LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) ini bab bonus pertama malam ini Terima Kasih Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Ari Hendrawan, Kak Saripto, Kak Al Walid Mohammad, Kak Pawon Mbah Kung, Kak Pungki, Kak Sitoy Suwarto, Kak Lois, dan Kak Rayhan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada satu bab bonus lagi(≧▽≦) Bab Bonus: 1/5 Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Selama bertahun-tahun, Keluarga Castiella diam-diam menumbuhkan kekuatannya di balik bayang-bayang.Di antara seluruh kekuatan tersembunyi itu, yang paling membuat orang luar gentar adalah delapan belas Pembunuh Bayangan Peringkat Langit. Sejak kecil, mereka ditempa dengan latihan sekejam iblis. Tubuh, pikiran, dan naluri mereka dibentuk hanya untuk satu tujuan, membunuh tanpa suara.Mereka mahir menyelinap, meracun, menyergap, dan menghilang sebelum lawan sempat memahami apa yang terjadi.Jika delapan belas orang itu bergerak bersama, bahkan seorang Grandmaster Bela Diri pun harus mundur dengan hati-hati. Karena itulah, Gunther Castiella benar-benar sulit percaya ketika mendengar misi Rufus gagal.Terlebih, Rufus tidak hanya membawa para Pembunuh Bayangan.Di sisinya masih ada Konrad Yagren, jenius paling menonjol dari Keluarga Yagren. Semua orang tahu, Konrad adalah pendekar pedang yang paling dekat dengan tataran Pe
Meski ucapan Ryan Hartono terdengar datar, Yuki Castiella tetap menangkap niat membunuh yang menggidikkan di baliknya.Justru karena itu, ia sama sekali tidak berani menunjukkan kelancangan. Bahkan setelah Ryan menyinggung empat faksi raksasa negeri sakura sekaligus, rasa takut yang menyelimuti dadanya tidak membuatnya berani membantah.Yuki sangat memahami keadaan dirinya.Sejak Keluarga Castiella mulai memburunya, seluruh negeri sakura tidak lagi memiliki tempat aman untuknya. Entah ia lari ke kota besar, pulau kecil, atau tempat terpencil di ujung laut, Keluarga Castiella tetap akan mengejarnya sampai napas terakhir.Kini nasibnya dan Ryan seolah telah terikat pada tali yang sama.Hidup bersama.Atau mati bersama.Setelah Ryan merapal ilmu bola api dan membakar habis jasad Rufus Castiella serta Konrad Yagren hingga tak bersisa, ia tidak membuang waktu lagi. Dengan Yuki sebagai penunjuk ja
Tepat pada saat itu, dua aliran cahaya hitam mendadak menyembur keluar dari dua mayat yang terbelah.Cahaya itu berputar sekejap di atas genangan darah, seperti dua ekor ular hitam yang baru terbebas dari sangkar. Detik berikutnya, keduanya melesat cepat ke langit malam, menembus kabut laut, lalu lenyap di balik gugusan awan.“Tuan, celaka!”Wajah Yuki Castiella dan Grandmaster Kaltrev berubah bersamaan.“Roh Suruhan mereka kabur untuk melapor!”Ryan sedikit mengernyit.“Roh Suruhan?”Melihat Ryan tampak belum memahami istilah itu, Yuki segera menjelaskan dengan cepat, “Tuan, mungkin hal ini belum Tuan ketahui. Dunia kultivasi negeri sakura terbagi menjadi dua jalur utama, yaitu Jalur Pedang dan Jalur Dewa.”Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Jalur Pedang adalah bentuk kultivasi paling awal. Grandmaster Kaltrev termasuk pendekar yang berjalan di jalur ini.”“Sedangkan Jalur Dewa menitikberatkan pada pencapaian tingkat dewa melalui persembahan dupa.” “Cara bertarung mereka adalah m
"Salam hormat, Tuan!"Yuki Castiella akhirnya benar-benar tersadar dari keterpakuannya.Ia menatap Rufus Castiella dan Konrad Yagren yang berlutut gemetar di atas geladak, lalu segera ikut merunduk di hadapan Ryan Hartono. Suaranya bergetar, bukan karena takut seperti sebelumnya, melainkan karena rasa lega yang datang terlalu mendadak.Grandmaster Kaltrev pun menjatuhkan satu lutut ke lantai kayu yang basah oleh air laut dan darah."Salam hormat, Tuan!"Jika diperhatikan lebih teliti, mata Yuki dan Kaltrev sama-sama dipenuhi keterkejutan serta kekaguman yang membara terhadap Ryan.Terutama Yuki.Beberapa saat lalu, ia sudah yakin malam ini adalah akhir hidupnya. Pedang musuh nyaris menyentuh tenggorokannya, harapan hampir padam, dan seluruh jalan mundur tertutup. Siapa sangka, pada detik paling putus asa, Ryan muncul menginjak ombak, seperti sosok yang turun dari langit dan laut sekaligus.Dalam sekejap, ia memusnahkan belasan Pembunuh Bayangan Peringkat Langit Keluarga Castiella.
Saat semua orang masih diam-diam menggigil ketakutan, Ryan Hartono mendongak menatap Yuki Castiella yang berdiri agak jauh, lalu tersenyum tipis. "Yuki, bagaimana kabarmu selama ini?"Begitu suaranya jatuh, Rufus Castiella, Konrad Yagren, dan yang lain kembali dilanda kejut."Senior, apakah engkau mengenal seseorang dari Keluarga Castiella-ku?" Rufus Castiella mengumpulkan segenap nyali untuk mendongak menatap Ryan dan bertanya dengan hati-hati.Bersamaan dengan itu, hatinya perlahan merosot jatuh. Kalau ahli yang tiba-tiba muncul ini benar mengenal Yuki Castiella, bukankah itu berarti misi yang diemban keluarganya takkan bisa dituntaskan?Tepat pada saat itu, sebuah suara yang bercampur antara haru dan pilu terdengar dari belakang mereka. "Tu... Tuan, akhirnya... akhirnya Tuan datang juga!"Rufus Castiella langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya Yuki Castiella memandang pemuda di hadapannya dengan wajah berbinar penu
Di atas lautan luas, gelombang bergulung semakin tinggi.Deru airnya terdengar seperti raungan naga yang bangkit dari dasar samudra. Permukaan laut seakan dibalik dari akarnya, menumpahkan buih putih setinggi menara ke udara. Angin laut yang semula lembap mendadak berubah dingin menusuk, sementara perahu nelayan di bawah kaki mereka berderit keras dihantam arus yang mengamuk.Saat itu, semua orang yang berdiri di geladak, termasuk Konrad Yagren dan Rufus Castiella, terpaku menatap dinding air raksasa yang meluncur dari kejauhan.Tidak ada yang mampu bersuara.Kaki mereka seperti terpaku pada papan geladak, dan dada masing-masing dicengkeram rasa ngeri yang sama.“Apa itu...?”Rufus Castiella menelan ludah tanpa sadar.Ombak besar?Tidak mungkin.Gelombang tsunami paling ganas pun tidak akan membawa tekanan dan kekacauan sebesar ini. Laut bukan sekadar naik. Laut seolah seda
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap







