Mag-log inMalam Semua ( ╹▽╹ ) ini bab bonus pertama malam ini Terima Kasih Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Ari Hendrawan, Kak Saripto, Kak Al Walid Mohammad, Kak Pawon Mbah Kung, Kak Pungki, Kak Sitoy Suwarto, Kak Lois, dan Kak Rayhan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada satu bab bonus lagi(≧▽≦) Bab Bonus: 1/5 Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Sorot mata Damon terpaku pada pertarungan di kejauhan.Cahaya tajam berkelebat tanpa henti di dalam matanya. Semakin ia menatap, semakin besar rasa heran yang muncul di hatinya.“Yang lebih membuatku penasaran,” gumam Damon, “siapa sebenarnya orang yang sanggup melawan anggota Keluarga Draven, bahkan memaksanya mengeluarkan jurus warisan?”Meski Keluarga Draven bukan keluarga bangsawan paling terpandang di Tiga Alam Tertinggi, jika ditempatkan di Alam Fana, mereka tetap merupakan eksistensi yang hampir tak terbendung.Seorang pemuda dari Alam Fana yang mampu menekan anggota Keluarga Draven sampai titik seperti itu benar-benar berada di luar akal sehat Damon. Bahkan ia mulai bertanya-tanya, jangan-jangan lawan Kesya juga berasal dari Tiga Alam Tertinggi, hanya saja menyembunyikan asal-usulnya.Di medan pertempuran, Kesya tertawa gila sambil terus menyemburkan darah.“Sampai memaksaku memakai Gunung Sembilan Lapis, kau boleh merasa kematianmu setimpal. Hahaha, mari kita mati bersama!”
Tetua Kristian berkata perlahan, “Dia adalah legenda dunia kultivasi Garudapolis kita.” “Di usia tiga puluh tahun, ia sudah menjadi orang nomor satu Garudapolis. Sejak pertama kali muncul, ia mengalahkan semua jagoan yang menghadangnya, dan belum pernah sekalipun menelan kekalahan.”Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh kekaguman, “Nama itu mengguncang seluruh dunia bela diri. Tidak ada seorang pun yang berani memandangnya sebelah mata.”“Orang nomor satu Garudapolis?”Seraphina menggeleng tipis. Raut wajahnya tetap tenang, jelas tidak terlalu menaruh perhatian.“Iya, Bibi!”Isabella tidak bisa menahan diri untuk menimpali. Matanya berbinar ketika menyebut nama Ryan.“Tuan Ryan benar-benar hebat. Menurutku, dia pasti bisa bergabung dengan Keluarga Bibi.”Tetua Kristian ikut mengangguk. Di matanya, Ryan sudah menjadi legenda hidup di Garudapolis. Sosok seperti itu seharusnya cukup layak untuk memasuki tempat asal Seraphina.Namun pada saat itu, pemuda berbusana kuno
"Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan, lepaskan aku... lepaskan aku!"Kesya menatap Ryan dengan wajah memelas. Keangkuhan yang tadi ia tunjukkan di kasino sudah lenyap tanpa sisa. Yang tersisa hanya ketakutan murni."Tidak ada dendam mendalam di antara kita. Kau tidak perlu membunuhku juga." "Asal kau membiarkanku hidup, akan kuberikan apa pun kepadamu. Seluruh uang yang kami rampas, harta lain, bahkan tubuhku sekalipun!"Langkah Ryan tidak melambat sedikit pun.Wajahnya tetap datar, seolah kata-kata Kesya tidak pernah masuk ke telinganya. Angin malam meniup ujung pakaiannya, tetapi tatapannya tetap dingin, setajam bilah yang siap jatuh kapan saja.Melihat itu, wajah Kesya berubah pucat."Kalau kau tetap ingin aku mati, kau harus ikut terkubur bersamaku!"Kegilaan melintas di matanya. Ia merogoh sesuatu dari balik pakaiannya, lalu mengeluarkan sebutir pil berwarna gelap. Tanpa
Musim dingin akan segera tiba.Kota Sentralis yang terletak di dataran tinggi lebih dulu merasakan hawa dinginnya. Begitu malam turun, suhu anjlok tajam. Angin musim gugur yang berembus liar menyapu jalanan, terasa seperti bilah pisau tipis yang mengiris wajah.Karena itu, para pekerja kantoran yang baru pulang kerja hampir semuanya menunduk dan mempercepat langkah. Mereka hanya ingin segera tiba di rumah, menutup pintu, lalu menghangatkan tubuh dari dingin yang menusuk tulang.Namun di sebuah jalanan pinggiran Kota Sentralis, seorang perempuan bergaun hijau zamrud justru sedang berlari kencang di atas trotoar.Setiap kali kakinya menjejak, tubuhnya melompat sejauh belasan meter. Gerakannya seperti seseorang yang memiliki pegas kuat di bawah telapak kaki. Gaun hijaunya berkibar liar, bagai bendera yang dihantam badai. Tiap kali ia mendarat, permukaan trotoar dan aspal di sekitarnya meninggalkan retakan halus
"Sekadar penasaran." Ryan terkekeh pelan, seolah pertanyaan itu hanya muncul begitu saja. "Kalau aku benar-benar tunduk pada kalian, dan seandainya Tiga Alam Tertinggi turun ke dunia, tentu aku membutuhkan sandaran, bukan?" "Kudengar Balai Ribuan Pedang cukup tangguh. Jadi..." Begitu mendengar penjelasan itu, Draven dan Kesya langsung memasang wajah paham. "Setidaknya kau masih tahu diri." Draven tersenyum dingin. Rasa waspada di matanya berkurang, tergantikan kembali oleh keangkuhan. "Tapi jangan menaruh harapan pada Balai Ribuan Pedang. Tempat itu sudah hancur. Seluruh Balai Ribuan Pedang telah dimusnahkan, dan tidak ada satu nyawa pun yang tersisa." "Oh, begitu?" Hati Ryan sedikit bergetar. Ia tahu Draven sedang berdusta. Jika Balai Ribuan Pedang benar-benar musnah tanpa sisa, Silas Stein tidak mungkin masih hidup. Karena itu, Ryan kembali memancingnya dengan nada santai. "Aku pernah bertemu seorang pemuda berambut putih bernama Silas. Ia mengaku sebagai pewaris Balai R
"Kalian ingin aku berlutut dan bersujud memohon ampun?" Ryan menyunggingkan senyum yang tidak sepenuhnya bisa disebut senyum. Sejak kembali ke dunia ini, sudah banyak orang yang bertindak sombong di hadapannya. Namun baru kali ini ada orang yang berani menuntutnya berlutut dan memohon ampun. Draven mengira Ryan mulai gentar. Ia mendengus dingin, lalu berkata dengan nada semakin angkuh. "Mungkin kau belum memahami betapa dahsyat Tiga Alam Tertinggi kami. Namun sebagian tetua di Alam Fana kalian pasti tahu. Tiga Alam Tertinggi adalah sumber dari seluruh dunia kultivasi Garudapolis kalian." Ia menatap Ryan dengan sorot meremehkan. "Jika dulu tidak terjadi perang saudara di Tiga Alam Tertinggi, lalu sekelompok pengkhianat melarikan diri ke dunia luar sambil membawa banyak naskah kuno, bagaimana mungkin dunia luar melahirkan kultivator murahan seperti kalian?" "Tepat sekali." Kesya, perempuan bergaun hijau zamrud itu, ikut tersenyum bangga. "Selama bertahun-tahun, para pengkhiana
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be







