LOGINSetelah Kasim Meng pergi untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Kaisar Kaizen, suasana ruang baca kembali tenang. Beberapa pelayan yang berjaga di luar berdiri dengan sikap hormat, sementara Kaizen masih duduk di kursi kebesarannya. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kerajaan yang belum sempat dia periksa."Yang Mulia Ibu Suri tiba!" Suara seorang pengawal terdengar lantang dari luar ruangan.Kaizen yang sedang membaca sebuah dokumen langsung mengerutkan kening. Dia mengangkat kepalanya perlahan, kemudian meletakkan dokumen tersebut di atas meja."Ibu Suri?" gumamnya pelan.Seingat Kaizen, dalam kehidupan sebelumnya, dia pernah membaca dan menonton banyak drama sejarah yang menggambarkan kehidupan di dalam istana kekaisaran. Sosok Ibu Suri biasanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan pengaruhnya terkadang mampu menyaingi kekuasaan seorang Kaisar.Terlebih lagi, berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, Ibu Suri yang sekarang berada di istana merupakan wanit
Di kediaman Perdana Menteri Yu Leng, suasana yang biasanya dipenuhi ketenangan kini berubah menjadi tegang. Beberapa pejabat tinggi kerajaan yang selama ini berada di pihaknya tampak berkumpul di ruang pertemuan. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja panjang, tetapi tidak seorang pun terlihat tenang.Sejak insiden di aula istana, ketika Kaisar Kaizen dengan mudah membunuh Menteri Keuangan menggunakan sebuah benda kecil yang disebut pistol, kegelisahan mulai menyelimuti hati mereka.Para pejabat itu saling berbisik, membicarakan senjata mengerikan yang diperlihatkan sang Kaisar. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Kaizen, yang selama ini mereka anggap sebagai seorang Kaisar lemah dan mudah dikendalikan, ternyata menyimpan sesuatu yang begitu berbahaya."Tuan Yu, bagaimana ini? Kaisar sudah tidak mau dikendalikan lagi. Bahkan, dia juga memiliki senjata yang mengerikan seperti itu," ucap Menteri Dalam Negeri dengan wajah pucat.Tangannya terlihat mengepal di atas meja. Sebagai seora
Perdana Menteri Yu Leng menelan ludah dengan susah payah saat menyaksikan Menteri Keuangan tewas seketika akibat benda aneh yang ditembakkan oleh sang Kaisar. Tubuh pria itu terkulai di lantai, sementara darah mulai mengalir dari luka berlubang yang ditimbulkan oleh senjata tersebut dikepalanya.Pemandangan mengerikan itu membuat Yu Leng kehilangan keberaniannya. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai Perdana Menteri, dia telah menghadapi berbagai situasi sulit, bahkan beberapa kali terlibat dalam perebutan kekuasaan di lingkungan istana. Namun, dia tidak pernah membayangkan akan menyaksikan orangnya tewas begitu saja di hadapannya, dengan senjata aneh.Tiga menteri lainnya juga mengalami hal serupa. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi dan punggung mereka. Tidak seorang pun berani mengeluarkan suara, apalagi mengangkat kepala untuk menatap Kaizen.Sementara itu, Kaizen justru terlihat santai. Dia memandangi senjata di tangannya dengan ekspresi puas, seperti baru s
Perdana Menteri bersama empat pejabat tinggi lainnya akhirnya memasuki ruang baca Kaisar. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, pandangan mereka langsung tertuju pada sejumlah kotak besar berisi emas dan perak yang masih tersusun di tengah ruangan.Kelima orang itu saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya menghadap Kaizen.Mereka memberikan salam dengan sikap yang terkesan asal-asalan. Bahkan, dari ekspresi wajah masing-masing, terlihat jelas bahwa mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat yang semestinya diberikan kepada seorang Kaisar.Kaizen yang menyaksikan sikap tersebut hanya tersenyum tipis. Namun, di dalam hatinya, dia sudah menyimpan penilaian tersendiri terhadap kelima orang itu.'Para tua bangka ini benar-benar harus segera kusingkirkan. Mereka bahkan tidak lagi menganggapku sebagai Kaisar,' katanya dalam hati."Yang Mulia, tindakan Anda kali ini benar-benar terlalu terburu-buru. Separuh pejabat penting di lingkungan pemerintahan telah kehilangan nyawa. Jika kea
Satu per satu, rumah para pejabat yang sebelumnya menolak berdonasi dengan berbagai alasan dan berpura-pura tidak memiliki harta, mulai digeledah oleh pasukan bayangan.Karena penggeledahan dilakukan secara mendadak tanpa memberi mereka kesempatan untuk mempersiapkan diri, seluruh harta kekayaan yang selama ini disembunyikan berhasil ditemukan oleh para pengawal bayangan. Emas, perak, permata, hingga tumpukan uang yang sengaja mereka simpan di tempat tersembunyi, semuanya disita tanpa terkecuali.Setelah penggeledahan selesai, titah Kaisar pun dibacakan di hadapan masing-masing keluarga pejabat tersebut. Mereka dinyatakan telah melakukan penipuan terhadap Kaisar dengan berpura-pura tidak memiliki kekayaan demi menghindari kewajiban berdonasi. Sebagai hukumannya, seluruh anggota keluarga mereka dijatuhi hukuman mati.Dalam waktu singkat, separuh dari pejabat yang sebelumnya menduduki berbagai posisi penting di lingkungan pemerintahan Kekaisaran Amarta telah kehilangan nyawa. Hanya par
Kasim Meng benar-benar merasa penasaran dengan perubahan sikap Kaisar Kaizen. Kaisar yang dahulu begitu acuh terhadap urusan kerajaan, bahkan nyaris tidak pernah menunjukkan kepedulian terhadap rakyat maupun pemerintahan, kini justru berubah menjadi sosok yang begitu bertanggung jawab. Terlebih lagi, dia bahkan berani menentang Perdana Menteri Yu Leng, seseorang yang selama ini memiliki pengaruh besar di lingkungan istana."Yang Mulia!" Tiba-tiba, Ru Lin, pemimpin pengawal bayangan, datang menghadap. Dia segera membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan kepada sang Kaisar.Kaizen yang sedang sibuk menuliskan sesuatu di atas meja kerjanya tidak langsung mengangkat kepala. Dia tetap menggerakkan kuas di tangannya sembari bertanya dengan tenang, "Katakan, ada apa?"Ru Lin segera menyampaikan laporan dengan nada serius. "Yang Mulia, Fraksi Perdana Menteri Yu Leng sedang menghasut rakyat dan mengadu domba mereka. Mereka bahkan berniat menggerakkan massa untuk menuntut Yang Mulia







