공유

Bab 8

작가: Pein
last update 게시일: 2026-10-23 09:48:20

Melihat Kaizen terdiam cukup lama, Perdana Menteri semakin yakin bahwa Kaisar muda itu telah kehabisan akal. Baginya, Kaizen hanyalah seorang kaisar boneka yang tidak memiliki kemampuan untuk mengurus pemerintahan, apalagi menyelesaikan krisis yang sedang melanda wilayah Utara.

Selama ini, Kaizen selalu bersikap acuh tak acuh terhadap urusan negara. Dia lebih sering menghabiskan waktu untuk bersenang-senang daripada memikirkan kesejahteraan rakyat. Karena itulah, Perdana Menteri dan para pejabat yang berada di bawah kendalinya terbiasa mengambil keputusan sesuka hati tanpa takut mendapat teguran dari sang Kaisar.

Bahkan, mereka sengaja membiarkan kas kerajaan terkuras untuk membangun Altar Megah yang menelan biaya sangat besar. Mereka tahu bahwa wilayah Utara sedang dilanda bencana, tetapi tidak pernah benar-benar berniat mengalokasikan dana untuk membantu penduduk yang kelaparan.

Perdana Menteri mengira Kaizen akan kembali menunjukkan kelemahannya. Setelah menyadari bahwa dana kerajaan tidak mencukupi, sang Kaisar pasti akan meminta bantuan kepadanya. Dengan begitu, dia bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk semakin mengendalikan pemerintahan dan membuat Kaizen berutang budi kepadanya.

Namun, dugaan itu ternyata meleset jauh. Kaizen yang semula duduk dalam diam perlahan mengangkat kepalanya. Tatapannya yang sebelumnya terlihat tenang kini berubah tajam, menyapu seluruh pejabat yang berdiri di hadapannya.

Kemudian, dia bangkit dari singgasananya. "Hentikan pembangunan Altar! Mulai hari ini, seluruh dana yang masih tersedia harus dialokasikan untuk membantu rakyat di wilayah Utara terlebih dahulu!" perintah Kaizen dengan suara lantang.

Suara tegas itu menggema di dalam aula utama istana.

Seketika, seluruh pejabat terdiam. Beberapa di antara mereka bahkan saling bertukar pandang, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Menghentikan pembangunan Altar?

Proyek tersebut bukanlah pembangunan biasa. Selain menelan biaya yang sangat besar, proyek itu juga menjadi salah satu sarana bagi Perdana Menteri untuk memperkuat pengaruhnya di lingkungan kerajaan.

Selama ini, berbagai keputusan penting terkait pembangunan tersebut selalu mendapat persetujuan dari para pejabat yang berada di pihaknya.

Mereka tidak pernah menyangka Kaizen berani menghentikannya secara langsung.

Terlebih lagi, Kaisar muda itu kini memerintahkan agar dana kerajaan digunakan untuk membantu rakyat yang selama ini justru diabaikannya.

"Apakah Yang Mulia baru saja memerintahkan penghentian pembangunan Altar?" bisik seorang pejabat kepada rekannya.

"Jangan bicara sembarangan! Apa kau ingin kehilangan kepalamu?" balas rekannya dengan wajah pucat.

Meskipun hanya berbisik, kegelisahan mulai menyebar di antara mereka.

Sementara itu, Perdana Menteri yang berdiri di barisan terdepan tampak membeku. Senyum tipis yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan menghilang.

Dia benar-benar tidak menduga Kaizen akan mengambil keputusan seperti itu.

Padahal, dia sudah menyusun langkah untuk membuat sang Kaisar terpojok. Dengan kondisi kas kerajaan yang hampir kosong, Kaizen seharusnya tidak memiliki pilihan selain meminta bantuannya. Akan tetapi, pemuda itu justru mengambil keputusan yang berpotensi merusak rencana yang telah disusunnya.

Perdana Menteri segera menenangkan diri. Dia tidak mungkin membiarkan Kaizen mengambil alih keadaan begitu saja.

"Yang Mulia, mohon pertimbangkan kembali keputusan tersebut," ujarnya sambil melangkah maju. Nada bicaranya terdengar sopan, tetapi sorot matanya menyimpan maksud lain.

Kaizen menoleh kepadanya tanpa menunjukkan rasa gentar. "Pertimbangan apa yang masih diperlukan, Perdana Menteri?"

Perdana Menteri sedikit mengernyit, tetapi segera kembali memasang wajah serius. "Yang Mulia, sekalipun pembangunan Altar dihentikan sekarang juga, dana yang tersisa tetap tidak akan mencukupi kebutuhan wilayah Utara. Bencana yang melanda daerah tersebut telah menyebabkan banyak kerugian. Kita membutuhkan bahan pangan, obat-obatan, pakaian, serta biaya untuk memperbaiki tempat tinggal penduduk."

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika Yang Mulia memaksakan keputusan ini tanpa perhitungan yang matang, bukan tidak mungkin kas kerajaan akan benar-benar kosong. Pada akhirnya, kita bukan hanya gagal membantu wilayah Utara, tetapi juga akan kesulitan membiayai kebutuhan pemerintahan lainnya."

Perdana Menteri sengaja menekankan persoalan kekurangan dana. Dia ingin membuat para pejabat kembali meragukan kemampuan Kaizen, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan sang Kaisar tidak lebih dari tindakan gegabah.

Beberapa pejabat yang mendukungnya mulai mengangguk pelan.

"Perdana Menteri benar. Kita harus memikirkan keadaan kerajaan secara keseluruhan."

"Jika kas kerajaan habis, bagaimana kita membiayai kebutuhan para prajurit dan mempertahankan keamanan perbatasan?"

"Yang Mulia seharusnya tidak mengambil keputusan sebesar ini tanpa mempertimbangkan akibatnya."

Suara-suara tersebut mulai terdengar dari berbagai sudut aula. Mereka berusaha memanfaatkan keadaan untuk menekan Kaizen agar menarik kembali perintahnya.

Namun, Kaizen justru tersenyum miring. Dia sudah mengetahui bahwa para pejabat ini tidak akan dengan mudah menerima keputusannya.

Selama bertahun-tahun, mereka terbiasa melihat sang Kaisar sebagai sosok lemah yang dapat dipermainkan. Begitu Kaizen menunjukkan sedikit perlawanan, mereka langsung mencari alasan untuk menjatuhkannya.

BRAK!

Suara gebrakan meja yang begitu keras membuat seluruh pejabat tersentak.

"Perdana Menteri!" seru Kaizen dengan tatapan tajam. "Apakah menurutmu aku harus duduk diam di dalam istana, berpura-pura tidak mengetahui penderitaan rakyatku hanya karena dana kerajaan tidak mencukupi?"

Perdana Menteri terdiam sesaat.

Kaizen tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. "Sebagai pejabat senior yang telah mengabdi selama bertahun-tahun, bukankah seharusnya kau memahami tanggung jawabmu? Rakyat di wilayah Utara sedang kelaparan. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, sementara sebagian dari mereka bahkan tidak memiliki makanan untuk bertahan hidup!"

Suara Kaizen semakin meninggi. "Namun, ketika masalah ini dibawa ke hadapan kalian, apa yang kalian lakukan? Kalian hanya berdiri di sini dan memberitahuku betapa sulitnya keadaan, seolah-olah penderitaan rakyat bukan urusan kalian!"

Dia menyapu pandangannya ke seluruh pejabat. "Apa kalian menganggapku begitu bodoh sehingga tidak mampu membedakan antara pejabat yang benar-benar mengabdi kepada kerajaan dan mereka yang hanya pandai mencari alasan?"

Wajah para pejabat seketika berubah pucat. Mereka tidak pernah membayangkan Kaizen akan menegur mereka secara terbuka, terlebih dengan kata-kata setajam itu.

Beberapa orang segera berlutut, disusul pejabat lainnya yang tidak berani mengambil risiko. Dalam waktu singkat, hampir seluruh pejabat di aula menundukkan kepala di hadapan sang Kaisar.

"Yang Mulia, mohon tenangkan diri!" seru mereka serempak.

Akan tetapi, Kaizen sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan meredakan kemarahannya.

"Tenang?" ulangnya dengan nada dingin. "Kalian memintaku untuk tenang ketika rakyatku sedang menderita? Apa kalian pikir aku masih bisa duduk dengan nyaman di singgasana setelah mengetahui bahwa rakyat yang seharusnya kulindungi justru kelaparan?"

Dia mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Jika seorang Kaisar bahkan tidak mampu memastikan rakyatnya mendapatkan makanan, lalu untuk apa aku duduk di singgasana ini?"

Aula utama kembali sunyi.

Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat kepala.

Bagi mereka, ucapan tersebut terdengar sangat asing. Selama ini, Kaizen hampir tidak pernah membicarakan penderitaan rakyat dengan sungguh-sungguh. Dia bahkan jarang memeriksa laporan pemerintahan, sehingga Perdana Menteri dapat mengendalikan banyak urusan tanpa menghadapi perlawanan berarti.

Namun, Kaisar yang berdiri di hadapan mereka sekarang tampak seperti orang yang berbeda.

Tatapannya tajam, suaranya penuh tekanan, dan setiap perkataannya seolah menuntut pertanggungjawaban dari orang-orang yang selama ini berlindung di balik jabatan mereka.

Perdana Menteri sendiri mulai kehilangan ketenangannya. Dia menatap Kaizen dengan perasaan tidak percaya. Selama bertahun-tahun, dia telah memperlakukan sang Kaisar sebagai boneka yang bisa diarahkan sesuai keinginannya.

Dia bahkan mengira Kaizen tidak akan pernah memiliki keberanian untuk menentang dirinya secara terbuka.

Namun, kenyataan di hadapannya berkata lain.

Kaizen mengibaskan jubahnya, kemudian kembali berbicara dengan nada tegas. "Karena dana kerajaan masih kurang, aku akan menyumbangkan seratus ribu tael perak dari kekayaan pribadiku untuk membantu rakyat di wilayah Utara!"

Mendengar keputusan itu, beberapa pejabat spontan mengangkat kepala.

Seratus ribu tael perak!

Jumlah tersebut bukanlah angka kecil. Bahkan, bagi sebagian bangsawan, mengeluarkan uang sebanyak itu dari kekayaan pribadi merupakan sesuatu yang tidak akan mereka lakukan tanpa memperoleh keuntungan yang sepadan.

Akan tetapi, Kaizen belum selesai berbicara. "Dan kalian semua juga harus menyumbang!"

Seketika, wajah para pejabat kembali berubah.

Kaizen menatap mereka satu per satu, seolah sedang menghafal wajah setiap orang yang berlutut di hadapannya. Tatapannya kemudian mengeras, membuat suasana aula semakin mencekam. "Jika ada di antara kalian yang menolak membantu, maka jangan harap aku akan mengampuni nyawa kalian!"

Seluruh pejabat seketika tercengang.

Keringat dingin mulai membasahi dahi mereka. Bahkan, beberapa orang yang sebelumnya berani menyuarakan keberatan kini hanya mampu menundukkan kepala lebih dalam, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 22

    Begitu tiba di depan gerbang Istana Dingin, Kaisar Kaizen tiba-tiba memperlambat langkahnya. Alisnya sedikit terangkat ketika hidungnya menangkap aroma khas yang begitu familier. Aroma tersebut mengingatkannya pada suasana kehidupan di dunia modern, tepatnya bau makanan yang sering tercium di pinggiran jalan ketika dirinya pulang bekerja.Kaizen menghirup udara sekali lagi. Aroma gurih kaldu yang bercampur dengan wangi bawang putih, rempah-rempah, serta sesuatu yang sulit dijelaskan membuat ingatannya seketika melayang ke masa lalu.Kaizen mengerutkan kening. Dia merasa tidak mungkin salah mengenali aroma tersebut."Tidak salah lagi, ini...." gumamnya pelan.Dia kemudian melirik salah satu pengawalnya yang berdiri di samping gerbang. Pengawal itu segera memahami isyarat sang Kaisar dan bergegas maju untuk membukakan kedua daun gerbang Istana Dingin.Kreeeek!Gerbang besar itu perlahan terbuka. Seorang kasim melangkah maju dan berseru dengan suara lantang."Yang Mulia tiba!"Seruan te

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 21

    Kaizen benar-benar terkejut setelah membaca resep pembuatan garam yang diberikan oleh Ibu Suri. Matanya bahkan sempat menyipit, sementara jemarinya kembali menelusuri setiap baris tulisan yang tertera pada lembaran kertas tersebut. Dia membaca dengan sangat teliti, memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat.Semakin lama memperhatikan resep itu, semakin besar pula keterkejutannya.Sebagai seseorang yang berasal dari dunia modern, Kaizen sangat memahami proses pembuatan garam yang tertulis di sana. Metode tersebut bukanlah sesuatu yang biasa diketahui oleh masyarakat zaman ini. Bahkan, jika dibandingkan dengan cara tradisional yang selama ini digunakan oleh penduduk kerajaan, resep tersebut jauh lebih efektif dan mampu menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik.Kaizen sempat berpikir bahwa mungkin ada seseorang dari dunia modern yang juga terlahir di zaman ini. Kemungkinan itu memang cukup kecil, tetapi keberadaan resep tersebut membuatnya sulit untuk mengabaikan pemi

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 20

    Setelah Kasim Meng pergi untuk menjalankan perintah yang diberikan oleh Kaisar Kaizen, suasana ruang baca kembali tenang. Beberapa pelayan yang berjaga di luar berdiri dengan sikap hormat, sementara Kaizen masih duduk di kursi kebesarannya. Di atas meja terdapat beberapa dokumen kerajaan yang belum sempat dia periksa."Yang Mulia Ibu Suri tiba!" Suara seorang pengawal terdengar lantang dari luar ruangan.Kaizen yang sedang membaca sebuah dokumen langsung mengerutkan kening. Dia mengangkat kepalanya perlahan, kemudian meletakkan dokumen tersebut di atas meja."Ibu Suri?" gumamnya pelan.Seingat Kaizen, dalam kehidupan sebelumnya, dia pernah membaca dan menonton banyak drama sejarah yang menggambarkan kehidupan di dalam istana kekaisaran. Sosok Ibu Suri biasanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bahkan pengaruhnya terkadang mampu menyaingi kekuasaan seorang Kaisar.Terlebih lagi, berdasarkan ingatan pemilik tubuh sebelumnya, Ibu Suri yang sekarang berada di istana merupakan wanit

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 19

    Di kediaman Perdana Menteri Yu Leng, suasana yang biasanya dipenuhi ketenangan kini berubah menjadi tegang. Beberapa pejabat tinggi kerajaan yang selama ini berada di pihaknya tampak berkumpul di ruang pertemuan. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja panjang, tetapi tidak seorang pun terlihat tenang.Sejak insiden di aula istana, ketika Kaisar Kaizen dengan mudah membunuh Menteri Keuangan menggunakan sebuah benda kecil yang disebut pistol, kegelisahan mulai menyelimuti hati mereka.Para pejabat itu saling berbisik, membicarakan senjata mengerikan yang diperlihatkan sang Kaisar. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Kaizen, yang selama ini mereka anggap sebagai seorang Kaisar lemah dan mudah dikendalikan, ternyata menyimpan sesuatu yang begitu berbahaya."Tuan Yu, bagaimana ini? Kaisar sudah tidak mau dikendalikan lagi. Bahkan, dia juga memiliki senjata yang mengerikan seperti itu," ucap Menteri Dalam Negeri dengan wajah pucat.Tangannya terlihat mengepal di atas meja. Sebagai seora

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 18

    Perdana Menteri Yu Leng menelan ludah dengan susah payah saat menyaksikan Menteri Keuangan tewas seketika akibat benda aneh yang ditembakkan oleh sang Kaisar. Tubuh pria itu terkulai di lantai, sementara darah mulai mengalir dari luka berlubang yang ditimbulkan oleh senjata tersebut dikepalanya.Pemandangan mengerikan itu membuat Yu Leng kehilangan keberaniannya. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai Perdana Menteri, dia telah menghadapi berbagai situasi sulit, bahkan beberapa kali terlibat dalam perebutan kekuasaan di lingkungan istana. Namun, dia tidak pernah membayangkan akan menyaksikan orangnya tewas begitu saja di hadapannya, dengan senjata aneh.Tiga menteri lainnya juga mengalami hal serupa. Wajah mereka pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi dan punggung mereka. Tidak seorang pun berani mengeluarkan suara, apalagi mengangkat kepala untuk menatap Kaizen.Sementara itu, Kaizen justru terlihat santai. Dia memandangi senjata di tangannya dengan ekspresi puas, seperti baru s

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 17

    Perdana Menteri bersama empat pejabat tinggi lainnya akhirnya memasuki ruang baca Kaisar. Begitu melangkahkan kaki ke dalam, pandangan mereka langsung tertuju pada sejumlah kotak besar berisi emas dan perak yang masih tersusun di tengah ruangan.Kelima orang itu saling bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya menghadap Kaizen.Mereka memberikan salam dengan sikap yang terkesan asal-asalan. Bahkan, dari ekspresi wajah masing-masing, terlihat jelas bahwa mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat yang semestinya diberikan kepada seorang Kaisar.Kaizen yang menyaksikan sikap tersebut hanya tersenyum tipis. Namun, di dalam hatinya, dia sudah menyimpan penilaian tersendiri terhadap kelima orang itu.'Para tua bangka ini benar-benar harus segera kusingkirkan. Mereka bahkan tidak lagi menganggapku sebagai Kaisar,' katanya dalam hati."Yang Mulia, tindakan Anda kali ini benar-benar terlalu terburu-buru. Separuh pejabat penting di lingkungan pemerintahan telah kehilangan nyawa. Jika kea

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status