Teilen

Bab 894: Tarian Rumput Laut

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 18:02:26
Dalam waktu setengah jam, banyak pembunuhan terjadi tanpa suara dan tanpa diketahui siapa pun di seluruh penjuru Kota Sentralis.

Semuanya bagai tetesan tinta yang jatuh ke lautan, lenyap begitu saja tanpa menimbulkan kehebohan berarti.

Pukul tujuh malam.

Seberkas cahaya pedang mendarat di depan villa Keluarga Hartono.

Ryan menyimpan pedang terbangnya, dan Kesadaran Ilahi miliknya seketika menyelimuti seisi villa, menyapu setiap sudut ruangan dalam sekejap, dari atap sampai ke ruang bawah ta
Rianoir

ini bab reguler terakhitlr hati ini Akumulasi Gem: 12/15 Akumulasi Hadiah: 40/100 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus malam ini(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠) Selamat Beristirahat (⁠◠⁠‿⁠・⁠)⁠—⁠☆

| 9
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1086: Ribuan Ikan Menuju Gerbang Naga

    Rintik hujan turun tanpa henti, membasahi tanah taman rawa dengan lembut.Di seberang Galeri Seni Kencanapura, ratusan orang masih mendongak dengan mulut ternganga. Tubuh mereka kaku di tempat, seolah kaki mereka telah dipaku ke tanah.Tatapan mereka terpaku pada bayangan naga emas yang meliuk-liuk di langit kelabu.Naga itu seakan menyangga langit. Aumannya bergema berulang kali, menggetarkan udara sampai rasa getarnya seolah menembus tulang. Butiran hujan yang menerpa wajah mereka tidak lagi dihiraukan.Pada saat itu, dunia seperti menyusut hanya menjadi sosok emas yang berputar di antara awan mendung.Seekor naga.Bukan naga yang hanya hidup dalam dongeng lama. Bukan pula bayangan samar hasil khayalan anak kecil. Ini naga yang nyata. Mata naga, sungut naga, sisik naga, bahkan gerakan tubuhnya yang berkelok di udara terlihat begitu jelas.Tidak ada seorang pun yang sanggup meragukannya.Semua orang terguncang sampai ke dasar jiwa.Siapa yang pernah membayangkan bahwa naga dalam

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1085: Naga yang Turun dari Lukisan

    Ryan tersenyum tipis.Ia menurunkan Aira ke tanah, lalu berjongkok di samping putrinya. Setelah menggandeng tangan kecil itu, ia membawanya ke sebuah meja terdekat, mengambil selembar kertas gambar dan sebatang kuas secara acak.“Aira, sini. Hari ini Ayah ajari kau melukis.”Si kecil mendongak. Ada keraguan di matanya yang masih sedikit merah.“Ayah, Aira benar-benar bisa?”“Percaya pada dirimu sendiri, dan percaya pada Ayah.”Ryan mengusap kepala putrinya dengan lembut.“Pemuda ini gila, benar-benar gila!”Kerumunan langsung berang. Cibiran terdengar dari segala arah, seolah mereka sudah tidak sanggup menahan rasa malu yang belum terjadi.Wivan Solari juga menggeleng tanpa henti. “Omong kosong. Benar-benar omong kosong!”“Ada yang tolong hentikan dia. Jangan biarkan dia mempermalukan Garudapolis lebih jauh!”Seseorang berkata dingin dan baru hendak melangkah maju, tetapi Alden Sorano yang sejak tadi diam justru tersenyum setengah mengejek.“Baiklah. Hari ini aku ingin melihat bagaim

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1084: Aira Menantang Alden Sorano

    Suara datar itu bergema ke seluruh penjuru taman, memotong sorak-sorai rombongan negeri sakura dalam sekejap.Semua orang serentak menoleh ke arah sumber suara. Kerumunan yang tadi berdesakan otomatis membelah, memberi jalan tanpa ada yang menyuruh.Mereka melihat seorang pemuda berjubah hijau berjalan keluar perlahan sambil menggendong seorang gadis kecil. Wajahnya setenang permukaan danau yang tidak tertiup angin. Langkahnya tidak cepat, tetapi setiap pijakannya terasa mantap, seolah di tempat itu tidak ada satu pun orang yang layak membuatnya gelisah.Itu Ryan.“Kau siapa? Berani ikut campur urusan kami?”Vidar Selman menyipitkan mata. Nada bicaranya penuh penghinaan. Ia membetulkan letak kacamata, lalu mengamati Ryan dari ujung kepala sampai kaki, seolah sedang menilai barang murahan di pinggir jalan.Alden Sorano pun ikut menoleh. Setelah memandang Ryan sekilas, ia mendengus dingin.“Cuma lelaki yang menggendong anak. Memangnya kau paham seni lukis?”“Paham sedikit-sedikit.”

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1083: Muka Garudapolis Tak Boleh Ditampar

    "Ayah, mereka kenapa?" Aira membelalakkan mata dengan wajah penuh kebingungan. Dalam pandangannya, paman dan bibi yang tadi masih berdiri baik-baik saja mendadak berubah kacau. Ada yang menjerit, ada yang berlutut, ada pula yang menggigil seperti melihat sesuatu yang amat menakutkan. "Mereka semua terjebak dalam halusinasi." Ryan menggeleng kecil. Aira semakin tidak mengerti. "Tapi kenapa Ayah dan Aira tidak apa-apa?" "Karena kau anak kesayangan Ayah." Ryan tersenyum lembut sambil menepuk kepala putrinya. "Mana mungkin kau terpengaruh oleh halusinasi seperti itu." Setelah berkata demikian, Ryan mengangkat tangan dan menepuk bahu Selvina, Darman, serta Ardi Gemboy satu per satu. Ketiganya tersentak keras, seolah baru saja ditarik keluar dari mimpi buruk. Tubuh ramping Selvina sempat terhuyung. Wajahnya pucat, dan suaranya masih bergetar ketika berkata, "Tuan Ryan, hantu... aku melihat hantu. Menyeramkan sekali!" "Itu hanya halusinasi. Sekarang sudah tidak apa-apa." Ryan men

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1082: Alam Baka di Atas Kanvas

    "Melukis dengan mata tertutup!" Wivan Solari, yang berdiri sebagai lawan Alden Sorano, menyaksikan pemandangan itu dengan dada bergejolak. "Ini benar-benar melukis dengan mata tertutup. Kukira di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu melakukannya. Ternyata ada." Bagi seorang pelukis, mata adalah alat yang terlalu penting. Seni membutuhkan mata untuk menangkap bentuk, warna, cahaya, bayangan, dan ruang. Tanpa mata, bagaimana seseorang membuat sketsa? Bagaimana mungkin ia menata warna, menjaga proporsi, dan menentukan kedalaman? Karena itu, jika nama-nama pelukis besar di seluruh dunia ditelusuri satu per satu, nyaris tidak ada seorang tunanetra yang benar-benar berdiri di puncak dunia lukis. Namun tingkat kesulitan yang dipilih Alden Sorano jauh melampaui sekadar menutup mata. Di tempat itu ada ratusan orang. Selama satu orang saja bersuara, ritmenya bisa terganggu. Selama satu tarikan napas saja tidak stabil, goresannya mungkin melenceng. Terlebih lagi, kanvas di h

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 1081: Kuas Terpejam Alden Sorano

    "Sayangnya, izin tinggal rombongan kami hampir habis. Paling lambat besok pagi, kami harus kembali ke negeri sendiri. Entah apakah Master Solari punya waktu hari ini?" Vidar Selman mengerutkan kening, seolah benar-benar merasa keadaan itu tidak bisa dihindari. "Tidak ada! Cepat enyah dari sini! Kalau masih bertanya lagi, kalian kami hajar sampai mampus!" Makian dari para penonton langsung meledak. Suara mereka bergema ke seluruh galeri, bahkan sampai terdengar keluar pintu. Raut wajah Vidar Selman sedikit berubah masam. Ia berbalik, lalu berbicara cepat kepada Alden Sorano dalam bahasa negeri mereka sendiri. Setelah itu, pelukis muda dari negeri sakura tersebut memimpin rombongannya berjalan ke arah pintu keluar. Dari sikapnya, mereka tampak benar-benar hendak pergi. Namun ketika sampai di ambang pintu, Alden Sorano mendadak berhenti. Ia menoleh, memandang Wivan Solari dan para tokoh seni Garudapolis di belakangnya, lalu menyeringai penuh cemooh. "Orang Garudapolis semuanya

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 208: Perjanjian Hidup dan Mati!

    Pagi itu, helikopter yang dikirim Keluarga Kristian mendarat di Kota Sentralis. Ryan turun dan langsung menuju kediaman Keluarga Kristian tanpa mampir ke mana-mana. Viktor sudah berdiri di depan pintu masuk sejak sebelum helikopter muncul di cakrawala, menunggu dengan cara seseorang yang tidak bi

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 197: Racun Mayat!

    Ryan tersenyum. "Tidak apa-apa, aku ikut masuk saja." Brandon menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya mengerti, lalu mendesah dan tidak punya alasan yang cukup kuat untuk melarang. Ada sesuatu yang Ryan tidak katakan. Titik merah di peta Gareth Vale mengarah tepat ke bangunan i

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 9 - Klub Malam Puncak Emas

    Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang

  • Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota   Bab 8 - Masakan Kaisar Iblis

    Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status