melenggang membelakangi Kadrun mengangkat tangan.

“Hei, namamu? Maya? Nia? Alya? Tuti? Joko? Rahmat?”

Si perempuan sudah semakin menjauh.

“Nanti aku kirim undangan ke rumahmu ya!”

Si perempuan tidak lagi terlihat di mulut gang. Kadrun melonjak kegirangan sendiri.

“Yuhuiii, aku kawin!”

Rambut keriting Kadrun bergoyang-goyang mengikuti irama gerak dan senandung si tuan. Kadrun melanjutkan langkahnya menyalami setiap orang yang ditemuinya. Kadrun juga merangkul lelaki yang dikenalnya yang kebetulan berpapasan di jalan gang.

“Kenapa kau, Drun?” tanya Mang Somad sesak napas dipeluk begitu erat oleh Kadrun.

“Aku nak kawin, Bang!” Kadrun menjawab dengan nada riang serta menaikturunkan alisnya sambil tersenyum lebar.

“Bah, dengan siapa, Drun? Perempuan?” Mang Somad si pemilik bengkel di mulut gang itu kembali mengajukan pertanyaan karena penasaran.

“Iya lah, Bang. Perempuan! Masih doyan aku dengan serabi!” Kadrun menimpali dengan tertawa lebar.

“Hei, Bujang Lapuk!” seru Mak Tijah tiba-tiba datang dari arah belakang menepuk bahu Kadrun dengan keras.

“Waduh, sakit betul pukulan Mak tuh!” Kadrun refleks memegang bahunya menoleh ke belakang, ke arah Mak Tijah.

Mak Tijah tertawa lebar memamerkan giginya yang kecoklatan, “Kau nak kawin dengan siapa? Perempuan?”

Kadrun mencibir, “Iya. Perempuan! Sekarang jangan lagi Mak berani panggil aku Bujang Lapuk sebab aku sudah laku.” Kadrun menyengir bangga.

“Aku tidak percaya!” Mak Tijah memicingkan matanya, “Siapa perempuan yang mau dengan kaleng rombeng macammu. Umurmu pasti sudah lima puluh?”

“Sembarang. Baru empat puluh aku nih, Mak!” protes Kadrun.

“Hah, tua lah kau nih. Pasti luar dalam sudah ada yang soak!”

“Terserah cakap Mak lah, yang pasti masih ada perempuan cantik yang mau denganku.”

Mak Tijah balik mencibir, “pasti bentuknya tak kalah aneh denganmu!”

“Buktikan omongan awak nanti setelah kawin, isteriku cantik dan montok macam artis! Lagi pula mana pernah aku membohongi Mak Tijah.”

Mak Tijah meludah, “Sekarang saja kau sudah berbohong denganku.”

Kadrun tertawa lebar. Dia meninggalkan kedua tetangganya itu setelah meminta izin. Kadrun berdendang hingga sampai ke kontrakan.

Kadrun akan kawin dengan Siti. Namanya lengkapnya Siti Majenun. seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu lagu di sebuah tempat karaoke. Pertemuan mereka tidak pernah diduga Kadrun. Berawal dari memenuhi ajakan kawan kantor yang hendak merayakan ulang tahun sekaligus semacam pesta bujang melepas masa lajang sebelum menikah.

Payo lah, Drun. Di sana pemandu lagunya macam Angelina Jolie. Service-nya recommended. Tiada duanya!” Brewok, pemilik hajat memdekatkan bibirnya ke telinga Kadrun berbisik, “Ada ruangan khusus buat pesta bujang. Habis-habisan lah kita di sana.” Brewok berkedip dengan senyum nakal meyakinkan Kadrun.

“Alamak! Macam Angelina Jolie? Salah pasti matamu, Wok. Aku kira yang kau lihat itu macam Lucinta Luna!” celetuk Agam tertawa.

“Selera orang itu memang tergantung pandangan mata, Gam.” balas Brewok datar disambut tawa yang lain.

“Pantat lah kau, Wok!” sahut Agam kesal.

Tawa mereka pun melebur dan berlanjut ke ruang karaoke.

Di tempat karaoke itulah Kadrun melihat sosok Siti Majenun. Pada pandangan pertama Kadrun sudah langsung jatuh cinta pada Siti. Perempuan itu memenuhi nyaris seluruh kriteria Kadrun: cantik, manis, kuning langsat, montok dan ramah. Ditambah lagi, Siti memiliki pesona yang hanya bisa dibaca Kadrun.

“Oh, jadi Abang Kadrun desainer batik Jambi?” percakapan mereka dimulai dengan hangat dan penuh daya tarik. Suara Siti luar biasa menggoda menurut Kadrun. Mendesah-desah.

Kadrun mengangguk sambil menyengir, “Ya, bisa dibilang begitu.”

“Ih, bangga rasanya bisa ketemu Abang.” Siti dengan genit mencuil paha Kadrun, membuat darah Kadrun berdesir-desir tidak karuan.

“Pasti banyak batik yang sudah dibuat Abang. Jangan-jangan ada batik buatan Abang yang sudah pernah kupakai,” Siti menutup wajahnya malu-malu, “Iiih, serasa dipeluk Abang Kadrun jadinya kalau pakai batik buatan tangan Abang.” Siti membuat Kadrun tambah kacau pikiran. Tangan kurusnya pun jadi penuh keringat dingin.

“Aku ini pencinta batik loh, Bang.” terang Siti lagi manja dan mendesah.

“Oh, ya?”

“Iya. Aku paling suka motif batik Sungai Batanghari. Selain desainnya yang indah, filosofinya juga kuat.”

“Oh ya?” Kadrun jadi penasaran dengan pendapat Siti.

“Iya, Bang. Manusia yang tidak mudah menyerah akan menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah sampai ke hilir. Bukankah jalan keluar itu memang selalu disediakan Tuhan, selama kita tidak menyerah?” jelas Siti. Tetap mendesah.

Kadrun takjub. Ternyata di tengah desahan Siti tetap ada sesuatu yang dapat lebih merasuk ke relung hati Kadrun.

Semenjak pertemuan pertama itu Kadrun jadi tidak bisa tidur. Apalagi Siti yang awalnya hanya membahas batik, setelah semakin bertambah jam pertemuan, semakin kenal satu sama lain semakin Siti berani membahas hal lain. Siti memang agresif. Kadrun jadi semakin blingsatan.

Selama tiga bulan rajin mengunjungi tempat karaoke dan membanjiri Siti dengan hadiah-hadiah yang tidak begitu penting, akhirnya Kadrun memberanikan diri melamar Siti. Dan di luar perkiraan, tidak ada penolakan apapun dari Siti. Gadis itu langsung mengangguk terharu. Kadrun refleks memeluk pujaan hatinya itu dengan erat dan mereka berputar-putar di ruangan karaoke seperti di film-film asmara romantis yang sering Kadrun tonton di televisi.

Sesampainya di kamar kontrakan, Kadrun langsung menelpon Mak dan Bapak di kampung untuk menyampaikan kabar gembira itu.

“Apalagi alasanmu kali ini, Drun? Sekarang umurmu sudah empat puluh tahun. Kapan lagi kau mau kawin? Kapan lagi kau mau punya anak?” Mak langsung menyemprot menyambut telpon Kadrun.

“Iya, Mak. Awak mau memberikan kabar baik ke Mak,…”

“Jangan buat alasan lagi, Drun. Bapak dan Mak sudah sering kau buat sakit hati. Berapa kali kau janji, tiap tahun kau selalu buat janji akan membawakan aku menantu. Kali ini apalagi alasanmu untuk mengelabui Mak?” Mak memotong Kadrun dengan emosi berapi-api.

“Iya, Mak,..” Kadrun jadi melemah, dalam kondisi begitu Kadrun memilih diam.

“Kau ingat si Bujang? Kawan mainmu waktu kecil yang cengeng itu, yang selalu ingusan dan badannya kecil? Dia itu namanya saja Bujang, tapi dia sudah kawin tiga kali. Sedangkan namamu Kadrun, sekalipun kau belum kawin.”

“Mak nih, apa lah hubungannya itu?”

“Tentu ada. Maksud Mak, biar kau sekolah tinggi-tinggi. Biar kau punya prinsip yang mungkin beda dengan orang kebanyakan. Biar kau punya mimpi yang besar. Kau tetap harus kawin.”

“Iya, Mak. Bisa awak bicara?”

“Sedih emak dengarnya. Setiap orang kampung yang baru pulang dari Jambi, ada saja cerita mereka tentangmu. Katanya kalau mereka kebetulan melihatmu. Mereka selalu melihatmu berkumpul dengan laki-laki, nyaris tidak pernah melihatmu dengan perempuan. Apa seleramu sudah berubah, Drun?” suara Mak terdengar cemas.

“Ah, Mak nih. Aku ini bukan orang yang terlalu modern, Mak. Masih konvensional anak Mak ini. Masih kuno awak nih. Tentulah awak masih doyan perempuan. Hanya kebetulan saja belum ketemu yang pas di mata dan di hati waktu itu.”

“Jangan mencari yang pas betul. Kaki saja tidak sepenuhnya pas dipakaikan di sepatu. Bisa jadi kaki kirimu lebih kecil dari kananmu. Sementara sepatumu ukurannya sama.” Mak kembali memotong Kadrun.

“Ah, iya, Mak. Paham awak nih.” Kadrun menjawab berusaha menenangkan Mak.

“Jangan paham-paham saja cakapmu, Drun.”

“Iya, Mak. Sangat paham awak ini harapan dan keinginan Mak pada awak.”

“Jangan lama-lama kalau penjajakan dengan perempuan. Kalau rasanya pas, langsung saja dipestakan.”

“Iya, Mak. Makanya awak mau mengabari,…”

“Ingat, Drun. Kalo 5-6 tahun lagi baru kau mau nikah, umur berapa lagi kau punya anak?”

“Iya, Mak. Aku ini kan laki-laki, tidak ada pengaruhnya dengan umur.”

“Ah, kau nih Drun. Menjawab saja bisanya.”

“Iyalah, Mak. Aku akan cari perempuan yang muda biar Mamak senang.”

“Iya pula kalau masih ada yang mau. Dak usah terlalu banyak syaratmu, yang penting perempuan saja dia.”

“Ada, Mak.”

Mak Kadrun diam di ujung telepon.

“Mak?”

“Ada? Apa maksudmu?” terdengar jelas rasa penasaran dari nada suara Mak.

“Kadrun sudah punya calon, Mak. Kami mau minta restu Mamak untuk menikah dalam waktu dekat ini. Tahun ini.”

Dari ujung terdengar sesuatu terjatuh, dan samar-samar suara Bapak berteriak, “Mak! Mak! Mak kenapa?”

“Mak? Mak?” Kadrun ikut memanggil.

Telepon di seberang disambut, suara Bapak yang berat terdengar. “Kau bicara apa barusan sama emakmu?” tanya Bapak dengan nada tinggi.

“Kenapa Mak, Pak?” tanya Kadrun cemas.

“Dia pingsan!”

Kadrun terdiam.

“Drun, apa yang kalian cakapkan?”

“Aku bilang mau nikah dalam waktu dekat ini, Pak.”

Bapak diam sebentar. “Ya, syukurlah. Bapak tutup dulu telepon ini. Bapak mau mengurus emakmu dulu.”

“Iya, Pak.”

“Nanti Bapak telepon lagi untuk persiapan acaramu.”

“Iya, pak.”

Telepon pun ditutup. Kadrun menghela napas. Tetapi sesaat kemudian, senyum lebar Kadrun kembali mengembang. Dia berjoget-joget sendiri di kamar kontrakannya.

Perasaan Kadrun dipenuhi euforia melepas masa lajang yang telah 40 tahun dijalani. Kadrun sangat yakin, bahwa kini gilirannya merasakan dongeng yang pada bab terakhir selalu ditulis sang pengarang dengan kalimat live happily ever after.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status