로그인ini bab bonus pagi ini Akumulasi Gem: 11/15 (reset) Akumulasi Hadiah: 40/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus siang ini(◍•ᴗ•◍) Selamat Beraktivitas (◠‿・)—☆
Malam itu, obor-obor menyala terang di sepanjang tembok Benteng Mulvane. Kerumunan yang memenuhi gerbang semakin ramai, sampai akhirnya Calista muncul di atas gerbang untuk memberikan penjelasan.Di hadapan begitu banyak orang, Calista mengakui bahwa dirinya memang akan menikah keesokan hari. Seluruh Benteng Mulvane bahkan sedang sibuk mempersiapkan upacara pernikahan yang diputuskan secara mendadak tersebut.Pengakuan itu langsung membuat kerumunan gempar."Dewiku benar-benar akan menikah! Bahkan besok! Kalau begitu, untuk apa lagi aku hidup? Lebih baik aku mati saja!""Siapa lelaki itu? Binatang mana yang berani merebut Nona Mulvane dariku? Suruh dia keluar! Aku mau menantangnya bertarung!""Kalian belum dengar? Benteng Mulvane sudah mengumumkan bahwa Nona Mulvane tidak akan menikah keluar. Justru mereka yang mengambil seorang menantu untuk tinggal di dalam benteng!""Benar! Katanya lelaki itu bernama Silas, entah Silas siapa. Dia ditemukan Nona Mulvane ketika dalam perjalanan pul
Setelah berbincang sebentar lagi dengan Calista, Ryan akhirnya meninggalkan kamar putri sulung Benteng Mulvane itu. Ia membawa kedua peta yang baru diterimanya, sementara Calista tetap berada di dalam kamar.Begitu Ryan menghilang di ujung lorong, sesosok lelaki paruh baya muncul dari tempatnya menunggu. Reinhart Mulvane mengamati punggung Ryan yang menjauh, kemudian masuk menemui putrinya."Bocah itu sudah setuju?""Sudah, Ayah." Calista mengangguk. "Aku telah menjelaskan maksud pernikahan ini kepadanya, dan dia bersedia menerimanya."Calista lalu menceritakan percakapan mereka, termasuk syarat Ryan bahwa pernikahan tersebut hanya bersifat sementara. Setelah mendapatkan Buah Asal Langit, ia akan pergi dan hubungan mereka berakhir."Ayah tak perlu khawatir. Dari caranya berbicara, aku yakin Tuan Muda Silas memang tidak memiliki ketertarikan kepadaku. Dia juga sama sekali tidak mengincar Benteng Mulvane."Reinhart mengelus janggutnya sambil berpikir. "Sepertinya anak itu hanya ingin
Ryan hampir tertawa mendengar penjelasan Calista Mulvane. Sudut bibirnya sampai berkedut, tetapi ia berhasil menahan diri agar perempuan itu tidak menyadarinya.'Seorang Kaisar Iblis malah dianggap sampah yang mudah dikendalikan. Kalau Tavian dan yang lainnya mendengar perkataan ini, entah bagaimana reaksi mereka.'Ryan memahami maksud Calista. Ia dianggap orang asing yang tidak memiliki keluarga di Kota Bayuswara, tidak mempunyai latar belakang kuat, dan sudah kehilangan kemampuan berkultivasi. Menantu seperti itu tidak akan mampu merebut kekuasaan Benteng Mulvane. Kalau kelak menimbulkan masalah pun, keluarga tersebut pasti merasa mudah mengendalikannya.Meski begitu, Ryan justru sedikit menghargai kejujuran Calista. Perempuan itu tidak menutup-nutupi alasan memilihnya, bahkan mengakui bahwa pernikahan mereka hanya akan menjadi kesepakatan untuk melindungi warisan keluarga.Sejujurnya, Ryan tidak ingin terlibat lebih jauh. Ia
Senja menyelimuti kediaman putri sulung Benteng Mulvane. Cahaya jingga menembus kisi-kisi jendela dan menyinari meja teh kecil di tengah kamar. Dua cangkir teh terhidang di sana, tetapi isinya sudah dingin karena belum seorang pun menyentuhnya. Kesunyian di antara mereka terasa janggal, terutama setelah Calista mengutarakan maksud pertemuan itu.Calista mengenakan gaun istana sederhana yang mengikuti lekuk tubuhnya. Dari tempat duduknya, perempuan itu mengamati Ryan dengan saksama, sesekali memandang wajah dan tangan lelaki tersebut. Ryan sendiri menatapnya dengan ekspresi aneh, seakan baru mendengar sesuatu yang mustahil."Kau ingin aku menikah denganmu dan menjadi menantu yang tinggal di Benteng Mulvane?"Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sejak ditemukan dalam keadaan pingsan, Ryan tahu Calista bersedia menyelamatkannya hanya karena Juwita terus memohon. Bahkan setelah membawanya ke benteng, pe
Ryan menahan gejolak di hatinya dan melanjutkan membaca Hikayat Gunung dan Lautan. Semakin jauh ia membaca, semakin banyak hal yang membuatnya terkejut. Penulis kitab itu menyebut dunia yang diduganya sebagai Bintang Pengubur Abadi. Menurutnya, Bintang Pengubur Abadi dan Alam Purba sebenarnya berasal dari sumber yang sama. Keduanya tampak seperti dua dunia berbeda, tetapi sesungguhnya berada dalam ruang dan waktu yang sama. Bahkan penulis tersebut mengajukan dugaan yang lebih berani. Alam Purba mungkin dulunya merupakan bagian dari Bintang Pengubur Abadi. Namun suatu perubahan besar antara langit dan bumi menyebabkan keduanya terpisah, hingga akhirnya menjadi dua dunia yang berbeda. "Siapa sebenarnya penulis kitab ini?" Ryan mengernyit sambil memandangi tulisan di hadapannya. 'Penjelasannya terlalu terperinci untuk disebut dugaan biasa. Orang ini mungkin berasal dari Bumi!' Ia segera membalik halaman-halaman kitab, mencari nama atau identitas penulisnya. Sayangnya, tidak ada
Tatapan Calista yang dingin membuat dada Reinhart Mulvane terasa tertusuk. Ia mengenal putrinya sejak kecil, tetapi baru kali ini Calista memandangnya seolah mereka dua orang asing. Reinhart akhirnya tersadar dari godaan yang sempat menggoyahkan keputusannya. Pil Emas Naga Harimau memang terlalu menggiurkan bagi Benteng Mulvane yang sedang menghadapi begitu banyak ancaman. Namun untuk mendapatkannya, ia harus mengorbankan kebahagiaan putrinya sendiri. Reinhart mengangkat kepala dan menoleh kepada Gaspar Satyadarma. "Saudara Satyadarma, kau sudah mendengar sendiri jawaban putriku." "Tampaknya Benteng Mulvane memang tidak pantas menjalin hubungan pernikahan dengan Istana Penguasa Kota. Kuharap kau tidak mempermasalahkannya." "Penguasa Benteng, kau..." Tetua Kedua spontan hendak menyela. Namun ketika Reinhart meliriknya dengan tatapan dingin, lelaki tua itu langsung terdiam. Kata-kata yang sudah mencapai bibir terpaksa ditelannya kembali. "Bagus! Bagus sekali! Sungguh luar biasa
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta







