Share

Kakak Ipar, Listriknya Mati
Kakak Ipar, Listriknya Mati
Author: Ungu

Bab 1

Author: Ungu
“Juan, dadaku sakit, tolong pijitin sebentar, dong….”

Kakak ipar yang kesepian itu terpesona pada tubuhku yang kekar. Setiap hari ada saja akalnya untuk memancing gairahku, sampai-sampai diriku hampir gila dibuatnya….

….

Namaku Juan. Aku baru saja mulai bekerja dan belum punya tabungan. Jadi, demi menghemat biaya, aku menumpang tinggal di rumah kakakku.

Malam ini, aku pulang kerja lebih awal. Begitu sampai di rumah, kondisinya gelap gulita dan sakelar lampu tak berfungsi. Mungkinkah sedang mati listrik atau korslet?

Saat hendak memeriksanya, tiba-tiba ada tubuh hangat dan lembut dari belakang yang langsung bersandar pada punggungku.

“Sayang, kamu terlambat. Katanya mau main-main sampai puas selagi Juan belum pulang? Kamu malah terlambat sepuluh menit.”

Suara manja kakak iparku terdengar, diiringi kelembutan buah dadanya yang menempel di punggungku. Hal itu langsung membuatku membeku, dengan jantung yang berdegup kencang.

Usia kakak ipar lima tahun lebih tua dariku. Parasnya mirip model, cantik, berkulit putih dan tinggi. Apalagi dua buah dadanya yang montok dan menggoda, setiap kali berjalan selalu berayun indah hingga membuat pikiranku tak tenang.

Aku sering membayangkan betapa indahnya jika suatu hari bisa merasakannya sendiri secara langsung.

Tak disangka, dia malah salah mengenali diriku sebagai kakakku sekarang.

Masuk akal juga, biasanya kakakku yang pulang di jam segini. Sementara diriku agak malam, kebetulan hari ini pulang lebih awal.

Merasakan belaiannya, seluruh tubuhku terasa terbakar. Darahku seakan mendidih dan tubuhku pun segera menunjukkan reaksi yang kuat.

“Sayang, kamu juga sangat senang, ‘kan? Aku bisa merasakannya, kamu jadi jauh lebih kekar dari biasanya.”

Kulitnya sangat halus dan licin, begitu lembut hingga membuat siapa pun enggan melepaskannya.

Aku memberanikan diri untuk menggodanya dengan jariku. Kakak ipar pun mendesah beberapa kali, tak sanggup menahan diri dan menarikku masuk ke dalam kamar.

Mengingat kondisinya gelap gulita dan tak ada yang terlihat, aku langsung mengulurkan tangan ke depan. Rasanya begitu kenyal dan lembut, membuatku hampir hilang kendali.

Masih merasa belum puas, aku yang semakin serakah ini ingin mencoba bagian yang selama ini selalu kuidamkan.

Aku menelan ludah dengan gugup, memeluknya dari belakang, lalu memindahkan kedua tanganku ke depan dan meremasnya dengan cepat.

Sensasi kelembutan yang begitu nyata ini terasa sepuluh kali lipat lebih nikmat dari yang kubayangkan, sampai-sampai otakku sempat hilang fokus sejenak.

“Sayang, besar sekali punyamu, jauh lebih besar dari biasanya. Jangan-jangan karena merasa menantang, ya? Hm… geli sekali… ayo cepat.”

Napasku jadi memburu dan reaksiku semakin kuat, bahkan mencapai tingkat yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Tak heran kalau kakak ipar begitu tak sabar.

Setibanya di kamar, kakak ipar langsung melilitku seperti ular yang cantik. Dia menyingkap gaunnya, menanggalkan pakaian dalamnya, lalu menggerakkan bokongnya dan terus bergesekan pada bagian tubuhku yang sedang bergairah.

Tak butuh waktu lama, area intimnya yang semula kering, kini telah basah kuyup, hingga membasahi celanaku.

“Aku sudah nggak tahan lagi, berikan padaku… aku mau….”

Kakak ipar melepas ikat pinggangku, tampak begitu haus bagaikan serigala betina.

Sungguh tak disangka, kakak ipar yang biasanya begitu anggun dan sopan, ternyata begitu agresif di belakang. Aku sangat bersemangat, lalu inisiatif melepaskan celanaku sendiri.

Begitu berbalik badan, aku langsung menindihnya di bawah tubuhku dan bersiap menerobos masuk ke area intimnya.

Namun, karena mati listrik dan tirai jendela tertutup rapat, suasana kamar terlalu gelap. Akibatnya aku salah arah beberapa kali dan hanya bergesekan di bagian luarnya saja.

Karena terangsang, aku pun tak sanggup menahan desahan pelan.

Di tengah kegelapan, seketika tubuh kakak ipar langsung membeku. Dia mengenali suaraku, lalu menjerit kaget dan berusaha memberontak untuk kabur.

Namun, santapan lezat yang sudah di depan mata, tentu tak akan kubiarkan lepas begitu saja. Aku menindihnya erat-erat dengan tubuhku, lalu kembali mengulurkan tangan….

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 10

    Setelah kejadian itu, setiap ada kesempatan Janet akan terus menempel dan mengajak kakak berhubungan. Waktu bermain denganku malah jadi berkurang jauh, sampai akhirnya kakak ipar kembali.Begitu kakak ipar kembali, kakak memperingatkan Janet untuk menjaga kelakuannya dan tak boleh membuat kakak ipar curiga sedikit pun atau dia akan menghajarnya.Janet juga tak membantahnya. Dia bilang akan memperhatikannya, tapi dengan syarat harus tetap diberi jatah untuk bermesraan agar dirinya bisa patuh.“Janet, betah tinggal di sini? Sangking sibuknya beberapa hari ini, aku jadi belum sempat menanyakan kabarmu. Entah dua pria ini bisa merawatmu dengan baik atau nggak?”Saat makan malam, kakak ipar sengaja memasakkan banyak hidangan lezat untuk Janet. Selama pergi dinas, dia khawatir kami berdua tak bisa menjaga adiknya dengan baik.Dengan nada menyindir, Janet tersenyum centil dan menjawab kalau kakak merawatnya sangat baik, bahkan selalu membuatnya kenyang. Aku yang paham maksudnya langsung melot

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 9

    Seketika, kakak mengamuk. Dia langsung menggunakan tenaga kasarnya untuk membuang Janet ke samping, lalu mengancam kalau dia berani punya niat busuk lagi, dirinya akan langsung mengusirnya pulang ke kampung dan tak mengizinkannya datang lagi.Janet tak takut sama sekali, dia mengira kakak hanya malu saja. Jadi, dia kembali berusaha menggodanya.Namun, kakak langsung mendaratkan satu tamparan keras ke wajahnya.Tamparan itu langsung membuat Janet melongo kebingungan. Dalam hati, aku merasa cukup terpuaskan! Bagus sekali tamparannya! Jika bukan karena tak ada pilihan, aku juga sudah menamparnya sejak dulu.Dengan tatapan penuh dendam, Janet berlari keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. Aku yang berniat sembunyi kembali ke kamar, terlambat satu langkah, malah akhirnya ketahuan oleh Janet.Janet menerobos masuk ke kamarku dan mengancam keras agar kejadian malam ini tak boleh sampai ke telinga kakaknya. Kalau sampai bocor, dia akan membocorkan rahasia kalau aku pernah menidurinya.“Ka

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 8

    “Kak Juan, kamu benar-benar perkasa sekali! Pacar-pacarku yang dulu nggak ada yang sekekar kamu! Kamu bahkan lebih dahsyat daripada mainan yang kubeli.”Tak peduli seberapa kuat aku memperlakukannya, Janet sama sekali tak mengerutkan keningnya. Dia malah tersenyum centil memujiku, bahkan sengaja mendesah keras-keras, seolah takut orang lain tak mendengar.Aku menyumpal mulutnya dengan celana dalamku. Ada tiga pintu ruangan di rumah ini dan tak ada satu pun sudut ruangan yang terlewatkan untuk kami. Aku menyiksanya terus-menerus sampai akhirnya dia kehabisan seluruh tenaganya.“Aku paling suka pria liar sepertimu, rasanya luar biasa sekali! Semakin liar mainnya, aku semakin suka. Kak Juan, pokoknya sebelum pulang nanti, aku bakal tidur di kamarmu setiap malam.”Janet berbaring terkapar terengah-engah di sana seperti genangan lumpur, tapi masih sempat-sempatnya melemparkan tatapan menggoda padaku.Aku sungguh tak habis pikir bagaimana bisa kakak ipar punya adik segila ini? Pikirannya ben

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 7

    “Sayang, kamu kenapa? Kok suaramu aneh sekali?” Nada kakak terdengar agak cemas, dia bahkan menanyakan keberadaanku dan menyuruhku mengangkat telepon.Karena khawatir kakak ipar bakal keceplosan, aku pun buru-buru mengambil ponselnya.“Kak, aku lagi di samping kakak ipar. Dia nggak apa-apa. Hanya minum kebanyakan dan muntah. Ini aku lagi pijat badannya, biar bisa lebih meredakan mabuknya.”Aku berbicara sambil terus bergerak, hingga napasku terengah-engah, tapi sama sekali tak takut ketahuan. Bagaimanapun, aku sudah menyiapkan alasan yang masuk akal dan kakak juga tak akan pernah berpikir kalau aku berhubungan dengan kakak ipar.Kakak ipar tak berani mengadu, dia hanya bisa menutup mulutnya erat-erat agar tidak mengeluarkan suara. Wajahnya yang kasihan itu malah semakin membuatku ingin meluapkan gairah padanya.Aku menyalakan mode pengeras suara pada ponsel dan meletakkannya di samping, lalu kembali menerjang menuju garis akhir.“Hm….” Kakak ipar yang ikut mengimbangi iramaku punya sta

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 6

    Jika bukan karena sedang menyetir, aku pasti akan langsung menindihnya dan menghajarnya langsung.Terus-terusan digoda sampai tak tahan lagi, aku hanya bisa menghiburnya dengan berjanji akan memberikannya setelah tiba di rumah, karena masih harus fokus menyetir sekarang.“Sayang, aku punya sedikit cemilan di sini, kamu mau cicip untuk mengganjal perut…?”Kakak ipar tersenyum menggoda padaku. Dia membungkukkan badannya, menunduk dan mengulum senjataku.Sensasi luar biasa itu membuat seluruh tubuhku tersentak. Sangking semangatnya, aku hampir saja salah menginjak pedal gas, membuat seluruh tubuhku berkeringat dingin karena terkejut.Sekarang aku baru paham kenapa banyak pria yang sangat menyukai wanita dewasa, karena gairah mereka tinggi, tekniknya lihai dan benar-benar menantang.“Sayang… baru beberapa hari nggak bertemu, kamu semakin hebat saja. Lihat, cairannya sebanyak ini. Aku sangat menginginkannya, kita main di mobil saja, ya….”Tak disangka kakak ipar sudah begitu tak bisa menaha

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 5

    Ketika terbungkus oleh kehangatan dan kelembutan itu, sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya langsung menyelimutiku. Rasanya kepalaku sampai kesemutan dan tubuhku gemetar hebat.Aku memegangi kepala kakak ipar, lalu mulai memajukan tubuhku.Kakak ipar tampak agak kesulitan. Dia berusaha membuka mulut mungilnya, sambil bernapas terengah-engah. Wajahnya yang merona terlihat begitu menggoda.Meski begitu, dia tetap berusaha menyesuaikan diri dan menggunakan lidahnya yang lincah untuk terus memancing gairahku.Dari atas sampai ke bawah, dari bawah sampai ke atas, dari bagian belakang sampai ke depan, semuanya mendapat sentuhan manis darinya.Tak hanya itu, dia sesekali mendongakkan kepala, menatapku dengan mata yang sayu penuh godaan. Dari mulutnya terdengar suara basah yang samar, seolah sedang menikmati hidangan paling lezat di dunia.Aku sungguh tak sanggup menahannya lagi. Sambil mendesah pelan, aku berkata penuh gairah, “Mulutmu hebat sekali, sekarang saatnya aku yang m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status