Share

Bab 2

last update publish date: 2026-07-19 21:15:22

Ucapan itu sontak membuat Selina menegang. Darah di sekujur tubuhnya mendidih saat mendengar ucapan sang kakak tiri yang terkesan merendahkan.

Apa maksudnya anak desa?! Apakah ayah tirinya itu tidak pernah mengatakan dari mana asal calon ibu dan adik tirinya pada pemuda ini?

Selina langsung buru-buru membebaskan diri dari rengkuhan pemuda itu. 

“Apa sih? Siapa yang anak desa?!” pekik Selina kesal. 

Di tengah napasnya yang memburu, Selina memperhatikan penampilan kakak tirinya dari atas sampai bawah. 

Perawakan kakak tirinya ini memang terlihat seperti orang kota. Wajah tampan dengan otot tubuh yang terbentuk. Namun sayangnya, pemuda ini ternyata memiliki sifat yang buruk!

Selina hendak mundur lagi, tapi bahunya seketika ditahan. 

“Jangan gerak, lihat ke bawah.” Pemuda itu menunjuk ke bawah. 

Selina ikut menunduk, mendapati pecahan kaca itu menyebar di sisi kanannya. 

“Iya, tau,” kata Selina ketus. “Tapi bisa gak usah pegang-pegang, Kaivan Valerius?”

Selina mendorong tubuh basah itu dan bergeser ke sisi kiri. Masih dalam pengawasan tatapan yang tajam.

Kaivan balas memperhatikan Selina. 

“Kamu… oleh-oleh ayah dari pulau Gili Kencana?” 

Selina mengernyit. “Oleh-oleh?” 

Kaivan tersenyum miring, maju, dan mencondongkan kepalanya ke samping telinga Selina dan menghirup udara dalam-dalam di sana. 

“Ah, iya, bau pantai.” 

Kaivan mengonfirmasi dengan cara yang menurut Selina tidak sopan dan membuat Selina risih. 

Apa maksudnya bau pantai?!

Selina mendorongnya lagi dan melangkah mundur.

“Orang kota ternyata memang sombong, ya!” 

Selina membalas perkataan menyebalkan dari Kaivan dan berharap Kaivan kesal juga. Tapi sayangnya, ledekan Selina seolah seperti angin lewat saja.

Selanjutnya, Kaivan malah mengangkat topik baru. 

Buy one, get one?” 

Selina melotot, cowok arogan itu jelas-jelas sedang menghinanya.

“Heh!” Selina meneriakinya. “Pertama, aku dan ibuku bukan oleh-oleh. Kedua, kami juga bukan barang yang dibeli atau barang gratisan!” 

“Kata siapa?”

Selina marah dan menatap Kaivan dengan sorot mata berani.

Seumur hidup ia belum pernah bertemu orang yang sangat menyebalkan seperti ini. Entah semua anak orang kaya memang seperti itu, atau hanya Kaivan Valerius yang berbakat membuat tekanan darah orang lain naik dalam pertemuan pertama.

Sebelum Selina sempat membalas perkataan Kaivan yang terakhir, terdengar suara langkah kaki dari arah lorong.

"Nah, kalian di sini rupanya."

Selina dan Kaivan sama-sama menoleh.

Kaivan mundur sambil memperingatkan ayahnya mengenai pecahan gelas di bawah dengan suara yang dingin.

Adrian menghentikan langkah, lalu menoleh ke bawah. Seorang pelayan yang kebetulan melintas segera dipanggil untuk membersihkan pecahan kaca itu.

"Ada yang terluka?" tanya Adrian sambil bergantian menatap Kaivan dan Selina.

"Enggak, Yah," jawab Kaivan singkat.

Selina hanya menggeleng pelan.

Adrian mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

Tatapan pria itu kemudian berpindah dari putranya ke Selina. Senyumnya kembali mengembang.

"Jadi, kamu udah kenalan sama Selina?"

Kaivan mengangguk lebih dulu.

"Sudah."

Selina menoleh sekilas ke arah Kaivan. Sulit dipercaya, pemuda yang beberapa detik lalu begitu menyebalkan itu sekarang bisa menjawab setenang ini.

"Bagus, bagus." Adrian tampak benar-benar senang. "Ayah sempat khawatir kalian bakal canggung."

Kalau tau lima menit yang lalu anaknya ngatain aku oleh-oleh, mungkin bapak-bapak ini gak akan ngomong begitu, batin Selina.

"Kalau begitu Ayah gak perlu repot-repot mengenalkan kalian lagi." Adrian tersenyum puas. "Oh ya, malam ini kita makan malam bersama. Makan malam keluarga pertama. Jadi kalian siap-siap, ya."

"Baik, Yah," jawab Kaivan.

Selina memaksakan senyum tipis.

"...Iya."

"Bagus." Adrian menepuk bahu putranya sekilas. "Kaivan, tolong jaga adik kamu.”

Kaivan menoleh ke arah Selina. Senyum miringnya muncul, kemudian hilang setelah kembali menghadap ke arah ayahnya. 

"Oke, Yah." 

"Monica masih di ruang tengah. Ayah ke sana dulu."

Setelah Adrian berlalu, pelayan yang membawa alat kebersihan ikut meninggalkan dapur.

Lalu hening. Selina mengembuskan napas pelan memikirkan ucapan Adrian barusan.

Makan malam keluarga? Selina tidak yakin ia sanggup untuk duduk satu meja bersama pemuda menyebalkan yang baru saja ia kenal beberapa menit yang lalu ini.

Selina menghela napasnya sesaat lalu berbalik, berniat mencari kamarnya.

Namun baru ia melangkah, sebuah suara menghentikannya.

"Selina."

Selina menoleh, mendapati Kaivan berjalan menghampirinya dengan santai. Dan entah kenapa, hal itu membuat Selina justru refleks melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh pintu kulkas.

Kaivan yang berhenti di depannya menyisakan sebuah jarak yang cukup dekat untuk membuat Selina tanpa sadar menahan napas.

Sudut bibir pemuda itu terangkat tipis.

"Nanti malam…."

Selina mengangkat dagu, berusaha tidak terlihat gentar.

Kaivan tampak berhenti sejenak, sengaja membuat Selina menunggu sambil memperhatikan Selina selama beberapa detik. Lalu ia membuka suaranya.

"Usahain jangan bikin malu, ya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 6 - Terbangun di Kamar Asing

    Pagi hari Selina terbangun dengan kepala yang pening. Sambil mengurut pelipisnya yang berdenyut kencang, Selina mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mendapati dirinya di kamar asing yang luas dan dingin. Lalu…, jantungnya seketika mencelos saat matanya menangkap Kaivan ada di sofa seberang. Pria itu memejamkan matanya dalam posisi duduk, masih mengenakan kemeja putih yang dia pakai semalam. Selina beranjak dari tempat tidur, melangkah mendekat. “Kamu ngapain aku semalem?!” sentaknya sambil menendang Kaivan pelan. “Ini di mana? Kenapa aku dibawa ke sini?!” Kelopak mata Kaivan terbuka perlahan. Dia mendongak ke arah Selina, berdecak dan memejamkan matanya lagi. “Bisa diem?” bisik Kaivan rendah. “Gak bisa. Hei! Jangan tidur lagi, kenapa kita di sini? Kamu ngapain semalem?” Selina terus menendang-nendang kaki Kaivan sampai akhirnya Kaivan jengah. Pria itu membuka matanya, berdiri, dan menahan kedua bahu Selina. “Lihat baik-baik,” pinta Kaivan sambil menyorot Selina taj

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 5

    Nempel-nempel ke temannya Kaivan? Selina menolak dengan langsung keluar dari mobil itu lalu membanting pintunya keras. Tanpa menghiraukan Gathan yang memanggil-manggil namanya, Selina berlari masuk.Dentuman musik serta lampu neon berwarna biru dan ungu yang terus berkedip langsung menyambutnya. Melihat Kaivan pergi ke tempat seperti ini, Selina semakin yakin kalau dia akan menemukan sisi bobrok Kaivan di sini. Selina berjalan cepat, menembus kerumunan orang, menyelip di antara orang-orang yang meloncat di lantai dansa. Saat Selina sedang fokus mencari Kaivan yang pasti ada di antara orang-orang gila ini, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawa Selina ke pinggir kerumunan. “Cari siapa?” “Kaivan,” jawab Selina refleks. Gadis itu meringis diam-diam setelahnya. Sementara, laki-laki bertubuh tinggi di depannya itu tersenyum. Penampilannya berbeda dengan Gathan. Laki-laki ini justru lebih rapi dengan kemeja hitam berlengan panjang yang tergulung di sikunya.Senyum tipis te

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 4

    Dalam perjalanan pulang, di mobil yang sedang melaju, Selina mengungkapkan kekesalannya. “Bisa gak usah kurang ajar?!” teriak Selina pada Kaivan yang sedang menyetir di sebelahnya. Kaivan mendengus geli, melirik Selina dari samping lalu sudut bibirnya terangkat. “Kurang ajar apa? Karena bilang adik manis?” “Bukan itu!” Selina menatapnya tajam. Tapi, Kaivan hanya menoleh sekilas dan mengejeknya dengan tawa hambar. “Tadi di bawah meja, apa maksudnya?!” Kaivan mengernyit, entah bingung atau hanya pura-pura bodoh. “Aku bantu kamu ambil garpu yang jatuh, apanya yang kurang ajar?” Selina muak dengan akting polos kakak tirinya ini. “Kamu sengaja ‘kan pake garpu itu untuk ngelus kaki aku?!” sentak Selina dengan napas memburu. Kaivan tidak langsung menjawab, tetapi jemarinya mengetuk-ketuk kemudi sambil tersenyum miring. “Enggak.” “Enggak, apanya? Kamu sengaja! Dasar cowok mesum!” teriak Selina. Kaivan tetap tenang, tapi senyum miring yang menyebalkannya masih ada. “Waktu kecil I

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 3

    Acara makan malam itu berlangsung dengan tenang, meski terasa sedikit canggung bagi Selina. Padahal itu adalah pertama kalinya ia pergi ke restoran mewah berbintang lima.Namun Selina tak tertarik, memilih sibuk dengan makanannya sambil sesekali mengangguk dan memaksakan senyum saat ayah tirinya mencoba mencairkan suasana di antara dirinya dan Kaivan.Tentu saja Selina enggan bersikap akrab dengan pemuda itu, mengingat apa yang terjadi di pertemuan pertama mereka. Selina lagi-lagi merasa kesal saat mengingat sikap pemuda itu padanya.Saat Selina sedang sibuk merutuki Kaivan di benaknya, ia tak sengaja menjatuhkan garpu. Suara dentingan itu cukup nyaring hingga beberapa tatapan mata mengarah padanya.“Maaf…” gumamnya pelan, wajahnya memerah karena lagi-lagi ceroboh. Ia seketika kembali mengingat ucapan Kaivan saat memperingatinya untuk tidak berulah lagi.Selina yakin saat ini Kaivan pasti sedang merutukinya di dalam hati.Namun saat Selina belum sempat bergerak, Kaivan sudah lebih dul

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 2

    Ucapan itu sontak membuat Selina menegang. Darah di sekujur tubuhnya mendidih saat mendengar ucapan sang kakak tiri yang terkesan merendahkan.Apa maksudnya anak desa?! Apakah ayah tirinya itu tidak pernah mengatakan dari mana asal calon ibu dan adik tirinya pada pemuda ini?Selina langsung buru-buru membebaskan diri dari rengkuhan pemuda itu. “Apa sih? Siapa yang anak desa?!” pekik Selina kesal. Di tengah napasnya yang memburu, Selina memperhatikan penampilan kakak tirinya dari atas sampai bawah. Perawakan kakak tirinya ini memang terlihat seperti orang kota. Wajah tampan dengan otot tubuh yang terbentuk. Namun sayangnya, pemuda ini ternyata memiliki sifat yang buruk!Selina hendak mundur lagi, tapi bahunya seketika ditahan. “Jangan gerak, lihat ke bawah.” Pemuda itu menunjuk ke bawah. Selina ikut menunduk, mendapati pecahan kaca itu menyebar di sisi kanannya. “Iya, tau,” kata Selina ketus. “Tapi bisa gak usah pegang-pegang, Kaivan Valerius?”Selina mendorong tubuh basah itu da

  • Kakak Tiriku yang Menggoda   Bab 1

    “Selina, ibu harap kamu akan bersikap baik pada keluarga barumu nanti.”Selina Clairyn hanya memutar bola matanya malas saat sedan yang mereka tumpangi baru saja berhenti di depan sebuah mansion modern bergaya kontemporer. Ia akan tinggal di tempat itu bersama suami baru ibunya.Sebenarnya Selina menentang pernikahan sang ibu dengan Tuan Adrian Valerius, sosok Taipan terkenal di kota Megakarta yang kini menjadi ayah tirinya. Karena itu artinya ia harus ikut meninggalkan pulau tropis yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Selina mendengus dan menatap ibunya dengan malas. “Apa sekarang aku bersikap buruk?” “Maksudnya manis, tolong nanti bersikap manis, terutama ke kakak laki-lakimu.” Lagi-lagi, kakak laki-laki itu disebut. Selama ini ia hidup sebagai anak tunggal, dan sekarang ia harus menerima kehadiran seorang kakak…?Selina berdecak, keluar dari mobil dan membanting pintunya. Monica buru-buru keluar, hendak menegur Selina tapi suara langkah kaki tegas yang mendekat dari amban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status