Share

Bab 3

Author: Ungu
Aku berpura-pura agak tidak kuat menggendongnya dan sengaja menurunkan posisi tubuh kakak ipar. Akibatnya, pahanya semakin menempel erat dengan benda milikku.

Pakaian di musim panas sangat tipis, jadi saat berada begitu erat dengannya, aku bisa merasakan lekukan tubuhnya yang lembut dan menggoda.

Karena masih ingin menikmati sensasi kenikmatan ini lebih lama, aku sengaja memperbesar gerakanku saat berjalan, sengaja membuatnya naik turun terguncang agar terus bergesekan denganku.

“Ju… Juan, kalau kamu lelah, turunkan saja. Aku bisa jalan sambil berpegangan tembok, kalau begini….”

Desakan dari benda milikku mulai membangkitkan gairah kakak ipar. Deru napasnya jadi tak teratur dan sorot matanya tampak agak sayu.

“Kak, kakimu terluka. Kalau dipaksa jalan malah bisa tambah parah. Tahan sebentar lagi, sudah mau sampai rumah.”

Mana mungkin aku melepaskan kesempatan emas yang sulit didapatkan ini, tapi sayangnya pintu lift sudah terbuka.

Begitu masuk rumah, aku mendudukkannya di sofa, lalu mengambil kotak obat.

“Juan, kamu cepat balik kerja sana. Aku bisa pakai obat sendiri. Aku bakal izin untuk nggak masuk kerja siang ini.”

Kakak ipar selalu pakai seragam kantor dengan rok span ketat kalau bekerja. Saat bersandar di sofa, dua kaki jenjangnya yang mulus agak bergerak saja sudah memperlihatkan pemandangan menggoda di dalamnya. Karena merasa canggung, dia mengambil bantal sofa di sebelah untuk menutupi paha.

“Kak, kamu sudah sakit begini, bahkan jalan saja susah, mana mungkin aku meninggalkanmu pergi kerja. Aku juga izin kerja untuk menjagamu. Apalagi aku sudah janji pada kakak.”

Tanpa memedulikan penolakannya, aku melepas sepatu hak tingginya dengan hati-hati. Selain terkilir, jarinya juga terluka.

Aku mengoleskan obat dengan sangat hati-hati. Wajah kakak ipar sampai memucat menahan sakit. Demi mengalihkan rasa sakitnya, aku sengaja menggodanya.

“Kak, aku pijat sebentar biar sirkulasi darahnya lancar dan cepat sembuh. Di kakimu juga banyak lebamnya.”

Aku mengoleskan minyak urut pada bagian yang memar. Kakak ipar merasa malu dan tak berani menatapku. Dia hanya berbaring sambil memejamkan mata.

Tanganku merambat naik ke atas perlahan. Kaki kakak ipar bergerak terangkat tanpa sadar. Pemandangan indah yang tadinya tertutup, kali ini terlihat sangat jelas. Ternyata dia memakai celana dalam thong!

Astaga! Ini benar-benar menantang sekali!

Namun, aku hanya berani mencuci mata saja, tak berani melakukan sesuatu yang nekat. Bagaimanapun, kondisinya sedang tak berdaya, bisa gawat kalau sampai membuatnya marah.

Selama beberapa hari dia merawat kakinya yang terkilir, aku selalu sigap mengurus segala kebutuhannya. Bahkan untuk ke kamar mandi pun, aku yang menggendongnya, hanya sisa bajunya saja yang tak kubuka.

Setiap kali mendengar gemericik air dari balik pintu kamar mandi, aku selalu membayangkan pemandangan indah di dalam sana. Beberapa kali, aku hampir tak sanggup menahan diri untuk menerobos masuk dan menikmatinya.

Namun, demi bisa menikmati hidangan yang lebih nikmat nantinya, aku memilih bersabar dan menyusun taktik. Hasilnya, hubunganku dengan kakak ipar jadi semakin dekat.

Setiap kali aku sengaja melakukan gerakan-gerakan mesra, dia tak pernah menolak dan berpura-pura tak tahu, yang kuanggap sebagai bentuk persetujuannya.

Sekitar seminggu berlalu, akhirnya luka kakak ipar sembuh. Hatiku mulai gelisah tak sabaran.

Di malam akhir pekan, aku sengaja memasak satu meja hidangan lezat untuknya, yang berhasil membuat kakak ipar tersentuh.

“Terima kasih, Juan. Kakakmu bahkan nggak pernah begitu perhatian, sampai memasakkan makanan sebanyak ini.”

Kakak ipar duduk di sampingku sambil menuangkan alkohol untukku.

Entah hanya perasaanku saja atau bukan, tatapan matanya terlihat sangat manja dan menggoda, seolah sengaja memancingku.

Mungkin dia sudah tak sanggup menahan godaanku selama beberapa hari ini?

Aku pernah mendengar rekan kerjaku bilang bahwa wanita yang suka memakai celana dalam thong itu biasanya tak tahan kesepian.

Kakak sudah setengah bulan lebih tak pulang ke rumah, kakak ipar pasti sudah sangat tersiksa.

Setelah memikirkan itu, aku langsung menarik kakak ipar duduk ke atas pangkuanku. Aku meneguk seteguk alkohol, lalu menunduk dan mencekokinya melalui mulut ke mulut.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 10

    Setelah kejadian itu, setiap ada kesempatan Janet akan terus menempel dan mengajak kakak berhubungan. Waktu bermain denganku malah jadi berkurang jauh, sampai akhirnya kakak ipar kembali.Begitu kakak ipar kembali, kakak memperingatkan Janet untuk menjaga kelakuannya dan tak boleh membuat kakak ipar curiga sedikit pun atau dia akan menghajarnya.Janet juga tak membantahnya. Dia bilang akan memperhatikannya, tapi dengan syarat harus tetap diberi jatah untuk bermesraan agar dirinya bisa patuh.“Janet, betah tinggal di sini? Sangking sibuknya beberapa hari ini, aku jadi belum sempat menanyakan kabarmu. Entah dua pria ini bisa merawatmu dengan baik atau nggak?”Saat makan malam, kakak ipar sengaja memasakkan banyak hidangan lezat untuk Janet. Selama pergi dinas, dia khawatir kami berdua tak bisa menjaga adiknya dengan baik.Dengan nada menyindir, Janet tersenyum centil dan menjawab kalau kakak merawatnya sangat baik, bahkan selalu membuatnya kenyang. Aku yang paham maksudnya langsung melot

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 9

    Seketika, kakak mengamuk. Dia langsung menggunakan tenaga kasarnya untuk membuang Janet ke samping, lalu mengancam kalau dia berani punya niat busuk lagi, dirinya akan langsung mengusirnya pulang ke kampung dan tak mengizinkannya datang lagi.Janet tak takut sama sekali, dia mengira kakak hanya malu saja. Jadi, dia kembali berusaha menggodanya.Namun, kakak langsung mendaratkan satu tamparan keras ke wajahnya.Tamparan itu langsung membuat Janet melongo kebingungan. Dalam hati, aku merasa cukup terpuaskan! Bagus sekali tamparannya! Jika bukan karena tak ada pilihan, aku juga sudah menamparnya sejak dulu.Dengan tatapan penuh dendam, Janet berlari keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. Aku yang berniat sembunyi kembali ke kamar, terlambat satu langkah, malah akhirnya ketahuan oleh Janet.Janet menerobos masuk ke kamarku dan mengancam keras agar kejadian malam ini tak boleh sampai ke telinga kakaknya. Kalau sampai bocor, dia akan membocorkan rahasia kalau aku pernah menidurinya.“Ka

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 8

    “Kak Juan, kamu benar-benar perkasa sekali! Pacar-pacarku yang dulu nggak ada yang sekekar kamu! Kamu bahkan lebih dahsyat daripada mainan yang kubeli.”Tak peduli seberapa kuat aku memperlakukannya, Janet sama sekali tak mengerutkan keningnya. Dia malah tersenyum centil memujiku, bahkan sengaja mendesah keras-keras, seolah takut orang lain tak mendengar.Aku menyumpal mulutnya dengan celana dalamku. Ada tiga pintu ruangan di rumah ini dan tak ada satu pun sudut ruangan yang terlewatkan untuk kami. Aku menyiksanya terus-menerus sampai akhirnya dia kehabisan seluruh tenaganya.“Aku paling suka pria liar sepertimu, rasanya luar biasa sekali! Semakin liar mainnya, aku semakin suka. Kak Juan, pokoknya sebelum pulang nanti, aku bakal tidur di kamarmu setiap malam.”Janet berbaring terkapar terengah-engah di sana seperti genangan lumpur, tapi masih sempat-sempatnya melemparkan tatapan menggoda padaku.Aku sungguh tak habis pikir bagaimana bisa kakak ipar punya adik segila ini? Pikirannya ben

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 7

    “Sayang, kamu kenapa? Kok suaramu aneh sekali?” Nada kakak terdengar agak cemas, dia bahkan menanyakan keberadaanku dan menyuruhku mengangkat telepon.Karena khawatir kakak ipar bakal keceplosan, aku pun buru-buru mengambil ponselnya.“Kak, aku lagi di samping kakak ipar. Dia nggak apa-apa. Hanya minum kebanyakan dan muntah. Ini aku lagi pijat badannya, biar bisa lebih meredakan mabuknya.”Aku berbicara sambil terus bergerak, hingga napasku terengah-engah, tapi sama sekali tak takut ketahuan. Bagaimanapun, aku sudah menyiapkan alasan yang masuk akal dan kakak juga tak akan pernah berpikir kalau aku berhubungan dengan kakak ipar.Kakak ipar tak berani mengadu, dia hanya bisa menutup mulutnya erat-erat agar tidak mengeluarkan suara. Wajahnya yang kasihan itu malah semakin membuatku ingin meluapkan gairah padanya.Aku menyalakan mode pengeras suara pada ponsel dan meletakkannya di samping, lalu kembali menerjang menuju garis akhir.“Hm….” Kakak ipar yang ikut mengimbangi iramaku punya sta

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 6

    Jika bukan karena sedang menyetir, aku pasti akan langsung menindihnya dan menghajarnya langsung.Terus-terusan digoda sampai tak tahan lagi, aku hanya bisa menghiburnya dengan berjanji akan memberikannya setelah tiba di rumah, karena masih harus fokus menyetir sekarang.“Sayang, aku punya sedikit cemilan di sini, kamu mau cicip untuk mengganjal perut…?”Kakak ipar tersenyum menggoda padaku. Dia membungkukkan badannya, menunduk dan mengulum senjataku.Sensasi luar biasa itu membuat seluruh tubuhku tersentak. Sangking semangatnya, aku hampir saja salah menginjak pedal gas, membuat seluruh tubuhku berkeringat dingin karena terkejut.Sekarang aku baru paham kenapa banyak pria yang sangat menyukai wanita dewasa, karena gairah mereka tinggi, tekniknya lihai dan benar-benar menantang.“Sayang… baru beberapa hari nggak bertemu, kamu semakin hebat saja. Lihat, cairannya sebanyak ini. Aku sangat menginginkannya, kita main di mobil saja, ya….”Tak disangka kakak ipar sudah begitu tak bisa menaha

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 5

    Ketika terbungkus oleh kehangatan dan kelembutan itu, sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya langsung menyelimutiku. Rasanya kepalaku sampai kesemutan dan tubuhku gemetar hebat.Aku memegangi kepala kakak ipar, lalu mulai memajukan tubuhku.Kakak ipar tampak agak kesulitan. Dia berusaha membuka mulut mungilnya, sambil bernapas terengah-engah. Wajahnya yang merona terlihat begitu menggoda.Meski begitu, dia tetap berusaha menyesuaikan diri dan menggunakan lidahnya yang lincah untuk terus memancing gairahku.Dari atas sampai ke bawah, dari bawah sampai ke atas, dari bagian belakang sampai ke depan, semuanya mendapat sentuhan manis darinya.Tak hanya itu, dia sesekali mendongakkan kepala, menatapku dengan mata yang sayu penuh godaan. Dari mulutnya terdengar suara basah yang samar, seolah sedang menikmati hidangan paling lezat di dunia.Aku sungguh tak sanggup menahannya lagi. Sambil mendesah pelan, aku berkata penuh gairah, “Mulutmu hebat sekali, sekarang saatnya aku yang m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status