Share

Kala Kabut Membuyar
Kala Kabut Membuyar
Author: Krosan

Bab 1

Author: Krosan
"Aku tutup dulu, ya. Aku masih harus merayakan hari jadi pacaran."

Evelyn di ujung telepon jelas tertegun.

"Kamu nggak putus sama dia?"

"Putus apanya? Memangnya kalau putus aku bakal sama kamu? Kamu 'kan juga sebentar lagi menikah."

Juando menutup telepon dengan bosan, lalu membuka kotak kue dan menatanya dengan saksama di tengah meja.

Seolah tak terjadi apa-apa, dia menyalakan lilin, lalu melambaikan tangan memanggilku.

"Nora, cepat sini, ucapkan harapanmu."

Seluruh tubuhku terasa mati rasa, tatapanku lurus menembus matanya.

Sorot matanya tenang tanpa riak, bahkan tak ada sedikit pun rasa bersalah.

"Membohongiku selama ini, menyenangkan, ya?"

Senyum di wajah Juando memudar.

"Ini juga nggak bisa dibilang bohong. Aku bahkan rela kalah taruhan demi menjelaskan semuanya. Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau aku menghargai hubungan kita?"

"Lagian cuma belum benar-benar menikah secara resmi. Aku juga nggak pernah bilang mau putus sama kamu."

Di atas kue di hadapanku tertancap tujuh batang lilin, seolah dengan terang-terangan menegaskan padaku, bahwa ini adalah tahun ketujuh aku dipermainkan.

Cahaya lilin itu hampir tak membawa kehangatan.

Namun justru membuat bekas luka di lenganku yang sudah lama sembuh kembali terasa gatal.

Seumur hidup aku tak pernah menyangka, pacar yang berjanji akan menemaniku seumur hidup, dan perundung yang dulu menyiksaku dengan alat pengeriting rambut hingga sekujur tubuhku penuh luka bakar, ternyata mereka adalah teman masa kecil.

Surat nikah palsu di atas meja begitu merah menyilaukan mata.

Pada halaman yang terbuka itu, terpampang senyum paling bahagia yang pernah kumiliki.

Padahal aku benar-benar mengira hidupku akhirnya akan dipenuhi kebahagiaan, tetapi air mata berputar di pelupuk mataku.

"Benar, kamu memang nggak membohongiku."

Akulah yang bodoh.

Begitu bodohnya hingga percaya bahwa seseorang benar-benar rela mencintai diriku yang penuh luka dengan sepenuh hati.

Aku mengangkat surat nikah palsu itu dan mendekatkannya ke nyala lilin.

Lidah api menjilatnya, dan dalam sekejap salah satu sudut sampulnya menghitam.

Juando sigap menarikku ke dalam pelukannya.

Dia meraih gelas lalu menyiramkan air untuk memadamkan api.

"Kamu ngapain! Bukannya kamu paling takut sama api?"

Dia masih ingat dampak yang masih membekas setelah aku menjadi korban perundungan.

Bahkan setiap ulang tahunku, aku selalu membisikkan permohonanku pelan di telinganya.

Dialah yang membantuku meniup lilin sambil mengucapkan harapan.

Selama tujuh tahun, aku sudah mengucapkan permohonan itu berkali-kali.

"Sanora akan bersama Juando seumur hidup."

Ibu menikah lagi, Ayah juga menikah lagi.

Tak ada yang lebih kuinginkan memiliki rumah yang tak perlu berganti alamat lagi.

Apa yang Juando pikirkan setiap kali mendengar permohonanku itu?

Apa dia diam-diam mentertawakanku?

Mentertawakan karena selama bertahun-tahun aku terjebak dalam perangkap ini tanpa pernah menyadarinya?

Pada akhirnya malah dia yang bermurah hati memberitahuku kebenarannya?

Api telah padam, tetapi sebuah luka berdarah tertinggal di jariku.

Juando mengeluarkan kotak P3K dan mengoleskan obat anti radang ke lukaku. Sekilas terlihat sorot mata yang rumit di matanya.

"Sudahlah, jangan bikin ulah. Aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama Evelyn. Kamu juga tahu dia sebentar lagi menikah. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuganti sebagai kompensasi."

Dia mengangkat ponselnya, bersiap membuka keranjang belanja untuk menunjukkan hadiah yang sudah dipilihnya untukku.

Namun wajahnya segera membeku.

Dia mengernyit menatapku.

"Kamu sengaja, ya? Aku jelas-jelas sudah bilang jangan diposting. Kamu sengaja melukai diri sendiri cuma buat maksa aku nikah!"

"Sanora, kamu begitu ingin menikah?"

"Pacaran juga sama saja, 'kan? Tadinya aku ...."

Kata-katanya tercekat di tenggorokan, terpotong oleh dering telepon.

Evelyn yang menelepon.

Tawa berlebihan langsung meledak dari ujung sana.

"Dasar kamu, sekarang semua orang sudah tahu minggu depan kamu bakal nikah. Aku 'kan sudah bilang dari dulu, orang miskin macam dia nggak punya harga diri. Sudah dipermainkan, masih saja ngejar-ngejar mau nikah sama kamu."

"Mungkin dia tahu kamu kaya. Sayang sekali ya, dia nggak tahu kalau kamu sudah berjanji akan melindungiku seumur hidup."

Wajah pria itu menggelap saat menutup telepon, lalu memerintahku,

"Cepat hapus unggahan Instagram itu!"

"Aku nggak akan menghapusnya. Juando, minggu depan, aku akan menikah."

Penyakit Nenek sudah sangat parah.

Dia bertanya padaku, hubunganku dengan Juando sudah begitu stabil, kenapa kami masih belum juga menikah.

Ternyata, sejak lama dia sudah memberikan janji kepada wanita lain.

Tetap berpacaran denganku saja sudah merupakan kemurahan hati terbesar darinya.

Seharusnya aku bersyukur dan berterima kasih.

Namun kenapa dia mengira aku akan menerima belas kasihan yang hanya tersisa dari sela-sela jarinya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 10

    Dokter yang kutunggu akhirnya tiba di vila.Setelah memberiku obat bius, pandanganku mulai kabur, tetapi tiba-tiba kulihat wanita itu melepas masker wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang penuh kegilaan.Evelyn mengangkat pisau bedah dan mengarahkannya ke leherku."Sanora, nggak nyangka, 'kan? Meskipun hidupku sudah hancur, kamu juga jangan harap bisa hidup tenang!"Aku ingin berteriak meminta tolong, tetapi tubuhku sama sekali tidak memiliki tenaga.Tepat saat pisaunya menusuk ke arahku, sesosok pria menerjang ke hadapanku.Pisau itu menghunjam tubuhnya dengan telak.Darah hangat menetes ke tubuhku. Namun pria itu malah dengan hati-hati menyeka darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangannya.Dia lalu berkata kepadaku dengan suara lembut,"Nora, andai saja benar-benar bisa kembali ke masa lalu.""Saat kamu dirundung mereka dulu, aku pasti akan menyelamatkanmu, seperti sekarang ini.”Wajahku memucat, dan dengan suara serak aku memanggilnya,"Juando ...."Evelyn masih terus menga

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 9

    Setelah bulan madu berakhir.Marco mengecupku sebelum berangkat bekerja, sementara aku tinggal di rumah menunggu dokter spesialis estetika yang sudah membuat janji untuk datang.Bel pintu berbunyi, lalu aku pergi membukakan pintu.Namun yang berdiri di depan bukanlah dokter, melainkan Juando.Dia langsung mendorongku ke dinding, lalu seperti orang gila menggigiti bekas ciuman di leherku.Aku menamparnya keras, seluruh tubuhku gemetar."Juando, kamu benar-benar sudah gila!"Matanya merah, dipenuhi urat-urat darah."Bersamanya kamu bahagia? Hah? Apa kamu tahu, setiap hari aku terus memikirkanmu sampai nggak bisa tidur!"Aku berusaha mendorongnya menjauh, tetapi tenagaku tidak mampu melawannya.Akhirnya aku menggigit bahunya sekuat tenaga."Juando, saat kamu mempermainkanku dulu, seharusnya kamu sudah siap menerima akhir seperti ini."Juando menghantamkan tinjunya ke dinding dengan putus asa.Dia menyingsingkan lengan bajunya. Di lengannya terdapat banyak bekas luka bakar memanjang."Liha

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 8

    Saat itu aku baru saja masuk ke perusahaan baru, lalu dilarikan ke rumah sakit karena alergi serbuk sari.Aku tidak tahu bahwa hari itu sebenarnya ada dua orang yang datang menjengukku di rumah sakit.Selain Juando, satunya lagi adalah paman Juando,Marco.Dia adalah atasanku di perusahaan baru itu.Perusahaan itu adalah perusahaan pertama yang berhasil dia dirikan setelah keluar dari keluarga Lucas.Saat aku pingsan karena alergi di kantor, dia sedang mengadakan rapat di ruang konferensi.Dia baru saja hendak menanyakan apa yang terjadi, tetapi malah melihat keponakannya menggendongku pergi ke rumah sakit.Dia tahu seperti apa sifat Juando.Seharian hanya mengikuti gadis dari Keluarga Yasar ke mana-mana.Bahkan demi membantu pendanaan perusahaan Keluarga Yasar, dia pernah mencuri rahasia perusahaan dan menyerahkannya kepada mereka.Orang yang rela melakukan apa saja demi Evelyn seperti itu, kini ternyata perempuan di pelukannya sudah berganti menjadi orang lain.Karena penasaran, seka

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 7

    Setelah upacara pernikahan selesai, aku sedang berkeliling bersulang dengan para tamu.Tiba-tiba terdengar keributan dari pintu masuk.Aku mendongak. Juando baru saja menendang pelayan yang berusaha menghalanginya hingga menyingkir.Saat pandangan kami bertemu, dia langsung terpaku di tempat."Sanora, kamu nggak mau jelaskan? Kamu sengaja memancingku datang ke pernikahan ini, lalu mempermainkanku seperti orang bodoh!""Katakan padaku, bagaimana mungkin kamu menikah dengannya?"Aku perlahan meletakkan gelas anggur, lalu berdiri tenang di hadapannya."Kurasa itu tidak sepenuhnya menipu. Bukankah sejak awal aku selalu bilang kalau minggu ini aku akan menikah?""Hanya saja kamu nggak pernah percaya."Juando mundur selangkah dengan wajah tak percaya. Seluruh tubuhnya gemetar."Aku kira ....""Kira apa? Kira aku pasti akan menikah denganmu?""Juando, kamu jelas sudah melihat bekas luka di tubuhku, tetapi kamu memilih pura-pura tidak melihat dan tetap membantu Evelyn.""Lagi pula, sejak awal

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 6

    Saat SMA, Juando sedang berada di luar negeri.Yang dia tahu dari Evelyn hanyalah bahwa ada seorang siswi yang selalu memusuhinya.Namanya Sanora.Dalam program pertukaran pelajar internasional, si pria pertama kali bertemu gadis itu.Gadis itu berbicara dengan fasih, menyampaikan pendapatnya dengan tenang tanpa rendah diri maupun arogan.Juando sangat mengaguminya. Seusai presentasi, dia ingin menghampiri si gadis untuk mengobrol sebentar.Namun dia melihat papan nama bertuliskan nama gadis itu.Ternyata dialah orang yang telah merebut jatah Evelyn.Setelah mengetahui hal itu, Evelyn langsung mengatur semuanya dengan penuh semangat,"Juando, kejar dia saja! Dulu dia keras kepala setengah mati, sama sekali nggak mau mengaku salah. Melihatnya saja sudah bikin muak.""Aku benar-benar ingin tahu, kalau nanti dia sadar sudah dipermainkan pacarnya sendiri, apa dia masih bisa tetap setenang itu.""Gimana? Kita bertaruh, yuk."Entah kenapa, pria itu menerima taruhan itu.Namun seiring tahun d

  • Kala Kabut Membuyar   Bab 5

    Video yang muncul bukanlah video kenangan kisah cinta yang telah dipersiapkan dengan saksama,melainkan sosok Evelyn yang mengenakan seragam SMA, dengan wajah penuh kesombongan."Sanora, kamu melapor ke guru kalau aku merundungmu, ya? Mana mungkin? Kami cuma bercanda antarteman sekelas kok!"Gadis dengan pipi penuh lebam itu dipaksa hingga terpojok di dekat wastafel kamar mandi.Matanya tetap jernih dan penuh tekad.Saat alat pengeriting rambut ditempelkan ke tangannya, dia menggigit bibirnya sekuat tenaga tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.Darah mengalir dari sudut bibirnya.Hati Juando bergetar.Nora.Dia sama sekali tidak pernah tahu bahwa Sanora pernah mengalami perundungan sekejam itu semasa SMA.Yang dia ingat hanyalah setiap kali wanita itu terbangun dari mimpi buruk,punggungnya yang kurus gemetar di dalam pelukannya.Gigi Sanora bergemeletuk, bahkan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.Namun, Juando tidak pernah bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi padanya.Dia h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status