Home / Fantasi / Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota / Bab 1227: Titipan Tiga Ratus Ribu

Share

Bab 1227: Titipan Tiga Ratus Ribu

Author: Rianoir
last update publish date: 2026-09-07 13:00:48

Selama tiga hari, Ryan tinggal bersama muridnya, Kalasena, menurunkan berbagai pengetahuan dasar tentang kultivasi.

Pagi untuk pernapasan, siang untuk penempaan raga, dan malam untuk menjelaskan seluk-beluk Qi Spiritual dengan bahasa yang bisa dicerna bocah sepuluh tahun.

Tiga hari berlalu secepat kedipan mata.

Pada pagi hari ketiga, begitu langit menyingsing, tak terhitung orang berbondong-bondong menuju Gunung Fujika.

Ada orang negeri sakura, orang Garu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1334: Manusia Salju Buatan Ayah

    Kota Sentralis masih diselimuti salju sejak pagi.Kepingan putih itu turun tanpa jeda, seolah langit sengaja menumpahkan seluruh persediaannya pada hari ulang tahun Aira. Hanya dalam satu jam, tanah, atap rumah, pagar, dan jalan kecil di depan vila Keluarga Hartono sudah berubah putih seluruhnya. Di halaman, salju menumpuk cukup tebal untuk dibuat mainan.Di dalam halaman vila, berdiri enam manusia salju.Empat di antaranya sesekali bersorak, berteriak, dan bergerak ke sana kemari. Dua sisanya benar-benar terbuat dari salju.Ryan Hartono berdiri dengan kepala tertutup butiran putih. Ia mengisap rokoknya sekali, lalu mengibaskan salju dari bahunya sambil memandangi manusia salju di depannya dengan tatapan pasrah.Tingginya hanya sekitar satu meter.Bentuknya benar-benar berantakan. Kepalanya kecil, perutnya terlalu besar, tubuhnya miring ke kiri, dan bagian yang disebut mata serta mulut tidak lebih dari lubang-lubang yang dicolok asal-asalan dengan jari.Di seberangnya, manusia salju

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1333: Whiskas untuk Leluhur

    Elena tersenyum manis. “Hari ini kan turun salju. Jadi kita tonton Kutub Terakhir saja. Kata teman-teman filmnya bagus.”“Apa pun katamu, aku ikut.”Ryan Hartono memanfaatkan saat Elena lengah. Ia mencium bibir istrinya sekilas, lalu segera berlari ke kamar mandi seperti orang yang baru melakukan kesalahan besar dan harus menyelamatkan diri.Sebenarnya, setelah menapaki jalan kultivasi, seseorang bahkan bisa tidak makan dalam waktu lama. Tubuhnya pun tidak mudah berdebu, berkeringat, atau berdaki seperti manusia biasa. Namun karena ia sedang berada di rumah, Ryan memilih mengikuti kebiasaan orang rumah.Ada kesenangan sederhana ketika air dingin menghantam wajah pada pagi bersalju.Setelah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, Ryan mendengar kedua orang tuanya mengobrol sambil tertawa di ruang depan. Karena penasaran, ia berjalan mendekat dan bertanya, “Ayah, Ibu, sedang membicarakan apa?”Wulan tertawa sampai matanya menyipit. Bahunya berguncang beberapa kali seb

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1332: Salju Pertama untuk Aira

    Sabtu pagi, hari kedelapan bulan kesepuluh penanggalan lama, sekaligus hari ulang tahun Aira.Ryan Hartono masih meringkuk nyaman di balik selimut ketika suara kecil yang sangat bersemangat sudah lebih dulu mengguncang pintu kamarnya."Ayah, bangun! Buka pintunya!""Ayah, turun salju! Saljunya turun!"Aira menggedor pintu dari luar dengan kedua tangan. Suaranya penuh kegirangan, dan pintu kamar yang baru diganti itu terdengar hampir menyerah di bawah tenaga bocah kecil tersebut."Turun salju?"Ryan akhirnya bangkit. Ia menyibak selimut, berjalan ke jendela, lalu membuka gorden untuk melihat sendiri keadaan di luar.Benar saja.Kepingan salju sebesar bulu angsa melayang turun tanpa henti dari langit pagi yang kelabu. Kisi jendela tertutup lapisan putih tebal. Pohon-pohon di halaman tampak berselaput perak, seperti barisan cemara kecil yang membeku dalam lukisan musim dingin. Jalanan

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1331: Utang Lama dan Utang Baru

    Rowena dan Reyner sama-sama menggeleng dalam hati.Melihat Ryan Hartono tetap tenang setelah mendengar nama-nama besar dari Tiga Alam Tertinggi, keduanya tahu bahwa peringatan biasa tidak akan banyak berguna. Pemuda di depan mereka bukan tipe orang yang mundur hanya karena lawannya punya latar belakang besar.Rowena tidak lagi memperpanjang pembahasan itu. Ia merapikan duduknya, lalu berkata dengan nada lebih serius, “Tiga Alam Tertinggi sebentar lagi akan turun ke dunia ini.” “Sebagian orang kami bahkan sudah lebih dulu masuk, terutama demi kapal hantu yang akan muncul setengah bulan lagi.”Ia berhenti sebentar. Raut wajahnya sedikit mendingin.“Aku tahu, karena terlalu lama mengasingkan diri, sebagian orang dari Tiga Alam Tertinggi merasa diri mereka lebih tinggi daripada siapa pun.” “Begitu menginjak dunia ini, mereka mengandalkan kekuatan untuk berbuat semaunya.”Bibir merah Rowena mengatup. Jij

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1330: Peringatan dari Tiga Alam Tertinggi

    Melihat suasana itu, Bantara sedikit tertegun. Ia mengamati Ryan Hartono, lalu melirik Rowena. Alisnya naik sebelah, dan dari wajahnya tampak jelas bahwa ia baru menyadari ada hubungan lama di antara mereka.“Kalian berdua... saling kenal?”Ryan tersenyum tipis. “Kenal.”“Kalau sudah saling kenal, itu justru paling baik.” Bantara tidak bertanya lebih jauh. Senyum di wajah tuanya perlahan memudar, digantikan keseriusan. Ia menatap Ryan, lalu berkata dengan nada lebih berat, “Ryan, alasan aku memanggilmu hari ini karena ada perkara penting yang perlu dibicarakan.”Sampai di sana, Bantara tanpa sadar menoleh kepada Rowena yang duduk di sisi ruangan. “Nona Rowena yang bicara, atau aku?”“Biar aku saja.”Rowena mengangguk kecil. Setelah itu, pandangannya jatuh kepada Ryan. “Ryan, sebenarnya aku dan Rere sama-sama berasal dari Tiga Alam Tertinggi.” “Dulu kami menyembunyikan hal ini darimu. Untuk itu, aku minta maaf.”“Tidak apa-apa,” jawab Ryan tenang.Sesungguhnya, sejak pertemuan mere

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1329: Rowena dan Reyner

    "Suruh dia datang, biar kulihat."Darren Vale tidak menunda sedikit pun. Ia segera mengeluarkan ponsel dan menelepon. Percakapan itu bahkan tidak sampai sepuluh detik. Tidak lama setelah panggilan ditutup, terdengar ketukan di pintu, tiga kali, cepat dan mantap.Orang yang masuk adalah seorang pemuda berjas, kira-kira berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun. Jas di tubuhnya jelas bukan ukuran yang pas. Bagian bahunya terlalu sempit, dan sejak masuk ia beberapa kali menarik kerahnya, tampak tidak nyaman.Wajahnya tidak bisa disebut tampan, tetapi garis di antara alisnya tegas. Buku-buku jarinya penuh bekas luka lama, menandakan ia bukan orang yang tumbuh dalam keadaan terlalu damai.Sepertinya Darren sudah lebih dulu menceritakan siapa Ryan Hartono. Begitu melangkah masuk, pemuda itu langsung gugup. Tubuhnya berdiri tegak tanpa sadar, lalu ia memberi hormat dengan suara keras."Lapor, Komandan!"Ryan tidak sanggup menahan tawa. Bahunya sampai bergerak pelan karena geli m

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 2 - Anak

    Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1 - Kepulangan Sang Kaisar

    Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 9 - Klub Malam Puncak Emas

    Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 8 - Masakan Kaisar Iblis

    Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status