Share

Bab 2

Author: Ungu
“Juan, cepat lepaskan! Aku ini kakak iparmu, kita nggak boleh melakukan hal seperti ini!”

Tubuh lembut kakak ipar memberontak hebat, tangan mungilnya mendorongku sekuat tenaga agar aku tak melangkah lebih jauh.

“Kak, tolong bantu aku kali ini saja. Setiap hari melihatmu seperti ini rasanya aku hampir mati menahannya. Hanya sekali ini saja, ya?!”

Saat ini, aku sudah seperti kesurupan. Pikiranku hanya dipenuhi keinginan untuk segera menikmati kehangatan di dalam sana dan meluapkan seluruh gairah yang sudah lama terpendam.

Apalagi, aku dan kakak ipar juga tak ada hubungan darah. Daripada diriku yang sebaik ini jatuh ke tangan orang lain, lebih baik dinikmati kakak ipar saja. Apa salahnya kalau orang sendiri saling membantu?

Saat ini, tidak ada satu pun yang bisa menahan gejolak liarku.

Aku menyusupkan jariku ke dalam, terus bergerak membangkitkan gairah kakak ipar yang membara.

Tubuh kakak ipar gemetaran, helaan napas dan desahan manjanya terus terdengar.

Setelah menemukan posisi yang tepat, aku yang sudah tak sabar segera memegang benda milikku dan siap menaklukkan kakak ipar dalam satu hentakan….

Tiba-tiba, pintu di luar digedor keras. Suara kakak terdengar dari luar yang menyuruh kakak ipar membukakan pintu.

“Kakakmu sudah pulang! Kalau kamu masih nggak pergi, dia bisa mengambil pisau dan mencincangmu!”

Kakak ipar panik setengah mati. Entah dari mana datangnya tenaga, dia langsung mendorongku, lalu terburu-buru merapikan pakaiannya. Untungnya sedang mati listrik, jadi saat kakak masuk, dia tak akan melihat kejanggalan pada dirinya.

Aku pun tak memedulikan hal lain lagi. Sambil memegangi celana, aku segera berlari kembali ke kamar dan menempelkan telingaku di celah pintu untuk menguping.

Barulah sekarang aku merasa takut. Jika sampai kakak ipar menceritakan kejadian tadi pada kakak, kakak benar-benar bisa mencincangku dengan pisau.

Begitu masuk, kakak pun bertanya, “Kok nggak ada listrik? Lupa bayar listrik atau korslet?”

Kakak ipar bilang ada masalah pada jalur listrik. Untungnya dia sama sekali tak menceritakan kejadian tadi, membuatku bisa menghela napas lega.

Kakak pun mengambil kotak perkakas untuk memperbaikinya. Begitu listrik kembali menyala, dia langsung memeluk kakak ipar dan berkata dengan penuh semangat, “Sayang, aku harus dinas keluar kota besok. Sebelum pergi, puaskan aku dulu, dong!”

Dia memeluk kakak ipar sambil menciumnya, tangannya juga mulai meremas dua gumpalan kenyal dan montok di dadanya.

“Jangan di sini, ke… ke kamar saja….” ucap kakak ipar dengan wajah yang merona malu.

“Siap!”

Mereka pun masuk ke dalam kamar. Aku diam-diam membuntutinya. Pintunya dikunci, jadi aku hanya bisa mendengar suara-suara yang sesekali keluar dari dalam.

Mendengar desahan menggoda kakak ipar yang sengaja ditahan, hatiku terasa gelisah bukan main. Padahal aku hampir berhasil tadi.

Aku pun pergi ke kamar mandi, mencari celana dalam bekas pakai kakak ipar, lalu menggunakannya untuk meluapkan gairahku sendiri.

Keluar dari kamar mandi, aku berpapasan dengan kakak yang baru saja selesai dan keluar dari kamar. Aku pun berpura-pura baru saja pulang dan menyapanya.

“Juan sudah pulang? Kapan masuknya? Kok aku nggak mendengarnya?”

Ekspresi kakak agak terkejut dan canggung, sepertinya khawatir kalau aku mendengar pergerakan mereka di dalam.

Aku beralasan baru saja pulang kerja. Aku berjalan menuju kamar dengan perasaan bersalah, tapi malah tiba-tiba dipanggil oleh kakak.

Dia bilang, “Aku mau dinas keluar kota besok, kira-kira harus pergi setengah bulan. Kamu jaga kakak ipar baik-baik di rumah, ya. Begitu pulang nanti, aku bakal naik jabatan dan gaji. Nanti aku akan memasukkanmu ke kantorku.”

Sikap kakak yang begitu memikirkanku membuat perasaanku diselimuti rasa bersalah. Dia begitu perhatian padaku, tapi aku malah berniat menikmati istrinya. Benar-benar tak tahu diri.

Rasanya aku ingin menampar wajahku sendiri.

Aku pun buru-buru berjanji akan menjaga kakak ipar dengan baik.

Sejak kakak pergi dinas, kakak ipar sebisa mungkin menghindariku. Kalau tidak pergi belanja bersama sahabatnya, dia beralasan harus kerja lembur. Hal itu membuat hatiku terasa cukup kehilangan.

Suatu pagi saat sedang bekerja, tiba-tiba aku menerima telepon dari kakak ipar.

Ternyata saat pulang ke rumah, kakinya tak sengaja terkilir dan terbentur anak tangga. Lututnya terluka sampai tak bisa berjalan, jadi dia memintaku datang untuk membantunya.

Setibanya di sana, aku melihat kakak ipar duduk di lantai dengan wajah kesakitan, kakinya terbalut sapu tangan.

“Tahan sebentar, kak. Aku akan mengoleskan obat begitu sampai di rumah.”

Aku langsung menggendongnya dan berjalan cepat menuju rumah. Di balik kerah bajunya, dada montoknya yang lembut berguncang mengikuti napas kakak ipar yang terengah-engah.

Karena posisi menggendong tersebut, bagian sensitif kami berdua malah menempel sangat erat.

Merasakan kehangatan dan kelembutan itu, api gairah langsung bergejolak di area perut bawahku. Benda milikku yang membesar dan menegang mendesak ke arah perut bawah kakak ipar.

Aku merasakan tubuh kakak ipar gemetar beberapa kali. Saat menunduk, terlihat wajah cantiknya sudah merona dan memalingkan pandangannya karena malu.

Aku merasa canggung dan bersemangat. Begitu masuk ke dalam lift, niat jahat dalam hatiku kembali muncul. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkannya….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 10

    Setelah kejadian itu, setiap ada kesempatan Janet akan terus menempel dan mengajak kakak berhubungan. Waktu bermain denganku malah jadi berkurang jauh, sampai akhirnya kakak ipar kembali.Begitu kakak ipar kembali, kakak memperingatkan Janet untuk menjaga kelakuannya dan tak boleh membuat kakak ipar curiga sedikit pun atau dia akan menghajarnya.Janet juga tak membantahnya. Dia bilang akan memperhatikannya, tapi dengan syarat harus tetap diberi jatah untuk bermesraan agar dirinya bisa patuh.“Janet, betah tinggal di sini? Sangking sibuknya beberapa hari ini, aku jadi belum sempat menanyakan kabarmu. Entah dua pria ini bisa merawatmu dengan baik atau nggak?”Saat makan malam, kakak ipar sengaja memasakkan banyak hidangan lezat untuk Janet. Selama pergi dinas, dia khawatir kami berdua tak bisa menjaga adiknya dengan baik.Dengan nada menyindir, Janet tersenyum centil dan menjawab kalau kakak merawatnya sangat baik, bahkan selalu membuatnya kenyang. Aku yang paham maksudnya langsung melot

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 9

    Seketika, kakak mengamuk. Dia langsung menggunakan tenaga kasarnya untuk membuang Janet ke samping, lalu mengancam kalau dia berani punya niat busuk lagi, dirinya akan langsung mengusirnya pulang ke kampung dan tak mengizinkannya datang lagi.Janet tak takut sama sekali, dia mengira kakak hanya malu saja. Jadi, dia kembali berusaha menggodanya.Namun, kakak langsung mendaratkan satu tamparan keras ke wajahnya.Tamparan itu langsung membuat Janet melongo kebingungan. Dalam hati, aku merasa cukup terpuaskan! Bagus sekali tamparannya! Jika bukan karena tak ada pilihan, aku juga sudah menamparnya sejak dulu.Dengan tatapan penuh dendam, Janet berlari keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. Aku yang berniat sembunyi kembali ke kamar, terlambat satu langkah, malah akhirnya ketahuan oleh Janet.Janet menerobos masuk ke kamarku dan mengancam keras agar kejadian malam ini tak boleh sampai ke telinga kakaknya. Kalau sampai bocor, dia akan membocorkan rahasia kalau aku pernah menidurinya.“Ka

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 8

    “Kak Juan, kamu benar-benar perkasa sekali! Pacar-pacarku yang dulu nggak ada yang sekekar kamu! Kamu bahkan lebih dahsyat daripada mainan yang kubeli.”Tak peduli seberapa kuat aku memperlakukannya, Janet sama sekali tak mengerutkan keningnya. Dia malah tersenyum centil memujiku, bahkan sengaja mendesah keras-keras, seolah takut orang lain tak mendengar.Aku menyumpal mulutnya dengan celana dalamku. Ada tiga pintu ruangan di rumah ini dan tak ada satu pun sudut ruangan yang terlewatkan untuk kami. Aku menyiksanya terus-menerus sampai akhirnya dia kehabisan seluruh tenaganya.“Aku paling suka pria liar sepertimu, rasanya luar biasa sekali! Semakin liar mainnya, aku semakin suka. Kak Juan, pokoknya sebelum pulang nanti, aku bakal tidur di kamarmu setiap malam.”Janet berbaring terkapar terengah-engah di sana seperti genangan lumpur, tapi masih sempat-sempatnya melemparkan tatapan menggoda padaku.Aku sungguh tak habis pikir bagaimana bisa kakak ipar punya adik segila ini? Pikirannya ben

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 7

    “Sayang, kamu kenapa? Kok suaramu aneh sekali?” Nada kakak terdengar agak cemas, dia bahkan menanyakan keberadaanku dan menyuruhku mengangkat telepon.Karena khawatir kakak ipar bakal keceplosan, aku pun buru-buru mengambil ponselnya.“Kak, aku lagi di samping kakak ipar. Dia nggak apa-apa. Hanya minum kebanyakan dan muntah. Ini aku lagi pijat badannya, biar bisa lebih meredakan mabuknya.”Aku berbicara sambil terus bergerak, hingga napasku terengah-engah, tapi sama sekali tak takut ketahuan. Bagaimanapun, aku sudah menyiapkan alasan yang masuk akal dan kakak juga tak akan pernah berpikir kalau aku berhubungan dengan kakak ipar.Kakak ipar tak berani mengadu, dia hanya bisa menutup mulutnya erat-erat agar tidak mengeluarkan suara. Wajahnya yang kasihan itu malah semakin membuatku ingin meluapkan gairah padanya.Aku menyalakan mode pengeras suara pada ponsel dan meletakkannya di samping, lalu kembali menerjang menuju garis akhir.“Hm….” Kakak ipar yang ikut mengimbangi iramaku punya sta

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 6

    Jika bukan karena sedang menyetir, aku pasti akan langsung menindihnya dan menghajarnya langsung.Terus-terusan digoda sampai tak tahan lagi, aku hanya bisa menghiburnya dengan berjanji akan memberikannya setelah tiba di rumah, karena masih harus fokus menyetir sekarang.“Sayang, aku punya sedikit cemilan di sini, kamu mau cicip untuk mengganjal perut…?”Kakak ipar tersenyum menggoda padaku. Dia membungkukkan badannya, menunduk dan mengulum senjataku.Sensasi luar biasa itu membuat seluruh tubuhku tersentak. Sangking semangatnya, aku hampir saja salah menginjak pedal gas, membuat seluruh tubuhku berkeringat dingin karena terkejut.Sekarang aku baru paham kenapa banyak pria yang sangat menyukai wanita dewasa, karena gairah mereka tinggi, tekniknya lihai dan benar-benar menantang.“Sayang… baru beberapa hari nggak bertemu, kamu semakin hebat saja. Lihat, cairannya sebanyak ini. Aku sangat menginginkannya, kita main di mobil saja, ya….”Tak disangka kakak ipar sudah begitu tak bisa menaha

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 5

    Ketika terbungkus oleh kehangatan dan kelembutan itu, sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya langsung menyelimutiku. Rasanya kepalaku sampai kesemutan dan tubuhku gemetar hebat.Aku memegangi kepala kakak ipar, lalu mulai memajukan tubuhku.Kakak ipar tampak agak kesulitan. Dia berusaha membuka mulut mungilnya, sambil bernapas terengah-engah. Wajahnya yang merona terlihat begitu menggoda.Meski begitu, dia tetap berusaha menyesuaikan diri dan menggunakan lidahnya yang lincah untuk terus memancing gairahku.Dari atas sampai ke bawah, dari bawah sampai ke atas, dari bagian belakang sampai ke depan, semuanya mendapat sentuhan manis darinya.Tak hanya itu, dia sesekali mendongakkan kepala, menatapku dengan mata yang sayu penuh godaan. Dari mulutnya terdengar suara basah yang samar, seolah sedang menikmati hidangan paling lezat di dunia.Aku sungguh tak sanggup menahannya lagi. Sambil mendesah pelan, aku berkata penuh gairah, “Mulutmu hebat sekali, sekarang saatnya aku yang m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status