LOGINini bab reguler terakhitlr hati ini Akumulasi Gem: 12/15 Akumulasi Hadiah: 40/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus malam ini(◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
“Itu Jurus Bela Diri!” “Dan tingkatnya jelas tidak rendah!” Begitu melihat kepalan Fabian Ashvale yang dibungkus kilat samar, bahkan wajah Rowena dan orang-orang Tiga Alam Tertinggi di tanah ikut mengeras. Perempuan itu mendongak ke langit dengan tatapan serius, lalu berkata pelan, “Dari daya kepalannya, ada kilau petir yang samar. Kurasa jurus itu setidaknya tidak kalah dari Jurus Peringkat Misteri.” Apa itu Jurus Bela Diri? Itu adalah teknik tempur yang benar-benar dipakai antarahli bela diri. Dalam pertarungan, dua orang yang memiliki kekuatan setara belum tentu menghasilkan kerusakan yang sama dari satu tinju. Orang yang menguasai jurus berperingkat tinggi tentu mampu memeras tenaga di tubuhnya sampai jauh lebih ganas. Di sanalah letak jurang antara ahli bela diri Alam Fana seperti Terence Siven dan para ahli dari Tiga Alam Tertinggi. Terence dan yang lain memang memiliki tenaga besar, tetapi mereka tidak tahu cara menyalurkannya sampai titik penghabisan. Banyak keku
“Tuan Muda Sinclair, tenang saja. Si Hartono itu pasti mati malam ini.” Fabian Ashvale tentu mendengar ucapan Yorick Sinclair. Di balik wajahnya yang semula suram, kegembiraan yang sulit disembunyikan langsung muncul. Dua butir Pil Yang Murni bukan hadiah kecil. Bahkan bagi dirinya yang sudah lama menapaki Ranah Maestro, benda itu tetap cukup menggoda. Ia perlahan mendongak dan menatap Ryan Hartono yang berdiri di udara. Senyumnya menajam. “Bocah, malam ini tidak seorang pun sanggup menyelamatkanmu. Termasuk kakak seperguruanku yang tidak berguna itu.” “Orang yang sebentar lagi mati, tetapi masih berisik juga.” Ryan mendengus dingin. Kilat tajam berkelebat di matanya. Pada saat yang sama, niat membunuh yang menusuk dada tiba-tiba menyerbu lurus ke arah Fabian Ashvale seperti badai tak terlihat. Begitu kata terakhirnya jatuh, tubuh Ryan melesat. Ia seperti anak panah yang baru dilepas dari busur, menembus ruang dalam satu tarikan napas. Kecepatannya begitu mengerikan samp
Tinggi di atas Hotel Internasional Alexandris, dua sosok berdiri saling berhadapan di kehampaan. Angin malam bersiul di antara gedung-gedung tinggi, membawa sisa dingin salju yang belum sepenuhnya hilang dari udara. Tekanan yang memancar dari Ryan Hartono dan Fabian Ashvale saja sudah cukup membuat detak jantung sebagian besar orang di bawah sempat terhenti. Kaca-kaca jendela di lantai atas hotel bergetar halus tanpa henti, seolah bisa pecah kapan saja. “Ryan, dengarkan nasihatku. Jangan gegabah.” Bantara melangkah menembus udara dan berdiri di depan Ryan. Wajah lelaki tua itu sangat serius. “Meski kau tidak tertandingi di antara para Grandmaster, adik seperguruanku sudah menembus Ranah Maestro puluhan tahun lalu.“ “Lebih dari itu, orang ini paling pandai menyembunyikan kekuatan dan menunggu waktu.“ “Aku sudah berkali-kali bertarung dengannya, tetapi belum pernah sekali pun sanggup memaksanya mengeluarkan seluruh kemampuan.” Sampai di sana, Bantara menurunkan suara. “Kau ju
Rowena menggeleng diam-diam. Wajahnya memperlihatkan ketidakberdayaan yang sulit disembunyikan. Menghadapi kemarahan begitu banyak orang dari Tiga Alam Tertinggi, bahkan bila ia ingin menolong Ryan Hartono, hal itu hampir mustahil dilakukan. Sekuat apa pun Keluarga Suira, mereka tetap tidak mungkin menyinggung beberapa keluarga kuno besar sekaligus demi satu orang dari Alam Fana. Wajah Bantara juga berubah drastis. Baru saja lelaki tua itu hendak membuka mulut untuk meredakan bentrokan, suara Ryan tiba-tiba terdengar lebih dulu di seluruh balai. “Hari ini aku datang hanya untuk Fabian Ashvale. Yang tidak ingin mati, jangan ikut campur!” Tatapan Ryan menghunjam lurus ke arah Fabian Ashvale. “Ketua Ashvale, bukankah sebaiknya kita memakai kesempatan hari ini untuk menuntaskan perkara di antara kita?” Semula, Ryan memang berniat menunggu sampai perundingan selesai sebelum mencari perhitungan dengan Fabian. Siapa sangka, lelaki itu justru berani membagi-bagikan wilayahnya kepad
lNamun kali ini, sikap Ryan Hartono berada di luar dugaan Bantara.Pemuda itu seolah tidak mendengar apa pun. Ia bahkan mengambil sebotol arak merah dari meja, lalu menuang setengah gelas untuk dirinya sendiri dengan gerakan santai. Tidak ada amarah di wajahnya, tidak ada pula keberatan yang ia ucapkan.Melihat itu, Yorick Sinclair mengangguk puas. “Lanjutkan.”Fabian Ashvale kembali membuka suara dengan senyum lembut yang sama. “Seperti yang kita semua tahu, Tiga Provinsi Selatan terletak di kawasan terpencil.” “Di sana ada banyak gunung, hutan lebat, serta aliran Qi Spiritual yang cukup melimpah.” “Berbagai tanaman obat langka juga tumbuh di wilayah itu, sehingga sangat cocok dimanfaatkan oleh Saudara-saudara untuk...”Byurr!Segaris arak merah tiba-tiba menyiram wajah Fabian.Cairan itu membasahi seluruh mukanya, mengalir turun dari rambut, dagu, sampai kerah pakaiannya. Aroma alkohol yang samar s
Lorenzo sebenarnya sudah menyiapkan semuanya dengan rapi.Ia ingin memakai tangan Fabian Ashvale untuk menekan, bahkan bila perlu membunuh Ryan Hartono di tempat. Dengan begitu, ia bisa tetap duduk di samping sambil menonton, tanpa harus mengotori tangannya sendiri.Siapa sangka, tepat pada saat suasana hampir meledak, Arielle Surya justru maju dan mengacaukan rencana itu.“Sudah, apa-apaan keributan seperti ini.”Rowena menghentikan semua orang dengan suara dingin. Setelah itu, ia menoleh kepada lelaki tua yang berjaga di pintu. “Paman Quinlan, minta pelayan hotel mulai menghidangkan makanan.”“Baik, Nona.”Lelaki tua itu mengangguk hormat, lalu memberi isyarat kepada orang di luar.Balai yang semula dipenuhi tekanan perlahan kembali tenang. Namun ketenangan itu belum benar-benar turun ketika suara Ryan yang datar kembali terdengar.“Menerima tantangan saja tidak berani. Benar-benar tidak be
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta







