LOGINBab ini adalah titik di mana cinta dan kuasa mulai berbenturan secara frontal 😭 Shangkara, yang biasanya tenang dan penuh kendali, akhirnya runtuh oleh rasa takut kehilangan Cailin. Menulis bagian “AKU BERUBAH PIKIRAN!” itu jujur bikin aku deg-degan sendiri 😳 karena di situ, dia bukan lagi penguasa yang logis, tapi seseorang yang terjebak antara cinta dan obsesi. Aku pengen emosinya Shangkara disini itu bukan romantis, tapi tragis. Apakah sudah terasa? Kalau kalian jadi Cailin, di momen itu… kalian akan melawan, atau luluh? 💔 Tulis pendapat kalian di komentar ya, aku pengen tahu, kalian paling paham perasaannya Cailin atau Shangkara?
Waktu seolah membeku di kamar yang hancur itu.Yun berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun menahan amarah. Di belakangnya, Pasukan Bayangan siap menerjang, tapi langkah mereka terhenti .Di tengah ruangan, Rashid menyeringai gila. Tangan kirinya mengunci leher Ren, sementara tangan kanannya menempelkan bilah pedang lengkung tajam ke kulit leher Ren. Darah segar sudah menetes, mewarnai kerah baju Ren yang kotor.Lian berdiri di sudut, angin berputar liar di telapak tangannya, tapi matanya terpaku pada leher Ren.“Minggir,” desis Rashid. “Atau kepalanya menggelinding ke kaki kalian.”Yun menggertakkan gigi. Ia menatap mata Ren. Mata itu redup, lelah, tapi tidak takut.Perlahan, Yun menurunkan tangan. Apinya padam.“Mundur,” perintah Yun pada pasukannya. “Matikan api.”“Pilihan bijak,” ejek Rashid.“Lepaskan dia,” kata Yun, suaranya bergetar menahan emosi. “Kau bisa ambil aku sebagai gantinya. Aku Wakil Komandan. Nilai tawaranku lebih tinggi daripada prajurit cacat.”Rashid tertawa,
“Kau pikir kau siapa?” desis Rashid, suaranya rendah dan menghina.Pasir halus mulai berputar di sekeliling tubuh Rashid. Itu bukan pasir biasa, melainkan Qi Pasir tajam dari botol kecil yang menggantung di pingganggnya.Ren tidak menjawab.Ia menerjang maju. Bukan lurus, tapi zigzag.Rashid menghentakkan tangannya. Cambuk pasir melesat. Whush!Ren menjatuhkan tubuhnya, membiarkan cambuk pasir itu menghantam lemari kayu di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.Ren menyambar kayu yang patah akibat hantaman tadi, lalu melempar
Yun berdiri kaku di ambang pintu, pedangnya terhunus. Di belakangnya, lima anggota Pasukan Bayangan menahan napas, siap menerkam.Tapi tidak siapapun untuk diterkam.Ruangan itu kosong melompong.Yun menyadarinya di detik pertama begitu kakinya menginjak lantai.Hanya ada sebuah kursi kayu di tengah ruangan. Di atasnya, duduk sebuah boneka jerami kasar yang mengenakan selendang wanita. Dan tepat di pangkuan boneka itu, sebuah dupa kecil menyala, mengirimkan asap hijau tipis ke udara.“Berhenti!” desisnya.Hidung Yun menangkap bau manis yang menyengat. Instingnya berteriak sebelum otaknya memproses.“Tahan napas!&rdquo
Kawah Vermilion Tua terbentang di hadapan Ren.Tanah di sekelilingnya hitam, kering dan retak-retak. Tidak ada bara. Tidak ada asap. Tidak ada sisa api yang bisa dibanggakan. Hanya hamparan abu vulkanik kelabu yang membeku, dikelilingi oleh pilar-pilar batu hitam yang menjulang seperti tulang rusuk raksasa.Ren berdiri di bibir kawah. Napasnya terdengar kasar di tenggorokannya yang kering.Legenda mengatakan, di sinilah leluhur Vermilion pertama kali mengikat perjanjian dengan Burung Api Vermilion. Dulu, tempat ini adalah lautan api abadi.Sekarang, tempat ini sunyi. Dingin. Mati.Ren mengerti kenapa ia bisa sampai di sini.Ren menuruni lereng kawah, tergelincir di atas kerikil ab
Dingin.Itu adalah sensasi pertama yang dirasakan Ren. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menggigit hingga ke tulang.Selama hidupnya, tubuhnya dialiri Qi Vermilion yang bersifat Yang murni. Hujan salju, badai es, atau angin malam tidak pernah membuatnya menggigil. Tubuhnya adalah tungku abadi.Tapi sekarang, tungku itu padam.Ren merapatkan jubah abunya yang sudah robek terkena ranting berduri. Napasnya mengepul putih di udara malam yang membeku.Jalur Pedagang Hantu bukan sekadar nama. Jalan setapak ini membelah tebing curam yang tertutup lumut licin dan kabut abadi. Di sisi kirinya adalah dinding batu basah, di sisi kanannya adalah jurang gelap tanpa dasar.Kaki Ren gemetar.
Lian duduk di kursi kayu di tengah ruangan yang remang-remang. Pergelangan tangannya terikat tali sutra biru yang dilapisi mantra peredam energi.Ia tidak mencoba memberontak. Ia tahu itu percuma. Sebagai Pengendali Angin, ia butuh gerakan tangan atau napas yang bebas untuk memanggil badai. Tali ini membatasi keduanya.Pintu kamar terbuka. Seorang pria bertubuh besar—bukan Rashid, tapi salah satu pengawal Saharath—masuk membawa nampan makanan.Lian menatapnya tenang.“Di mana Tuan Rashid?” tanya Lian. Suaranya datar.“Tuan Rashid sedang sibuk di istana, mengurus pertukaranmu,” jawab pengawal itu sambil meletakkan nampan dengan kasar. "”akanlah. Kami butuh kau tetap hidup sampai kami m







